To the right direction

-Take chances. Make mistakes. That’s how you grow. Pain nourishes your courage. You have to fail in order to practice of being brave – Mary Tayler Moore

Bulan Januari lalu, saya ceritanya ingin memulai hidup baru, mengoreksi apa yang salah dengan hidup saya yang lama.  Saya baru saja resign dari salah satu Bank swasta di kawasan Sudirman, Jakarta karena pekerjaan sebagai banker tidak sesuai dengan passion saya.

Dulu saat lulus kuliah saya tidak pilih-pilih pekerjaan, saya sama sekali tidak idealis. Pertimbangan saya kala itu hanya jika gaji sudah cocok, langsung saya ambil. Dengan mengabaikan passion dan minat, saya pun akhirnya menerima pekerjaan sebagai pegawai Bank.

Untuk seorang yang tidak bisa diam dan selalu membutuhkan tantangan baru seperti saya, saya merasa terbebani dengan pekerjaan ini. Setelah dua tahun bekerja hati saya pun menggugat. Sebenarnya lingkungan tempat saya bekerja menyenangkan, teman-temanya baik dan ramah, bosnya pun super kece dan super baik, pendapatannya juga lumayan, tapi entah kenapa saya tetap merasa berada di tempat yang salah. Yang saya tahu zona nyaman ini membuat saya merasa kurang nyaman dan sulit untuk menjadi diri sendiri.

Because life is short, so you might as well be your own self in this short life.

Kalau kata Lenka “it’s too much, yeah it’s a lot to be something I’m not”.

Karakter saya yang pecicilan, suka tantangan, sok ngide, kaki gatal rasanya kalau diam di suatu tempat terlalu lama, senang bertemu dan berdiskusi dengan orang membuat saya tidak betah jika ditempatkan di pekerjaan yang mengharuskan saya untuk duduk selama delapan jam sehari untuk mengerjakan hal yang sama setiap harinya.

Ditambah lagi saya sedang dalam masa pemulihan, bukan dari narkoba atau kegagalan cinta, tapi dari kegagalan mendapat beasiswa S2 yang saya impikan dan perjuangkan sepenuh hati. Sebenarnya saya sudah ikhlas dengan hasilnya, tetapi kalau mengingat kembali perjuangan yang saya lakukan beberapa bulan lalu dengan mencurahkan seluruh waktu, uang, tenaga, bahkan emosi (apalagi untuk anak yang otak dan dompet pas-pasan seperti saya) kadang kegagalan itu berasa nyesek juga.

Waktu: saya harus les IELTS setiap malam sepulang kerja (ini pertama kalinya saya tes IELTS, jadi saya pikir harus ada persiapan khusus sebelum tes) membuat jam tidur saya berkurang drastis, mengurus persyaratan lain kesana-kemari yang menghabiskan seluruh jatah cuti saya, belajar di rumah saat weekend, juga melakukan research tentang Universitas dengan jurusan yang saya pilih di sela-sela jam kantor.

Uang: untuk les IELTS biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit dan harus menguras tabungan untuk biaya les dan tesnya, serta tes-tes kesehatan lainnya yang diajukan oleh panitia penerima beasiswa sebagai syarat.

Tenaga: dibutuhkan tenaga ekstra untuk belajar dan mondar-mandir dari kampus, kantor, tempat les, edu fair, dan tempat-tempat lainnya yang harus saya datangi dan hal yang harus saya lakukan untuk memenuhi semua persyaratan sebelum deadline.

Dan yang terakhir menguras emosi: Mengapa emosi bisa terkuras. Karena berharap akan sesuatu yang besar itu juga menguras emosi.

Contohnya ketika saya melihat hasil IELTS. Entah mengapa saya jadi nggak pede sendiri. Hanya untuk membuka amplop hasil skor nya saja saya musti tarik nafas hembuskan lagi lalu tarik lagi selama beberapa jam. Sampai pada akhirnya teman saya si Ebitamon gemes banget ngeliatnya dan merebut amplop itu lalu memberitahu hasilnya pada saya (yang ternyata memenuhi syarat). Lalu mengecek email setiap hari berharap ada pengumuman penerimaan dari kampus-kampus yang saya daftar untuk dapat Letter of Acceptance atau LOA, menghadapi tiga orang interviewer yang bergelar profesor di tahap wawancara yang mirip dementor karena dengan secepat kilat menyerap seluruh kebahagiaan saya (rasanya saya ingin kabur saja dari ruangan itu karena terlalu gugup dan jadi ngerasa seperti butiran debu di depan mereka), lalu yang paling berat adalah saat-saat saya harus menunggu pengumuman akhir yang bikin saya nggak bisa tidur selama beberapa hari sebelum dan sesudah pengumuman karena ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan.

Walaupun nggak belum jadi sekolah master di Belanda saya tetap banyak belajar dari proses pendaftarannya.  Saya merasa mendapatkan banyak pelajaran dari perjuangan ini. Pelajaran akan perjuangan. Pelajaran untuk mempersiapkan dengan matang segala hal. Jika menginginkan sesuatu segalanya harus dipersiapkan dan diperjuangkan sepenuh hati, nggak bisa setengah-setengah. Prinsip saya we should really do what necessary to get what we want.

Walaupun pada akhirnya saya gagal mendapatkan beasiswa itu, tetapi setidaknya saya tidak pernah gagal dalam berusaha, tidak juga menyerah apalagi takut untuk memperjuangkan. Dan sampai sekarang pun saya belum menyerah, dan tidak merencanakan untuk menyerah, nanti pasti akan saya coba lagi. #antikapok.

Tapi sekarang ini rasanya saya benar-benar butuh liburan untuk menjernihkan pikiran, mengistirahatkan otak, lalu menentukan akan kemana setelah ini, to the right direction hopefully. Biasanya orang-orang resign setelah menemukan pekerjaan baru, kalau saya memutuskan untuk mengambil pause dulu sebelum memulai lagi.  Ada yang berpikir ini keputusan bodoh, tapi buat saya ini keputusan berani yang memang harus diambil. Membenarkan sesuatu yang kurang pas. Karena saya tidak mau salah langkah lagi.

Saya memutuskan untuk rehat sejenak dan jalan-jalan dulu, yuhuu! Waktu masih bekerja saya juga sering berlibur, tapi kali ini saya tidak ingin deadline pekerjaan yang belum selesai atau pikiran bahwa Senin depan harus masuk mengganggu liburan saya. Kali ini saya ingin fokus melakukan apa yang membuat saya bahagia. Live in the moment kalo kata orang-orang. Sambil mencari tahu apa yang saya mau.

Saya putuskan untuk memulai hidup baru dengan membuat blog yang berisi perjalanan yang sudah saya lalui dan tantangan, hingga pelajaran yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan itu.

Saya bukan siapa-siapa, bukan orang terkenal atau orang yang berprestasi, tetapi saya berharap cerita-cerita saya juga bisa menginspirasi. Enjoy!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

5 thoughts on “To the right direction

  1. Halo kak Angky,salam kenal ya.Ijin menjelajah blogmu yang kece ini dunk?Wkwkwk jadi terdampar ke postingan yang ini gegara “Menemukan rumah di Bali” yang tetiba nongol di timeline ku jadi keterusan pengen baca semua.Btw,setuju banget sama kak Angky “Live in the moment”.Kadang tuh emang sesuatu yang udah banyak perhitungan,udah diusahain mati-matian malah berujung kegagalan tuh bikin sedih tapi yah gimana lagi perjalanan hidup masih panjang so enjoy aja.Semangat kak!

    Liked by 1 person

    1. halo Vera. Salam kenal juga. Wahhh makasih banyak ya sudah mampir dan membaca blog ini. Betul sekali aku sampe sekarang juga masih belajar untuk live in the moment, untuk mengapresiasi hal-hal yang ada di sekitar kita. hhe

      Liked by 1 person

  2. Hay kak angky, salam kenal yah kaka. permisi yah mau ijin lihat blog kk, aku baru di dunia perblogkan dan aku tertarik bgt pas baca postingan kk yang tentang Surat Anak Rantau jadi keingat sahabat aku yang semuanya harus terpisah karena harus mengejar mimpih masing” , dan akhirnya aku baca yang ini dan semakin tertarik sama blog kk, semangat selalu kak !

    Like

Leave a Reply to VeraUtami Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: