Nasi Jinggo di Pantai Kuta dan Pasir Ketumbar di Gunung Payung


Dari berbagai perjalanan yang saya lakukan, ada kalanya saya berharap bisa betah di satu tempat yang saya kunjungi, lalu mengangkut semua barang saya ke tempat itu. Entah bagaimana saya bisa hidup di sana, itu urusan nanti.

Awal February 2017, setelah resign dari bank saya berwacana untuk menjadikan Bali sebagai rumah. Mempersilakan Bali untuk meberikan opportunities yang ia punya kepada saya untuk saya jadikan tantangan hidup agar hidup saya memiliki lebih banyak cerita. Saya  hanya beli one way ticket tujuan Ngurah Rai dan kalau dapat kerja di Bali saya mau kerja dan tinggal di sini saja.  Because sometimes spontaneity is the best kind of adventure. 

Kenapa Bali? Karena salah satu impian saya adalah untuk tinggal di tepi pantai, biar saya bisa main air terus. Atau biar saya bisa banyak belajar tentang budaya dan pariwisata Bali, atau mungkin saat itu saya hanya ingin pergi dari kemacetan dan kebisingan Jakarta. Itu rencana awal saya. Saya bahkan sudah menyewa kosan di daerah Denpasar dan membuat kartu tinggal sementara, biar nggak ditangkap Pecalang (Polisi adat Bali) kata Pak Wayan penjaga kosan.

Di Bali saya bertemu teman baru, namanya Kinan dan Emil. Mereka ini yang mengajak saya untuk menjelajah Bali layaknya orang lokal dan membuat Bali memiliki kesan yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun sama-sama perantau dan baru tiga bulan di pulau dewata tetapi rasanya mereka sudah banyak tahu dan paham betul cara menikmati pulau ini dengan baik dan benar. Jadi Emil dan Kinan mempunyai tugas untuk mengakrabkan saya dengan Bali.

Suatu sore di bulan Februari ketika tanah masih basah karena hujan seharian, perkenalan saya dengan Emil yang bekerja di Starbucks Kuta dimulai. Perempuan yang berpenampilan tomboy ini memberi saya segelas green tea latte sebagai welcome drink dengan tulisan -Anki welcome to Baley 🙂

Malamnya Emil dan Kinan mengajak saya dan dua teman lainnya untuk makan nasi jinggo yang kami beli di jalanan Kuta dengan harga 7000 rupiah saja satu bungkusnya. Dengan perut kelapaan kami lalu membawa makan malam kami ke pinggir pantai Kuta yang gelap. Tanpa ragu kami pun makan di tengah pantai hanya diterangi oleh cahaya handphone dan ditemani suara deburan ombak di kejauhan. Romantis kan? Hanya saja sepertinya banyak pasir yang masuk ke dalam mulut saya saat itu. Saya sudah beberapa kali ke pantai Kuta dan bermain dengan pasirnya, tapi baru kali ini pasir-pasir itu saya campur dengan mie bumbu kecap dan potongan daging sapi lalu saya makan. Sedapp!

Suatu malam, Emil yang hobi berolahraga mengajak saya bermain batminton di sebuah stadion di Jimbaran. Dengan mengenakan sepatu olahraga dan bandana, saya menunggu teman saya ini di depan Mall Galeri Kuta. Sampai di stadion saya langsung dikenalkan dengan banyak mas-mas ketje. Salah satunya bernama Mas Raden. Obrolan pun berlangsung ringan di antara kami. Pria yang sudah satu tahun merantau di Bali ini bercerita saat pertama kali ia datang ke Bali, bagaimana susahnya untuk mendapatan pekerjaan yang bagus. “Kita harus berani down grade dulu mbak  ujar pria yang pernah bekerja di hotel sebagai penjaga kolam renang ini. “Intinya kalau mau betah di Bali kasihlah Bali waktu” lanjut Raden yang logatnya sudah seperti orang Bali asli sambil memainkan raketnya. Ia menceritakan proses yang harus ia lalui sampai akhirnya mendapat pekerjaan yang lebih baik dan bisa menikmati setiap inchi dari pulau ini. Raden juga bercerita tentang open trip yang dia ikuti, untuk naik gunung atau menyebrang ke pulau-pulau kecil di pinggiran Bali kalo ia sedang senggang. Indah sekali ya hidupnya penuh tantangan.

Yang saya senangi dari teman-teman baru saya ini adalah mereka sepertinya tahu betul bagaimana cara menikmati Bali tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Cocok untuk budget traveler seperti saya.

Emil dan Kinan kadang mengirim pesan pada siang bolong saat saya sedang tidur siang “Ki, ayo renang di Sanur”. Saya yang masih mengantuk langsung terbangun dan mengemas baju renang ke dalam tas lalu menuju ke Sundamala tempat kami janjian.

Langit sanur saat itu sedikit kelabu dengan angin yang tidak begitu kencang. Pengunjungnya pun tidak terlalu banyak, hanya ada private wedding yang tidak terlalu ramai di salah satu restaurant di pinggir pantai dan beberapa bule yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan.

Selama dua jam kami bertiga mengambang di laut sambil berbincang ngalor ngidul dan main pancasila ada lima dengan menebak judul-judul iklan. Memandangi langit yang mulai gelap dan matahari yang terus bergerak ke arah barat. Entah karena sedang beruntung dengan suasana Sanur, segerombolan balon berwarna-warni pun diterbangkan di atas kepala kami oleh pengantin yang baru menikah menambah keindahan Sanur sore itu. Setelah puas berenang kami langsung makan di warung Jawa yang terletak di ujung gang seharga 40.000 bertiga pakai ayam plus kerupuk dan es teh manis.

“Ki lo harus ke Pantai Gunung Payung, itu bagus banget” kata Emil sewaktu saya menunggu shiftnya selesai di Starbucks. Tanpa bertanya “Emang kenapa?, Apa yang bagus di sana, itu di daerah mana? ” saya sih langsung jawab saja”Ayok!”. Karena selama saya di Bali, Emil belum pernah gagal menunjukan tempat-tempat keren di sini.

Jadilah kami naik motor menuju pantai yang menurut Emil bagus banget. Perjalanan yang memakan waktu selama 30 menit terbayarkan oleh keindahan pantai yang luar biasa. Airnya yang biru terang, pasir putihnya yang berbentuk seperti butiran ketumbar, dan hamparan pohon-pohon hijau yang berada di pesisirnya membuat tempat ini benar-benar terlihat seperti pantai yang ada di film animasi Moana. Pantainya pun masih sepi jadi bisa kami nikmati seperti pantai milik pribadi.

Lokasinya dekat dengan pantai Pandawa di daerah selatan. Yang membuat Pantai Gunung Payung masih belum terlalu populer di kalangan turis adalah akses untuk menuju pantai ini masih sulit. Tidak ada akses kendaraan untuk sampai ke pantainya. Sehingga kita harus berjalan dan menuruni ratusan anak tangga selama kurang lebih 20 menit hingga mencapai bibir pantai. Mungkin hal ini yang membuat turis lebih memilih untuk pergi ke Pantai Pandawa yang tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk sampai di sana dan menikmati keindahannya.

Namun, walaupun saya harus mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera untuk sampai ke Gunung Payung, tapi saya akui pemandanganya worth it banget.  Terharu saya, Emil yang saat itu sedang sakit perut sehingga ia harus berhenti di beberapa anak tangga untuk istirahat, rela tertatih tatih nganterin saya ke tempat sebagus ini. Nggak pake basa basi saya dan Emil langsung saja nyebur ke laut dan kali ini kami berenang lebih lama daripada waktu di Sanur.

Saya berbaring di bibir pantai, menjadikan hamparan pasir sebagai alas tidur sementara ombak-ombak maju mundur menyelimuti tubuh  saya. Untuk beberapa saat saya memejamkan mata dan membiarkan pikiran saya berkelana ke dasar lautan dan diri saya bersatu dengan alam. Ya Alam, sesuatu yang jauh lebih besar dari segala masalah dan urusan manusia. Membuat saya merasa kecil berada di tengah-tengahnya. Rasanya menyenangkan untuk sejenak menyingkir  dari keriuhan yang biasanya menyita waktu dan pikiran saya. 

Saya sudah seperti Moana belum?

Walaupun pada akhirnya saya kembali ke Jakarta dan tidak memberi waktu kepada Bali seperti yang Raden sarankan, tapi kedatangan saya ke Bali kali ini adalah yang paling bermakna daripada kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Saya tidak menghabiskan waktu di pantai Kuta hanya untuk foto-foto, atau menghabiskan uang saya di Sukowati, atau mengunjungi Tanah Lot dan Bedugul, saya bahkan tidak ingat untuk membeli kain Bali yang saya sukai, tapi kali ini saya benar-benar quality time dengan pantai, laut, pasir dan Bali. Merasakan rasanya menyatu dengan alam yang sesungguhnya.

Perjalanan kali ini mungkin hanyalah salah satu upaya saya untuk mencari ‘rumah’ untuk tinggal tetapi berakhir dengan another sweet escape di mana saya kembali merasakan ketenangan yang diberikan oleh alam. Bagaimana hanya dengan bersentuhan dengan air laut energi negative saya rasanya terserap jauh ke dasar samudera dan digantikan oleh energi positive yang ditiupkan pelan oleh angin laut ke wajah saya yang  mengembangkan senyuman tiada henti. Rasanya seperti bertemu dengan teman lama.

Dear old friend, saya janji akan sering-sering mengadakan reuni lagi denganmu. Karena toh saya tidak bisa jauh-jauh darimu.

Terimakasih juga untuk Kinan dan Emil, tanpa kalian Bali tidak akan seindah ini. Nanti saya pasti datang lagi untuk ketemu kalian dan kala itu kalian harus ajak saya berendam di Batur dan menyelam di Nusa Penida!!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: