​Terong Balado dan KFC gratis di Malaysia (Cerita Mahasiswa Kere)

Hanum adalah sahabat saya dari TK. Sekarang ia sedang melanjutkan gelar master di Denmark. Dari dulu kami sering disebut sebagai saudara kembar, karena memiliki postur tubuh dan potongan rambut yang selalu sama. Walaupun kami tidak satu sekolah ketika SMP, SMA, bahkan saat di bangku kuliah, tapi kami berdua sangat dekat. Hal yang membuat kami semakin dekat adalah kami sama-sama menyukai dunia traveling dan menulis.
“Ki ayo kita ke luar negeri” pesan yang ia kirim beserta harga tiket promo ke Singapura seharga Rp. 200.000 serta tiket pulang dari Malaysia dengan harga yang sama. Saat itu kami masih berada di semester 4 dan belum pernah bepergian ke luar negeri. Saya adalah orang yang paling sulit menolak ajakan berlibur, jadi tanpa pikir panjang saya langsung menyambut baik ajakanya. Sebelum tanggal keberangkatan, kami menghemat sebisa mungkin, dari puasa, makan nasi sayur, hingga memelas pada kakak kami agar mendapat tambahan uang saku. Seperti kata Jojo di film Joshua oh Joshua “Iyalah kawan demi cita-cita apapapun kulakukan demi cita-cita”.

Januari 2013, berangkatlah kami dengan uang yang pas-pasan tapi nyali yang besar. Ini kali pertama bagi kami pergi keluar negeri, walaupun hanya Singapura, tetapi kami yakin bahwa ini adalah langkah awal untuk melakukan perjalan-perjalanan selanjutnya. Saking hematnya, sebelum berangkat ke bandara dari rumah kami membawa nasi bungkus yang dibungkus dengan kertas daun buatan Budenya Hanum. Orang-orang yang melihat kami makan rames di bandara menatap dengan pandangan iba. Tetapi tentu saja kami nggak malu dan malah melanjutkan acara makan dengan membuka pisang susu yang kami bungkus dengan plastik sebagai dessert penambah tenaga.

Di Singapura kami menginap di hostel yang hanya seharga SGD 8 saja seharinya yang satu kamarnya berisi 14 orang. Setiap akan keluar dari hostel, kami tidak lupa mengambil banyak roti tawar gratis di dapur hostel yang diolesi dengan selai dan memasukannya ke box makan, lumayan untuk bekal makan siang. Untuk makan malam, kami selalu membeli menu yang paling murah dah porsinya paling banyak, agar bisa kami bagi dua, romantis kan?

Tapi walaupun kere, kami tetap harus ada budget untuk pergi ke Universal Studios Singapore supaya kami bisa sombong ke teman-teman kalau pulang nanti. hehe. #biarkereyangpentingsombong. Hanum selalu merasa tertantang naik wahana-wahana di sana, kalau saya si gampang pusing. Tapi tetap kami tidak mau melewatkan yang satu ini.

DSC_0543

Hari pertama di Malaysia kami berdua sakit. Penyebabnya adalah karena kami kecapean seharian membawa backpack dan naik kereta malam yang super dingin dengan sepatu sneakers yang basah dari Terminal Woodsland Singapura ke KL Sentral Station selama enam jam. Ternyata tidak hanya miskin, kami juga ndeso gampang masuk angin kalau AC kekencengan. Untungnya hostel kami menginap dekat dengan stasiun jadi kami yang sudah lelah ini tidak perlu naik kendaraan lain untuk sampai di hostel. Kali ini kami menyewa private room, harga satu kamarnya hanya Rp. 120.000 per malam dengan share bathroom, tapi ya seadanya, bahkan AC-nya bocor dan hampir tidak ada space untuk menaruh barang, masuk kamar isinya hanya kasur besar tanpa selimut.

Besoknya kami sudah sehat berkat tolak angin dan siap mengitari Kuala Lumpur dengan atensi dan semangat yang sama. Petaling street adalah salah satu tujuan wisata kami. Namun, hari itu hujan deras, jadi kami berteduh sambil berbelanja di salah satu lapak souvenir yang menjual gantungan kunci dan souvenir khas Malaysia lainnya.

Yang paling menyenangkan traveling bersama Hanum adalah, ia selalu membawa notes kemanapun ia pergi.Ia pun tak sungkan untuk bertanya pada orang asing layaknya reporter, rasa ingin tahunya sungguh besar. Saya jadi merasa teredukasi setiap bepergian bersamanya. Hanum langsung mengambil notes kecil miliknya dan bertanya-tanya kepada ibu-ibu penjual souvenir di Petaling street tentang barang dagangannya.

Sebelum sempat berbincang dengan pemilik lapak, seorang ibu berpostur gempal datang dan berkata

“ Aku arep balik, titip kanggo anakku ya”

“ Yo delah wae neng kono” balas bu pemilik lapak.

Aku dan Hanum saling tatap lalu bertanya “Loh sampean wong Jowo Bu?”

Dan benar saja, ternyata mereka adalah orang asli Trenggalek yang merantau ke Malaysia untuk menjadi pedagang souvenir dan bekerja di pabrik. Kami pun langsung mengajak mereka mengobrol dengan bahasa Jawa.

Bu Arum Sari si pemilik lapak yang sudah 17 tahun merantau ke Malaysia bertanya kenapa kami ke Malaysia. Kata beliau di sini hanya ada gedung kembar, kalau di Indonesia kan ada banyak destinasi yang lebih menarik. Betul juga kata ibu.
Saat sedang asik mengobrol perut kami tiba-tiba bunyi karena lapar. Kami lalu minta ijin untuk pada bu gempal dan bu Arum untuk pergi makan. Si ibu gempal dengan baik hatinya menawarkan diri untuk menunjukan tempat makan yang murah meriah di sekitar Petaling. Jadilah kami mengintil si Ibu dan masuk ke dalam sebuah gang di mana ada sebuah warteg tersembunyi. Kami langsung memesan terong balado dan ceker ayam kesukaan Hanum serta es teh. Saat akan bayar, Bu Gempal dengan heroiknya berkata “Wes ra usah, aku wae sing bayar” membuat kami merasa menjadi mahasiswa kere paling beruntung  di dunia. Bu Gempal duduk di samping kami dan makan bersama. Kami terlarut dalam obrolan layaknya ibu dan anak, cerita tentang handphone murah yang ia belikan untuk anaknya di Indonesia dan nasihat untuk selalu berhati-hati di Malaysia mengisi sore kami yang berkualitas ini.

DSC01277

Selesai makan kami memutuskan untuk kembali ke lapak Bu Arum Sari karena hujan semakin deras. Kami ingin berteduh dan bercerita lebih banyak dengan Bu Arum. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana sampai hujan reda pada sore hari menjelang malam. Tiba-tiba suami Bu Arum yang sedari tadi mondar mandir di sekitar Petaling, seorang yang berkebangsaan Malaysia datang sambil menenteng satu box KFC dan menyodorkannya pada kami “Makanlah ayam ni tuk makan malam”. Sungguh anugerah terindah yang pernah kumiliki, seharian kami sama sekali nggak mengeluarkan uang untuk makan. Memang betul kata pepatah, bahwa SKSD membawa berkah.

Sampai saat ini saya dan Hanum terus berikrar bahwa kami akan terus menjajaki tempat-tempat baru dan bertemu orang baru lalu menuliskannya di catatan perjalanan kami. Walaupun kami harus menabung dan berhemat serta jalan-jalan dengan budget super pas-pasan, tapi hal itu justru membuat kami merasa semakin tertantang.

Motto Hanum Angky: Rajin menabung pangkal berlibur!!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “​Terong Balado dan KFC gratis di Malaysia (Cerita Mahasiswa Kere)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: