Gendong Karung Beras di Tokyo

Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD hingga saya SMP, saya dan kakak hobby sekali membaca komik manga. Di pojok kamar di kampung halaman saya, setumpukan komik Jepang yang sudah mulai usang seperti serial Detective Conan, Salad Days, Hai Miiko, Penguin Brothers, Inuyasha selalu setia menunggu kami setiap pulang sekolah.

Saking freaknya dengan budaya Jepang, saya sampai membeli buku khusus latihan menggambar manga untuk belajar menggambar komik agar suatu hari nanti saya bisa buat komik karya sendiri #khayalananakSDjamandahulu.

Dari komik-komik itu saya belajar banyak tentang budaya-budaya Jepang seperti budaya membeli omamori(jimat) di kuil saat tahun baru Oshogstsu dan Koshogatsu, hanami atau piknik di bawah pohon sakura, kesenian ikebana atau merangkai bunga, seni teater kabuki, festival budaya rakyat matsuri, hingga budaya mandi di Sento (pemandian umum). Selama dua tahun bekerja di bank Jepang pun saya jadi tahu sedikit tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jepang yang sedikit konservatif namun tetap mengikuti perkembangan zaman. Kebudayaan-kebudayaan dari komik hingga budaya di kantor ini yang akhirnya membuat saya semakin penasaran untuk mengunjungi negeri sakura ini.

Pada musim semi 2016, setelah menabung selama beberapa bulan saya akhirnya berhasil menginjakan kaki ke Jepang. Saya beruntung bisa mengunjungi negeri matahari terbit ini pada musim terbaiknya, yaitu musim di mana bunga-bunga sakura bermekaran.

Selama di Jepang saya mendapatkan akomodasi gratis karena kebetulan ada senior yang sedang melanjutkan S2 di Tokyo, jadi saya bisa nebeng tidur di tempatnya. Senior saya ini bernama Mba Wewen, sewaktu masih kuliah di Depok setiap malam minggu ia yang selalu menginap di kosan saya untuk mengerjakan essay sebagai persyaratan beasiswa. Setelah berbulan-bulan mengumpulkan persyaratan, interview serta begadang sampai tengah malam, perjuanganya membuahkan hasil. Ia lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa master penuh di universitas impiannya, Tokyo Institute Technology. Saya tentu saja ikut senang dengan prestasinya ini, karena selain saya menjadi ikut termotivasi mengikuti jejaknya, saya pun jadi bisa berkunjung dan menginap di Apatonya (Apartment) ketika saya datang ke Jepang.

Apato Mba Wewen berada di daerah Yokohama, yang merupakan kota terbesar kedua setelah Tokyo. Ibukota perfektur Kanegawa ini letaknya tidak terlalu jauh dari airport, sekitar 40 menit menggunakan metro. Dari Haneda Airport saya dan Gita teman saya yang ikut trip kali ini naik metro ke arah den en toshi line sampai ke St.Nagatsuta, stasiun terdekat dari tempat Mba Wewen tinggal. Sampai di Nagatsuta sekitar pukul 1 pagi, Mba Wewen sudah berdiri menunggu kami di sebuah mini market di dalam stasiun dengan kedua tanganya masuk ke dalam saku jaketnya. Dari tempat kami dijemput, kami masih harus berjalan lagi selama sekitar 10 menit untuk sampai ke apato Mba Wewen. Tapi demi akomodasi gratis jalan naik turun tangga kami jabani sambil tarik-tarik dan angkat-angkat koper seberat 7 kg per orang pada tengah malam.

Untuk menghemat biaya pesawat, dulu saya jarang sekali beli bagasi. Tahun 2014 ketika saya pergi ke Korea, koper saya seberat 15 kg yang berisi winter coat lolos ke dalam cabin baggage pada perjalan berangkat dan pulang. Perjalanan ke Jepang kali ini pun saya hanya mengandalkan bagasi cabin. Tapi kali ini saya memilih untuk tidak membawa banyak barang dan lebih berhati-hati dengan berat bagasi yang sudah ditentukan oleh maskapai. Untuk mengantisipasi kelebihan bagasi, saya pastikan berat koper saya tidak lebih dari 7 kg, dan besar kopernya pun saya ukur dengan teliti agar tidak lebih dari yang sudah di tentukan yaitu 56cm x 36cm x 23cm.

Saat hari keberangkatan saya merasa sedikit was-was, karena entah kenapa roda koper saya sedikit besar membuat koper saya keseluruhan jadi terlihat besar. Ketika sampai di depan gate, terbuktilah kekhawatiran saya, koper saya nggak muat masuk ke dalam alat pengecek ukuran koper, rodanya nyangkut. Padahal beratnya tidak melebihi berat yang sudah ditentukan. Mau tidak mau saya harus bayar bagasi di tempat yang kejam itu. Sebenarnya harga bagasinya hanya Rp 300.000, tapi karena penerbangan saya transit di Kuala Lumpur jadi harga bagasinya dihitung untuk dua kali penerbangan. Dengan berat hati saya berikan uang Rp 600.000 kepada petugas bandara karena dianggap baggage exceed. Sedih. Padahal beratnya sudah pas seperti yang ditentukan cabin baggage hanya karena perihal roda saya harus bayar lebih, mending uang itu saya pakai buat makan sushi di Jepang. Kadang kalau saya terlalu hati-hati dan terlalu mengikuti aturan bandara saya malah jadi apes. Kenapa ya?

Tapi biarlah pegalaman ini saya jadikan pelajaran.

Sesampainya di Jepang, kekesalan saya karena harus bayar kelebihan bagasi langsung hilang hanya dengan melihat pemandangan bunga sakura berwarna pink yang bermekaran di mana-mana. Sepanjang jalan kami disuguhkan hamparan pohon-pohon sakura yang berjajar menghiasi kota Yokohama yang sepi. Kami bahkan sengaja mengepak bekal makan siang dari rumah untuk melakukan tradisi hanami dengan duduk di bawah pohon sakura.

Saya dan Gita duduk di bangku taman bersebelahan dengan nenek-nenek dan kakek-kakek yang sedang asik bercengkerama di atas tikarnya. Selain bunga sakura, di Yokohama Park saat itu juga sedang diadakan festival bunga tulip. Walaupun kami datang ke sana pada malam hari, tetapi pemandangan jajaran bunga tulip berwarna terang tetap memukau pandangan kami. Festival yang diadakan setiap tahun ini menyuguhkan suasana musim semi yang sesungguhnya dengan menghadirkan bunga khas Belanda di lahan yang begitu luasnya, mirip seperti di taman tulip Keukenhof di negara asalnya. Soo Happy!! I really got that spring sensation i always wanted.

DSC01058

Ketika berada di Jepang, saya lebih menikmati waktu saya di Yokohama daripada di Tokyo. Mungkin karena Yokohama lebih sepi dari Tokyo dan saya menyukai ide bersepeda keliling kota sambil menyusuri sungai tanpa takut salah jalan. Sementara Gita lebih suka jalan-jalan di pusat perbelanjaan di Tokyo seperti Harajuku, Shibuya dan Ginza.

Hari-hari pertama saya menemani Gita untuk belanja di kawasan Harajuku dan Shibuya, melihat ribuan orang melintasi Shibuya crossing dengan terburu-buru. Hal ini justru membuat kaki kiri saya jadi bengkak karena terlalu banyak berjalan dengan sepatu boots. Jadi pada hari-hari terakhir saya lebih memilih untuk stay di Yokohama untuk sekedar bersepeda menyusuri sungai Onda sambil sesekali berhenti untuk ngemil onigiri dan dorayaki.

Saat akan meninggalkan Jepang saya jadi trauma dengan masalah baggage exceed. Dari Tokyo saya akan melanjutkan penerbangan ke Seoul dengan maskapai Peach Air, budget airlinenya Jepang. Kali ini Gita tidak ikut, ia akan langsung pulang ke Indonesia dengan jadwal penerbangan satu hari setelah saya. Lagi-lagi saya nggak beli bagasi untuk ke Seoul, toh saya pikir nggak akan beli banyak barang di Jepang. Karena koper saya di Indonesia dibilang terlalu besar dan melebihi maximum size, jadilah saya tinggalkan koper itu di apartment Mba Wewen, saya nggak mau bayar kelebihan bagasi lagi. Saya memutuskan untuk memakai foldable bag yang saya bawa dari Indonesia yang ukurannya cukup besar. Bahannya tipis, tapi kalau hanya untuk bawa baju tidak mungkin robek karena ringan, pikir saya. Saya berencana bawa tas itu ke bagasi cabin.

Penerbangan saya dijadwalkan berangkat pada jam 3 pagi. Sementara pada siang harinya saya dan Gita akan pergi ke Asakusa untuk jalan-jalan dan makan ramen di Naritaya Halal Ramen Shop. Karena dari apato Mba Wewen menuju ke bandara Haneda cukup memakan waktu, belum lagi dari stasiun Nagatsuta ke apato yang harus berjalan jauh dan naik turun tangga, jadi saya pikir tidak mungkin kalau siangnya saya jalan-jalan dulu di Asakusa, lalu kembali ke apato untuk ambil tas bawaan saya baru berangakat ke Haneda. Menghabiskan waktu dan tenaga karena Asakusa itu letaknya ada di tengah-tengah antara apato dan Airport. Karena alasan itu, saya putuskan untuk langsung ke Haneda dari Asakusa dan tidak kembali ke Yokohama dulu. Saya membawa barang yang sudah saya pack di foldable bag berwarna pink, seberat 7 kg itu ke Asakusa. Dan sisanya ada di backpack saya untuk nantinya ketika kami jalan-jalan barang-barang itu akan dititipkan di loker di stasiun metro Asakusa.

Gita berangkat ke Shibuya pada pagi hari untuk berbelanja (lagi) saat saya masih sibuk packing. Kami janjian untuk bertemu di Shibuya di depan patung Hachiko pada jam 1 siang untuk pergi ke Asakusa bersama. Dari apato Mba Wewen saya gendong foldable bag saya yang berat itu di depan dada dengan dua tangan saling menggenggam persis seperti sedang menggendong karung beras. Kalau tasnya di jinjing saya takut kainnya sobek. Naik tangga adalah tantangan paling berat bagi saya, sampai-sampai dari apato ke stasiun saya harus berhenti beberapa kali untuk duduk di anak tangga demi melemaskan tangan yang mulai nyeri. Beruntunglah di jalan menuju stasiun Nagatsuta ada mbak-mbak baik hati yang mau bantuin bawain tas saya yang satunya lagi karena ia juga akan pergi ke stasiun. Di dalam metro saya baru bisa meletakan tasnya di lantai kereta dan mengistirahatkan tangan saya yang gemeteran.

Persis di samping patung Hachiko, saya dan tas saya menunggu Gita selesai berbelanja. Hachiko, patung anjing legendaris yang populer di kalangan turis terletak tepat di samping stasiun Shibuya. Saat itu pengunjung ramai berfoto dengan Hachiko sementara saya hanya bisa duduk dengan wajah memelas dengan memeluk tas pink saya, wajah saya sama sedihnya dengan Hachiko karena tangan saya mulai tremor. Setelah Gita datang dengan tas-tas belanjaanya, lanjutlah saya membawa tas itu ke Asakusa dengan bantuan Gita. Kami langsung mencari loker terdekat di stasiun Asakusa untuk menitipkan tas saya dan barang belanjaan Gita. Lega rasanya tangan ini bisa jalan-jalan santai tanpa beban.

Asakusa dan Tokyo Skytree

Seharian saya puas makan ramen halal di Naritaya, berkeliling di kuil Sesonji, berdiri tepat di bawah Kaminarimon (lampion raksasa sebagai simbol Asakusa dan pintu masuk kuil Sesonji) lalu diakhiri dengan berfoto di Tokyo Skytree dari jauh menutup perjalanan saya di Jepang. Tapi perjuangan menggendong tas belum juga berakhir. Tas karung saya sudah menunggu di loker untuk saya gendong seorang diri ke Airport karena Gita harus pulang ke Yokohama.

Dengan sisa-sisa tenaga saya gendong lagi tas yang lebih mirip karung beras itu dari Asakusa sampai ke airport. Sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah troli di depan lift di bandara Haneda dan bisa meletakan tas besar saya di atasnya. Sun sayang untuk siapapun penemu troli pada jaman dulu karena mengangkat beban saya dengan seketika :*. Boarding, naik pesawat, taruh tas di cabin, langsung saya tidur tak sadarkan diri di bangku pesawat, bahkan saking lelahnya saya tidak ingat kapan pesawat take off, saat bangun tau-tau saya sudah landing di Incheon. Lagipula penerbangan Tokyo-Seoul memang hanya berdurasi 2 jam saja.

Ini penampakan tas terkutuk yang saya jadikan sandara kaki.

Tapi ups jangan senang dulu. Dari Incheon airport ke tempat saya menginap di daerah Unnam-dong Unseo saya masih harus menggendong tas itu lagi! Walaupun hanya berjarak dua stasiun saja dari Incheon, saya tetap harus naik bus ke sana. Dan saat itu seperti belum cukup penderitaan saya, baru satu langkah saya keluar stasiun saya langsung disambut hujan!!! #cobaantiadahenti. Saya jadi harus menggendong tas itu dengan menyelipkan payung ke tengah-tengah tas dan badan agar tak kehujanan. Yang pada akhirnya saya basah kuyup juga karena metode saya tidak berhasil. Sungguh setelah sampai tempat saya menginap di Korea, saya langsung tepar, tidur selama berjam-jam dan bangun hanya karena lapar.

Paat saat saya pulang dari Korea, saya membeli koper baru yang ukuran cabin size karena sudah tak sanggup lagi gendong-gendong tas besar. Dan akhirnya saya juga beli bagasi lagi di airport yang harganya lets say lebih mahal dari tiket pesawatnya. Hal ini dikarena saya juga bawa banyak make up titipan teman saya dan semuanya berbentuk cair yang nggak boleh di bawa ke dalam bagasi cabin. Untungnya teman saya itu membayar setengah harga dari bagasinya, jadi nggak ngenes-ngenes banget cerita saya.

Pelajaran yang dapat di petik dari pengalaman saya adalah; kalau naik budget airline seperti AirAsia saat booking tiket, belilah bagasi dan makanan via web, karena percayalah, dengan membeli di awal sudah menghemat tenaga, uang dan pikiran kecuali kalau memang berencana membawa sedikit barang dengan backpack. Sepanjang perjalanan  saya memikirkan cara beli bagasi online yang pada akhirnya nggak saya beli karena keasikan jalan-jalan. Ujung-ujungnya saya harus membeli bagasi tambahan di airport dan mendapat harga yang super duper mahal itu. Ujung-ujungnya juga pengeluaran saya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan, benar-benar overbudget. Mau ngirit malah ngorot. Jadi percayalah saudaraku atas nasihat yang saya berikan tadi…saya sudah merasakan bagaimana rasanya disiksa oleh sebuah tas sebesar karung di dua negara sekaligus.#dramataskarungJepangKorea

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: