Salju pertama di Seoul

Sebagai pelancong Asia yang tinggal di daerah tropis, melihat salju sudah pasti ada di bucket list saya. Seoul, Korea adalah negara yang saya pilih untuk bertemu dengan salju pertama saya karena tiket murah ke Seoul di bulan Januari seperti mendukung niat saya ini. Demi rasa penasaran yang besar saya rela menabung berbulan-bulan dan berhemat untuk melihat salju di negeri gingseng ini. Bulan Januari 2014, berangkatlah saya ke Korea dengan berbekal peta dan basmalah.

Selama 18 hari saya di negara yang populer dengan K-popnya ini, hujan salju belum juga turun. Tumpukan salju kotor yang berada di tepian jalan memang terlihat di mana-mana, tapi tentu saya ingin melihat salju turun langsung dari langit Seoul saat itu. Beberapa hari lagi saya pulang ke Indonesia, dan harapan saya untuk melihat salju rasanya harus saya kubur dalam-dalam karena teman Korea saya bilang butiran es itu sudah turun banyak pada bulan November dan Desember membuat kemungkinan hujan salju di bulan ini sangat kecil.

Saya pun menghabiskan sisa waktu di Korea tanpa ambisi untuk bertemu dengan hujan salju. Saat itu saya hanya ingin menikmati setiap sudut Seoul sebelum pulang ke Indonesia. Dari mengujungi Seoul Central Mosque di Itaewon, nonton film di Songdo, mengitari Gyeongbokgung, berjalan-jalan di Bukchon Hanok Village, sauna (jimjilbang) di Dongdaemum, hingga berbelanja pernah-pernik di Insadong. Kalaupun saya tidak bertemu dengan salju sekarang, saya bisa datang lagi tahun depan, saya hanya perlu berhemat dan menabung lagi. Kan?

***

Malam yang semakin dingin di suatu sudut kota Seoul. Saya, Wulan dan Arum menghabiskan waktu di Hongdae. Tempat ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak muda di Seoul dengan banyaknya tempat makan, street performance, jajanan kaki lima, hingga seni jalanannya. Letaknya dekat dengan Universitas Hongik salah satu sekolah seni rupa terbaik di Seoul. Di sini saya sering makan odeng sambil menyaksikan street performance dari orang-orang lokal yang suaranya sangat merdu seperti artis-artis Korea.

Di Hongdae kami bertemu dengan Hyunggi dan Daegun Oppa, teman Korea kami yang pernah kuliah di UI, Depok. Dulu saya sering membawa mereka ke Pekan Raya Jakarta untuk makan kerak telor dan lihat budaya-budaya betawi. Jadi sekarang mereka pun ingin menjadi tuan rumah yang baik untuk saya dengan mengajak kami yang sudah menggigil kedinginan ini untuk makan es krim! Hyunggi Oppa pria berpostur tinggi yang lancar berbahasa Indonesia ini senang sekali bercanda. Saat kami bercerita tentang keinginan melihat salju di Seoul, ia menanggapi dengan optimisme. “Aku pikir besok akan turun salju untuk kalian” ujarnya santai sambil menyantap es krim green tea di tangannya. Kami tak menghiraukan kata-katanya, karena hampir setiap kata yang diucapkanya adalaah candaan.

Hari ini kami akan menginap di apartment Pak Maman, seorang dosen Sastra Indonesia UI yang sudah bertugas mengajar di Hankuk University of Foreign Studies selama lima tahun (HUFS). Kampus yang terkenal dengan bidang studi bahasa asing dan juga social sciencenya ini juga memiliki program studi Bahasa Indonesia. Mengetahui Bahasa Indonesia menjadi salah satu jurusan favorit di HUFS membuat hidung saya kembang kempis saking bangganya.

Beberapa hari sebelumnya, beliau meminta kami untuk menjadi dosen tamu di kelas bahasa Indonesianya karena ia membutuhkan native speaker untuk membantunya mengajar. Dengan senang hati kami pun tanpa pikir panjang langsung ikut Pak Maman mengajar di HUFS dan bertemu dengan murid-muridnya yang kebanyakan lebih tua dari kami. Dari mengajar tentang kata imbuhan hingga penggunaan kalimat percakapan dengan benar kepada murid-murid Pak Maman memberi saya pengalaman yang luar biasa. Ini adalah kali pertama saya merasakan menjadi asisten dosen di luar negeri. Rasanya senang sekali membawa bagian dari negara saya untuk saya bagikan ke orang asing. Walaupun murid-murid Pak Maman masih terbata-bata dalam mengucapkan kalimat berbahasa Indonesia tapi saya sungguh mengapresiasi semangat belajar mereka. Melihat orang asing bersusah payah belajar bahasa dan budaya Indonesia membuat saya sungguh merasa bangga menjadi warga Indonesia.

Apartment Pak Maman terletak di kawasan Hwarangdae, dekat dengan kampusnya mengajar. Kami bertiga tidur di kamar sempit yang terletak di samping dapur dengan berdesak-desakan. Salah satu dari kami bahkan harus tidur di lantai dengan penghangat agar tidak kedinginan. Tapi ini pun sudah cukup untuk mahasiswa kere seperti kami.

Pukul 04.00 pagi, saat kami masih terlelap tiba-tiba dari pintu ada suara ketukan keras diikuti dengan teriakan “Bangun! Bangun! Bangun!”. Saya langsung terbangun dan berdiri dengan kaget dengan mata yang masih mengantuk. Apakah ada maling? Atau kami berbuat salah jadi Pak Maman marah? Gempa bumi kah?? Pikiran saya macam-macam saat itu.

Arum yang berada paling dekat dengan pintu, membuka pintu dengan mata setengah tertutup “Ada apa pak?”  katanya sembari menguap.

“Lihat ke jendela sekarang!” kata Pak Maman dengan semangat.

Kami bertiga buru-buru menuju jendela dan melihat butiran salju turun dari langit yang gelap dan langsung menggunung di permukaan tanah yang basah. Salju yang sudah kami tunggu-tunggu selama ini!!! Tetapi anehnya entah mengapa rasa kantuk sepertinya megalahkan rasa penasaran kami. Satu persatu dari kami kembali ke tempat tidur dan kemudian terlelap lagi hingga beberapa jam kemudian.

Saat bangun pada pagi harinya kejadian tadi serasa hanya ada di mimpi. Namun kami buru-buru membuka tirai kamar dan melihat keluar, semua atap rumah sudah diselimuti dengan gumpalan berwarna putih. Dengan air muka meletup-letup semangat kami tiba-tiba terbakar untuk cepat keluar dan bermain dengan salju!! Jendela yang membeku di kamar saya buka untuk memegang butiran es yang menempel di besi-besinya. Dingin. Saya amati butiran putih di tangan saya, persis seperti bunga es yang ada di freezer kulkas di rumah. Bedanya adalah kulkas ini seluas dataran Seoul. Hujan salju terus turun hingga malam hari, menyisakan gunung salju di mana-mana. Membuat jalanan yang dilewati menjadi sangat licin sehingga kami harus ektra hati-hati dalam melewatinya, tapi kami sama sekali tidak keberatan!

Sepanjang hari saya, Arum dan Wulan menghabiskan waktu di luar rumah, seperti tak mau rugi untuk bermain di salju pertama. Bertingkah seolah-olah kami adalah Elsa di film Frozen yang bisa membangun istana salju hanya dengan sapuan tangannya!. Dinginya sungai Cheonggyecheon di pusat Seoul malah kami manfaatkan untuk bermain perang bola salju hingga sore hari.

Seorang pengajar pernah mengajari saya tentang ambisi. Terkadang ketika kita mengesampingkan ambisi dan lebih memilih untuk menikmati apa yang ada, sesuatu yang di harapkan justru datang tanpa diminta. Mungkin hal ini yang dilakukan oleh salju pertama saya, ketika saya sudah tak mengharapkanya lagi ia datang membawa kebahagiaan yang lebih besar dengan memberi saya kejutan di hari-hari terakhir saya di Seoul.

-Maybe in the course of lifetime, things simply happened when they were supposed to-

IMG_1150

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: