Yogyakarta #pulangkekotamu

Sebagian orang yang tinggal di Jakarta datang ke Yogyakarta untuk berlibur. Sebagian ingin merasakan budaya dan tradisi kuno yang ditawarkan kota ini, sebagian lainnya ingin memanjakan lidah dengan makanan manisnya, beberapa hanya ingin melarikan diri dari lautan kemacetan Jakarta, sementara sisanya hanya ingin #pulangkekotamu.

Kampung halaman saya bukan Jogja. Saya pun berkuliah di Depok, Jawa Barat dan bekerja di Jakarta. Tetapi pada masa kuliah, saya lebih banyak menghabiskan waktu di Jogja karena sebagian besar teman SMA saya bersekolah di kota ini. Saya bahkan rela menghemat uang jajan di Depok hanya untuk membeli tiket kereta ekonomi tujuan Jogja. Bagi saya Jogja adalah medan magnet dan saya adalah besinya yang membuat saya selalu tertarik lagi dan lagi untuk mengunjunginya.

Bulan Februari 2017 lalu saya pulang ke kota gudeg ini untuk mengobati rasa rindu saya akan Jogja. Saya rindu dengan suasananya, orang-orangnya, kulinernya, pengamen jalanannya hingga kenangan-kenangannya.

Di bawah langit Jogja yang terasa familier, saya kembali menelusuri jalanan Jogja yang ramah dengan pedagang kaki lima bersama teman SMA saya Indri dan Sita. Kami menyusuri jalanan Malioboro yang merupakan poros garis imajiner keraton Yogyakarta ini bersama. Hari itu jalanan Malioboro sedang penuh sesak dengan rombongan turis-turis yang penasaran dengan pertunjukan jalanan yang ditampilkan oleh seniman-seniman lokalnya. Seorang penari laki-laki dengan kostum berwarna hijau terang dipadu dengan kain batik menari-nari lincah ditengah lautan manusia diiringi musik kentongan yang memanjakan telinga pendengarnya. Pengunjung di sana dibuat terpukau dengan keahlian sang penari yang meliuk-liukan tubuhnya kesana-kemari mengikuti suara musik yang didendangkan, menarik rasa penasaran semua orang yang melintas di depannya. Di seberang jalan seorang wanita paruh baya sedang asik mengipas sate ayam daganganya yang menyemburkan kepulan asap beraroma sedap terbang ke seluruh penjuru jalan. Sementara saya melenggang santai di jalanan yang sudah terasa akrab dengan menyunggingkan senyuman yang tak lepas-lepas dari wajah saya seolah-olah ada yang membisikan di telinga saya “Welcome home ki”

Delman di tepi-tepi jalan, batik-batik yang berjejer sepanjang trotoar, pedagang gudeg dan wedang ronde di depan pasar Beringharjo, hingga pengamen jalanan di depan kedai-kedai lesehannya membawa ingatan saya kembali ke suatu malam yang masih tersimpan rapih di memori saya. Seketika itu juga sebuah layar masa lalu terbentang di hadapan saya.

Tangannya mengenggam kuat tangan saya, kami menyebrangi jalanan Malioboro yang tak pernah sepi.  Sesekali ia melingkarkan lengannya ke pundak saya sembari mengoceh tiada henti tentang pertandingan sepak bola yang baru ditontonnya. Sementara saya menatapnya tak berkesudahan. Malam itu kami seolah ingin melahap semua sisi romantis Jogja berdua saja tanpa mau berbagi dengan siapapun. Seperti tak ingin kehilangan momen ia meminta seorang tukang becak untuk membawa kami berkeliling Alkid yang ramai dan riuh dengan lampu-lampu neon yang dipasang di odong-odong sewaan. Sambil tersenyum saya menyandarkan kepala saya ke pundaknya dan menikmati Jogja bersamanya untuk kesekian kalinya.

Itu adalah salah satu dari banyak momen yang layak untuk dikenang dengan Jogja sebagai saksinya. Walaupun kisahnya sudah lama berakhir namun kenangan akan Jogja kala itu sama sekali tidak saya coba untuk lupakan bahkan dihapuskan. Kenangan buruknya saya buang tapi kenangan manisnya saya simpan, boleh kan?

Mengenang kembali Jogja sama dengan mengingat hari-hari ketika saya rajin begadang hanya untuk menghabiskan waktu di angkringan bersama teman-teman. Rasanya sayang jika malam hari di Jogja hanya dihabiskan di dalam kosan untuk tidur. Suatu malam, saya, Hanum, Bimbi, Otong, Puput, Kadin dan Icha sepakat untuk mengambil foto di depan tugu Yogyakarta yang ikonik pada tengah malam. Setelah itu kami pun menuju kampus UGM untuk berfoto pada pukul 3 pagi. Katanya kalau foto di depan tulisan UGM lulusnya lama. Bagi saya, Hanum, dan Kadin hal itu bukan masalah karena kami bukan mahasiswa sini, tetapi bagi yang lainnya yang mengenyam pendidikan di UGM berfoto di depan kampus mereka adalah sebuah tantangan dan pembuktian.

Berada di Jogja membuat saya menjadi spontan. Saat sedang menghabiskan malam di McD tanpa rencana yang matang kami langsung berangkat ke pantai Sundak Indrayani di Gunung Kidul pada pukul 04.00 pagi untuk melihat sunrise. Jalanan yang berliku, hutan dengan pohon-pohon lebat di kanan kiri jalan, hingga waktu tempuh yang memakan waktu 2 jam membuat kami sukses melewatkan sunrise pagi itu. Harapan kami melihat matahari terbit harus pupus. Sampai di sana matahari sudah terbit sepenuhnya. Tetapi entah kenapa kami sama sekali tidak kecewa. Kami justru menikmatinya dengan membiarkan cahaya matahari menerpa wajah kami sambil berjalan di bibir pantai. Bagi kami tidak ada perjalanan yang sia-sia.

Saat di Jogja, kuliner pun menjadi incaran saya. Dari Ayam Mas Kobis, Ayam Cha Do Jo, Sate Klathak, Bungong Juempa, hingga Raminten yang terus membuat saya rindu akan rasa khasnya setiap kali berada si kota lain. Makanan khas Jogja mengajarkan saya bahwa kenikmatan sebuah makanan tidak melulu harus disajikan di tempat bergengsi dengan pendingin ruangan di sudut-sudutnya. Di Jogja saya hanya perlu sebuah kursi kayu atau tikar dengan menu nasi ayam cabai untuk membuat saya menikmati sebuah malam.

Ketika ditanya oleh orang asing yang saya temui dalam perjalanan-perjalanan saya tentang kota favorit di Indonesia, saya tak pernah mengganti jawaban saya. Kota itu adalah; Jogja, kota yang selalu membuat saya ingin pulang kembali.

#pulangkekotamu.  Ada setangkup haru dalam rindu.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: