Berteman dengan Mantan

Berteman dengan seorang yang pernah membagi rasa dengan kita memang kedengaranya sulit. Karena pasti akan selalu ada rasa yang tertinggal dan menghalangi proses move on. Namun bukan berarti kita tidak bisa mencoba, kan?

Kehilangan jejak seorang mantan itu mungkin wajar karena kita harus saling menjauh agar tidak terjebak pada masa lalu. Tetapi kalau kita juga harus kehilangan seorang sahabat yang pernah dipacari, rasanya terkadang lebih menyakitkan dari berakhirnya sebuah hubungan percintaan.

Saya termasuk orang yang tidak rela kehilangan seorang teman hanya karena kami pernah memiliki hubungan lebih. Saat semua orang berusaha melarikan diri dari mantan-mantan mereka, saya justru menjadikan mereka sebagai teman berdiskusi. Beberapa mantan saya pun sekarang berhasil kembali di kehidupan saya yang sekarang seperti dulu kala sebelum ada perasaaan yang ditanamkan. Saya bisa duduk dengan mereka membahas tentang perempuan yang sedang ia dekati atau mengomentari isi instagramnya. Saya bahkan pernah datang ke wisuda seorang mantan pacar SMA dan berkenalan dengan pacar barunya sambil mengobrol santai dengan orangtuanya yang masih mengingat saya dengan baik.

Berteman dengan seorang mantan kekasih dengan durasi waktu pacaran yang sebentar memang lebih mudah. Tak terlalu banyak kenangan yang kembali saat bertemu dan bikin baper. Apalagi dengan mantan yang tidak dalam satu lingkaran pertemanan dan jarang bertemu, berteman dengannya tentu bukan menjadi masalah besar. Kadang saya berfikir mungkin saya tidak benar-benar menyukainya karena setiap bertemu kembali saya hanya merasa seperti bertemu teman lama. 

Tapi bagaimana dengan mantan pacar yang menghabiskan hampir setengah hidupanya bersama kita? Yang ikut menemani kita dalam melewati masa-masa sulit? Yang mengetahui sejarah kita dan mengerti kita lebih dari siapapun? Atau ia yang berada dalam satu lingkaran pertemanan? Tentu banyak memori yang merayap masuk yang kadang membuat pertemuan casual menjadi sesuatu yang menyiksa. Tapi ini justru menjadi tantangan tersendiri.

Saya punya cerita.

Sekitar 10 tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang pria di sekolah. Ia pria yang baik, cerdas, polos dan punya banyak teman. Ia senang menghabiskan waktu di teras rumah saya bersama teman-teman lelakinya menikmati sabtu malamnya memakan sisa roti buatan Ibu.

Ia tidak yakin bagaimana menyampaikan perasaannya pada saya hingga suatu hari teman-temannya memintanya untuk segera jujur akan apa yang ia rasakan. Pada suatu malam dengan wajah polosnya Ia memberanikan diri datang ke rumah saya untuk meminta saya menjadi pacarnya. Saya senang melihatnya seberani ini mengatakan apa yang ia simpan selama ini. Tentu menyenangkan rasanya disukai oleh lelaki sebaik dan selembut dia. Namun, saat itu saya justru membuatnya patah hati karena lebih memilih orang lain, padahal saya juga menyimpan perasaan untuknya.

Rasa sakit hatinya membuatnya menjauh dari saya. Namun entah karena alasan apa pada akhirnya ia lelah menjauh dari saya. Mungkin karena saya selalu hadir di dalam hidupnya. Kami lalu kembali menjadi teman baik bahkan menjadi seorang sahabat. Dengan menjadi sahabatnya saya justru menyadari akan hal-hal baik darinya.

Setelah satu tahun berpacaran saya putus dengan pacar saya dan menyadari bahwa saya tidak benar-benar mencintainya karena saya selalu memikirkan ia yang dulu saya tolak cintanya. Saya langsung berharap ia akan mengutarakan cintanya yang dulu lagi pada saya. Tapi kali ini saya yang harus patah hati, ia sudah berpacaran dengan orang lain. Sepertinya kali ini ia membalas saya. Lalu sekarang saya yang harus menyimpan perasaan ini dan mencoba menjadi teman baiknya. Saya akui hal ini tidaklah mudah. Mungkin kami memang hanya berjodoh sebagai sahabat.

Beberapa bulan menjalin hubungan ia lalu mengakhirinya karena ia pun tak bisa berhenti memikirkan tentang saya. Setelah bertahun-tahun menunggu dan menjalin cinta dengan orang lain kami akhirnya bisa bersatu.

Dulu saya mencintainya bukan karena fisiknya yang atletis atau karena kehidupanya yang terlihat mudah. Saya tidak memperdulikan akan hal itu, saya mencintainya karena ia adalah salah satu orang yang berambisi. Tau akan apa yang ia mau. Selain itu ia adalah orang yang paling apa adanya yang saya kenal. Ia tidak malu bertanya akan hal sepele kepada saya, atau mengakui bahwa saya lebih pandai darinya. Ia kadang dengan polos menanyakan arti sebuah hal kecil di sela-sela film atau pengucapan bahasa Inggris yang benar dari sebuah kata. Ia menganggap saya motivatornya sekaligus partner yang baik untuk berdiskusi dan saya pun menganggapnya sebagai seorang pendengar yang baik. Karena kalau bertemu dengannya saya akan sangat cerewet menceritakan hal baru yang saya alami sementara dia akan duduk di depan saya mendengarkan saya seperti sedang didongengi. Karena alasan ini, dulu saya merasa sungguh beruntung mempunyai seorang kekasih yang juga seorang sahabat, tempat saya bisa menceritakan segala hal tanpa takut untuk di judge.

Suatu hari saat saya ada masalah di rumah, saya lantas menghubunginya memintanya untuk segera menjemput. Dengan sesengukan saya menangis semalaman di mobilnya. Ia memacu kendaraanya mengitari kota kecil kami tanpa berhenti. Ia bukan tipe yang akan  bertanya masalah saya sebelum saya siap untuk menceritakanya sendiri. Saya ingat ia menyalakan radio lalu mengomentari dan membuat lelucon tentang lagu-lagu yang diputar sambil beberapa kali menoleh kepada saya untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja. Saat itu saya tahu bahwa ia sedang berusaha keras menghibur saya, sesekali bertanya apakah saya lapar atau haus atau butuh ke toilet. Ia orang yang sangat lembut dalam menghadapi saya, percaya akan mimpi-mimpi saya dan menghargai saya sebagai perempuan. Tak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya pada saya.

Tapi akhirnya waktu yang membuat kami memutuskan untuk berpisah. Satu-satunya hal yang pasti dalam hubungan kami adalah suatu hari kami harus saling melepaskan. Hati saya rasanya hancur berkeping-keping melihatnya pergi dari hidup saya. Saya tidak biasa dan tidak akan pernah terbiasa hidup tanpa dia. Selain kehilangan seorang kekasih saya juga kehilangan seorang sahabat. Sahabat yang selama ini selalu ada di masa-masa terberat dalam hidup saya.

Saya menjauhi kehidupanya untuk beberapa saat, menetralkan suasana hati saya, berharap menghapuskan rasa saya kepadanya dan kenangan-kenangan yang kami bangun beberapa tahun ini, membuktikan padanya bahwa saya akan baik-baik saja tanpanya. Membiarkan ia bahagia dengan kehidupan barunya dengan kekasihnya.

Menjauh darinya menjadi semakin sulit karena kami berada di lingkaran pertemanan yang sama. Saya tak bisa menghindari acara penting dari teman saya hanya karena saya takut bertemu mantan saya. Saya pun terkadang lelah menjauh darinya, karena ini artinya saya juga harus menjauh dari teman yang lainnya.

Sebesar apapun upaya saya untuk menghindar, ia selalu menemukan cara untuk kembali. Di dalam lubuk hati, saya pun tahu, bahwa ia sebenarnya tak pernah pergi. Ia ada di sana, memasang telinganya kalau-kalau saya butuh bercerita tentang sesuatu.

Suatu hari ia mengirimkan pesan.
if one day you feel like crying…call me.

I don’t promise that.

I will make you laugh

But I can cry with you.

If one day you want to run away

Don’t be afraid to call me.

I don’t promise to ask you to stop,

But I can run with you.

If one day you don’t want to listen to anyone 
call me 

I promise to be there for you

but I also promise to remain quiet

 -Robert. J Lavery.

Kami berdua tau bahwa saya akan selalu ada di sini dan ia akan selalu ada di sana di tempat kami yang dulu. Dan kami akan selalu bertemu lagi dan lagi. Saya membutuhkanya untuk menjadi supporter saya dalam segala hal, ia pun membutuhkan saya untuk menentukan beberapa pilihan yang harus ia ambil dalam hidupnya.

Jadi pilihan saya hanya satu, berhenti menghindarinya, menghapuskan perasaan saya dan memintanya untuk memulai chapter baru dengan saya sebagai seorang teman. Seperti dulu. Saya berkata bahwa ia boleh bercerita tentang apa saja pada saya, bahkan tentang perempuan yang ia kencani, sebagai seorang sahabat saya janji saya akan mendengarkan. Ia sepakat.

Beberapa kali mantan saya datang kepada saya, alasanya karena ingin berdiskusi yang diakhiri dengan celotehanya tentang kekasihnya yang tidak seperti saya. Tentang ia yang jauh lebih nyaman berbicara dan berada di samping saya. Tapi sayangnya kami tetap tak bisa lagi bersama. Kami pun sama-sama tahu bahwa hubungan kami dulu tak seharusnya dipertahankan, bahkan tak seharusnya dimulai. Tapi kenyataan tak bisa dibohongi bahwa ialah orang yang paling bisa membuat saya nyaman di dunia ini. Begitupula denganya.

Walaupun sepakat untuk menjadi teman baik dan bermain bersama teman lainya, kadang saya merasa aneh duduk di bangku belakang mobilnya. Berteman dengannya tak semudah menjalin pertemanan dengan mantan-mantan pacar saya yang lain. Saya tak bisa berdiskusi tentang pacar barunya, atau duduk berjauhan denganya terasa salah. Rasanya bangku di sampingnya seharusnya menjadi tempat saya duduk. Atau saya berusaha menjauhi telefon genggamnya yang berbunyi, saya takut melihat pesan di ponselnya takut kalau kalau itu dari seorang perempuan. Padahal saya hanya temannya bukan lagi pacarnya. Saya juga bingung dengan perasaan saya ini.

Kemarin saya menghabiskan satu hari dengannya. Ia datang ke kota saya dan bertanya apa yang akan saya lakukan hari ini. Saya jawab saya akan menonton sendirian. Ia bilang ia akan menemani saya. Sebagai teman. Kami berbincang cukup lama, tentang pekerjaan yang sedang ia lamar, tentang ayahnya, tentang film, tentang usahanya, saya bahkan memberi tahunya tentang lelaki yang saya temui beberapa bulan lalu. Ia hanya tersenyum, seolah-olah ikut bahagia akan pertemuan saya.

Sambil memandang wajahnya dengan penuh rindu, saya berusaha mengingat semua hal yang membuat kami tidak bisa bersama, semua hal yang membuat saya marah padanya dulu, kekasihnya yang dulu membenci saya, impianya yang terus ia tunda, dan hal-hal lain. Saya berusaha melupakan tentang kenyataan bahwa saya pernah mencintai lelaki di depan saya ini. Tetapi setiap ada di keramaian saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri bahwa saya lebih nyaman ketika ia menggenggam tangan saya, atau mendengar ia berkomentar bahwa ia lebih senang melihat saya memakai rok daripada celana jeans, atau membiarkan tangan kami bersentuhan. Saya juga sedikit terkejut bahwa bahkan setelah 10 tahun rasa itu belum benar-benar hilang. Bahwa selama 10 tahun saya berkali-kali mencoba menjadikanya seorang teman tapi berkali-kali juga saya gagal. Dia mantan paling sulit saya jadikan teman. Mungkin karena dulu saya benar-benar menyukainya. Dan dulu ia memang layak untuk dicintai.

Seorang teman berkata bahwa yang saya rasakan itu bukan rasa cinta yang dulu. Hanya sebuah perasaan familiar karena ia pernah menjadi bagian dari hidup saya. Perasaan familiar itu akan selalu ada dan memang tak bisa saya hindari.

Namun saya harus bisa menikmati ini sebagai nostalgia saja, tanpa memanggil rasa yang dulu pernah ada itu kembali. Ia adalah teman baik saya, seorang sahabat yang pernah memberikan seluruh waktu, perasaaan, dan perhatiannya pada saya. Saya berharap segala-galanya berjalan baik untuk dirinya. Dan sudah selayaknya rasa yang menghalangi kami untuk menjadi teman ini saya kubur dalam-dalam, tapi tidak dengan ceritanya. Ceritanya akan saya kenang sampai kapanpun. Cerita antara saya dan dia. Teman baik saya

 “He did make me happy for a long time. And no matter how bad things got, he really did love me for a minute, didn’t he?”

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: