Jawa Timur di tengah-tengah Den Haag

Sebagai pusat pemerintahan Belanda, Den Haag, menjadi kota yang dipadati oleh kedutaan besar negara-negara asing. Salah satunya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berada di jalan Tobias Aserlaan 8, 2517 KC Den Haag. Pekerja di kedutaan hingga masyarakat Indonesia lain yang memilih tinggal dekat dengan kedutaan pun banyak berkumpul di beberapa kawasan di Den Haag. Mungkin karena alasan tersebut, kota yang secara harafiah berarti ‘pagar’ ini, menjadi salah satu kota dengan populasi keturuan Indonesia terbanyak di Belanda.

IMG_6740

Sewaktu saya mengunjungi Den Haag pada November 2014, hampir setiap saya keluar rumah saya bertemu dengan orang Indonesia. Baik yang sudah puluhan tahun tinggal di sini, atau yang hanya pelancong seperti saya, yang wajahnya mudah dikenali di antara lautan bule-bule Eropa. Seperti halnya ketika saya baru saja selesai berbelanja kelapa parut bersama Tante Suez di Amazing Oriental (toko bahan makanan Asia) di centrum. Kami berpapasan dengan rombongan keluarga Indonesia yang seketika itu juga menghentikan kami di jalan dan bertanya. “Rumah makan Padang di Chinatown ada di sebelah mana ya?”. Saya yang baru beberapa hari di Den Haag dan Tante Suez yang berasal dari kota Zandaam hanya bisa geleng-geleng kepala kebingungan.

Jika ingin menikmati suasana natal dan tahun baru yang khas di negara yang terkenal dengan kejunya ini,  akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk berkunjung. Kita bisa menikmati keindahan kanal-kanalnya di musim dingin, menyeruput coklat panasnya yang nikmat, hingga berbelanja pernak-pernik di pasar-pasar natal di negara tetangga yang membuat liburan terasa semakin lengkap.

Saya pun merasa sangat beruntung bisa menikmati pergantian tahun di negara yang bahasa dan budayanya saya pelajari selama empat tahun di bangku kuliah. Apalagi kali ini saya memiliki pengalaman menghabiskan tahun baru yang berbeda dari biasanya. Ketika di Indonesia tahun sudah berganti dan teman-teman saya sudah mengirimkan pesan selamat tahun baru kepada saya, di Den Haag saya masih memiliki tambahan waktu 6 jam menuju tahun 2015.

Setiap tahun, Mba Reni saudara jauh saya dari Kediri yang sekarang tinggal di Den Haag, selalu mengadakan perayaan malam tahun baru di rumahnya. Ia mengundang teman-teman yang tinggal di Belanda serta kerabatnya dari Belgia. Ia pun mempersilakan saya untuk mengundang dua teman saya yang saat itu sedang bersekolah di Eropa. Kedua teman saya ini bernama Nurul. Nurul1 sedang berkuliah di NHVT Breda (Belanda bagian selatan) dan Nurul2 sudah tinggal di Berlin, Jerman selama empat tahun untuk menempuh pendidikan S1.

Pesta tahun baru di Eropa kali ini jauh berbeda dari bayangan saya tentang pesta pergantiaan tahun yang khas dengan musik keras, makanan khas Eropa, atau dansa-dansa meriah. Mba Reni yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai perawat di rumah jompo ini mempunyai gaya sendiri dalam mengadakan pesta. Acara yang dibuatnya lebih sebagai ajang kumpul-kumpul orang Indonesia di Belanda yang rindu akan makanan khas nusantara dan segala hal yang berbau Indonesia. Sangat sederhana. Jauh dari pesta-pesta tahun baru yang ada di benak saya.

Semua menu yang di sajikan pun kami buat sendiri dan variasinya sama seperti ketika saya merayakan Idul Adha di Indonesia. Ada rendang, gulai, lontong, lemper, sate, kue lapis, bakso bahkan ada martabak telur yang dibuat oleh Nurul2 yang pernah bekerja di restaurant Indonesia di Berlin.
Bahan-bahan makanannya kami beli di toko Turki dan Maroko (toko yang menjual halal food) yang berada di tengah kota. Dari daging, beras, bawang-bawang, cabai hingga bumbu kari. Saya sedikit mengantuk hari ini karena malam sebelumnya, saya harus tidur larut untuk membungkus lemper yang kemudian dikukus sebagai salah satu makanan yang di sajikan di pesta.

Di halaman belakang Mas Charles, suami Mba Reni, membakar areng untuk membuat sate kambing favoritnya bersama beberapa temannya sambil mendengarkan lagu dangdut dan keroncong yang ia putar. Sementara di ruang tamu terdengar suara cekikikan Tante Suez dan beberapa orang Indonesia yang sedang menonton tayangan Net TV -Tetangga masa gitu- sambil sesekali mengganti channel ke TV One untuk melihat berita terbaru yang terjadi di Indonesia.

Alicia, Felicia, Rosaline, Richi dan Louise George anak-anak dari para tamu berlari-larian mengitari rumah dan menggoda para orang dewasa yang sedang sibuk memasak. Sesekali saya pun harus ikut berlari untuk menyuapi Louise anak keturunan Indonesia-Yunani dengan lemper kesukaanya.

Saya dan Nurul1 membantu di dapur menyiapkan Bakso sambil mendengarkan Mba Reni dan Mba Iin yang sama-sama berasal dari Kediri berbincang-bincang di salah satu sudut.

“Ya iku loh enak mbak satene Mas Charles” kata Mba Iin dengan logat Jawa yang kental mengomentari sate buatan Mas Charles.

“Iki yo enak martabak ala chef Nurul” ujar Mba Reni menanggapinya.

Kedua Nurul yang sama-sama berasal dari Padang memandang saya bersamaan lalu Nurul1 berkata “Duh roaming nih, ini gue lagi ada di Jawa Timur apa di Belanda sih sebenernya?” membuat tamu yang lain menatap kami geli dan kemudian tertawa keras.

Dinginya udara bulan Desember di luar terasa berbanding kontras dengan kehangatan yang terjadi di dalam rumah. Dengan memakan makanan khas Indonesia dan dikelilingi oleh orang-orang Jawa Timur di Belanda membuat saya merasa tidak pernah pergi dari tanah Jawa yang khas dengan keramah tamahanya.

Anak-anak yang sedari tadi berlarian kesana kemari pun mulai terlelap karena kelelahan bermain. Saya dan orang dewasa lainnya lalu berkumpul di tengah ruangan sambil menyatukan tangan, berdoa menurut kepercayaan kami masing-masing untuk datangnya tahun 2015 yang lebih baik.

Dengan mengenakan jaket tebal kami keluar rumah menerjang dinginnya malam menjelang pukul 12 petang. Kami akan menghitung mundur dan menyalakan kembang api yang sudah di persiapkan oleh Dimi, lelaki keturunan Yunani ayah dari Louise. Ia sudah mengumpulkan berbagai macam kembang api sejak awal tahun dan membawanya jauh-jauh dari Belgia dua hari sebelumnya untuk dinikmati bersama keluarga barunya. Katanya hanya pada malam tahun baru ia bisa menyalakan kembang api sepuasnya.

IMG-20141231-WA0018

Warna-warni kembang api yang mewarnai langit Den Haag, lantunan lagu-lagu Indonesia di dalam rumah, wajah-wajah yang familier di tempat asing, senyuman hangat saudara-saudara saya dan optimisme menyambut tahun baru 2015 membuat malam ini terasa sungguh special.

Dengan gegap gempita kami bersama-sama menghitung mundur untuk menutup tahun 2014 dan menyambut tahun yang baru.

9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 …..Gelukkig Niewjaar 2015!!!!!!!!!! Terompet ditiupkan di sana-sini, sisa kembang api dinyalakan, semua orang bersorak gembira kemudian memeluk orang yang ada di sampingnya. Saya pun tak mau ketinggalan dan langsung memeluk kedua Nurul dengan erat sambil berusaha menghangatkan badan.

Satu persatu tetangga Mba Reni datang ke rumah untuk memberi selamat. Menyelamati dan saling berpelukan dengan orang-orang yang ada di dalam rumah, baik yang mereka kenal ataupun tamu di rumah itu. Mendoakan agar tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Tak perduli dengan warna kulit, tak perduli kebangsaan semua orang malam itu terlarut dalam suka cita yang sama dan saling mendoakan satu sama lain.

 

Bagi saya yang saat itu sudah hampir 2 bulan berada di Eropa berkumpul bersama orang Indonesia dan makan makanan khas tanah air adalah kenikmatan tersendiri. Kerinduan saya akan kampung halaman terobati hanya dalam semalam. Untuk pertama kalinya saya merasa sejauh sekaligus sedekat ini dengan Indonesia, kampung halaman saya.

Saya kira sebesar apapun keinginan untuk menjelajahi tempat baru dan sejauh apapun seorang pergi dari negaranya, pasti ada bagian dari diri mereka yang rindu akan rumah. Ada sesuatu yang dibawa kemanapun mereka pergi dan akan selalu ada upaya menghadirkan rumah di tempat baru dimanapun mereka berpijak. Entah membuat makanannya, menyanyikan lagunya, atau tak pernah berhenti mencari tahu kabar tentangnya. Persis seperti pasangan yang sedang menjalin hubungan jarak jauh. Fisiknya ada di satu tempat tetapi hatinya tetap ada di sana, tempat orang yang dicintainya menunggunya.

Di sini di sebuah kota dingin yang jauh dari rumah, saya menemukan Indonesia. Ya Indonesia, sebuah tempat di ujung samudera yang menunggu kami para perantau dan petualang untuk pulang membawa sebuah cerita yang kami temukan di ujung dunia.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: