Memang benar saya anak Ibu (Singapura 2017)

Ibu saya pernah bercerita tentang sebuah perjalanan yang ia lakukan beberapa bulan yang lalu. Cerita yang memberitahu saya akan asal usul jiwa petualang yang saya miliki.

Enam bulan yang lalu Almarhumah Tante saya dirawat di rumah sakit Dharmais Jakarta karena kanker paru-paru yang dideritanya. Saat itu Ibu harus bolak balik Cilegon-Jakarta untuk menemani tante menjalani kemoterapi dan radiasi. Di mata keluarga, Ibu adalah orang yang paling cekatan dalam merawat orang sakit. Menurutnya  merawat orang sakit adalah salah satu bentuk ibadah. Sejak dulu jika ada keluarga yang sakit ia akan menjadi orang pertama yang mendaftarkan diri untuk menjaganya di rumah sakit. Mungkin Ibu saya memiliki naluri sebagai seorang perawat atau Ia memang seorang malaikat yang dikirim ke bumi.

Siang itu, shift Ibu menjaga tante akan digantikan oleh Mba Mery anak dari tante. Sehingga Ibu bisa pulang ke Cilegon untuk beristirahat. Sejak dulu hingga sekarang transportasi penghubung Jakarta-Cilegon masih sulit. Walaupun sudah ada kereta dan travel tetapi jadwalnya tidak banyak. Sehingga mau tidak mau, bus menjadi pilihan kami jika memang tidak ada yang mengantar. Bus yang tersedia pun belum layak, tanpa nomer duduk, terkadang kernet memasukan penumpang lebih dari kapasitas bus yang seharusnya, sebagian orang kadang harus berdiri padahal mereka membayar dengan harga yang sama, selain itu pedagang jajanan seperti kacang dan minuman bebas keluar masuk di jalan tol membuat bus semakin tidak layak untuk ditumpangi. Padahal untuk sampai ke Cilegon dibutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan. Saya sendiri kadang takut untuk menaiki bus seperti ini dan memilih untuk menunggu sampai ada keluarga yang akan pergi ke Cilegon dengan kendaraan pribadi, tapi tidak dengan Ibu.

Keluar rumah sakit Dharmais, Ibu menuju Plaza Slipi untuk menunggu bus ke arah Cilegon datang. Entah karena sedang kecapaian atau mengantuk, ia salah naik bus tujuan ke Merak yang tidak berhenti di Cilegon. Ketika ibu bercerita tentang hal ini saya sangat khawatir mendengarnya. Bagaimana seorang ibu-ibu di usia 50an tersesat sendirian di tempat yang cukup jauh dari rumah dengan sistem transportasi yang buruk.

Saya pikir Ibu akan melanjutkan ceritanya dengan sebuah penyesalan mengapa ia tak teliti melihat tulisan di depan bus dan menelefon rumah untuk minta dijemput. Tetapi ternyata Ibu saya jauh lebih berani dari yang saya kira, bukanya merasa sial Ia malah berkata “Sampai Merak waktu itu Ibu lihat pantai, ada matahari terbenam, bagus sekali, sudah lama Ibu nggak lihat pantai” katanya kagum dengan apa yang dilihatnya saat itu.

Ibu dengan santai mencari tahu transportasi untuk pulang, tanpa mau merepotkan orang rumah. Ia akhirnya sampai di rumah setelah berhasil bertanya dan menemukan angkot yang menuju ke arah Cilegon di jalan. Kata Ibu “Karena nyasar sekarang Ibu jadi tahu angkot yang harus dinaiki kalau mau ke Merak kan?” Saya hanya tersenyum mendengar ceritanya.

Saya bangga punya Ibu pemberani seperti ini. Menjadikan pengalaman tersesatnya menjadi sebuah cerita dan pelajaran. Ia bahkan menemukan keindahan dari hal yang biasanya orang lain sebut kesialan itu. Sekarang saya tahu darimana saya mendapat jiwa petualang.

Sewaktu berada di Den Haag saya pun pernah nyasar jauh sekali dari rumah. Setelah mengantar teman saya ke stasiun saya mengambil belokan yang salah. Saat itu sedang badai angin, tetapi entah kenapa saya sama sekali tidak merasa takut. Saya malah bersyukur bisa menemukan tempat tersembunyi yang menarik di sebelah stasiun. Ketika sampai rumah, saya dengan semangat menceritakan tempat baru yang saya temui dan barang yang saya beli di toko kecil tempat saya bersembunyi dari angin besar yang mendorong tubuh saya kepada teman-teman yang mengkhawatirkan saya.

Walaupun saya tahu dari dulu Ibu memang suka bepergian dan disebut Malang -Mamak Petualang- oleh keponakan-keponakannya tapi ceritanya barusan benar-benar menginspirasi saya. Mengajarkan saya bahwa dalam melakukan perjalanan kita tidak boleh takut tersesat, yakinlah bahwa akan selalu ada jalan pulang jika kita mau mencari dan selalu ada cerita yang bisa kita bawa pulang ke rumah.

Tidak hanya jiwa petualang yang diturunkan Ibu kepada saya.

Akhir Januari 2017, saya mengajak Ibu liburan ke Singapura. Dulu saya pernah janji pada Ibu kalau sudah kerja saya akan bawa Ibu ke tanah suci untuk ibadah Umroh. Tetapi sebelum saya berhasil mengabulkan mimpinya, pada tahun 2016 Ibu pun berangkat Umroh dengan biaya sendiri dengan Pakdhe dan Tante saya. Jadi agar tidak gagal menjadi anak berbakti saya ajak Ibu liburan ke Singapura. Karena saat ini saya hanya mampu mengajak Ibu ke sini. Tiketnya pun tiket promo seharga Rp. 700.000 pp. Kalau saya sudah kaya raya nanti kita Umroh berdua ya bu, tapi musti sabar karena ini ujian.

Di Singapura kami hanya menginap selama dua malam di sebuah hotel di kawasan Little India bernama 81 Dickson di Dickson Road yang berlokasi kurang lebih 150 meter dari Rochor MRT station. Sehari sebelum berangkat saya bertanya pada Ibu “Bu perlu bawa koper nggak? kalau-kalau Ibu mau beli oleh-oleh”. Ibu saya langsung menjawab dengan mantap: “Nggak usah lah, mau beli apa emang? bawa tas jinjing saja”

Jadilah kami berangkat ke negeri Singa hanya dengan menggendong backpack dan tas jinjing Ibu tanpa membeli bagasi. Tas kecil merah miliknya memang selalu menjadi andalannya kalau pergi kemana-mana, sementara saya sendiri juga selalu mengandalkan backpack kecil berwarna pink pemberian dari seorang teman sebagai teman perjalanan saya.

Hari itu kami pergi ke Mustafa Centre yang terletak tidak jauh dari hotel dengan niat membeli oleh-oleh kecil. Sesampainya di sana Ibu dengan sigap mengambil troli dan memborong kaos bertuliskan ‘I Love Singapore’ serta coklat-coklat dengan berbagai ukuran dan bentuk. Tak hanya itu tas punggung untuk adik yang akan naik kelas 1 SMA dan koper kecil juga ia masukan ke dalam troli. Hari itu Ibu berbelanja banyak sampai-sampai uang yang sudah ditukarkan untuk 3 hari kedepan habis di hari kedua. Sehingga kami harus ambil uang tambahan di ATM.

Belum puas dengan berbelanja di Mustafa, saat saya ajak Ibu ke Bugis Street ia menambah belanjaannya dengan membeli  tas-tas khas Singapura untuk sepupu-sepupu dan tante-tante. Tanpa suara saya mulai mengkira-kira berat belanjaan Ibu dan langsung menghubungi kakak saya untuk membeli bagasi secara online untuk penerbangan pulang kami. Karena saya yakin belanjaan Ibu tak akan muat jika dipaksakan masuk ke dalam bagasi cabin. Naluri saya ingin protes tapi saya berkaca diri. Sewaktu saya di Jepang, sebelum berangkat saya pun janji kepada diri sendiri kalau saya tidak akan beli banyak barang di sana. Tetapi akhirnya naluri perempuan saya yang senang membeli barang dengan berlandaskan nafsu menang. Saya akhirnya membeli banyak mainan dan notes di toko Daiso yang membuat saya harus membeli koper dan bagasi lagi ketika pulang.

Teman-teman dan keluarga saya dulu selalu protes jika akan bepergian dengan saya. Penyebabnya adalah saya selalu lupa di mana menaruh kunci, dompet, jam, kacamata, dan handphone yang membuat bepergian jadi terlambat karena mereka harus menunggu saya mencari benda-benda tersebut sebelum pergi. Salah satu benda yang paling sering saya lupakan adalah kunci motor. Setiap bertamu ke rumah saudara dan berpamitan, tidak lama kemudian saya pasti akan masuk kembali ke rumahnya untuk mencari kunci motor saya. Sepupu saya biasanya akan ngomel dan berkata “Kan kan, makanya kalungin di leher kuncinya ki”. Yang lebih parah kadang ketika sedang berbelanja, saya juga sering lupa membawa barang belanjaan saya dan meninggalkanya di toko membuat saya sering ditegur kasir “Barang belanjaanya nggak dibawa Mbak” lalu saya kembali dengan malu.

Saya memang pelupa akut. Dan begitu pula Ibu saya. Di Singapura saat keluar dari hotel saya dan Ibu makan di sebuah restaurant yang tak jauh dari tempat kami menginap. Baru saja kami duduk dan memesan makanan Ibu ingat bahwa jam tangannya ketinggalan di hotel. Begitu juga fresh care yang biasa ia bawa kemana-mana.

Ibu lantas meminta saya untuk membeli minyak angin di Seven Eleven di sebelah tempat kami makan daripada saya harus kembali ke hotel mengambilnya. Harga satu minyak cap kampak ukuran sedang adalah SGD 9.8. Mahal sekali. Tapi yasudahlah.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang basah karena hujan menuju stasiun MRT Rochor. Orang-orang sibuk melipat payung mereka di stasiun. Sepatu saya yang sedikit basah membuat kaki saya terasa dingin. Di depan lift menuju stasiun saya bertanya kepada Ibu “Bu kartu MRT Ibu mana” dan langsung dijawab “Oiya ketinggalan di tas satunya”.

Hari ini saya memang bilang pada Ibu untuk menitipkan semua barangnya di tas saya karena tas saya cukup besar untuk membawa barang-barang milik kami berdua. Tetapi ternyata itu adalah ide yang kurang briliant karena semua barang penting milik Ibu ia tinggalkan di dalam tasnya di hotel.

Pada akhirnya saya pun harus lari-lari kembali ke hotel untuk mengambil tas Ibu yang berisi jam tangan, fresh care, dan kartu MRT. Sedikit menyesal tadi saya membeli minyak cap kampak yang mahal itu karena pada akhirnya saya kembali ke hotel untuk mengambil fresh care Ibu. Tapi lagi-lagi saya tidak bisa protes karena saat pulang ke Indonesia charger kamera saya juga tertinggal di hotel.

Di Indonesia, Ibu juga selalu meninggalkan barang di Apartment saya, atau di rumah kakak saya, atau rumah-rumah temannya yang ia datangi. Seakan-akan memberi tahu kalau “i was here and will be back soon”.  Ia seperti sedang meninggalkan jejak di setiap tempat yang ia singgahiSama seperti yang sering saya lakukan, selama bepergian saya juga sering meninggalkan barang saya di tenpat-tempat yang saya datangi. Seperti boneka kelinci saya yang saya tinggalkan di Den Haag, rumah mainan di Jerman, pigura foto di Seoul bahkan sepatu boots saya tinggalkan di Yokohama.
Ternyata memang benar bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Terbukti bahwa saya memang benar anak Ibu. Sifat penjelajah, pelupa dan tukang belanja semua menurun kepada saya. Tapi pada akhirnya Ibulah yang mengajari saya banyak hal tentang perjalanan. Tentang bagaimana mencintai perjalanan, bagaimana mengasah jiwa petualang, bagaimana belajar dari suatu peristiwa yang kurang mengenakan, dan yang paling penting bagaimana caranya bertahan di situasi terberat.

Menjadi pengelana bukanlah cita-cita saya dari kecil, keinginan ini berkembang seiring dengan pertumbuhan saya menjadi dewasa. Walaupun hidup Ibu saya tidaklah selalu berjalan mulus, tetapi ia punya banyak cerita yang mengajarkannya untuk menjadi kuat. Setiap perjalanan yang dilaluinya membuat ia memiliki cerita yang lebih banyak dari teman-temanya. Saya pun ingin seperti Ibu yang punya banyak cerita menarik untuk dibagi.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: