Buku, Bandung dan Shinta

Kemarin lusa ada paket datang ke rumah. Paket itu dibungkus kertas kado berwarna hijau bermotif kembang-kembang kemudian dibungkus lagi menggunakan koran. Saat dibuka isinya adalah sebuah buku non-fiksi karangan Desi Anwar, seorang jurnalis dan penulis yang saya kagumi, judulnya, Faces and Places 35 Tokoh dan 50 Tempat yang Menginspirasi Catatan Seorang Pelancong. Di dalamnya ada kertas putih bertuliskan:

He angky..

Ini buku keren banget menurutku. Mudah-mudahan kamu juga suka ya..

Mudah-mudahan nanti bisa kerja di tempat yang beneran kamu happy ya ki, dimanapun itu

“Carilah maka kamu akan mendapat, 

Mintalah maka kamu akan diberi

Ketuklah maka pintu akan dibukakakan”

Cepat atau lambat pasti ketemu tujuan hidup kita. Mungkin kalau langsung ketemu hidup kita nggak asik.

Semangat kii tetep jaga kesehatan

-Shinta Pratiwi-

Ini Shinta sahabat baik saya sejak 13 tahun yang lalu. Ia adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Kami berteman dekat karena kami memiliki banyak kesamaan. Salah satu kesamaan kami adalah dimanapun kami tinggal, akan selalu ada perpustakaan kecil di pojok kamar. Shinta tidak selalu tahu apa yang harus diucapkan untuk menanggapi cerita orang, karena ia mengklaim dirinya sebagai seorang pendengar yang baik. Tapi ia selalu mengerti apa yang harus dilakukan.

Suatu hari saya menolak untuk menggunakan kebaya dan dirias untuk pernikahan teman kami. Saya bersikeras kalau saya akan menggunakan baju biasa dan mengenakan make up seadanya. Kala itu Shinta meminta saya untuk datang agar tidak menyakiti hati teman saya yang menikah. Ia mengajak saya duduk lalu bernegosiasi, kalau saya hanya perlu pakai baju itu sebentar saja, saya bisa berganti pakaian di tengah acara. Saya pun entah bagaimana menurut padanya.

Ia kemudian menjauhkan perias-perias pengantin yang sedari tadi mondar-mandir dari hadapan saya dan ia mulai memoles wajah saya dengan tipis. Tanpa menghakimi, tanpa menginterupsi Shinta mendegarkan saya mengamuk sepanjang perjalanan hanya karena saya harus memakai baju superketat dari dukun pengantin itu. Saat itu saya pun tidak mengerti mengapa saya bertigkah seperti bayi, rewel dengan hal remeh temeh. Tapi terkadang saya memang benar-benar tidak bisa mengontrol diri sendiri.

Kalau saya ada di posisi Shinta saya pasti sudah jengkel setengah mati dengan sikap temannya ini. Tetapi daripada berasumsi dan menghakimi ia lebih memilih untuk percaya bahwa sikap saya ini pastilah punya alasan tersendiri, atau mungkin saya punya kenangan buruk tentangnya.

Setiap ia mengirimkan sebuah buku, saya tahu ia sedang berusaha mensupport saya dengan sebuah benda mati yang bisa berkata lebih banyak dari yang bisa ia katakan. Buku adalah medianya untuk menanggapi cerita-cerita saya tentang keputusan-keputusan Tuhan yang tak kunjung saya pahami. Tentang urusan-urusan masa lalu yang belum selesai. Tentang saya yang masih saja memburu jawaban dari kebingungan saya sendiri. Tentang saya yang ngotot ingin bahagia.

Terkadang Ia menyusun kalimatnya di suatu obrolan ringan di sudut Bandung, bahwa ia kagum memiliki teman seperti saya yang berani untuk pergi ke tempat asing sendirian. Katanya ia sering menceritakan tentang saya kepada teman-temannya :Ini loh temanku Angky yang sudah pernah pergi ke mana-mana. Seolah ia sedang memberi tahu saya bahwa yang saya lakukan itu bukanlah hal yang sia-sia.

Baginya keputusan saya untuk mengunjungi berbagai tempat untuk pergi dari sesuatu yang tak beres dari pikiran dan hidup saya adalah ide brilian. Shinta mempunyai semacam kacamata yang tak dipunyai teman saya yang lain. Saya menyebutnya kacamata positive. Karena Ia selalu melihat segala sesuatu dari sisi positive akan suatu permasalahan.

Bulan November 2016 saya mengunjunginya di Bandung. Ia dengan excited menyambut kedatangan saya dengan mengirim pesan “Wes ki ga usah bawa baju tidur, ga usah bawa mukena, pake punyaku aja”.

Teman saya ini orang yang paling toleran yang pernah saya kenal. Meskipun menganut agama Kristen, ia selalu mengigatkan saya untuk sholat sebelum kami pergi ke suatu tempat atau sebelum saya tidur, ia bahkan membeli dan menyimpan mukena di kamar kosnya karena banyak teman-temannya yang Islam yang sering menginap di tempatnya, termasuk saya.

Kami bercerita sampai larut tentang banyak hal. Tentang pengalamannya menyelam sendirian di Nusa Penida, tentang pekerjaanya sebagai perawat yang kadang membuatnya heartless, tentang Ibunya di kampung, tentang pacarnya yang menjadi guru musik di Cirebon, tentang Jakarta, dan tentang masa remaja kami.

Ia kemudian mengajak saya jalan-jalan di Bandung. Dari makan jagung bakar di Tangkuban Perahu, bermain di hutan pinus di Cikole, makan siang di Floating Market, menyantap sate maranggi di Pasar Cisangkuy sambil menikmati musik akustik, hingga menyusuri jalanan Braga sambil menyeruput susu murni. Ketika matahari sudah condong ke barat biasanya kami hanya akan duduk berhadapan sambil berdiskusi tentang sebuah buku yang baru dibacanya di suatu restaurant di Dago Pakar. Ia merekomendasikan saya untuk membaca buku A Simple Life karya Desi Anwar.

Sinta menikmati setiap tulisan yang saya buat, ia bangga bahwa saya akhirnya menemukan sebuah terapi untuk mengeluarkan apa yang ada di pikiran saya. Dengan menulis, orang-orang yang tidak tahu tentang saya akan bisa melihat sesuatu dari sudut pandang saya.

Saat tahun baru 2017 saya datang lagi ke Bandung, walaupun saya tahu bahwa Shinta akan bekerja pada malam pergantian tahun. Tumpukan buku karya Sheryl Woods di pojok kamarnya akan menjadi satu-satunya teman saya malam itu. Tapi kamarnya yang berada di lantai dua memungkinkan saya untuk menatap keluar jendela untuk melihat kembang api yang bertaburan di langit Bandung. Kedatangan saya mungkin hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa saya akan menutup tahun ini dengan berada di tempat baik dengan teman yang baik. Bahwa nanti di tahun 2017 saat saya mengambil keputusan yang terlihat bodoh di mata orang-orang saya masih memiliki Shinta dengan kacamata positive-nya yang melihat keputusan saya serta alasan-alasan di baliknya. Yang percaya bahwa kesenangan saya akan berkelana dan menulis bisa membawa saya ke tempat yang lebih baik suatu hari nanti.

Seumur hidup saya, saya adalah sosok yang selalu gelisah. Namun Buku, Bandung dan Shinta seperti memiliki kekuatan magis untuk melahap semua kegelisahan itu dan menggantikanya dengan optimisme yang baru. Membuat hidup saya tak terlihat terlalu abstrak.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: