Tidur di Ruang Bawah Tanah di Erftstadt, Germany

“Lo mau ke Jerman ki? Gue ada temen di Jerman siapa tau bisa bantuin cari hostel”

Retno teman saya yang sekarang bekerja di Jerman itu, dua tahun yang lalu mengenalkan saya pada temannya yang bernama Georg Cremer, seorang berkewarganegaraan Jerman, untuk menjadi pemandu saya dan Novia di Jerman. Retno mengenal Georg dari situs Interpals.net, sebuah forum pertukaran bahasa untuk orang yang ingin belajar bahasa dari native speakernya langsung. Petualangan dimulai ketika Retno memberikan nomor Georg pada kami.

Sebelum berangkat ke Cologne kami menanyakan tentang hostel yang murah di sekitar tempat tinggalnya. Kalau bisa di dekat stasiun biar mudah kalau mau pergi kemana-mana. Tetapi tanpa diduga Georg malah  berkata “You guys can stay at our house if you want”. Kami awalnya merasa ragu untuk menerima tawarannya, karena biar bagaimanapun ia adalah orang asing yang baru saja kami kenal.

Namun keraguan kami mulai pudar ketika Georg menceritakan tentang Ibunya yang senang akan apa-apa yang berbau pertukaran budaya. Ibunya menikmati peran sebagai host untuk orang asing. Ia bahkan memiliki akun di situs couchsurfing, dan kami bukanlah tamu pertamanya di rumah keluarganya.

Georg tinggal di Erftstadt sebuah kota yang terletak sekitar 20 km dari Cologne bersama orang tua dan kakak perempuanya yang bernama Stephani. Erftstadt adalah sebuah kota kecil di barat daya kota Cologne yang nama kotanya diambil dari nama sebuah sungai, sungai Erft.

Georg menjemput kami di depan Cologne hauptbanhof pada malam kedatangan kami di Jerman. Saat itu kami hanya bisa menunggunya di halte bus tempat kami turun dengan satu koper besar. Kami tidak bisa menghubungi Georg, karena selain tidak ads sambungan wifi di sekitar halte, kami pun tidak memiliki nomer Jerman.

Di tengah udara dingin bulan Desember yang menusuk tiba-tiba seorang pria berpostur tinggi dengan rambut coklat menghampiri kami dan bertanya “Can I help you?”. Saya diam, Novia diam berpikir apa semua pria Jerman sebaik dia mau menawarkan bantuan melihat saya dan Novia membawa koper besar?

Saya memberanikan diri bertanya “Are you Georg, Retno’s friend?” Dan untungnya ia langsung mengangguk. Sebelumnya kami takut bahwa ini adalah modus penculikan #suuzonpower. Georg, yang berkuliah di Cologne University ini, lebih tinggi dari yang saya bayangkan, membuat saya dan Novia harus menenggadah setiap kali mengajaknya berbicara. Walaupun sedikit pendiam, tapi ia sangat ramah pada kami.

Sebelum pulang ke rumahnya Georg mengajak kami untuk mengitari christmast market yang biasa di adakan setiap akhir bulan November hingga akhir Desember setiap tahunnya. Seiring perkembangan zaman pasar natal ini menjadi sebuah tempat wisata yang dimanfaatkan baik orang lokal, pelancong dari Belanda-Belgia-Luxemburg, maupun dari negara-negara lainnya untuk berbelanja dan berwisata di Jerman. Letaknya persis di depan Kölner dom sebuah Katredal di jantung kota Cologne.

Kemegahan Kölner dom membuat mata saya tak berhenti menatap ke arahnya. Bangunan tua dengan dua menara menjulang kelangit serta pahatan-pahatan di sana-sini ini bernuansa gotik dan terletak di sisi sungai Rhein yang hanya berjarak beberapa meter dari stasiun. Gereja ini memiliki menara dengan tinggi mencapai 157 meter dengan 509 anak tangga. Di dalamnya ada sebuah toko souvenir yang menjadi tujuan para turis.  Karena selain menjadi tempat beribadah Kölner dom juga dijadikan situs wisata bersejarah sebagai penarik wisatawan di kota Cologne.

IMG_7409

Di depannya tenda-tenda dengan atap merah berjajar rapi dihiasi lampu berwarna-warni yang terhubung dengan pohon natal raksasa di tengah-tengah hall.  Aroma apel panggang, biskuit cinnamon hingga glühwein menyeruak memenuhi gang-gang diantara tenda-tendanya. Berbagai macam makanan dan barang dijual oleh penduduk lokalnya di sini. Di bawah pohon natal raksasa itu bahkan disediakan panggung yang biasa digunakan untuk menggelar konser kecil sebagai penghibur pengunjung pasar. Baru beberapa jam di Jerman saya sudah dibuat jatuh cinta dengan negara ini.

IMG_7406

 

Perjalanan ke Erftstadt memakan waktu sekitar 25 menit dari Cologne haupbanhof, ditambah 5 menit mengunakan mobil dari stasiun ke rumah Georg. Jalan-jalannya kosong dan sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas di depan rumah-rumah yang seragam tanpa pagar ini. Kami langsung dibawa ke sebuah basement dengan cahaya yang sedikit redup untuk beristirahat. Basementnya berukuran cukup luas dengan sofa berselimut tebal tempat saya tidur dan tempat tidur kecil untuk Novia. Sepertinya ini adalah ruangan keluarga yang biasa dipakai untuk menonton film dan menggelar acara-acara keluarga. Ada proyektor yang menggantung di langit-langit, ada pula keyboard serta drum di pojok ruangan. Di tengah ruangan terdapat meja foosball bisa saya pastikan meja ini milik Georg. Tetapi ada satu benda yang membuat ruangan ini terkesan creepy. Di dekat pintu ada seonggok tubuh tengkorak menyeringai pada siapapun yang masuk ke ruangan. Menurut Georg tergkorak itu adalah alat kerja ibunya yang seorang Fisioterapis.

IMG_7363Pagi harinya Georg mengenalkan kami kepada seluruh anggota keluarganya. Ibunya seorang fisioterapis yang memiliki ruang praktek di rumahnya ini berpostur tinggi sama seperti Georg. Ia senang berpetualang dan bertemu orang baru, sama seperti saya. Tetapi sekarang ini kaki Mrs.Cremer sedang sakit sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Ayahnya tidak setinggi Georg dan Ibunya, terlihat sekali kalau ia orang yang ramah dan senang berdiskusi. Beberapa hari saya di rumahnya saya sering menemaninya menonton TV series Arrow di ruang keluarga. Jika saya sedang menonton film di basement bersama Georg dan Novia ia akan membawakan kami minuman dan cemilan yang ia siapkan sendiri. Kakaknya Stephani bekerja untuk tour and travel di Cologne. Ia jarang berada di rumah, kami bahkan hanya pernah bertemu sekali denganya ketika sarapan.

Rumah Georg cukup besar untuk ukuran rumah Eropa. Dengan dua lantai dan satu basement serta halaman belakang yang luas. Di ruang keluarganya terdapat banyak patung yang mereka beli di pasar malam Indonesia yang diadakan di Jerman, ternyata selain pencinta travelling keluarga ini juga penggemar karya seni. Sebuah peta berpigura menggantung di dinding dapur dengan puluhan kartu pos dari berbagai negara ditempelkan di tepiannya.

Mrs. Cremer selalu bertanya tentang makanan yang ingin kami makan hari ini. Jika sudah mendapatkan jawaban ia akan menyibukan diri di dapur untuk memasak makan malam yang special untuk tamu-tamunya. Makan malam adalah hal yang wajib dinikmati bersama seluruh anggota keluarga di rumah Georg. Bagi saya setiap jam makan malam adalah sebuah kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain lebih dalam.
Suatu malam di awal bulan Desember ia memasak paprika yang isinya dikosongkan lalu kembali mengisinya dengan daging sapi cincang yang dimasak dengan bawang bombai. Malam itu kami menyantap masakan Mrs.Cremer besama sambil membahas satu persatu asal kartu pos yang tertempel di peta besar di dapurnya dan orang-orang yang memberikannya.

Georg bukan mahasiswa yang senang pesta sampai malam. Ketika saya menginap di rumahnya ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah meminta kami mengajarinya bahasa Indonesia. Ia tertarik dengan bahasa dan budaya di Asia Tenggara. Sejauh ini ia sudah mempelajari bahasa Thailand karena Thailand adalah salah satu negara favoritnya.  Tak heran ketika kami jalan-jalan di Hohenzoller bridge yang penuh dengan gembok berwana-warni dengan nama-nama pasangan dituliskan di besinya.  Ia tiba-tiba saja mengajak kami makan di sebuah Thai restaurant di samping sungai Rhein yang sedikit mahal itu. Ia pun langsung berbicara menggunakan bahasa Thailand kepada pelayannya yang membuat kami semakin terkesima.

 

Pada suatu malam kami ingin melihat bagaimana kehidupan malam di Jerman. Ia menunjukan sebuah jalan berisi bar dan club-club malam yang ramai. Hanya melihat dari luar jendela saja saya tidak ingin masuk ke dalamnya karena saya memang tidak menyukai tempat yang terlalu ramai dan bising. Ujung-ujungnya kami hanya duduk di sebuah bar paling sepi di jalan itu, bahkan pengunjungnya hanya ada dua. Saya memesan coklat panas dan mengobrol semalaman dengan Novia dan Georg hingga tengah malam. Bus dari stasiun pun sudah tidak ada lagi hingga kami harus berjalan dari stasiun ke rumah dengan udara dingin yang menggigit. Tulang kami rasanya seperti sedang ditusuk-tusuk. Saya dan Georg mengakalinya dengan menendang-nendang sebuah ranting besar yang kami jadikan bola dari stasiun hingga rumah, sehingga tubuh kami tidak membeku.

Menyediakan tempat tidur, memasakan makanan, menemani berkeliling kota, hingga mengantar ke stasiun para tamu-tamunya secara cuma-cuma tak membuat keluarga Cremer menjadi kekurangan sesuatu atau merasa direpotkan. Mereka justru merasa semakin kaya karena memiliki keluarga baru serta pengetahuan baru akan bahasa dan budaya yang diajarkan tamu-tamunya kepada keluarganya.

Dalam perjalanan, saya selalu menemukan orang-orang baik seperti keluarga Georg yang tidak hanya memberi saya tempat untuk beristirahat tapi juga mencoba mencintai bahasa dan budaya saya. Tak hanya memberi saya sepiring sarapan, tetapi juga memberi kehangatan sebuah keluarga.

Yang paling menyenangkan dari menemukan keluarga di perjalanan adalah selalu ada pertanyaan “When will you come back here?” dari keluarga baru saya itu. Seolah-olah saya hanya sedang berlibur di Indonesia dan sewaktu-waktu akan pulang ke ruangan bawah tanah yang remang di sudut kota Erftstadt.

IMG_7389

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “Tidur di Ruang Bawah Tanah di Erftstadt, Germany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: