Aku tidak pernah benar-benar pulang

Aku tidak pernah benar-benar pulang. Tidak bisa. Ke semua tempat kuseret tubuh sendiri sebagai petualang tersesat – bahkan di negeri jauh tempat aku lahir dan seorang perempuan mengajariku tersenyum kepada diri sendiri.

.

Tidak pernah ada rumah. Tidak ada.
Cuma ada mimpi buruk yang sekali waktu terburu – buru membangunkan dan meminta aku pergi . Membelahku. Mengubah ingatan jadi hukuman. Meletakan jiwaku diantara keinginan dan keengganan kembali, di antara perkara- perkara yang mungkin dan tidak  mungkin selesai.

.

Kulihat diriku tertimbun reruntuhan masa remajaku di kota yang mencintai para pembenci.
Kulihat ayah dipekarangan memasukan serpihan – serpihan kaca jendela ke saku celana. Ibu tidak ada di dapur dan di mana-mana. Tetapi, di jalan-jalan, negara melintas sebagai perayaan ringkas dan huru hara yang tidak pernah tuntas.

.

Setiap hari tumbuh retakan baru ditubuhku. Kuterima seluruh seolah kelak terbit matahari lain dari sana. Ribuan matahari

 

–M.AAN MANSYUR–

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: