Pilkada

Saya tidak ingat

Sejak kapan pesta demokrasi diwarnai sikap intoleran?

Sejak kapan Bhineka Tunggal Ika mulai digadaikan?

Sejak kapan orang-orang tidak lagi bisa hidup berdampingan?

 

Mengapa merasa paling benar?

Mengapa tidak berkaca dulu sebelum membuat onar?

Mengapa tidak diam saja jika setiap yang keluar dari mulut hanyalah koar-koar?

 

Kalau memang ingin dibilang sebagai seorang panutan atau guru.

Daripada membawa nama Tuhan saya di jalan sambil melempari batu

Lebih baik mengajar mengaji di masjid untuk anak yatim piatu

 

Jika ingin disebut pahlawan

Mengapa tidak pergi ke pelosok Indonesia Timur untuk bangun perpustakaan

Atau datang ke Timur Tengah menolong anak-anak korban perang yang ketakutan.

Atau tidak pergi ke Somalia untuk memberi makan untuk orang orang yang kelaparan?

 

Kalau ingin dianggap rasional

Berhentilah bertindak binal.

Berhentilah bersikap seperti berandal.

 

Karena pada akhirnya semua akan paham

Bahwa keberagaman diciptakan bukan untuk diseragamkan

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: