Near Death Experience (Bom Bangkok)

Bangkok adalah salah satu kota favorit saya. Alasannya sederhana saja, karena harga barang dan transportasi di sana tidak jauh berbeda dari Indonesia sehingga pelancong hemat seperti saya bisa puas menikmati liburan tanpa perlu mengancing kantong terlalu rapat. Saya dan Echa, teman traveling saya, menikmati kuliner kaki lima di Khaosan road dan berinteraksi dengan backpacker dari seluruh penjuru dunia. Kami menyusuri sungai Chao Phraya dengan perahu sambil melihat pemandangan kuil Grand Palace, Wat Arun dan Wat Pho di pinggiran sungai , berbelanja tas dan baju di Chatuchak weekend market sambil menyeruput coconut ice cream dan mango sticky rice, hingga menonton para lady boy menari dan bernyanyi di Tifany Show. We really had a great time in Bangkok. 20130901_181601Coconut ice cream di Chatuchak

Namun ada satu tragedi ketika kami di sana.

 

Ketika saya berlibur ke Bangkok pada tahun 2013. Pada hari ke lima di Ibu kota Thailand ini, saya dan Echa berencana untuk mengunjungi Maddame Tussauds di Siam Discovery Mall. Tapi karena kami harus menunggu hingga pukul lima sore untuk mendapatkan potongan harga 50% kami memutuskan untuk mengitari mall-mall di sekitarnya dengan berjalan melintasi jembatan layangnya. Dari atas jembatan layang saya dapat melihat Erawan Shrine yang terletak di dekat hotel Intercontinental. Kuil Hindu yang merupakan landmark kota ini berhiaskan bunga-bunga berwarna terang yang diletakan oleh orang-orang yang sedang sembahyang. Lokasi yang berdekatan dengan mall-mall besar Bangkok menjadikanya banyak dikunjungi turis-turis dari berbagai macam kebangsaan.

Setelah berputar di kawasan MBK, saya dan Echa memutuskan untuk mengunjungi Mall Terminal 21 karena kami masih memiliki banyak waktu sampai jam lima sore. Untuk sampai ke Mall Terminal 21 kami harus naik BTS (Bangkok Sky Train) dari stasiun National Stadium BTS  ke stasiun Asok. Sampai di stasiun, Echa langsung menuju ke tengah stasiun menukar koin, sementara saya mendekati sebuah mesin tiket di ujung stasiun untuk membeli tiket BTS.

Tiba-tiba saat semua orang sedang sibuk berjalan ke arah peron, terdengar suara keras dari bawah jembatan layang yang membuat tanah di sekitar saya mulai berguncang. Echa berteriak dari tempatnya berdiri “Kak Angky lari!!”  sambil mulai berlari ke arah saya sementara orang-orang di sekitar kami mulai berebut menuruni tangga. Asap putih yang berasal dari suara keras tersebut membumbung tinggi ke arah stasiun. Saat itu kaki saya serasa seperti di pasung, saya ingin lari ke arah Echa lalu mengikuti orang lain menuju tangga, tapi saya tak juga bisa bergerak. Terdengar suara ledakan kedua yang kali ini terasa lebih dekat dengan posisi saya berdiri. Saya hanya memejamkan mata dan tetap membeku.

Suasana semakin mencekam ketika suara sirine mulai terdengar. Mata saya mulai mengeluarkan air mata entah karena asap pekat yang membuat mata perih atau saya memang benar menangis. Echa akhirnya berdiri di samping saya, tangannya menggenggam tangan saya seperti mengajak untuk segera beranjak dari tempat saya berdiri. Namun saya sudah pasrah, saya sudah berpikiran macam-macam. Bagaimana kalau ledakan ketiga ada di bawah kaki saya, bagaimana kalau saya tak punya kekuatan untuk lari manjauh dari suara-suara ledakan itu, the worst scenario is bagaimana kalau hidup saya harus berakhir di Bangkok?. Saya dan Echa mencoba menenangkan diri kami dan berpikir jernih, di sekitar kami orang-orang pun melakukan hal yang sama.

Setelah tak lagi terdengar suara ledakan dan sirine orang-orang mulai berkerumun di pinggiran jalan layang untuk mencari tahu dari mana suara ledakan dan kepulan asap berasal. Saya tentu saja tak berani untuk menoleh, saya takut menemukan mayat-mayat bergelimpangan di bawah seperti yang ada di film-film perang. Sepertinya saya terlalu banyak nonton film.

Hingga seseorang menginformasikan bahwa yang baru saja terjadi adalah simulasi bom yang dilakukan di sebuah lapangan luas tepat di bawah stasiun untuk mengantipasi serangan teroris yang sedang marak belakangan ini. Saya menghela nafas lega tetapi tetap belum bisa beranjak dari tempat saya berdiri dan masih sedikit mengeluarkan air mata. Simulasi memang dibuat agar orang-orang was-was akan banyaknya terorisme yang terjadi belakangan ini. Tapi tanpa adanya pelatihan terlebih dahulu tentang sikap yang harus diambil dan apa yang  harus dilakukan di situasi seperti ini hanya membuat turis-turis menjadi sedikit trauma.

Sepasang wanita dan pria bule yang sudah berumur mendekati saya dan Echa, kemudian bertanya “Are you alright?” Yang hanya bisa saya jawab dengan pandangan ketakutan. Mereka lalu bertanya pada Echa “Is she alright?”

“It’s ok sweetheart, do you want to sit down?” katanya sambil ikut menggenggam tangan saya. Saya tersenyum lalu berkata “I’m Ok, thank you”. Echa mengajak saya untuk berjalan menuju peron dan melanjutkan perjalanan kami ke stasiun Asok.

Walaupun hanya simulasi, namun suara ledakan dan asap tebal itu menjadikan saya sedikit trauma. Saya masih bisa merasakan getaran tanah yang saya pijak dan suara sirine serta orang-orang riuh berlarian kesana-kemari mencoba menyelamatkan diri. Saya tak bisa membayangkan jika berada di tempat kejadian pemboman sesungguhnya, apakah saya hanya akan diam seperti tadi ataukah saya akan menyelamatkan diri bersama dengan yang lainnya.

Yang lebih mengagetkan adalah dua tahun kemudian setelah kejadian tersebut, beberapa meter dari tempat simulai bom, terjadi pemboman yang sesungguhnya di Bangkok. Dari layar televisi saya bisa melihat Erawan Shrine yang porak poranda dihantam ledakan bom dan di sekitarnya korban-korban berjatuhan dan terluka di beberapa bagian. Suara mencekam dengan sirine dan darah berceceran di jantung kota Bangkok ini menandakan telah terjadinya teror di sebuah tempat ibadah yang sakral. Walaupun simulasi sudah dilakukan namun ketika tragedi benar-benar terjadi reaksi beberapa orang sama dengan saya. Diam dan tak berdaya.

17 Agustus 2015, saat di Indonesia sedang bersorak sorai merayakan hari kemerdekaannya. Di Thailand sedang terjadi sebuah bencana yang mengguncang tidak hanya rakyat Thailand tetapi juga masyarakyat dunia. Peristiwa pemboman yang memakan banyak korban ini berlokasi di Erawan Shrine yang terletak di jantung kota Bangkok tepatnya di  persimpangan Ratchaprasong, Distrik Pathum Wan. Kuil Hindu yang dulu saya lihat sungguh megah dengan bunga-bunganya dan warna emasnya, kini menjadi tempat berdebu yang berantakan dengan darah berceceran di sana-sini.

Image result for erawan bombing

Sekitar pukul 18.56 ledakan besar mengguncang Erawan Shrine dan memakan korban sekitar 125 orang dan menewaskan 20 orang. Tak hanya orang Thailand yang menjadi korban, namun pendatang pun ikut menjadi korban. Banyak yang mengecam tragedi yang terjadi di Erawan Shrine ini, termasuk saya. Saya mengecam setiap tindakan anarkis yang dilakukan oleh siapapun dengan alasan apapun juga. Seperti yang banyak terjadi di beberapa negara-negara Eropa belakangan ini yang membuat orang merasa tak aman lagi berada di tempat ramai. Bom bunuh diri di bandara Brussels, bom Turki, penabrakan truk di pusat perbelanjaan di Ahlens City, Stockholm, juga di Nice Prancis, penabrakan pasar natal di Berlin, di London, bahkan di bom di Sarinah Jakarta. Saya rasa siapapun pelakukanya tak punya hak sedikitpun untuk menghabisi nyawa orang-orang yang bahkan tak mereka kenal.

Pernah merasakan suasana pemboman walaupun hanya simulasi membuat saya bisa membayangkan betapa mengerikannya teror yang dialami korban dan saksi tragedi bom. Sehingga membaca berita-berita di surat kabar tentang terorisme selalu membuat tenggorokan saya panas.

Serangan ke berbagai pusat keramaian adalah tindakan yang keji. Apalagi menyerang rumah ibadah bagi saya itu konyol, dan lagi tak berperikemanusiaan. Mereka yang melakukan serangan ke berbagai tempat adalah orang-orang yang sangat mudah di cuci otaknya, merasa paling benar, intoleran, dan hilang rasa kemanusiaanya. Bukankah rumah ibadah dibangun agar orang bisa berkomunikasi dengan Tuhannya? Bukankah tempat ini seharusnya menjadi tempat di mana orang merasa paling aman? Saya benar-benar tak tahu lagi harus berkomentar apa.

 

Whoever kills an innocent life it is as if he has killed all of humanity. – Surat Al-Ma’idah 5:32

Image result for quotes about humanity

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: