Only in the darkness you can see the stars (Cerita Sahabat dari Selat Sunda)

“Ki, mau kado ulang tahun apa?” tanya Dyandra roommate saya di Jakarta. Kami memanggil anak Bogor yang lincah ini dengan sebutan Ebby. Ebby ini teman saya yang paling mager setiap pulang kerja. Butuh waktu 3 jam untuk buat dia berdiri dan mandi. “Ajak ke tempat yang gue belum pernah dong biii” jawab saya sambil lalu.

Tahun ini usia saya menginjak angka 25 tahun. Dan tanpa saya sangka quarter life crisis itu memang nyata adanya. (The quarter-life crisis is a period of life ranging from the twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult. Common symptoms of a quarter-life crisis are often feelings of being “lost, scared, lonely or confused” about what steps to take in order to transition properly into adulthood)-from wikipedia. Benar saja saya merasa aneh menjadi dewasa.

Waktu  rasanya bukan lagi berjalan terlalu cepat tapi saya rasa waktu mulai berlari meninggalkan saya yang belum juga ingin dewasa. Postingan social media teman-teman saya pun berubah dalam sekelebat mata. Dari foto-foto mahasiswa baru di depan rektorat, foto teman-teman baru yang mereka temukan di tempat perantauan, foto-foto liburan pertama mereka di luar negeri, lalu dalam seketika gambar-gambar itu mulai berganti menjadi  foto wisuda. Empat tahun terasa seperti 2 hari saja. Sekarang timeline saya dipenuhi dengan foto pertunangan, pernikahan, bahkan foto-foto bayi sudah mendominasi postingan mereka. Seriously when did this happen?

Sementara isi instagram saya masih saja foto-foto nongkrong bersama teman-teman, foto liburan ke pantai dan gunung serta foto makanan. Saya masih saja sibuk mencoret bucket list saya tentang tempat-tempat yang ingin saya datangi. Apakah saya yang telat menjadi dewasa atau teman-teman saya yang terlalu cepat mencoret bucket listnya lalu memutuskan untuk settle dan menikah? Sementara saya masih saja sibuk mencari jati diri, mencari karir yang cocok, merasa tidak kerasan dimanapun saya berada. Kadang saya merasa hidup saya terlalu dinamis. Totally lost. Kan kan quarter life crisis.

Anw, tahun ini saya tidak terlalu menunggu-nunggu hari ulang tahun saya seperti yang dulu sering saya lakukan. Saya tidak berharap orang-orang mengingat tanggalnya. Saya bahkan tidak marah ketika Ayah, Ibu, Kakak, dan teman-teman dekat saya yang lupa mengucapkan. When you reach 25, birthday is just another day in 365 days in a year.

But in the deep of my heart, I wanted it to be special too.

 

Bip.

Ebby mengirim sebuah pesan WA

“Itinerary Krakatau” 5-7 Mei 2017.

Mata saya berhenti di tulisan

“7 Mei 2017

02:30 bangun dan persiapan menuju gunung krakatu

04:00 explore dan hunting sunrise di Krakatau

Di kepala saya langsung terbayang scene saya sedang berdiri di atas gunung Krakatau, memandang sunrise tepat pada pergantian usia saya dari 24 ke 25. Could be my desperately last chance to feel special on my birthday.

Naik gunung adalah salah satu wish yang harus saya coret dari bucket list saya. Tapi berada di puncak saat pergantian usia pasti akan membuatnya lebih special. Seperti Soe Hok Gie, pacar imaginer saya, yang merayakan pergantian usianya ke 27 di gunung Semeru. Namun saya tentu saja tidak mengharapkan berakhir seperti Gie yang tewas di atas gunung Semeru karena menghirup gas beracun.

WA Ebby sore itu langsung saya jawab. “Let’s go!”

Petualangan saya dan Ebby serta Otong teman SMA saya di mulai pada tanggal 5 May. Sejujurnya tidak banyak persiapan yang kami lakukan. Hanya mental dan sedikit uang saku. Berbagai transportasi kami naiki yang menghabiskan semalamam untuk mencapai pulau tempat kami menginap, pulau Sebesi. Kami naik bus selama 3 jam dari Jakarta tujuan Merak. Dari Merak kami menyeberang ke pelabuhan Bakaeheni Lampung dengan Ferry yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam, lalu kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot ke pelabuhan Canti di Kalianda. Setelah itu kami masih harus naik kapal nelayan yang untuk selanjutkan kami gunakan untuk menyeberangi pulau-pulau di Selat Sunda. Sebelum naik ke Gunung Krakatau esoknya, kami memulai petualangan dengan snorkeling di pulau Sebuku, makan nasi kuah di pulau Sebesi, yang akhirnya kami tutup dengan hiking anak gunung Krakatau pada tanggal 7 Mei 2017.

2017_0506_175914002017_0506_08020400

Tidak ada yang mahal dari perjalanan kami. Tapi bagi saya segalanya terasa special.

Pukul 3 subuh saya dan Eby bangun di kamar ukuran 10×4 meter dengan lebih dari 10 orang tidur di kasur lantai yang dijejerkan. Kami bersiap untuk mendaki anak gunung Krakatau. Tak ada cahaya yang bisa menerangi kami untuk mengemasi barang-barang yang akan kami bawa untuk ke tempat tujuan. Saya bahkan kesulitan menemukan sandal saya. Pukul 6 sore di pulau Sebesi ini semua aliran listrik dipadamkan. Saya meraba-raba lantai kamar yang riuh dengan orang-orang yang juga bersiap untuk mendaki Krakatau. Mencari telefon genggam saya yang terhimpit di antara kasur lantai. Lalu mulai berlari mengikuti orang-orang menuju kapal nelayan yang akan kami gunakan untuk menyeberang pulau. Hanya ada cahaya-cahaya dari Handphone yang mengatarkan kami menyusuri pantai menuju kapal. Melompat dari atap kapal ke atap kapal lainnya sebelum akhirnya sampai ke kapal sewaan kami.

Saat sampai di kapal nelayan dengan warna biru itu hampir semua orang kembali melanjutkan tidurnya. Berhimpit-himpitan sambil duduk menutupi wajahnya. Sialnya, saya dan Ebby salah memilih tempat duduk. Kami duduk di dalam kapal di bagian belakang, terlalu dekat dengan mesin kapal sehingga membuat wajah saya dan Ebby terasa terbakar kepanasan. Saya lalu mengajak Ebby keluar ke dek kapal. Duduk di atas tali pengait jangkar kapal. Hembusan angin malam tidak juga membuat kami mengantuk. Tak terdengar suara apapun kecuali suara mesin dan kapal yang membelah lautan. Tak juga terlihat sedikitpun cahaya di tengah Selat Sunda saat itu, satu-satunya cahaya berasal dari kapal yang kami naiki.

Saya mengajak Ebby naik ke atap kapal karena di dek kapal terasa terlalu sempit. Di atas kapal nelayan kecil yang berisi lebih dari 50 orang itu, di tengah-tengah selat Sunda kami membaringkan tubuh. Menatap lurus ke langit malam. I guess its true, “Only in the darkness you can see the stars”. Kami dapat melihat jelas gugusan bintang yang bertaburan di langit malam. Malam itu, malam pergantian umur saya ke 25 tahun, bersama sahabat saya di samping saya, saya dan Ebby menghitung bintang yang terlihat jelas yang berada tepat di atas kami. Menikmati lajunya kapal yang membawa angin malam sambil berbincang tentang harapan dan keinginan. Berbagi tentang kegalauan yang saya dan Ebby rasakan yang kurang lebih sama, merasa bertambah tua dan masih bingung akan pergi ke arah mana. After all it’s not easy to be an adult. Tak ada kejutan tengah malam atau prosesi tiup lilin seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada nyanyian Ebby dan kadang teriakan saya di tengah-tengah malam.

“Look out the  stars, look how they shine for you, and everything you do, they were all yellow”

Tiba-tiba sebuah cahaya di langit melesat ke bawah dengan cepat. Lalu Ebby berkata “Ki, bintang jatuh ki, make a wish”

I’m wishing to have more good friend like Ebby actually. Rasanya saat itu saya hanya ingin berbaring di sana di sebelah sahabat saya di bawah bintang-bintang di tengah-tengah lautan yang gelap. Itu saja sudah cukup.

Kala itu saya mencoba memberi makna pada hari dimana usia saya bertambah. Hari ini saya harus mencoba berdamai dengan diri saya sendiri. Saya harus mencoba menjalani proses pendewasaan yang penuh dengan kebimbangan-kebimbangan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabanya, mencoba mengerti bahwa it’s okey to feel lost sometimes. I guess everybody does. It’s okey if you have no one to rely on, it’s okey if you have to figure it all out by yourself, It’s okey to be scared, and it is really okey to feel lonely sometimes. And It is also okey feeling confuse about Love too. 

It’s just okay not to be okay.

Saya memejamkan mata, berdiskusi dengan diri saya sendiri. Saya harus benar-benar paham bahwa segalanya akan baik-baik saja, bahwa saya akan baik-baik saja.

Perjalanan ke anak gunung krakatau seharusnya memakan waktu 2 jam dari Pulau Sebesi, tempat kami tinggal. Tetapi saat itu kami menghabiskan 4 jam di perjalanan  untuk sampai ke sana. Kata pengemudi kapal saat kami sampai “tau nggak kalau tadi kita nyasar 2 jam dilaut”.

He was afraid to tell everyone because he didn’t want to make us worry. Tapi toh pada akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Saya dan Ebby hiking ke anak gunung krakatau yang terletak di tengah-tengah Selat Sunda itu selama 30 menit. Dan disuguhi pemandangan yang lebih indah dari imajinasi saya.

The view was worth the lost

You know, right in that very moment, in the darkest ocean when we spent more than 2 hours to go to Krakatau, I knew that we were lost. But I wasn’t afraid or worried that we wouldn’t get to our destination. And we knew that it was dark and we were in the middle of nowhere, and it was dangerous. But what can I say, only there, we could see the most beautiful sky with a lot of stars that we would never find if we weren’t lost, and I would never have that moment of happiness that I could never find that kind of thing anywhere else in this world. And most importantly is, no matter how dark and hard it was to see the way, and no matter how long it took us to get there, at least we were still heading somewhere, into the right direction, to see even more beautiful view.

2017_0507_08225100

 

Karena itu, walau sekarang saya dan Ebby sama-sama masih merasa lost, namun saya yakin, bahwa nanti pasti ada saatnya saya dan Eby untuk sampai tempat tujuan. Untuk sampai ke puncak.

p.s : Special for my good friend Ebby, thank you for the never ending surprise, endless support, thank you for telling me that I’m not crazy from time to time, thank you for giving me more than I deserve. I hope you can find the right path too someday.

2017_0506_16521600

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

2 thoughts on “Only in the darkness you can see the stars (Cerita Sahabat dari Selat Sunda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: