Home for kiddo. (Antwerpen, Belgium)

Menjadi seorang Ibu.

23 December 2017.

Kununurra, Western Australia.

Setelah hujan deras, di halaman belakang, ditemani secangkir susu kedelai.

Kemarin adalah hari Ibu. Hari dimana postingan teman-teman saya bertemakan foto lama dengan Ibu. Saya sendiri tidak pandai dalam mengekspresikan rasa sayang saya kepada keluarga saya. Tapi jika suatu hari Ibu membaca tulisan ini, saya harap Ibu tahu betapa saya menyayanginya. “Ibu I love you, more than you ever know, or you ever think of. I hope I say enough to you how much I love you”

Selama 25 tahun hidup di dunia, saya baru merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak, namun sebagian teman sebaya saya sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu. Bagaimana rasanya bertaruh nyawa untuk melahirkan darah dagingnya ke dunia, belajar menyusui dan menjadi orang tua terbaik bagi anaknya, belajar mengesampingkan ego untuk kepentingan buah hatinya, menjadikan mahluk kecil yang baru muncul di kehidupan mereka dalam hitungan hari itu sebagai “segala-galanya” di hidupnya.

Untuk mereka-mereka yang sudah berhasil belajar banyak dari kehidupan untuk menjadi orang tua yang baik. Saya ucapkan “Congratulation, you guys are all awesome”

Bagaimana dengan saya? Apakah seorang yang terlalu sering berganti tempat ini pernah memikirkan untuk menjadi seorang Ibu?

Honestly, every single way I take, I think about my unborn child.

Well, how come, you never think about settling down, all you ever think about is the next destination you will visit? (pertanyaan sebagian orang mungkin)

Well, it might surprise you, and no matter how hard to take, you guys have to know that I do, think about it. A lot.

Karena sesungguhnya, menjadi ibu adalah sebuah insting.

Setiap saya mendatangi tempat baru, saya akan melakukan semacam survey. Apakah kota ini cukup baik? Bagaimana cuacanya, bagaimana tingkat multikulturnya, bagaimana sejarahnya, bagaimana tata kotanya. Apakah banyak ruang terbuka? Apakah fasilitas kesehatanya baik? Apakah ada sekolah bagus di sini? Apakah saya aneh?

Mungkin.

I basically try to find a home for my kids someday if I have them.

Why? Cause like many other moms, I wanted to give my best for my kid, that hasn’t been born yet, a beautiful place to grow up.

Sounds crazy? Well, maybe I am.

Sebuah perjalanan membuat saya berpikir lebih keras untuk hal ini. Di mana saya akan membesarkan anak-anak saya kelak.  Bagi saya tempat di mana kita akan tinggal itu penting. Kita tidak bisa memilih dimana kita dilahirkan, tetapi di mana kita tinggal, kamu bisa tentukan. Like a wise man once said, Life is a matter of choices, remember?

Ada sebuah perjalanan yang saya lakukan beberapa tahun silam, yang menginspirasi saya untuk memilih sebaik-baiknya tempat tinggal untuk keluarga saya, kelak.

 

Antwerpen. November 2014

Dari semua kota yang pernah saya datangi di Eropa, Antwerpen adalah kota favorit saya. Sesungguhnya saya menyukai kota-kota dengan banyak bangunan tua, membuat saya merasa harus banyak belajar tentang sejarah. Bagi saya Antwerpen memiliki daya tarik sendiri dengan bangunan-bangunannya yang klasik. Seperti saat pertama kali saya sampai kota ini melalui Antwerp Central Station, saya langsung jatuh cinta dengan desain bangunannya yang megah dan artistic. Lantai marmer dengan warna abu-abu dan jam tua besar yang terletak di bagian dalam stasiun menambah kesan glamor stasiun yang dibuka pada tahun 1905 ini. Dari ruang tunggu dengan atap setinggi 43 meter menyerebak bau wafel panggang yang berasal dari sebuah kedai kecil berwarna coklat di tengah stasiun. Stasiun yang masuk dijajaran 4 stasiun terbaik di dunia ini juga disebut sebagai Middle Station atau Railway Cathedral oleh peduduk Antwerpen. Saat saya sampai di Antwerpen setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari Rotterdam, walaupun saya harus menunggu selama satu jam lebih sampai teman saya menjemput, saya tidak merasa keberatan sama sekali. Saya pikir mungkin saya malah memerlukan lebih dari satu hari untuk mengitari stasiun ini sambil mengagumi ukiran-ukiran indah di beberapa sudutnya.  IMG_7256_MG_2703

Saya mengitari Antwerpen dengan berjalan kaki, dari menjelajahi jajaran toko yang ramai dengan suasana natal dan diskon akhir tahun di centrum, mengunjungi Sint-Pauluskerk Bibo Statue dan Onze-Lieve-Vrouwkathedraal (Chatedral of Our Lady) yang saat itu sedang di renovasi, hingga menyeberangi  sungai Scheldt melewati tunnel St. Anna yang berada persis di bawah sungai dengan sepeda bersama Lieve seorang dosen yang dulu pernah mengajar di UI. Ia juga membawa kami ke puncak sebuah gedung di dekat Kastil Het Steen sehingga kami dapat melihat gemerlap kota Antwerpen dari ketinggian.

Suatu ketika saat sedang bersepeda dengan Lieve ia menceritakan tentang cerita asal muasal nama Antwerpen. Antwerpen berarti hand throwing atau melempar tangan. Dulu ada sebuah mitos tentang seorang prajurit Roman bernama Silvius Brabo yang membunuh seorang raksasa bernama Druon Antigoon. Raksasa ini konon sering meminta uang kepada orang-orang yang ingin menyeberang jembatan di sungai Scheld. Jika mereka menolak untuk membayar, maka raksasa itu akan memotong tangannya dan melemparkannya ke sungai. Tak heran terdapat banyak patung Brabo di Antwerp City Hall. Ada juga patung tangan besar yang terpotong yang diletakan di tepian sungai Scheld.

Saya dan Novia senang menghabiskan waktu duduk dan berbincang di sebuah café di Groenplaats di dekat cathedral sambil memakan friets (kentang goreng) dengan mayonnaise yang terkenal enak. Kami selalu memilih untuk duduk di pinggir jendela kayu besar berwarna hijau di lantai dua untuk melihat orang-orang melakukan aktivitasnya di pusat kota. Saya menikmati memperhatikan orang-orang lalu lalang di pusat kota sambil membawa bungkusan besar coklat, atau turis-turis yang berjalan cepat karena udara di luar terlalu dingin untuk kembali ke hotel Hilton yang terletak di seberang café ini.

Dingin yang mulai terasa menusuk tulang membuat perut saya dan Novia cepat merasa lapar. Kami pun langsung masuk ke sebuah restaurant Italia Da Giovanni yang terletak  tak jauh dari Groenplaats, yang membuat kami serasa terbang langsung ke Italia. Dengan cahaya yang redup, bau pasta yang memenuhi lorong restaurant, music Italia yang khas, membuat malam kami terasa sempurna.

Bangunan tuanya, sejarahnya, café-café sederhananya, coklatnya adalah alasan-alasan yang membuat saya memasukan Antwerpen ke list kota yang ingin saya tinggali kelak. Namun ada cerita tambahan mengapa saya merasa Antwerpen special.

Collette dan Iyves adalah seniman yang pernah mendedikasikan waktunya melatih mahasiswa sastra Belanda Universitas Indonesia dalam sebuah pertunjukan di Semarang beberapa tahun silam. Sejujurnya saya bukan salah satu mahasiswa yang mereka latih saat itu, tapi Novia teman perjalanan saya adalah salah satu bagian dari pertujukan tersebut sehingga ia mengenal baik Collette dan Iyves.  Pasangan suami istri ini tinggal di sebuah area bernama Hoboken di kota Antwerpen. Awalnya saya dan Novia hanya akan mengikuti one day conference di Universitas Antwerpen di pusat kota tetapi keluarga Collette menawari kami untuk tinggal di rumahnya selama satu pekan. Selama sepekan tinggal bersama keluarga mereka, saya benar-benar menjadi memikirkan bagaimana saya akan membangun keluarga kelak.

Collete memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki bernama Wiene dan Meno. Usianya kala itu adalah tujuh dan empat tahun. Tanpa butuh waktu lama, mereka langsung menjadikan kami teman bermain di rumahnya. Bahkan Wiene rela meminjamkan kamarnya selama seminggu kepada kami. Rumah  Collete tidak begitu besar, typical rumah eropa yang berhimpit dengan kebun kecil di depan, dan kebun yang lebih  besar di belakang di mana keluarganya bisa menghabiskan waktu di luar rumah untuk memanggang barbeque pada musim panas. Rumah ini memiliki tiga tingkat, lantai pertama adalah ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Lantai dua hanya ada dua ruangan, kamar Collete dan Iyves dan juga kamar mandi besar. Lantai tiga yang lebih terlihat seperti loteng, dibagi menjadi dua ruangan, untuk kamar Wiene dan Meno. Kamar Wiene yang bernuansa putih ini berisi banyak buku cerita dan boneka-boneka Barbie kesukaanya. Sementara kamar Meno bernuansa biru dengan banyak mainan laki-laki di dalamnya.

 

Kadang kami menonton film kesukaan Meno “Cars” bersama di ruang keluarga. Hari lainnya kami mendandani Wiene seperti tokoh Elsa untuk kemudian datang ke sekolah music Wiene pada acara Sinter class dag untuk melihatnya bemain piano. Senang rasanya mendapat kesempatan melihat Sinterclass dan Zwarte Piet beraksi di panggug dan membagikan hadiah natal pada anak-anak ini. Perayaan ini biasanya dilakukan untuk menyambut Natal yang masih satu bulan lagi. Sehari sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Jerman, Collete mengajak kami untuk pergi ke sekolah Wiene dan Meno untuk menyaksikanya mendongeng di kelas Meno di depan teman-teman sekelasnya.

Collete adalah seorang penulis buku cerita anak-anak di Belgia, beberapa buku dongeng yang diterbitkan adalah dongeng fabel untuk anak-anak yang beirisi pesan moral di dalamnya. Terkadang ketika Meno dan Wiene sudah tidur kami akan bercerita banyak tentang bukunya, atau bagaimana cara dia mendidik anak-anaknya. Ia berkata bahwa Ia dan Iyves akan menerima anak-anaknya seutuhnya, apapun yang akan mereka pilih kelak.

Saat kami tinggal di Antwerpen, hampir setiap hari kami menjemput Wiene dan Meno dari sekolahnya, lalu mampir ke taman bermain di dekat rumah untuk mengantar Meno bermain bersama teman-teman sebayanya. Setelah lelah bermain kami akan masuk ke dalam sebuah café dan memesan Coklat panas Belgia yang terkenal dengan nama Chocolade met Slagroom, coklat panas yang di beri whip cream diatasnya. Meno kadang akan menjadi sangat manja kepada ibunya. Kadang ia akan merengek untuk mendapat dongeng sebelum tidur dari ibunya, sekali, dua kali, tiga kali, dan berkali-kali. Sebelum tidur Wiene dan Meno akan mencium semua orang dewasa yang ada di rumah lalu pergi ke kamarnya untuk berdoa lalu tidur. Kadang sebelum kami bangun pagi, mereka sudah masuk ke dalam kamar kami dan masuk ke dalam selimut kami. Cute overloaded.

 

Saat kami kembali ke Indonesia, saya mendapat pesan dari Collete

“You know Wiene and Meno find it strange that you and Novia are no longer at Wiene’s room”

 

Sebuah kota tua,

4 musim,

café-café sederhana,

Taman bermain dengan coklat panas,

Sekolah music,

Dongeng sebelum tidur,

Halaman belakang,

Rumah pohon,

Deretan buku cerita di kamar,

Kecupan sebelum tidur.

Kumpulan harapan saya di rumah saya kelak.

 

Bagi saya menjadi seorang Ibu adalah sebuah insting,

mencari rumah terbaik dimana anak tumbuh, adalah salah satunya.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: