Cinta tanpa syarat. Adakah? (Quebeq, Canada)

Rue Saint-Paul Quebec

Masih di cafe yang sama dengan ice latte yang belum habis.Tadi sewaktu berjalan mengitari jalanan kecil Rue du Petit Champlain di Old Quebec, dua paruh baya melintas di depan saya. Di depan bangunan dengan jendela tuanya yang berwarna kuning mencolok yang terlihat anggun. Bergandengan tangan erat dengan rambut yang sudah memutih dan kerutan yang mulai bermunculan di wajah keduanya.Entah mengapa afeksi apa adanya yang ditunjukan oleh orang berumur lebih menarik perhatian saya. Daripada melihat PDA dari pasangan muda yang menggelora. Bukan, bukan saya menolak PDA, afeksi apapun bentuknya menyejukan di mata saya. Dua orang yang yang saling jatuh cinta tentu memberikan kehangatan di hati orang lain yang melihatnya. Terutama untuk manusia dengan hati sedingin yang saya miliki, yang pernah menganggap cinta hanyalah sebuah dongeng belaka. Lebih parahnya, dongeng itu selalu berakhir mengenaskan.Karena itu, menyenangkan rasanya melihat orang-orang yang masih mempercayai ide-ide tentang cinta dan kasih sayang. Mendoakan dalam hati agar dua orang asing di depannya bahagia dan menikmati seutuhnya rasa yang tak pernah dipercayanya itu.Hanya melihat dua orang tua bergandengan tangan dapat membuat hati saya menghangat di udara dingin Canada di musim gugur. Menopang langkah satu sama lain, menua bersama. Model yang jarang saya temui di Indonesia, karena kebanyakan orang sungguh berjarak dengan afeksi. Menghidar dari penilaian orang-orang yang maha suci. Berafeksi di public sama saja minta dihujat dan di nilai serta di katai macam-macam oleh orang-orang maha benar di sekitarnya. Membuat orang-orang lebih memilih untuk berjarak bahkan dengan orang yang dicintainya. Ada ketidakberesan dalam norma sosial yang menganggap memberikan penilaian seenaknya terhadap orang lain karena merasa paling tahu dan paling suci lebih normal daripada membagi kasih di publik. What a stupid stupid society.Anyway, pikiran saya tiba-tiba tertuju pada ide tentang cinta tanpa syarat. Unconditional love. Apakah nyata? Atau hanya ada di halu halu saja?Sepanjang jalanan kecil dengan jendela berwarna warni di kota tua Quebec, pikiran saya justru kembali ke tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Memikirkan argument terakhir yang saya miliki dengan Ibu sebelum berangkat. Tentang seorang keluarga jauh yang menelfon Ibu untuk berkomentar tentang pakaian yang saya kenakan di Instagram. Dan berkata pada Ibu "Nanti pasti ada waktunya Angky berubah" seolah-olah saya baru saja menyakiti orang-orang yang di kasihinya dan ia berharap saya akan berubah menjadi wanita baik-baik. Seolah-olah ada yang salah dengan diri saya secara keseluruhan. Seolah-olah ada waktu dimana saya akan sadar bahwa segalanya harus diubah di diri saya agar di terima di masyarakat.Si penilai seolah-olah ingin menunjukan ke superiorannya dalam masalah berakhlak dan berpakaian. Seolah-olah apa yang telah ia lakukan sudah pasti membawanya ke surga. Seolah-olah cara berpakaian adalah satu-satunya standar kebenaran mutlak seorang dapat dikatakan gadis baik baik. Lucu.Berhasil membesarkan anaknya sendiri sesuai standar sosial bukan alasan untuk menghakimi anak orang lain yang dianggapnya gagal dalam mencapai standar yang di beri oleh masyarakay. Dan mendefinisikan saya dengan seenaknya. Yang berlawanan dari standar sosial dan kebenaran mutlak yang dipercayainya. Bahwa dari luar saya jelaslah adalah 'anak tidak baik-baik'. It did upsetting me but also made me laugh so hard.Seriously you do have time to call my mom and criticize the way I dress, someone you haven't have a conversation with for ages?"Lalu Ibu bilang apa?" tanya saya di sambungan telefon."Iya doain anakku ya"Entah yang dikatakan Ibu saat itu dimaksudkan untuk tidak menyakiti oknum penilai maha benar atau memang Ibu ingin anaknya berubah menjadi perempuan 'baik-baik' versinya dan versi masyarakat. Seolah olah ia menolak fakta-fakta lain tentang anaknya. Anak yang juga sudah berusaha menjadi manusia baik. Membuang kenyataan itu jauh jauh dan percaya mentah-mentah penilaian orang yang bahkan tak pernah berbicara langsung dengan saya.Lucu.Tapi pernyataan Ibu mengiris hati saya sedalam-dalamnya.Dua hari lalu tante saya dan teman saya dari kecil menelfon saya. Dua orang yang paling sering berhubungan dengan saya. Obrolaln kami ringan seperti biasa. Membahas apa saja selain masalah pribadi ketika keduanya lalu berkata kalau Ibu minta mereka untuk bilang kepada saya agar segera pulang. Dan menjadi seperti yang ia mau. Karena saya tak pernah mendengarkan Ibu. Lebih baik libatkan orang lain untuk hal pribadi ini.Seoalah-olah jarak yang menganga diantara kami berdua belum jelas alasanya,Menerima orang apa adanya dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat bukanlah perkara gampang. Memaafkan diri sendiri yang tak kunjung berdiri dari badai masa lalu pun sama sulitnya. Menyembuhkan luka sambil sedikit demi sedikit percaya akan arti kasih sayang lagi pun susahnya minta ampun. Namun tetap saya lakukan dengan sisa sisa kepercayaan dan kekuatan yang ada di diri saya. Sambil membuat definisi definisi baru tentang kasih sayang.Segala trauma yang terjadi tentu saja tak akan pernah bisa saya rubah. Yang bisa dilakukan adalah menerima dan mebiarkannya menjadi bagian pedih dari hidup yang mengajarkan saya hal yang saya butuhkan untuk menjadi kuat.Perjalanan mennyembuhkan luka saya. Bukan lagi memulai dari 0 saya memulai segalanya dari mines. Belajar menyembuhkan dengan mencinyai diri sendiri. Siapa lagi yang bisa mencintai diri saya seutuhnya kecuali saya?Ketika tak ada lagi yang bisa ia lakukan ketika orang-orang yang ia sayangi melangkah menjauh satu demi satu. Siapa yang bisa ia andalkan? Tentu saja dirinya sendiri. Kasih sayang seperti apa? Kasih sayang setulus-tulusnya yang muncul dari kesadarannya sendiri bahwa seberapa rusakpun dia, ia akan tetap mencintainya. Seberapa hancur dan tak berdaya dirinya, ia akan selalu menerimanya. Apa adanya.Perlakuan Ibu membuat saya berfikir apa ia tidak bisa mencintai saya tanpa syarat seperti halnya saya mencintainya? Apakah saya harus menjadi 'sesuatu' untuk mendapatkan cintanya. Kapan ia akan berhenti berfikir bahwa akan ada waktunya untuk saya agar 'sadar' kembali ke jalan yang ia gambarkan untuk saya daripada memulai perjalanannya sendiri untuk menerima saya apa adanya. Jika saya memilih untuk berbeda tidak pantaskan saya dicintai?Tuntutan dan tekanan ini, sebenarnya untuk kebahagian siapa? Dan untuk hidup siapa?Semuanya terasa melelahkan. Mencoba memenangkan hati yang tak pernah merasa cukup, terasa melelahkan. Tidak ada yang salah dengan menaruh ekspektasi pada anaknya sendiri, yang salah hanyalah memaksakan semuanya harus berjalan sesuai harapanya. Relasi Ibu dan anak tak pernah seberat ini.Apakah Ibu menganggap anak perempuannya sebagai badut yang bisa didandani sesuka hatinya tanpa menanyakan apakah penampilan ini nyaman untuk dirinya? Menolak percaya bahwa anaknya hanyalah perempuan dewasa yang memiliki suaranya sendiri dan kesalahan-kesalannya sendiri. Seperti dirinya. Daripada menyetujui bahwa anaknya hanyalah manusia biasa yang berhak membuat kesalahan dan menjadikannya bagian dari perjalananya. Seperti dirinya.Saya tak akan berubah untuk orang lain. Tidak juga untuk Ibu saya. Karena saya pun tak pernah meminta hal yang sama untuk dirinya. Saya mendoakan kebahagiaanya apapun yang ia pilih dalam hidupnya. Dan beginilah cara saya mencintai diri saya. Tanpa batas tanpa syarat. Jarak dan jurang yang menganga ada karena hal hal yang mencederai hubungan dengan banyak beban dan ekspekatasi yang tak masuk akal.Hubungan berat dengan banyak obligasi untuk menjadi ini itu akan saya tinggalkan jauh-jauh.Maaf Ibu, anak perempuanmu mencintaimu, tapi ia pun harus merawat dan mencintai dirinya sendiri.fullsizeoutput_1859

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: