I surprise I survived (Kununurra, Western Australia)

Desember 2017

Kununurra terdengar so absurd waktu pertama kali saya dengar nama kota ini. Kota yang terletak di kawasan Western Australia (sekitar 37 km dari perbatasan Northern Territory), di musim panas, temperaturenya bisa mencapai 40-49 derajat celcius. (Yang dari Surabaya mana suaranya, yang panasnya belum sampe 40 derajat udah bilang kayak di neraka).

Anw untuk sampe ke kota antah berantah ini butuh waktu 10-11 jam naik bus dari Darwin. Bisa si naik pesawat, tapi saya lebih memilih untuk naik bus karena pengin lihat hamparan alam Australia yang terkenal eksotis itu (red: nggak sanggup bayar tiket pesawat). Nggak banyak yang bisa dilakuin di kota ini, hiburan cuma belanja di Coles (cem Hypermarket), itu pun kalo punya duit. Kalo nggak punya, cari pokemon di depan rumah aja udah sambil minum es teh manis.

Pertanyaanya : Kok ya bisa sampe nyasar ke sana?

DSC03407

Jadi begini ceritanya *cobadiminumdulukopinya

Waktu lagi enak-enak menikmati kehidupan baru di Sydney dan finally make my dream came true: posting-posting foto manjah di Sydney Opera House kayak Acha Septriasa. Saya dipanas-panasi oleh Om Bobby, temen di kerjaan di Sydney Fish Market. (iya betul saya emang gaulnya sama om-om). Om Bobby dan anaknya si Edric dari Jakarta ini kerja bareng di Fish Market dan mereka super duper nice sama saya.

Jadi si Om ini satu apartment dengan seorang gadis pemegang visa Work and Holiday kayak saya. Berkat ke kepoan Om Bobby dia jadi tau kalau si gadis ini pindah ke daerah Northern buat kerja di farm dan penghasilanya bisa sampai $1000 dolar per week. Waww emejing kan kak, bisa cepet naik haji. Dibanding di Sydney penghasilan saya kala itu hanyalah berkisar $600 per week. Padahal dapet segitu aja saya sudah bersyukur dalam hati “It’s the easiest money I ever made”.

Kata si Om “Angky kamu ngapain sih ki di Sydney, gajinya dikit, kalo pake visamu itu mending kerja di farm deh” si om mulai meyakinkan dengan iming-iming kekayaan, kemudian dia mulai menambahkan “lagian kamu bisa apply second year visa kalau kerja di sana selama 88 hari kan?” Tul uga si om. Tapi walaupun setiap hari dicekokin dengan iming-iming kekayaan yang instan, awal-awalnya saya belum goyah untuk pindah ke North karena saya lagi seneng-senengnya muterin Sydney sendirian. Menikmati pulang kerja nongkrong di Starbucks (cita-cita cetek), karena kalo dulu minum kopi mampunya cuma beli Torabika real good susunya mantap.

FYI: Pemegang Visa Working Holiday subclass 462 bisa memperpanjang visanya jadi 2 tahun dengan syarat kerja di Northern Territoy, atau di sebagian daerah Western Australia dan sebagian Queensland bisa di bidang hospitality atau agriculture. Selengkapnya bisa dilihat di web

https://www.homeaffairs.gov.au/trav/visa-1/462-#tab-content-1

If you have completed specified subclass 462 work in northern Australia in tourism and hospitality or agriculture, forestry and fishing you can apply for a second Work and Holiday visa 

Tapi otak saya akhirnya berhasil di brainwash juga setelah minggu kedua. Karena setiap hari si Om nanya-nanya mulu dan sampe kasih nomer temennya yang anak WHV yang udah kerja di farm. Yang katanya gajinya bisa $1000 per week.

Sebenernya saya lebih tertarik dengan ide memperpanjang visa jadi dua tahun dengan kerja di farm selama 88 hari itu daripada gaji besar (miskin dan sombong). Saya pengin cepet-cepet beresin 88 hari regional work biar bisa ngebaboe dengan tenang di oz selama dua tahun.

Dengan gesit dan pengetahuan seadanya tentang farm work saya cari review-review di internet tentang kerja di farm untuk completing 88 days regional work. Daaannn nemunya yang nggilani. Ditipu lah, nggak dibayar lah, kerjaanya berat lah, dll.  Saya jadi ngeri kalau nyari kerjaan di internet sendiri.

Jadilah si gadis kenalan Om Bobby bilang ke saya, pake agent Azit Group Pty Ltd aja di Sydney, kantornya deket town hall.  Sebagai anak yang mudah dihasut carilah saya info tentang si agent ini. Pertama kali saya datengin kantornya di Bathurst Street, nggak ada orang tu kantor sepi kek kuburan. Pantang menyerah, saya kirim email tanya-tanya tentang kerjaan. Layaknya nunggu balesan chat dari gebetan, saya jadi nggak sabaran. Tapi email saya nggak dibales juga, cuma di read doang. Tega kamu mas!

Lalu saya telfon nomer kantornya, diangkat mbak-mbak yang janji katanya mau kasih tau kalau ada kerjaan, tapi teteup nggak juga. Saya udah mikir ini agent so unprofessional deh kayanya. Customer servicenya nggak niat. Membuat hatiku geram. Ketika saya berhenti menteror mereka, setelah satu purnama dibaleslah email saya sama yang namanya Koichi. Abang ini bilang kalau ada farm job available, tapi saya harus bayar sebesar $300 dolar sebagai membership fee. Kalau saya sudah jadi member nantinya saya bisa konsultasi atau minta kerjaan lain ke mereka. Oke make sense saat itu, since katanya mereka selalu cariin kerjaan yang ratenya nggak dibawah ketentuan, karena di Sydney banyak kerjaan yang underpaid.

Hari rabu waktu saya baru pulang dari kerjaan di Fish Market, si Koichi ngabarin via email katanya ada kerjaan di Kununurra Western Australia di Sandalwood farm. Apa itu Kununurra? Apa itu Sandalwood? I have no clue. Jadi langsung aja saya samperin si Abang ke kantornya biar bisa konsultasi secara lebih jelas. Sampe di sana dia cuma ngasih kertas yang isinya info tentang farm yang dia tawarin, sambil ngunyah permen karet. Dua temennya yang orang Korea juga sante-sante aja di mejanya, dengan wajah sebodo teing.

Saya tanya sama Koichi, ini farm bagus nggak, aman kan ya, saya cepet kaya kan ya, bisa beli rumah, mobil, naikin haji ortu kan ya (kata abang dalem hati : lo mending piara babi ngepet beb). Si Koichi cuma bilang iya bagus ratenya aja besar which is $26.57 per hour dipotong pajak 15% yang mana masih bagus. Abang ini sok cool kali minta aku baca infonya sendiri nggak mau banyak jelasin. Ngunyah permen aja terus si abang kerjaanya. Nggak ada konsultasi atau pembekalan sama sekali, kadang kalau saya tanya dia jawabnya juga nggak yakin gitu. Tak tabok loh kon iki mas apa-apa nggak tau.

Bodohnya saya juga so impulsive, saya langsung mau berangkat ke negara api itu. Kata Koichi saya harus sampai di Kununurra hari sabtu atau minggu soalnya hari senin udah harus mulai kerja. Seriously 2 hari doang suruh siap-siap, saya musti resign dari fish market dan bilang landlord apartment. Untung mereka baik hati bilang “okey ki good luck ya”. Sudahlah si Koichi minta uang $300 terus bantuin saya beli tiket pesawat ke Darwin, tiket bus greyhound ke Kununurra dan hostel di Darwin karena saya harus stay satu hari untuk nunggu jadwal bus.

Duit ngumpulin dari kerja 3 minggu di Fish Market habis dalam sekejap buat ke Kununurra. Demi masa depan lebih cemerlang, pikir saya saat itu. Kata gadis kenalan om Bobby juga, gapapa lah ambil aja nanti seminggu juga keganti duitnya. Baiklah berkat saran si Mbak dan didukung oleh jiwa impulsive saya, saya iyakan untuk berangkat ke Kununurra yang I’m-not-even-sure-if-this-town-really-exist.

Setelah menempuh perjalanan 4 jam 30 menit naik pesawat dilanjutkan dengan 10 jam naik bus sampai juga saya di Kununurra. Kesan pertama. Soooo hawttttttt i’m burning. Dan yang paling kelihatan perbedaan dari Sydney, di sini ada banyak sekali aboriginal, which is new thing for me. Saya dijemput sama Min, manager Sandalwood farm di pom bensin. Yeap busnya brenti di gas station karena nggak ada terminal. Gaulan Purwokerto kemana-mana titik.

Share housenya lumayan besar, ada front yard dan backyard yang gersang. Sedikit culture shock karena di Sydney like a rich kids tinggal di penthouse dan sekarang tinggal di rumah yang sedikit reyot dan lebih mahal ini. Tapi karena katanya penghasilan lebih besar saya masih positive thinking bisa survive. Setelah induction dan mengurus segala paperwork, saya masuk kamar yang berisi 2 bunk bed which is saya harus tinggal dengan 3 perempuan lain di dalam satu kamar yang kecil itu. Waktu saya masuk ke dalam kamar cuma ada 2 Chinese yang sudah stay di sana selama 2 bulan, namanya Maggie dan Qi.

DSC03410DSC03401

Tanpa basa basi Qi langsung bilang : “It’s a wet season now, we have too many day off here, which means you wont earn much money”. Saya bengong dan jawab “Really?”

Jadi saat saya datang ke Kununurra, musim hujan baru mulai. Kalau hujan nggak bakal ada kerjaan, dan kalau nggak ada kerjaan nggak bisa ngumpulin 88 days dan nggak bakal dapet duit. Mau nyesel udah telat, since duit sudah habis dan nggak bisa balik ke Sydney. Emaaakkkk mau pulang Purwokerto  ajaaaa.

“Yes you clearly made a bad decision, didn’t they tell you?” kata Qi lagi. Lalu saya jawab “No they didn’t, they just let me spent all my money and came all the way here. So I’m stuck and f*ck up now?” Si Qi Cuma senyum sambil bilang “Yes, you’re stuck with us?” Dan benar saja selama satu setengah bulan saya di sana saya cuma bekerja selama 10 hari. Sisanya cuma makan, tidur, pup, kepo lambe turah. Ingin rasanya saya mengutuk “Koichi juanc*k arek iki”. Bisa-bisanya agent yang harusnya kasih konsultasi tentang kerjaan malah menjerumuskan clientnya gini.

Harusnya tau dong ya saat itu Kununurra lagi season paling buruk dalam satu tahun. Jangankan balik modal. Duit dari kerja 10 hari itu buat rent dan makan senin kemis aja pas-pasan. Sampai akhirnya pertengahan bulan Januari saya memutuskan untuk pindah ke Cairns karena day off selama 2 minggu berturut-turut. Yang paling bikin ngenes adalah bayar Azit $300, totally not worth it. Saya jelaskan situasi saya di Kununurra ke Koichi via chat dan dia jawabnya so slow response. Saya minta dia cariin kerjaan lagi, pokoknya abang harus tanggung jawab nggak mau tau.

Setelah lelah terus-terusan diteror. Dia bales chat saya, nggak ada penyesalan dan simpati apalagi minta maap. Manusia macam apa kamu? Abang ini lalu katanya berusaha cariin saya kerjaan. Belakangan saya tau dia cuma googling kerjaan via internet. Pas nemu difoto pake hape, kirim ke saya, dan suruh saya daftar sendiri. Whaaattttt! Itu sih nggak usah pake agent mas, asal ada wifi juga saya bisa cari sendiri. Tapi kan kalian ini loh namanya agent harusnya punya link dong sama penyedia kerja. That’s why we pay you and trust you. Oh God so unprofessional. KZL BGT HBD WYATB WIB WITA WIT.  Huha, maap saya jadi emosi. But yes this is me writing bad review about Azit Group Pty Ltd. Karena ada juga temen yang senasib dengan saya, dia malah lebih naas, pas minta kerjaan lain di read doang. Sakit hati adek bang.

Jadi pelajarannya bagi kalian pemegang visa WHV yang mau cari farm job buat second year, tanya-tanya aja ke temen yang udah pernah ngefarm. Cari info di grup atau fb. Mereka dengan senang hati mau bantuin ko, nggak pake bayar lagi. Tapi se-juanc*k-juanc*knya Azit, saya juga salah karena terlalu impulsive dan buru-buru. Lagian udah tau dari awal ini agent kurang meyakinkan tetep aja berangkat. Baiklah kalau gitu tiada yang salah hanya aku manusia bodoh.

Harusnya saya settle dulu di Sydney sambil tetep cari jodoh cem babang Hamish di Bondi beach. Tapi ya sudahlah mau dikatakan apalagi. Walaupun ngenes dijebloskan ke kota terpencil, tapi again when you’re lost in nowhere you just have to make the best story out of it. Learn from your mistake biar kayak Zootopia. Satu setengah bulan di Kununurra yang saya anggap unfortunate itu pada akhirnya juga yang kasih saya banyak temen baru, cerita baru, kasih saya pelajaran banyak tentang suku aborigin, dan bikin saya jadi rajin belajar masak tiap hari- (hiburan lain selain cari pokemon). Saya pikir segila-gilanya Azit, yang bilang iya dengan kegilaan ini semua dari awal juga saya. I’m the one who agreed to be fooled in the first place. Maybe i meant to go to Kununurra and make this story, ya kan? So still, no regret. (Me trying to be positive)

Tapi tetep kalo balik Sydney tak obong loh kantormu Mas K!.

Yaudah nyanyi dulu lagu kesukaan aku biar nggak sad

I messed up tonight
I lost another fight
I still mess up but I’ll just start again
I keep falling down
I keep on hitting the ground
I always get up now to see what’s next
Birds don’t just fly
They fall down and get up
Nobody learns without getting it won (rite)

1514254070564
Amazing view of the infinity pool of Lake Argyle. cost me only 5 dollar

 

 

1514205182022
Christmas

 

1513498084473
dam full of crocodile 
1513498192919
wisata memancing buaya darat

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: