Orang baik dan orang kurang baik (Darwin, Northern Territory, Australia)

Darwin tidak pernah menjadi tujuan saya selama berada di Australia. Kota tujuan saya dan para pendatang lainnya ke Australia biasanya adalah kota-kota besar di daerah selatan yang mainstream seperti Sydney dan Melbourne (biar bisa foto-foto di Bondi dan Brighton beach terus pamer di instagram agar meningkatkan jumlah follower juga gengsi kaya selebgram-selebgram). Pada minggu ketiga di negeri kanguru ini saya pun akhirnya menginjakan kaki di Darwin. Bukan untuk liburan atau menetap, tetapi untuk singgah selama satu hari.

Selama tiga minggu tinggal di Sydney, saya menjadi sedikit skeptic dengan orang Australia karena terlalu sering diteriaki. Apa orang-orang di sini terlalu sensitive? Atau memang pendengaranya kurang? Atau barangkali cuma kurang piknik? Walaupun tidak semua orang yang saya temui di Sydney cem-orang PMS-galak-ngeselin-minta-digiles, tetapi beberapa kali diomelin sambil dimarah-marahin di kota ini bikin saya jadi banyak-banyak istighfar kepada Tuhan YME.

Sydney adalah kota pendatang, orang-orang dari berbagai ras dan negara berkumpul jadi satu di ibu kota New South Wales ini. Ada banyak sekali orang Asia bertebaran di city, sampai saya merasa seperti berada di Hongkong (padahal ke Hongkong aja belum pernah). Saking banyaknya orang, kadang kalau lagi jalan di stasiun yang ramai, cewe-cewe sampai nabrak-nabrak cowo-cowo berpunggung sekel dari belakang (antara ramai dan kegatelan beda-beda tipis). Sebenarnya permasalahan kota besar a.k.a kota metropolitan sama saja di semua negara. Pendatang yang terlalu banyak membuat kota menjadi penuh dan sesak. Alhasil orang-orang nggak punya banyak space dan privacy lagi sehingga membuat mereka menjadi lebih emosional. #sotoy#teorisukasuka. Saya ceritakan ya beberapa kali saya diteriaki oleh orang di Sydney. (Saya nggak mau bilang orang Sydney, karena saya pun tidak yakin mereka pendatang atau bukan)

Hari kedua saya berada di Sydney, ketika sedang menunggu lampu merah menjadi hijau untuk menyeberang. Di city saya diteriaki oleh seorang perempuan (cabe-cabean) Sydney yang berdiri di sebelah saya. Bukan karena saya nggak sengaja nginjek kakinya atau karena dia iri dengan kecantikan wajah Asia. Tetapi karena di belakang saya ada mobil sport tanpa atap yang berhenti nunggu lampu merah dengan dua abang-abang mirip Hemsworth brother di dalamnya yang bikin hati si Mbak dag dug dug tak menentu. Tapi si Mbak nggak mau usaha buat geser biar si Mas-mas kelihatan. Si Mbak malah melihat ke arah saya dan tiga teman saya yang dirasanya ganggu usahanya cari jodoh dengan mata yang melotot lalu teriak “Can you fu*king move”. Saya dan teman-teman saya pun kaget karena tingkah si Mbak yang-nggak-penting-banget-tinggal-geser-doang-pake-ngamuk-segala itu. Tetapi sebagai pihak yang waras kami pun bergeser biar si Mbak bisa puas liat Mas perlente di belakang saya. Saat sampai rumah saya geram sekali dan mikir kenapa tadi saya nggak bilang “Can you fu*king ask nicely”. Tapi telat keselnya, nasi sudah menjadi aking, saya sudah terlanjur menjadi anak Asia yang di bully seperti di film-film Amerika, yang ujung-ujungnya diselametin sama Mas Hemsworth diajak muter Sydney pake mobil sportnya lalu dinikahin dan jadi permanent resident kemudian happily ever after *dadah Mbak jutek, makannya jangan senang berbuat jahat. #haluakibatkebanyakanmakanmecin

Setelah seminggu di kota ini saya jadi super hati-hati kalo mau nyeberang. Bukan takut ditabrak, tapi takut dilabrak sama Mbak yang nggak mau usaha geser 1 centi buat cari jodoh. Sudah hati-hati biar nggak ketemu Mbak, saya malah ketemu om gendut penjaga toilet. Waktu itu saya inget persis saya ada di Town Hall salah satu stasiun di tengah kota. Karena kebelet pipis yang udah di tahan dari dua jam yang lalu, setelah tapping kartu Opal (semacam kartu commuter line di Jakarta untuk segala transportasi di Sydney) jadilah saya lari-lari ke toilet di pojok stasiun biar nggak pipis di celana. Waktu keluar saya melewati semacem pager gitu, setengah nggak sadarkan diri karena berasa lega banget pipis barusan. Tetiba dari belakang saya si Om gendut muncul sambil teriak “What are you doing! There’s a reason I put this thing here!!” ngomongnya teriak pake otot. Weits om sabar omm. Janganlah kau emosi, hanya karena sebongkah pagar besi. Dengan wajah memelas saya cepat-cepat bilang “Sorry om eh sir, I didn’t see that sign.” Lalu kabur naik kereta yang mau jalan. Ngeri ditabok sama si om. Saya mikir, kenapa si pada nggak bisa bilangnya pelan-pelan aja. Saya juga ngerti kalau saya salah, tapi nggak usah pake diteriakin gitu. Tahukah si om kalau hati adek begitu rapuh, masih terasa luka di masa lalu, ku pernah mencintai sepenuh hati.

Yang ketiga entah beberapa kali saya diteriakin waktu saya kerja di fish market. Enggak customer nggak senior kerjaanya marah-marah. Ada satu orang lelaki namanya L***  kayanya kesel banget tiap liat muka saya. Tiap hari saya dimarah-marahin padahal nggak buat salah. Kalau pagi saya sapa, doski buang muka. Sampai saya tanya temen saya “Ini si L*** ngebully gw apa gimana ya? Ko cuma gw aja yang diginiin?” kata temen saya “Kayaknya gitu deh ki” “OKE FINE!@#$%$%^&*^**^$#@@@”  Saya sih mencoba untuk bodo amat. Melatih mental biar nggak gampang sakit ati, jadi ntar kalo di putusin cowok lagi udah nggak pake nangis #ketauanseringdiputusin. Si L nggak pernah manggil nama saya kalau mau nyuruh, cuma senggol trus tunjuk kerjaan yang harus saya kerjain. Kek majikan jahat dan yang-katanya-pembantu-tertindas-tapi-muka-cem-Chelsea-Islan di FTV-FTV. Seperti saat saya sedang bersihin meja dia teriak di kuping saya “Faster, faster!” Waktu itu banyak banget meja yang harus dibersihkan dan customernya nggak abis-abis. Saya berusaha untuk bersihin secepat mungkin sambil dalem hati mengutuk “Bukannya bantuin malah banyak bac*t”. Lalu saya kembali istighfar setelah ingat kepada Tuhan YME.

Namun, setiap kali saya dibully L, manager saya yang berasal dari Brazil selalu datang dan bantuin sambil bilang “Let me help you dear”. Sama halnya kalau saya disuruh angkat yang berat-berat, sementara si L petantang petenteng di sebelah saya kek Giant lagi ngebully Nobita. Si Bos baik hati nan rupawan langsung dengan sigap ngangkat barang di tangan saya “I’ll do it sweetheart” udah kaya drama korea yang ujung-ujungnya tatap-tatapan dengan backsound lagu ‘perfect’nya Ed Sheeran. “I found a love, for me, darling just dive right in, follow my lead” Lagi-lagi jomblo kebanyakan halu.

Terakhir si L lagi berdiri di atas akuarium dengan customer-customer yang udah nggak sabar nunggu dia nangkepin crab buat dimasak dan disantap rame-rame. Saya yang berada 5 meter dari tempat dia berdiri lagi ngasih es ke oyster yang harus di-esin sejam sekali biar tetep fresh diteriakin sampe muka dia merah “ Angkyyy!! Watch!!” cuma karena saya nggak ngeliatin kulkas softdrink yang kalo ada yang beli musti bayar ke konter saya. Padahal ada dua biji temen saya yang berdiri tepat depan kulkasnya dan anyway nggak ada yang beli softdrink juga waktu itu. Tak tampol loh mas kamu bikin malu saya di depan customer. Saya langsung nanya ke temen Indo saya ”Dia barusan teriak ke gue seriusan” dan maju pengin ngejorogin dia ke dalem akuarium penuh kepiting segede kucing lagi bunting itu. Lalu temen saya nahan “udah biarin aja si orang kaya dia, caper aja”.

Tentu saja nggak semua orang yang saya temui di Sydney doyan marah-marah kaya tiga orang itu. Ada juga kakek baik hati murah senyum yang saya temui di Bellmore Park. Tiga manager di kerjaan yang cengangas cengeges tiap hari, landlord yang suka kasih makanan, dan masih banyak lagi.

Tetapi based on beberapa kejadian, saya rasa perlakuan orang-orang kota di Sydney berbanding terbalik dengan orang-orang di daerah utara yang saya temui. Daerah utara yang penduduknya nggak sepadat di Sydney, masih bisa lari-larian di city nggak pake nabrak. Awal Desember sewaktu saya sampai di Darwin, kota yang panasnya kaya microwave itu. Saya ketemu orang-orang baik yang bantuin saya. Waktu keluar airport menuju hostel seharga $2 (dapet voucher orang susah dari Jetstar) saya menyerahkan hidup saya sepenuhnya untuk diguide oleh GPS menuju bus station depan airport demi mendapatkan transportasi termurah ke hostel. Jarak yang cuma sejengkal di GPS ternyata sejauh dari bundaran HI ke Sarinah pemirsa. Apalagi saya harus sambil tarik-tarik koper, tas jinjing di atas koper, dan sambil menggendong backpack saya melewati jalanan yang jauh, panas, lembab, dan ngelewatin hutan, rontok pinggang adek bang. Keringet bercucuran, kaki gempor, tangan lecet-lecet, napas empot-empotan, semua demi naik bus seharga $3 dan nggak mau rugi bayar shuttle seharga $20 ke hostel. Tiba-tiba setelah setengah perjalanan yang memakan waktu lebih dari 10 menit karena tas jinjing sering jatuh dari atas koper. Ada sebuah mobil pick up putih melipir di seberang jalan yang sedang saya lewati. “Hey do you need a lift dear” kata om gendut ubanan yang lagi jalan-jalan santai dengan wanita aborigin yang sama gendutnya duduk anteng dalem mobil sambil menonton penderitaan saya. Awalnya saya takut diculik dan menolak dengan halus “No thank you sir, the bus stop just around the corner”. Tetapi keringet-keringet sebesar biji jagung yang netes dari dagu saya ini bikin saya mikir, ngapain juga orang dengan mobil bagus kaya dia nyulik orang susah kaya saya. Dia nanya lagi “Are you sure?” dan tanpa pikir panjang saya langsung nyeberang naruh tas saya di pick upnya, pasrah.

Di perjalanan si om sama tante ngenalin diri mereka which is saya lupa namanya (tukang numpang nggak tau diuntung, udah ditolong nama aja nggak inget, #MAAPKANAKUOM). Mereka tanya naik bis emang mau kemana. Saya jawab mau ke hostel di Mitchell street deket Bicentennial Park buat nginep sehari, soalnya besok harus naik bus greyhound ke Kununurra Western Australia untuk kerja di sandalwood farm buat completing 88 days regional work buat apply second year visa. *anaknyaditanyasedikitlangsungcurhat. Lalu si om noleh ke istrinya “Do you want to go to downtown honey?”. Dalam hati saya berdoa “Say yes, say yes honey”. Si tante langsung jawab “Yeah sure why not” jadilah mereka berdua suami istri titisan malaikat di Darwin ini nganterin saya ke hostel yang jaraknya sekitar 40 menit dari airport itu. Bukan cuma itu, mereka muterin saya ke daerah sekitar Mitchell Street nunjukin terminal greyhound buat saya naik bus besok, nunjukin halte bus kota kalau-kalau saya mau ke K-mart, nunjukin McD kalau-kalau saya lapar, jalan ke pantai kalau-kalau saya mau poto-poto, nunjukin tempat nongkrong abang-abang ganteng kalau-kalau saya mau cari jodoh (tapi boong). Lalu pada akhirnya mereka drop saya di Hostel Melaleuca on Mitchell sambil saya bilang “I really don’t know how to thank you, if you guys come to Indonesia someday please let me know” yang mereka jawab dengan senyuman dan bilang ”No worries dear”

Saya masuk ke hostel dengan hati riang gembira karena nggak jadi kehilangan duit $3 yang bisa saya pakai buat beli beras 1kg di Coles (Supermarket di Australia). Memang kalau kita tidak malu akan kemiskinan kita, akan selalu ada jalan untuk orang susah berhemat. Thanks God.

Selipan- 2 kali datang ke Darwin untuk singgah sebelum next flight atau bus trip saya selalu stay di hostel Melaleuca on Mitchell yang beralamat di 52 Mitchell St, Darwin City NT 0800. Bukan hanya karena dua kali juga saya dapet voucher dari Jetstar sehingga saya cuma bayar $2 setiap nginep disini. Tapi tempatnya yang strategis, bersih, dan nyaman yang buat saya betah. Saya selalu milih 6 bed female dormitory yang punya kamar mandi khusus perempuan juga. Dan walau murah, hostel ini punya vibe yang asik. Ada kitchen dan pool bar di lantai dua yang selalu mempertemukan saya dengan backpackers-backpackers dari berbagai belahan dunia. Saya ketemu Christine dari Jerman yang tidur di atas bunk bed saya. Kami menghabiskan malam di Darwin untuk muter-muter daerah sekitar hostel bersama, dan sampai sekarang kami masih keep in touch untuk menjaga friendship goals layaknya kids jaman now. Ada juga dua sahabat dari UK dan Belgia yang sedang meneruskan sekolah di Sydney yang mengajak saya untuk ngobrol dan hangout pake mobil sewaanya. Ada Mbak panutan semua backpakers di kamar saya dari Kanada yang kasih kuliah umum tentang wild life di Northern Territory yang buat semua orang cancel rencananya pergi ke beach karena takut dimakan buaya atau nginjek stone fish. Pada kali kedua saya stay di hostel ini saya ketemu Eli dari UK yang bekerja sebagai assistant dentist di Sydney. Kami ngobrol banyak di kitchen sambil makan nasi kotak (sounds like arisan RT bapak-bapak) yang kami beli di coles. This hostel really recommended if you guys want to stay in budget hostel in Darwin. Tanpa voucher harga hostel ini berkisar $20-$26. Dari kamar saya, saya bisa langsung lihat sign hotel Hilton, jadi kalau ada yang tanya di Darwin nginep di mana saya bilang di Hilton *sudahmiskintaktahudiri

 

Kedua kali saya datang ke Darwin saya tetap menolak untuk naik shuttle ke bandara seharga $20 dolar itu. Padahal saat itu sedang hujan rintik-rintik. Saya masih optimis untuk menggeret koper saya, tas jinjing dan backpack saya sambil becek-becekan ke airport dan naik bus seharga $3. Ketika sampai di halte bus dekat bandara, saya baru sadar, ini halte lebih jauh dari pintu masuk bandara daripada yang pertama kali. “Oh sh*t”. Untung saya tadi sarapan banyak dan datang 3 jam sebelum pesawat take off. Masih ada waktu buat jalan ke dalam, nggak papa sampai di pesawat basah semua karena mandi keringat namanya juga wong susah. Saat saya lagi narik-narik koper cantik, belum 5 menit saya narik tu koper, ada mobil pull over lagi yang di dalemnya ada wanita paruh baya buka jendela bilang “I’ll drive you to the airport, it’s quite far from here” kali ini saya nggak pakai malu-malu langsung naik mobilnya tanpa babibu. Wanita itu kemudian bilang “I was watching you dragging your luggage and just want to turn around and drive you to the airport” *thebeautyofhavingmukamemelas. ahhhhhh betapa mulianya hati si tante ini. Kalau sudah besar aku mau jadi kaya tante. Punya mobil bagus. #lho. Btw si tante kasih kartu nama waktu drop off saya di pintu bandara dan bilang ”You can add my facebook, I want to see your journey and places you’ll visit in Australia, and just call me whenever you’re in Darwin” aahh sa ae si tante. Love you tant.

Ada juga sewaktu saya stay di desa Kununurra, sandal jepit saya satu-satunya copot waktu lagi jalan-jalan sore cantik. Saya langsung lepas dan buang sandal itu lalu suruh pembantu saya belikan yang baru merek Channel. (Pertanyaanya emang Channel jual sandal jepit?) . Nggak ding, sebagai orang susah yang pandai mereparasi barang murahan, saya betulin tu sandal pokoknya sampai nyambung lagi nggak mau tau. Saat sedang konsentrasi betulin sandal di pinggir jalan, ada om bule lewat depan saya langsung nanya “can I help you with that”. Yang langsung saya jawab “Ah that so nice of you, but no thank you I can fix it”. Bukan apa-apa om, ini sendal udah lama nggak dicuci, takut bau trasi. Si bule jalan pelan-pelan ke mobilnya sambil tetep ngeliatin saya yang mulai keringetan muter-muterin tu sandal kesana kemari. Lalu si om kayaknya gemes liat saya nggak beres-beres. Dia balik lagi sambil bilang “let me just help you” lalu betulin sandal itu dengan waktu dua detik saja qaqaq. Tara kembali seperti semula sandal incess. “Makasi om” .Perkara sandal jepit aja bisa buat saya bisa merasakan ke gotong royong dan tenggang rasa orang-orang di desa ini. Mungkin saya memang nggak cocok tinggal di kota. Mukanya minta di bully.

Anw inti dari cerita ini adalah banyak orang kurang baik tapi banyak juga orang baik bertebaran di Australia baik di desa maupun di kota. Janganlah skeptic sama dunia kalau kalian di bully. #paansi. Tapi sebenarnya nggak boleh si menilai orang hanya dengan berinteraksi sekali atau dua kali dengan mereka. Kita toh nggak pernah tahu cerita hidupnya. Mungkin mereka lagi have a bad day atau kelamaan jomblo. Who knows. Cerita saya ini hanya cerita perjalanan dan pengalaman waktu saya mengunjungi dua kota di Australia yang punya dua karakter yang berbeda. Saya nggak mau bilang kalau di Sydney banyak orang galak dan di Darwin banyak orang baik. Tapi orang baik dan kurang baik itu ada di mana-mana. Pesan untuk netijen dan pembaca yang budiman. Semoga dimanapun kita berada kita akan senantiasa memilih untuk menjadi orang baik yang hobi menolong orang yang kesusahan. Thanks. Salam super.

20171203_071118 (1)

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

5 thoughts on “Orang baik dan orang kurang baik (Darwin, Northern Territory, Australia)

        1. Jd skrg msh di ausie apa gmna sis? Perna cb krja di bag admin gak di sana?
          Rncna sy thn dpan mw ksna.th ini fokus mw kumpulin dana dlu biar bs apply visa whv.

          Liked by 1 person

Leave a Reply to Adel Bou Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: