Sydney Parks and Sincere Prayer from a Stranger

Pertama kali sampai di Sydney sebenarnya saya sedikit kecewa. Karena tadinya saya berharap bisa melihat bangunan-bangunan tua berjejer seperti di Eropa.  Ternyata jarang, yang ada hanya gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta (salah saya juga tidak searching mengenai Sydney sebelum berangkat). It’s just another big city yang penuh dengan lautan manusia. Bahkan sebagian besar adalah pendatang.

Di City berjejer restaurant-restaurant Asia yang memenuhi setiap sudut kota, seperti restaurant China, Vietnam, Thailand, Korea, India, Jepang bahkan Indonesia. Sampai sekarang saja saya bahkan tidak tahu apa makanan khas dari Sydney sendiri.

Saya tinggal di daerah Suburb bernama Ashfield, sekitar 20 menit dari kota. Di apartment milik pasangan Indonesia yang berasal dari Medan. Saya memanggilnya Kokoh dan Cici (sampai sekarang pun saya tidak tahu nama asli mereka). Kokoh ini sudah seperti kakak kami, setiap hari selalu tanya, gimana kabar hari ini, udah dapet kerja? Atau memberi nasihat-nasihat bagaimana hidup di Sydney. “Harus sabar, banyak kasih lamaran, nanti juga dapat”. Kami tinggal ber 8, saya satu kamar dengan kakak beradik perempuan dari Makassar yang saya kenal saat wawancara surat rekomendasi visa di dirjen Imigrasi di Jakarta. Mereka ini yang paling berjasa mengurus tiket dan mencarikan akomodasi di Sydney untuk saya. Tiga orang lagi tinggal di lantai atas. Bangunan apartmentnya sangat bagus, modern, minimalis, dengan balkon yang besar dan lokasinya sungguh strategis ada di depan Ashfield station persis. Tempat yang sangat ideal untuk hidup.

wp-image-905428888jpg.jpgwp-image-292753191jpg.jpgwp-image-538166130jpg.jpg

Cuaca di Sydney saat saya datang masih sedikit dingin dengan banyak angin. Mungkin karena saya berasal dari negara tropis, sehingga angin di Sydney kadang membuat saya sedikit menggigil. Tapi setelah dua minggu di sini, cuacanya menjadi sedikit hangat dengan banyak cahaya matahari meski tetap dengan angin yang sepoi-sepoi. Just the kind of weather I like.

Saya mendapat pekerjaan di Sydney Fish Market pada hari ke empat di Sydney. Managernya adalah orang Indonesia, namanya Koh Adi dari Jakarta. Katanya “Coba aja kerja disini dulu, kalau nggak cocok nanti boleh cari yang lain ko”. Jadilah saya mulai bekerja di sana yang ternyata pegawainya di dominasi oleh orang Indonesia. Customernya kebanyakan turis-turis China yang sedang berlibur ke Sydney. Kadang saya sampai bingung, karena jarang menggunakan Bahasa Inggris di Australia.

wp-image-351931001jpg.jpgwp-image-1847067061jpg.jpg

Pekerjaanya gampang, saya hanya perlu me-wrap oyster, prawn, lobster, abalone, atau crab ketika ada pembeli. Lalu menerima uang atau men tap kartu dari customer. Gajinya, 4 kali lipat dari yang saya dapat di Indonesia, tapi konon katanya gaji ini tergolong kecil karena tidak memenuhi standart dari government. But honestly I can live well here dengan gaji yang saya dapat, I can even save up. Karena pengeluaran saya hanya untuk rent room dan transport. Saya bahkan dapat lunch gratis setiap hari dari tempat kerja, dan kadang bisa saya bawa ke rumah untuk dinner. Saking sering dan banyaknya makan seafood, saya sampai had enough of seafood (I was a big fans of seafood, I even didn’t mind losing so much money to eat a whole plate of crab, but now seeing seafood is just like uwghh). Pekerjaan selesai jam 4 sore. Saya masih bisa jalan-jalan di town untuk sekedar ngopi atau sightseeing. Terdengar masuk akal kan hidup saya.

Karena Sydney terasa ramai, dan tempat kerja saya juga sangat penuh dan sesak oleh orang, saya sering mencari park di tengah kota untuk sekedar duduk, atau bahkan tidur siang sambil memperhatikan orang lalu lalang. Mampir ke Woolworth (semacam hypermarket di Sydney) untuk beli satu kotak strawberry dan satu botol susu. Lalu datang ke Park untuk duduk dan menulis di notes kecil saya.

wp-image-217025800jpg.jpgwp-image-1736148828jpg.jpg

Pada suatu kamis, saat saya ada day off, saya jalan-jalan ke Bellmore park yang letaknya di depan Central station persis. Hanya untuk duduk dan lihat orang, sendiri. Saya duduk di bangku taman dan mengambil beberapa gambar dari kamera saya, ketika tiba-tiba ada seorang kakek berumur 80 tahunan lewat di depan saya.

“Oh sorry dear, I didn’t notice you were taking pictures”. Katanya merasa ia mengganggu saya yang sedang mengambil gambar. “That’s Ok sir, no worries” kata saya.

Lalu ia ikut duduk di bangku taman. Dan kami memulai obrolan, dari bagaimana saya bisa sampai Sydney, tempat yang pernah ia kujungi, dan pertanyaan sekitar “Have you ever been to Blue Mountains, or Sydney Opera House”, dll.

“You know I had lung cancer a few years ago and had 2 times surgery”

“Oh I’m really sorry to hear that”

“No that’s alright, it’s alright now. I have a good job, a good apartment, and I can meet and talk to nice people like you every day, and I am happy with my life”

Saya terdiam sejenak,memandang wajah keriputnya dan tak terlihat sedikitpun kesedihan di wajahnya ketika menceritakan penyakitnya.

“You should be happy too dear, go travel to those beautiful places. And I know someday you’ll meet a guy who will love and respect you. You should remember that respect is important. And you are a beautiful girl you know that right”

Saya hanya tersenyum lalu menjawab

“Sometimes westerners think that this tanned skin make us looks beautiful. You should come to my country, you can easily find more beautiful girl than me”

“Nah I think you are beautiful, if I were younger I would marry you, hha I’m kidding dear, don’t be afraid. Do you like sitting in the park?”

“Yes it’s my favorite spot in the city”

“Well you should go to Hyde Park, its just 10 minutes’ walk, I will walk with you there, if you want”

 “Are you sure?”

“For a beautiful girl like you, of course, I would” and he smiled.

Lalu kami berjalan ke Hyde park. Saya serasa sedang berjalan bersama kakek saya, langkahnya pelan namun mantap. “I hope you like it there, and maybe we can meet again in some other park” katanya saat melambaikan tangan pada saya sebelum ia pergi.

Saya memang tidak terlalu suka dengan kota besar yang terlalu ramai. Tapi setidaknya di Sydney saya bisa mendatangi taman-taman cantik nya satu persatu, untuk merebahkan diri di bawah pohon besar, sambil menyeruput habis satu botol susu coklat. Melayangkan pikiran saya ke tempat-tempat lain yang ingin saya kunjungi. Membayangkan suatu hari saya bisa ajak Ibu ke sini. Pasti Ibu suka.

Someday if you visit Sydney, you should spend some time in its parks. The fresh air, the trees, the grass, the feeling. Somehow you don’t want more. Plus if you are lucky enough, you will meet an old man, with a big smile and an even bigger heart, who will walk with you to another beautiful park, just so you can see a beauty of a park in his version. No matter how long and slow and hard it takes for him to walk. He’ll do it for you, without asking anything in return. And he will give the best advice a human being could possibly give, wishing you to have a good life, and tell you that someday you don’t have to sit alone again in the park. Remind you that that day will come when you will be sitting in the park with someone who loves and respect you. For a second I do believe that day will come. Someday.

I’ll see you again grandpa.

wp-image-935383323jpg.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: