The best job I ever had = Petani Alpukat (Mareeba, Queensland)

1522271781771Tulisan ini adalah lanjutan dari kisah saya menjadi petani Alpukat pada Maret 2018.

Selama kalian hidup, akan ada banyak sekali orang yang akan menilai apa yang kamu lakukan. Mereka memiliki ekpektasi bagaimana seharusnya kamu bertindak. Kalau tidak sesuai dengan standart mereka, pasti kamu di judge. Banyak yang perduli, sedikit yang tidak. Saya termasuk yang tidak perduli dengan  hal-hal itu. Tau mengapa? Karena hal itu buang-buang waktu, life is short, ngapain abisin buat ngurusin omongan orang, cape tsay. Termasuk pilihan saya untuk pergi ke Australia, eh jadi petani alpuket. Gimana nggak gonjang-ganjing dunia?

Tapi saya si bodo amat.

Selama saya nggak nyusahin orang, semua urusan saya usahakan sendiri. Nggak pernah ngemis-ngemis uang ke orang tua, mandiri, belajar banyak, punya banyak pengalaman, saya puas kok. Kalau orang nggak bangga sama saya, itu hak mereka, dan tetap bukan urusan saya. Saya bangga sama diri saya sendiri. Dan mon map, saya sedikit lega menjauh dari orang-orang dengan pikiran sempit seperti sukses adalah kerja kantoran, menikah, punya anak, sudah selesai hidup. Sekali lagi kerja kantoran bukan untuk semua orang. Pertanyaan yang seharusnya kalian ajukan adalah “Apakah saya lebih bahagia sekarang?” saya bisa jawab “Ya saya bahagia karena hidup saya terasa lebih masuk akal sekarang, terlepas dari penilaian negative dari sana sini”

Salah satu hal yang membuat saya bahagia di sini sebagai petani alpukat adalah saya ketemu banyak sekali orang-orang dari berbagai belahan dunia yang otaknya sama kayak saya.

Pekan lalu saya makan di sharehouse teman saya di Stratman street. Ada Diego dari Uruguay. Kayaknya temen si Dora yang suka nanya “Apakah kalian melihat rumah berwarna hijau?” Diego ini kerja di Howe Farm sebagai Avocado picker, sama aja dengan saya petani apukat. Gajinya $1000 perminggu, 10 juta rupiah satu minggu. Saya tanya di Uruguay kerja apa? Accountant kata doi. Lalu mengapa pindah Australia jadi petani Diego? Tanya Dora kepo. “I need something new, I don’t like routine”. Sama dong sama adek bang.

Lalu di sebelah Diego ada Hao dari China, satu kerjaan sama Diego as an Avocado picker. Di China dia kerja sebagai arsitek. Kalau ditanya banyakan mana gajinya sama di sini. Kata Hao sama aja beda-beda tipis. Terus kenapa dong milih jadi petani di Australia daripada jadi Arsitek di China? Kata Hao “You know I had everything in China, apartment, car, good job. They thought I was happy with all of that. But I was not, here I’m much more happier” Nah loh gajinya yang udah besar di negaranya aja masih ada yang ngerasa hidup kurang masuk akal. Apalagi adek di Indo yang gajinya belum sebesar mereka padahal kerjaanya keren. Assessment di Bank Jepang gitu loh. Di sini nggak ada yang ngejudge mau jadi petani kek, waitress kek, pegawai kantoran, tukang bersih-bersih, terserah lo, yang penting ngasilin uang nggak stealing. Nggak ada yang sibuk sikut sana sini ngomongin kerjaan orang yang katanya derajatnya lebih kecil dari kerjaan lainnya.

At least kalau nanti saya sudah tua ditanya, pernah jadi pegawai kantoran dempet-dempetan di KRL Jakarta nggak? Pernah. Pernah kerja remote di Bali jadi Marketing Manager nggak, yang bisa kerja di pinggir pantai dan liat sunset tiap hari? Pernah. Pernah kerja di Australia jadi petani dengan gaji setara manager di Jakarta nggak? Pernah. Pernah kuliah S2 di Inggris nggak pake uang sendiri atau beasiswa? Belum, lagi usaha, sabar ya.

Baiklah kembali lagi ke Mareeba. Mon map jadi curhat panjang lebar. Soalnya lagi gemes gitu sama negaraku yang lucu.

Di Mareeba saya kerja di kebun Alpukat sebagai picker bersama sekitar 30 backpacker dari beberapa Negara lain seperti Perancis, Chille, Malaysia, dll. Kerjaanya gampang, petik apuket pakai gunting, kalau pohonnya tinggi pakai stick. Awal-awal kerjaan ini terasa berat karena kita digaji per piece rate. Piece rate artinya uang yang kita hasilkan akan sesuai dengan kerja kita. Harga per bag alpukat yang sudah kita picked adalah 3.5 AUD. Tas nya jangan salah dek, tas kanguru yang digantung di depan. Seperti ada di foto yang saya lampirkan. Per hari kami ada target, targetnya adalah 70 bags per day. Jadi kalau dikali 3.5 dollar, sehari itu minimum kita dapet 210 AUD dikurangi pajak 15%. Kalau bisa lebih dari 70 bags bisa dapet bonus. So best picker bisa dapat 155 bags sehari which is dapet 400 AUD lebih sehari. Sekitar 4 juta rupiah satu hari. Gimana Anda mulai tertarik untuk menjadi petani di Australia?

Hari-hari pertama rasanya berat banget bangun subuh pulang sore, kerja di bawah matahari, tas berat, harus jalan ngejar-ngejar traktor. Pulang ke rumah badan rasanya rontok. Bener-bener kerja sampe kaki di kepala, kepala di kaki. Lecet dimana-mana, lebam, kuku copot, kulit kebakar, tangan kegunting. Saya mikir ini kerja apa dikerjain sebernernya. Apa jangan-jangan ini yang saya lagi syuting hunger games. The real cari duit gini banget Ya Allah.

Tapi walaupun berat nauzubilah ni kerjaan, menurut saya kerjaan ini kerjaan paling asik selama saya di Ausie. Kenapa? Karena temen-temennya seru, supervisornya gila, vibe di farm bagus banget. Rasanya kaya lagi main-main dikasih duit. Buat saya yang emang pecicilan dan sok minta ditantang. Kata Tuhan “Nyoh makan tuh suruh bawa-bawa tas apuket seberat 15 kg tiap hari kali 70”. Tapi entah mengapa I like it.

Pagi-pagi kami bangun jam 5. Lalu Siap-siap untuk berangkat nebeng mobil temen bayar bensin 6 AUD sehari, perjalanan ke farm itu sekitar 45 menit. Kami akan selesai kerja jam 5 sore. Jam 12 siang kami semua bakalan makan siang di bawah puun dengan pemandangan kuda-kuda dan sapi-sapi lagi kejar-kejaran. Sambil colong-colongan lauk. Udah kayak di Harvest moon. Entah mengapa walaupun berat tiap hari saya selalu semangat bangun pagi buat memulai aktifitas ini. Buat manjat pohon dan makan siang bareng. Saya si Happy banget.

Supervisor saya namanya Jerome dari Perancis. Agak-agaknya ni bocah kurang kerjaan. Bukanya ngawasin picker-picker, abang ini kerjaanya ngegosip, nge-rap bawah pohon, nge-alay pake motor farm, kalo ada bos dateng baru dia pura-pura kerja. Dia ngegosipin saya sama picker dari Perancis juga namanya sebut saja dia Ucok. Jerome kerjaanya bolak balik ke pohon saya dan Ucok cuma buat bilang “Angky, kata Ucok dia suka kamu” abis itu pindah ke pohon Ucok bilang “Cok, kata Angky dia suka kamu” tiap hari gitu mulu. Menggangu saya yang sedang fokus dengan karrier baru ini.

Kadang kalau udah terlalu jengkel bakalan saya usir “Get the hell of my tree Jerome” Lalu dia akan pergi sambil ngeluh. “But i’m boring” .Untungnya abang Ucok ini karena sering digosipin sama saya, jadi baik hati, senang membagi bag nya kalo saya cape. Aww zozwit abang.

Suatu hari yang tak diduga-duga bos farm bakalan dateng untuk ngecek kerjaan kami. Saat itu Jerome baru akan terbirit birit pura-pura kerja. Dia akan dateng ke bawah pohon saya lalu teriak “Angky, don’t put avocado on the ground”. Karena sebagai picker kami dilarang untuk menjatuhkan alpukat ke tanah. Hal tersebut bisa membuat kualitas alpukat berkurang. Saya langsung saja lihat sekitar saya mencari alpukat yang di tanah seperti yang Jerome bilang, dan nggak ada satupun alpukat di tanah di bawah pohon saya. Saya langsung bersiap untuk protes ke Jerome karen yang dikatakannya hanyalah sebuah dusta belaka. Waktu saya lihat SPV saya itu matanya kedip-kedip memberi sinyal sambil nunjuk bos nya dibelakang. Ini artinya babang J cuma pura-pura negor biar dia dikira kerja.

Karena sudah paham tabiatnya saya lalu minta maaf untuk kesalahan yang saya tidak pernah buat “Im sorry Jerome, I won’t do that again”. Setelah si bos pergi, main-main lagi si Jerome ngusilin orang-orang. Dasar biadab. Kalau nggak ngikutin suara lebah terus mendesing di kuping saya, dia bakalan nge-rap di bawah poon pake kacamata item. Lagunya nggak pernah ganti, lagu bahasa Prancis yang itu itu aja, yang kedengerannya buat di kuping orang Indo gini. Siseu Sableu Obagati Legua. Setiap kata harus di pronounce dengan lebai lidah keluar keluarJadi tiap Jerome dateng kita bakalan nyanyi duluan kalo lagi mood nanggepin.

Siseu Sableu Obagati Legua. Siseu Sableu Obagati Legua. Siseu Sableu Obagati Legua. Siseu Sableu Obagati Legua. Siseu Sableu Obagati Legua. Siseu Sableu Obagati Legua.Siseu Sableu Obagati Legua.

Lagu Siseu Sableng ini yang akhirnya menjadi Mars di kebun alpuket selama dua bulan. Kalo orang lagi males nanggepin Jerome nge-rap, mereka paling paling sudah menyiapkan amunisi Alpuket buat dilempar ke Jerome kalo dia mulai nyanyi Siseu Sableng di bawah pohon mereka.

Si Jerome dan pacarnya yang namanya Morgane punya hobby belajar bahasa Indo sejak menjadi petani alpuket. Mereka suka minta diajarin bahasa Indonesia karena kebanyakan picker di farm itu adalah orang Indonesia. Mereka bilang “I like Indonesian, cause they’re funny” Kalau mereka berdua sudah belajar satu kata dan lancar mengucapkannya, mereka bakal pamer “Angky, call me Bule Gila now” besoknya ganti lagi “Now you can call me Raja Alpukat”.

Tapi pada akhirnya orang-orang Perancis ini yang jadi temen baik saya selama di Mareeba. Morgane rajin menjemput ke rumah untuk ngajak nonton bioskop di kota tiap weekend, atau kadang kami cuma main di rumah Raisa, temen dari Perancis lainnya. Kadang kita adain girls night dan si Morgane yang multitalenta ini bakalan nge gunting rambut saya sambil karokean. Abis itu minta dipijit untuk imbalannya.

Hal gila lain di farm adalah kalau kami sudah capek petik apukat dan nggak ada lagi tenaga tersisa. Picker-picker dari Indo ini bakalan teriak “kulu-kulu-kulu” sebagai upaya untuk memanggil hujan di bawah pohon masing-masing. Karena kalau hujan semua orang harus berhenti kerja dan berteduh. Setelah itu picker lain yang berasal dari Perancis bakalan nyaut “aaAkkk aaakkk aaakkk” ngikutin suara burung gagak. Orang-orang lain ada juga yang ngikutin suara monyet. Saat itu juga farm akan berubah menjadi kebun binatang, bedanya ini binatang-binatanganya lebih ganas dari wild life animal di Australia. Kalau udah makin berisik, Si Jerome sebagai spv yang baik akan teriak teriak keliling row “No kulu-kulu today guys, we need money”.

Ketika jurus kulu-kulu berhasil dan turun hujan lebat dengan petir menyambar-nyambar. Semua picker bakalan lari-larian ke shed yang jauhnya nauzubilah. Sambil bawa-bawa terpal yang dipakai untuk naruh alpukat dan stick untuk petik alpuket. Bukannya takut kesamber gledek mereka justru ketawa-ketawa dan joget-joget bawah ujan kayak di pelm pelm Bollywood.

Linda justru punya pengalaman menyenangkan waktu ujan gledek di kebun. Ada seorangdari Chile yang suka kami liatin kalo lagi makan siang. Dia nggak suka haha hihi sama picker lainnya. Paling diam dan cool. Dia suka banget tiduran di rumput, baca buku sambil ngemil wortel. Terlihat intelegent. Wajahmu mengalihkan makan siangku bang.

Waktu hujan geledek, Linda masih aja sibuk masukin sisa alpukat ke bag, sementara yang lain udah lari terbirit-birit. Tiba-tiba babang Chile  yang bukan hanya ganteng, tapi juga baik hati, dateng ke bawah pohon Linda, lalu bertanya dengan mesranya “Hey are you okey let me help”. Wajah Linda tentu saja langsung berseri-seri. Sambil ada backsound nya “Terpesona, kupada pandangan pertama”.

Lalu mereka berdua lari-larian pake terpal berduaan di bawah ujan. Bak Sakhrukh Khan dan Kajol. Di bawah terpal itu Linda mesem-mesem sambil menjulurkan lidah ke saya. Well played lin, well played.

Tapi anehnya walaupun kami sering kerja panas-panasan bener-bener dibawah terik matahari yang membakar, lalu waktu pulang kehujanan, bahkan di dalam mobil baju kami basah selama satu jam pulang sambil menggigil. Tapi entah kenapa esok harinya kami sudah kembali sehat untukpetik apuket lagi. Mungkin power ekstra dari Gusti Allah untuk para petani kismin kayak kami.

Ada hari-hari dimana kami harus mengucapkan perpisahan kepada teman kami di farm. Ketika hari itu datang, satu farm bakalan sedih sedihan termehek-mehek karena udah biasa bareng-bareng selama 2 bulan penuh. Seperti ketika Raisa dan pacarya Killian pergi ke Canberra kami semua berkumpul di rumahnya buat say goodbye.

1521329019689
geng Siseu Sableu

But seriously I love Mareeba so much. Walau selama tinggal di sana dan jadi petani alpukay kulit adek ini literally GOSONG gara-gara kebanyakan di bawah matahari but i dont really care. Nggak ada yang menilai mu dari warna kulit juga di Mareeba. Padahal kalo pulang Indo dengan kulit gosong kayak begitu palingan juga kami di bully. Karena beauty standart yang bilang kalo punya kulit putih baru boleh dibilang cakep.

Di Mareeba saya jadi banyak belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya. Mengapresiasi perjuangan sendiri. Dan bersyukur telah memilih jalan ini. Karena seberat apapun pengalaman saya di sini. Saya nggak pernah lagi keluar di balkon apartment untuk nangis dan bertanya-tanya “Is this the right thing to do? Am I on the right track?” seperti ketika saya berada di Jakarta. Saya justru sibuk ketawa-ketawa dan menikmati hidup yang jenaka sebagai petani Alpukat ini.

Kalo ada netijen Indo yang komen merendahkan tentang pekerjaan ini. I don’t know what to say, since it was the best job i ever had. Dan silakan berkomentar. Justru semakin banyak komentar-komentar menandakan hidup saya lebih seru untuk diperbincangkan daripada hidupnya sendiri. And it was that fun anyway.

Thank You Guys Love Ya.

1517472184486
yin dan alpukat alpukatnya
1520585491027
setelah jurus kulu kulu berhasil
1521976820532
last day of picking

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: