My simple life in Mareeba (Mareeba, Queensland)

Tulisan ini dibuat pada tanggal 10 Maret 2018

Sebelum ada yang nanya, Mareeba itu nama makanan apa. Mareeba bukan nama makanan babe. Mareeba itu kota kecil di Atherton Tableland yang terletak di Far North Queensland, Australia. Sekitar satu jam dari  Cairns, Queensland. Mau dibilang kota juga bukan, menurut saya pribadi Mareeba termasuk desa kecil yang cukup modern. Nggak banyak yang bisa dilakukan di kota ini, hiburan di sini paling liat kanguru di belakang tempat golf yang kangurunya tiap mau diajak foto ngumpet dibawah puun. Ada juga waterfalls dan danau di desa-desa sebelah yang bisa dikunjungi buat foto-foto manjah. Seperti Barron Falls di Kuranda, Millaa Millaa Falls di Tableland, dan Lake Eecham di Atherton. Tapi buat sampe ke sana kita harus ada mobil karena jaraknya lumayan jauh dan nggak ada kendaraan umum. Yang artinya yang bisa dilakukan orang kere tapi pengin berekreasi kayak saya ya cuma tunggu orang kasian biar ditebengin kalo mereka mau liburan.

20180127_131000
Lake Eecham

Jarak dari rumah saya ke pertokoan dan tempat-tempat makan bisa di capai dengan jalan kaki saja. Buat belanja stok makanan ke coles (supermaket Australia). Sebenarnya jalan jauh bukan masalah lagi bagi saya karena saya sudah menjelma menjadi wanita desa berbetis kekar (not even remember how easy life was with the help of ojek online). Masalahnya hanyalah tiap kali balik dari belanja saya musti bawa tentengan seberat bagasi cabin air asia pake tas belanja di kanan kiri. Potek pinggang adek bang.

Jadi biasanya untuk menyiasati rutinitas berbelanja agar pinggang tak potek, saya kadang minjem sepeda tetangga sebelah, kalau sepeda lagi dipakai saya bakalan nunggu ada orang yang kasian terus nebengin pake mobil, kalau udah kepepet dua duanya nggak available, kadang saya nyolong troli yang ada di coles dan dorong sampe rumah. (Si kere yang lincah nan banyak akal). Sebenernya ada layanan taksi di Mareeba. Tapi harga taksi sama belanjaan saya kadang mahalan taksinya, jadi mon map mending saya nyolong troli sehari besok balikin lagi. Kalau kata Joshua “Iyalah kawan apapun kulakukan agar tak mati kelaparan”.

20180420_090019
OTW beli tuna kaleng

Walaupun kota kecil, Mareeba sedikit lebih lengkap dari Kununurra, Western Australia desa microwave yang saya tinggali sebelumnya. Setidaknya di Mareeba ada McDonalds, Pizza Hut dan KFC buat nongki nongki affordable kalo saya lagi males masak. Dan untuk pergi ke bandara dari Mareeba hanya butuh waktu satu jam naik mobil atau bus. Jadi kalau mau kabur ke kota lain naik pesawat nggak terlalu jauh ke bandaranya. Nggak kayak di Kununurra, musti naik bus 10 jam dulu melewati savanna ke Darwin.

Hal yang paling saya suka dari Mareeba adalah, cuaca disini hampir sama seperti cuaca di Indo. Nggak terlalu panas dan nggak terlalu dingin. Pas lah untuk kulit adek yang truly Asian beauty ini. Temperaturnya sekitar 20-35 derajat celcius with lots lots of sunshine.

Kota ini dikelilingi banyak perkebunan milik warga lokal seperti kebun mangga, pisang, blueberry, alpukat, kopi, pepaya dan masih banyak lagi. Kalau road trip pakai mobil ke kota-kota sebelah kalian bakalan lihat hamparan hijau kebun buah dengan jajaran pohon yang ditanam rapih dengan buah yang gemuk-gemuk. If you’re lucky enough kalian juga bisa lihat sapi-sapi, kuda-kuda, wallaby dan kanguru lari-larian di padang rumput diantara kebun-kebun itu. Sungguh memanjakan mata anak blasteran, setengah kampung setengah kota, seperti saya.

Sekitar jam 6 pagi, saya bisa lihat balon udara berterbangan di langit Mareeba yang biru tanpa awan dengan berbagai warna dan lambang Australia. Kalau malam tiba saya biasanya menghabiskan waktu duduk di halaman belakang ngeliatin bintang yang terlihat jelas di langit malam Mareeba sambil ngegalauin jodoh yang masih absurd.

20180202_154752
otewe KANTOR

Mareeba memang sedikit lebih besar dari Kununurra. Tapi bagi saya kota ini masih tetap terasa kecil karena kemanapun saya pergi saya pasti bertemu dengan orang yang saya kenal. Entah teman dari farm, dari sharehouse atau bahkan temannya teman.

So far dari 4 kota di 4 state yang saya datang dan tinggali di Australia, Mareeba is my favorite.
Di Mareeba ada banyak orang dari Indonesia yang menetap untuk mengais dollar dengan bekerja di farm. Kebanyakan dari mereka punya mobil pribadi untuk sarana transportasi. Kalau di Indonesia punya mobil terdengar so fancy and rich? Di sini biasa aja. Mobil second di Australia itu murah gaess. Bahkan kalau diukur dengan gaji orang Indonesia masih terbilang murah. Hanya berkisar 5 juta rupiah sampai 30 juta saja.

Saja? Sounds so sombong

Tapi semurah itu pun adek tetep belum mampu beli dan hobi nebeng. Nggak opo…. Duta Global Warming emang harus hobi nebeng.

Udah dua bulan di kota ini kok baru sempet buat nulis kak, why?? Karena I’m so so busy kerja di farm, bersosial, and be awesome.
Seperti yang saya tulis di blog sebelumnya. Saya harus kerja di farm untuk memperpanjang visa dari 1 tahun menjadi 2 tahun dengan bekerja selama 88 hari di daerah Northern Territory, atau sebagian daerah Western atau Queensland. Ini adalah salah satu cara pemerintah Austalia untuk meningkatkan bidang agriculture nya dengan memanfaatkan backpacker-backpacker yang datang ke negara mereka untuk bekerja di farm-farm lokal. Win win solution. Mereka dapat pekerja. Backpacker seperti saya dapat uang untuk biaya hidup dan berlibur di Australia. Smart uga.

Pertanyaan orang-orang Indo.

Kak kerjaan nya ngapain si di Mareeba?

Jawab saya: Kakak petik apuket de.

Reaksi: WHAT THE HELL?

Sebagian keluarga saya nggak percaya kalau saya bilang kerjaan saya di Australia petik apuket. Kata mereka. Kok kamu mau jadi petani apukat? Katanya lulusan UI? Bekas pegawai bank loh.

Baiklah jawabanya adalah, disamping saya pengin dapet visa tahun kedua (second year visa) yang mengharuskan saya kerja di farm selama 88 hari, bekerja di farm juga bikin saya banyak belajar tentang Agriculture di Australia, apalagi dulu saya kebanyakan main harverst moon. Obsessed main di kebon dan harvest buah-buahan. Jadi menjadi petani buah even tough sounds so silly tapi i did cross one thing from my list that i wanted to do in life. Berkebun kayak di Harvest Moon. Apalagi saya memang suka tinggal di desa yang udaranya masih super bersih. Dan Mareeba salah satu desa dengan banyak farm yang eligible buat pemegang Visa WHV untuk completing 88 daysnya. Jadi sepengin-penginnya saya kerja di indoor yang nggak terlalu berat dan buat lucu-lucuan aja biar dapet duit di Australia, saya pun tetap excited menjalani persyaratan 88 days kerja di farm ini. Toh good money juga.

20180316_123408
pemandangan maksi

Lagi pula, Did I ever say no for the new challenges even if it sounds hard?

Yes sometimes,

but not for this one.

Kapan lagi incess jadi petani internasional.

Beberapa orang Indo yang tahu kerjaan saya bilang “Turun derajat ya ki kerjanya?”.  Yah buat orang yang menilai derajat dari pekerjaan, bukan dari cara seseorang bertingkah laku dan berelasi dengan orang lain ya terserah si. Tapi bagi saya dan orang-orang di sini, pekerjaan sebagai petani di kebun bukan pekerjaan yang derajatnya rendah. Biasa saja. Halal juga, ngapain malu? Teman-teman saya yang bekerja di farm yang sama dengan saya dari berbagai negara justru bangga dapat pengalaman baru dan upload foto-foto di social medianya. Tapi kebanyakan teman Indo saya malu kalau ketauan di Australia kerja di farm karena takut di judge. (Nasib datang dari negara dengan mayoritas orang punya gengsi yang setinggi monumen nasional, baru dibilang keren kalau kerja PNS atau kantoran)

And sorry for disappointed super fancy Indonesian way of live. Tapi hidup dan gaji saya petik apukat sekarang di sini terasa lebih masuk akal daripada waktu saya kerja di Jakarta. Kenapa saya bilang lebih masuk akal?

Walau katanya “turun derajat”. Gaji saya satu minggu setara dengan gaji saya 2 bulan di Indonesia. Bukannya mau show off, and yes I do agree that money isn’t everything. But it’s not just money that I get here, but more than I could ask for. Money, new friends, new adventures, new experiences, and a positive mind. And this is what I needed right now.

Bangun pagi, berangkat ke farm dengan pemandangan sunrise dan jajaran perkebunan lebih masuk akal untuk saya daripada pemandangan orang berebut masuk ke KRL dan kemacetan Jakarta. Pulang rumah jam 5 sore walau badan rontok, dan masih sempat untuk belanja, masak bekal untuk besok, cuci baju, maskeran unyu unyu sama tetanggad dari karawang, silaturahmi ke tetangga (red.  minta makan) lebih masuk akal daripada pulang kerja jam 6 sore setelah duduk 8 jam di depan komputer dan langsung ketiduran tak sadarkan diri sampai jam 11 malam dan nggak sempet ngapa-ngapain (karena rontok badan ternyata lebih masuk akal daripada otak ruwet ngeliat kemacetan dan permasalahan yang itu itu saja). Nabung 70% dari penghasilan dan sisanya dipakai untuk bayar rumah, belanja makanan, seneng-seneng sama teman juga lebih masuk akal daripada nabung 20% penghasilan dan sisanya masih empot-empotan untuk idup dan beli-beli baju baru serta make up di mall biar di kantor nggak dibilang dekil. Sabtu pergi ke danau, air terjun sambil barbequan sama teman-teman baru dari berbagai negara sambil cultural exchange, atau hura-hura beli skincare di farmasi lebih masuk akal daripada ke mall setiap minggu buat nonton makan nonton repeat dan beli baju baru yang branded untuk memenuhi ekspektasi teman-teman kantor. Hari minggu saya masih bisa rutin olahraga joging keliling komplek yang aman buat pejalan kaki karena trotoar gede, dan mobil selalu mendahulukan orang jalan. Muter taman sambil liat kanguru lompat-lompat dan disapa orang-orang jogging lainya walau nggak saling kenal (salah satu alasan saya lebih suka tinggal di desa, orang-orang lebih friendly). Kalau uang kumpul, bisa cuti sebulan liburan kemanapun yang kuinginkan tanpa terbatas 12 hari cuti selama satu tahun. Nggak usah repot ke dokter kulit karena dibilang iteman, yang ada dibilang you have a very nice tanned skin darling. Karena kulit putih bukan ukuran orang cantik di sini.

Yang mau saya sampaikan di tulisan ini bukan ‘way of life’ orang kantoran salah. Tapi hidup seperti itu bukan untuk semua orang, nggak bisa disamaratakan ke semua orang harus punya hal yang sama baru hidup mereka bisa dibilang berkualitas dengan derajat yang baik. Ada yang bahagia, ada yang tersiksa dengan patokan hidup yang dibuat oleh society ini. Saya termasuk orang yang tersiksa dengan rutinitas di Jakarta. Hidup terasa super kurang masuk akal dan tingkat stress tinggi sekali. Ada orang-orang se’gila’ saya yang memilih hidup seperti yang sedang saya jalani ini dan rela dicaci maki sama orang-orang skeptic di Indo yang bilang ‘yaelah cuma jadi petani di Australia’. Go ahead babe judge all you want, I don’t care. At least i did one thing right. Apa kalau saya tetap menjadi pegawai bank atau ‘PNS’ sampai saya tua  orang-orang akan berhenti men-judge. I guess no. Cause you can’t never please everyone. And I wasn’t born for that. So like a wise girl once said

“Haters gonna hate, hate, hate. Im just gonna shake shake shake, shake it off!”

Berhentilah untuk mensamaratakan ukuran sukses pada semua orang. Berhentilah untuk memberi label pada semua pekerjaan. Berhentilah membuat patokan kasat mata tentang bagaimana seorang harus menjalani hidupnya. Biarkanlah orang lain menjadi dirinya sendiri, bahagia dengan caranya sendiri, bukan dengan aturan yang kalian berikan. Biarlah mereka tentukan sendiri apa yang terbaik untuk mereka. Belajarlah untuk menerima bahwa semua orang punya hak masing-masing untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Belajarlah untuk mengapresiasi yang orang lakukan daripada menilai dan berkomentar pedas. Hidup kalian belum tentu lebih baik dari mereka. Komentar kalian belum tentu benar. Dan perjalanan hidup kalian bisa jadi tak sebanding dengan perjuangan hidup mereka. And just remember. Being different is not a sin. Forcing someone to be something they’re not is. #marioteguhison

Walau tentu saya tidak berencana untuk selamanya seperti ini. Saya pun punya cita-cita lain yang harus dikejar, kuliah S2, membuka bakery dan jadi penulis. Tapi untuk sekarang hidup yang sedang saya jalani di sini adalah hidup yang paling masuk akal. Saya enjoy sekali sekarang dapat banyak pengalaman baru, mengunjungi tempat baru, dan bertemu banyak orang dari berbagai negara. Di sini pun saya bisa menjadi diri sendiri tanpa banyak di judge. Karena yang lebih menyakitkan dari siksaan ibu tiri adalah, tidak bisa menjadi diri sendiri. (Apaan sih ki alay banget).

Dulu saat masih bekerja di Jakarta saya pernah dibaca personalitynya yang absurd ini oleh sebuah tes psikologi. Katanya ‘She will always seek for environment who will appreciate her. So now, here’s what I go and here’s what I do.

I’m Angky Ridayana, I’m currently working and living in Australia as an Avocado picker if you don’t like me, it’s not my damn problem honey.

 

1517472226864
PANEN!
IMG-20180623-WA0018
celebrating elenyong’s birthday
IMG-20180415-WA0021
hiburan petani desa: nonton dugong renang
1522413665928
On our way to Cape Tribulation! The view was breathtaking

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

2 thoughts on “My simple life in Mareeba (Mareeba, Queensland)

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: