Petani Anggur Part 1 (Mareeba, Queensland)

Mumpung sekarang saya lagi rajin-rajinnya mengulang cerita pahit ketika menjalani carrier sebagai petani di Australia. Kenapa nggak saya ceritakan dan beberkan saja semua pengalaman saya yang menyenangkan sekaligus mengenaskan selama bertani di negeri down under untuk mengejar 88 days. Ketika kehidupan menghantam saya habis-habisan di kebun-kebun Australia hanya demi mendapat kesempatan tinggal dan bekerja selama satu tahun lagi di negara ini. For new stories, new adventures, and brighter future hopefully (yea rite). Mumpung sekarang ini saya juga lagi di karantina di rumah karena wabah corona yang makin menggilak. Menengok kebelakang ke masa penjajahan di negeri kanguru justru menjadi sesuatu yang menghibur di saat saat seperti ini. Ketika dulu hidup di kebun di tengah teriknya matahari yang membakar masih lebih masuk akal daripada keadaan sekarang ketika keluar rumah saja adalah hal yang berbahaya.

Dulu sebelum menjalaninya sendiri, saya pikir, mendapatkan 88 hari bekerja di farm di daerah regional Australia bukanlah hal yang sulit. Dengan jiwa miskin saya yang sungguh tak kenal lelah dan malu, saya pasti bisa melewatinya dengan baik.

What is 88 days? Only 3 months kan kerja di kebun, that’s it? i can do that! *masih songong, belum tau rasanya di jajah.

Ternyata setelah beberapa bulan menjalaninya sendiri, netijen , Yassalammmm. Ngejar 88 hari dengan ngefarm itu tak semudah bacotan saya dulu.

Kenapa tak mudah? Sebenarnya apa yang membuat pekerjaanya menjadi berat?

Menjadi seorang backpacker yang diharuskan menjalani pekerjaan di farm selama 88 hari adalah hal yang menantang. Bukan saja pekerjaan di lapangan berat, tapi ada juga banyak faktor yang memperlambat para backpacker ini untuk mendapatkan hari-hari itu. Dari mulai faktor cuaca, musim panen, hingga penipu-penipu ulung pengambil untung di sepanjang jalan.

Seperti yang sudah di ceritakan di postingan saya sebelumnya, faktor cuaca dalam mencari 88 hari adalah hal yang krusial. Kalau hujan, kami tidak bisa bekerja di ladang, kalau tidak bisa bekerja, bukan hanya kami tidak akan ada uang untuk melanjutkan hidup, tapi kami pun tak bisa mengumpulkan payslip untuk 88 days. Seperti ketika saya bekerja menjadi petani Sandalwood di Kununurra. Dalam waktu satu setengah bulan, yaitu sekitar 45 hari. Saya hanya bisa bekerja selama 10 hari saja. Karena saat itu sedang musim hujan. Kalau hujan turun, jalanan ke ladang akan becek dan bajir, dan kami hanya akan berdiam di rumah.

Faktor musim panen. Panjangnya musim panen tergantung tiap-tiap buah. Seperti ketika saya bekerja di kebun Alpukat. Musim panen alpukat di kebun di Dimbulaah hanyalah sekitar 2 bulan saja. Ketika musim itu selesai, tentu saja kami yang masih membutuhkan tambahan hari untuk mencapai 88 hari harus mencari pekerjaan lain. Mengemis ngemis pekerjaan sebagai petani. So sad but true.

Kesengsaraan diatas belum ditambah dengan orang-orang picik yang mencoba mengambil untung di tengah perjuangan para backpacker yang desperate untuk menapatkan 88 hari ini. Dari para pemilik sharehouse yang bekerja sama dengan farm-farm. Landlord tersebut biasanya mengambil untung dengan menjual pekerjaan. Kalau kita menyewa kamar di rumahnya, kami pun akan dicarikan pekerjaan.  Tapi pekerjaan itu tentu saja tidak gratis. Dulu saya membayar 150 AUD kepada landlord saya serta membayar 50 AUD setiap minggu yang ditambahkan dengan uang sewa kamar. Mereka tidak perduli berapa yang kami hasilkan minggu itu, tidak perduli jika seminggu itu hujan turun terus dan kami tak bekerja dan nggak dapat uang. Tidak perduli bahwa yang mereka lakukan adalah ilegal.

Greedy human beings who don’t even realise how sick they are? Orang-orang ini tahu kalau backpacker-backpacker seperti kami tidak memiliki banyak pilihan. Hidup dan matinya kami ada di pekerjaan yang mereka tawarkan. Ada juga kontraktor gila yang memotong uang kami dengan semena-mena, karena mereka tahu begitu desperatenya kami mendapatkan payslip dari mereka sebera besarpun gajinya.

Besides all the fun di postingan sebelumnya, there were so many things that fucked us up too in the farm.

Tapi sekali lagi, I learned a lot, about a farm, and about sick people who have no heart.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman ngefarm terakhir saya di kebun Anggur di Dimbulah dan Muchilba, masih di Queensland. Saat itu saya masih setia tinggal di Mareeba karena Dimbullah dan Muchilba hanya berada beberapa kilometer dari Mareeba.

Saat musim Alpukat di Dimbulah selesai. Semua backpacker yang penjadi picker tentu saja kehilangan pekerjaannya. Pada akhir masa panen alpukat selesai, beberapa orang berhasil mengantongi ribuan dollar dalam dua bulan. Bahkan ada juga beberapa orang Indonesia yang bekerja di kebun alpukat ini khusus untuk mengumpulkan uang untuk biaya menikah di Indonesia. I know rite. Jadi semangatnya sungguh membara.

Kalau saya sendiri jangan ditanya. Kalau pertanyaannya. Bisa ngumpulin uang nggak Ki? Jawabanya, bisa, tapi nggak sebanyak orang-orang lain. Mungkin karena saya lamban atau karena saya nggak punya wedding plan jadi nggak semangat manjat pohon buat kumpulin bags buat bayar catering. Anyway di kebun setiap hari ada report yang dipajang untuk mengumumkan best picker dan worst picker. Orang-orang dengan rencana nikah di Indo selalu saja berada di urutan atas. Best picker adalah orang-orang yang berhasil mengumpulkan lebih dari seratus bag dalam seharinya. Saya sendiri justru termasuk 3 orang paling lambat satu farm, 3 of the worst picker from the entire farm. Kalau sudah sore dan kecapean, bisanya saya cuma bisa duduk duduk liatin orang lari-larian di bawah pohon sambil ngemil apuket.

Tapi ajaibnya walaupun hampir setiap hari jadi worst picker, saya nggak pernah di pecat karena selalu saja bisa mencapai target. Bukan karena saya tiba-tiba punya kekuatan super buat ngumpulin bags di akhir-akhir. Tapi karena banyak orang-orang yang kesian sama wanita tak berdaya ini sampe rela buat sodakohin bag bag mereka masing-masing biar saya nggak dipecat. “This bag is for Angky ya” katanya pada SPV saya sambil setor satu bag alpuket ke traktor biar dicatat di nama saya. Ini mengapa penting untuk menjadi wanita yang SUPEL dan SKSD di perkebunan.

Setelah masa bertani di kabun alpukat berakhir. Hari saya hanya terkumpul 57 hari. Artinya saya masih butuh sekitar 31 lagi untuk menyelesaikan 88 days. Kami para petani  kehilangan pekerjaan dan masih harus tetap mengumpulkan 88 hari sebelum bisa pindah ke kota dan hidup normal, mulai berkeliling farm sekitar Mareeba untuk mencari pekerjaan. Dari farm satu ke farm lainnya. Dari farm kopi, pepaya, basil hingga pisang.  Dari menunggu di depan gerbang, sms owner farm, hingga kami datangi langsung kebunnya maksa-maksa minta kerja. Kasian banget TUHAN, gini banget mau dapet visa setaun lagi. Ngemis-ngemis kerjaan ke Bule.

Waktu nganggur, saya dan Linda, temen baru yang saya temui di bawah pohon alpukat memutuskan untuk cari kerjaan ke Cairns. Ia mengajak saya untuk memasukan CV ke resto resto dan  hotel hotel di Cairns. Karena sebenarnya untuk mengumpulkan 88 hari, kami bisa juga mengumpulkan payslip dari bidang hospitality. Cuma Anda tahu sendiri, manusia seperti saya hobbinya menantang diri sendiri. Jadi cari kerjaan farm biar bisa ketemu ular berbisa. Aniwei setelah kami menganggur selama 3 minggu, kami akhirnya dapet pekerjaan dari kontraktor ternama di Mareeba. Kali ini dikebun anggur hijau.

20180501_084507

Anda tolong jangan bayangin kerjanya pake topi fedora petik petik cantik sambil makan anggur yang berbuah kaya bangsawan-bangsawan sambil ngobrolin saham. Nggak beb, waktu kami mulai kerja disana, kebun anggur belum memasuki musim panen. Kami bener-bener merawat anggur anggur itu dari nol, zero, nada. Dari nge gergaji pohon anggur yang udah die. (Ini sumpah pengalaman ter cool yang saya punya, bawa-bawa gergaji keliling row, i felt like phyco, like Jig Saw). Sampai melakukan prunning dan rolling.

Apa itu Prunning? Ini pekerjaan para jantan buat ngegundulin dauh-dauh anggur di batang-batang pohon anggurnya pake gunting-gunting farm yang asli bikil tangan kaku seharian. Sementara kami para betina tugasnya adalah nge rolling tu batang yang sudah gundul ke kawat panjang. Terdengar simple kan kerjaanya, tapi beb jan salah, itu batang gede-gede banget kaya lengen rusa-rusa liar. Okey kalau cuma ngerolling satu atau dua pohon masih bisa kami tangani dengan manjah. Coba bayangkan itu lengen rusa ada di ribuan pohon di row row yang panjang tak berujung. Rasanya kayak muterin Jakarta sambil bawa beban 15 kg. Ditambah siksaan matahari yang membakar karena pohonnya literally nggak punya daun sama sekali. Nggak ada shade buat nutupin pala barbie yang rapuh ini. Jadi OH TUHAN ini sebenernya dunia apa neraka? Nggak ngerti lagi. Belum lagi debunya tiap kali kita jalan di tanah yang lebih parah dari knalpot kopaja. YA ALLAH nempel semua di idung udah kayak sapi belang-belang walaupun kami sudah pakai masker udah nutupin satu muka kayak ninja.

Like seriously, ini idup berasa kayak di penjajahan Jepang sumpah ga boonggggggg.

20180419_081959
ini penampakan row penjajahan di neraka bernama Muchilba

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “Petani Anggur Part 1 (Mareeba, Queensland)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: