Petani Anggur Part 2 (Mareeba, Queensland)

Bercerita tentang pengalaman sebagai petani anggur di Mareeba mengingatkan saya pada pertemuan pertama dengan sahabat baik di Australia. Namanya Ogek dari Bali. Hobinya sama kayak Linda. Nangis bawah pohon.

Ogek ini yang akhirnya menjadi teman sekamar dan serumah sepanjang saya tinggal di Ausi pada tahun pertama. Perempuan yang kalo ngomong nggak pake koma dan saringan. Orang Bali yang doyan banget nyemil tuna kaleng. Ogek adalah salah satu orang yang saya yakin akan ada di kehidupan saya untuk waktu yang lama, for sure.

Pada hari pertama saya kerja di kebun anggur, sebenernya saya hampir saja menyerah. Here’s the thing. Semua pekerjaan di kebun memanglah sulit dan melelahkan, tapi entah mengapa saat saya kerja di kebun alpukat saya nggak terlalu merasa keberatan. Karena pohon alpukat itu besar dan rindang, kalau kepanasan tinggal duduk bawah pohon atau gelantungan di batangnya. Sementara pohon anggur YASALAM, nggak bakal bisa buat sembunyi dari panasnya neraka Mareeba.

Saat itu tugas kami adalah merolling batang anggur di Muchilba. Farm anggur ada di dua tempat, Muchilba dan Dimbulah. Farm yang berada di Dimbulah udaranya jauh lebih sejuk, karena pohon anggurnya sudah ditumbuhi daun daun yang lebat juga  rumput yang subur di antara row. Sementara di Muchilba keadaan berbanding terbalik, gersang. Di antara row hanya ada tanah yang berbedu dan itu pohon-pohon pun masih gundul. Jadi kalau bekerja di Mutchilba, kulit pasti terbakar maksimal dan idung item-item penuh debu kayak pantat penggorengan. Pada hari pertama saya bekerja, seluruh siksaan neraka Jahanam sudah menunggu kami di Muchilba. Nice.

Setiap orang mengerjakan satu row sendirian. Dari jam 7 pagi hingga 12 siang. Pada pertengahan hari kami akan berhenti untuk makan siang sebelum kembali memulai lagi. Belum apa-apa sekujur tubuh saya sudah penuh keringat karena kepanasan. Kami membawa minuman di botol berkapasitas 2 liter yang harus dibawa sepanjang row.

Ujung dari setiap row keliatan nggak? Jangan sedih, rasanya kayak nonton penderitaan Lulu Tobing di film tersanjung, nggak ada ujungnya. Ditambah kami harus berjalan sambil ngerolling batang ratusan pohon di kawat satu demi satu, batang-batang besar yang bandel nggak mau nempel itu. Belum lagi kami harus bawa botol 2 liter di backpack sepanjang row di bawah terik matahari yang membakar.

Kalo mau ke toilet gimana? Toilet ada di ujung farm, satu biji aja di farm yang luasnya berhektar hektar itu. Kami harus nyetir mobil farm buat ke toilet? Dimana mobil itu? Kalo lagi beruntung ada di ujung row, kalo lagi apes yo ada di tempat yang jauhnya minta ampun. Lalu kalo udah kebelet banget piye?

Cek kanan kiri, ndak ada laki, ndak ada ular piton, ndak ada lebah, lalu plorotin celana dan pipis di tanah di belakang pohon anggur yang ramping itu. Sambil dijagain teman di tengah tengah row. I know you must think its so IYUWH. Tapi yaaa beginilah hidup di farm, nggak banyak pilihan. Kiraih pindah luar negeri hidup semakin beradab tapi malah tambah koyo kewan ngene uripe. Cen asu og.

Wess penjajahan tenan to? Itu pun masih belum sampai ke berita buruk. Berita buruknya, kami di bayar per piece rate, per pohon. Kalau nggak salah hanya beberapa puluh sen satu pohon. Kalau kami lambat ya dapatnya cuma sedikit, bahkan seringkali jumlahnya justru nggak make sense. Tapi siapa yang bisa bekerja dengan cepat di keadaan seperti ini saya tanya coba?

This is the real Modern Slavery Indeed.

Kok goblok mau-maunya di jajah? Karena pada titik itu semua orang sudah berada di ujung perjuangan mendapatkan 88 daysnya. Kalau menyerah sekarang terasa konyol dengan semua perjuangan bekerja di farm berbulan-bulan lalu. Working hard and risking their life. Setiap orang yang saya kenal sudah merasa desperate dan akan melakukan pekerjan yang nggak masuk akal seperti ini sekalipun untuk mengumpulkan sisa payslip. Lalu mengakhiri ini semua dan pindah ke kota untuk hidup yang lebih layak dan berharap bisa hidup lebih baik daripada sekarang. Dan pada saat itu, sebagian besar farm di Mareeba sudah selasai panen dan hanya farm anggur saja yang masih membutuhkan orang.

Aniwei kembali ke farm.

Selama empat jam penuh saya berjalan menyusuri satu row merolling pohon demi pohon. Row tanpa ujung dan pekerjaan yang tak ada habisnya itu. Panas, lelah, debu menjadi satu membuat kepala saya pening. Disitu entah kenapa bukan lagi capek, tapi saya marah. Marah sekali. Kerjaan apa ini kok nggak masuk akal sekali. Tangan saya pegal, tenggorokan saya kering, air sudah habis. Saat itu yang saya inginkan hanya pulang, istirahat sambil dipijitin shawn mendes dan dinyanyiin ed sheeran. #escusmiandasiapa!

Saat sedang melanjutkan ke row kedua saya tetap saja marah-marah tanpa tau bagaimana untuk meredam kemarahan saya sendiri. Tiba-tiba batang pohon yang saya gulung ke kawat itu terlepas dari genggaman dan menghantam mata saya keras. Bajigurrr. Sepertinya alam sedang benar-benar menguji kesabaran saya, mau  lihat gimana kalau anak Purwokerto NGAMUK di Ausi.

Oke that’s it. this is ridiculous i’m done. I quit. Nggak mau lagi saya kerja kayak gini, sudah cukup. This is bullshit. Udahlah saya nggak dapet 88 hari juga nggak papa, nggak dapet 2nd year nggak papa, balik indo miskin lagi juga nggak papa, toh disini nggak kaya-kaya. Setan emang. I’m done I am so done. I’ll spend the rest of my visa in Sydney.

Kaki saya melangkah mendatangi kontraktor yang berada di ujung row dan langsung  bilang “Bos my eyes hurt because of the branch, can you drive me home?”. Bos yang berbadan seperti Maui di film Moana lalu menjawab “Oh my bos are you okey, clean your eyes and sit there. I cannot drive you home until 5 pm when everyone also done”

DAMN DAMN DAMN. Bahkan saya nggak bisa pulang ke rumah sekarang. Karena saya nggak punya kendaraan pribadi dan nebeng mobil kontraktor dari rumah bersama orang-orang lainnya. Dan jarak farm ke Mareeba cukup jauh. And let’s face it ini kota kecil nggak ada kendaraan umum, apalagi taksi online. Ancen asuww asuww.

Saat duduk sendirian dengan mata yang merah dan tangan yang kemeng itu saya merasa sungguh hopeless dengan Australia. Apakah memang ini yang harus dilalui untuk tinggal di sini? Seberat dan sebercanda ini kah? Inikah kehidupan luar negeri yang saya cita-citakan dulu. Inikah hidup yang adventurous yang ingin saya dapatkan dengan menantang diri saya sendiri sejauh ini. Tiba-tiba saya merasa homesick, dan ingin pulang ke Bali saja. Hidup simple dengan sunset-sunset saya setiap hari.

Tiba-tiba  sesosok perempuan dengan celana training berwarna hijau dan buff yang menutup mulutnya muncul di hadapan saya. Topinya yang bercorak kotak-kotak hitam putih ia buka perlahan.

“Kenapa lu?” tanyanya santai. Saya bisa mendengar aksen Bali yang kental dari kalimat yang dia ucapkan.

“Mata gue sakit, pengin pulang” jawab saya

“Lu udah beres 88 days nya?”

“Belum, tapi gue udah cape, nggak pengin gue lanjutin lagi”

“Jangan gitu dong, gw juga hari pertama kemarin mau nyerah kok, yang semangat yuk tinggal dikit lagi. Gue Ogek, lu mau nggak ngerjain satu row berdua?”

Saya pikir siapa ini cecungguk sok heroik sekali, nggak tau apa saya lagi melankolis dan nggak bersemangat lagi.

“Ayok kerjain satu row berdua lebih gampang” katanya sambil mengulurkan tangannya.

Begitu saja saya jatuh ke rayuannya manusia yang baru saya kenal ini dan mengerjakan satu row barengan. Sambil dia cerita tentang Bali dan pacarnya di Sydney. Dan kisah LDR nya selama bertahun-tahun. Yang anehnya membuat saya lupa dengan kemarahan saya yang tadi. Walaupun mengerjakan satu row berdua juga berarti membagi dua uang yang kami dapat dari satu pohon. Tapi kami tak terlalu perduli. Bukankah sekarang yang terpenting adalah menyelesaikan 88 hari itu secepatnya? Karena pertemuan saya dengan Ogek hari itu. Saya jadi sadar bahwa mendapat 88 hari bekerja di farm bukanlah perkara yang mudah. Tapi juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Apalagi kalau kita punya teman yang supportive untuk melewati masa-masa berat ini.

Sejak hari itu kami selalu makan siang bersama di belakang mobil merah. Mencari sedikit bayangan agar nggak kepanasan sambil berbagi indomie dan tuna kaleng dengan topping pasir pasir halus yang bertebangan masuk ke tempat makan kami. Beberapa hari kemudian Ogek yang tinggal di sharehouse yang tak jauh dari tempat tinggal saya, memutuskan untuk pindah ke sharehouse saya. Karena menurut observasinya setelah tiap hari main ke rumah saya untuk minta makan. Di rumah saya penduduknya hobby masak dan sodakoh makanan jadi nggak ada ancaman lagi baginya untuk mati kelaperan. Karena selama ini bekelnya ke farm cuma indomie dan sosis doang untuk menghadapi hari yang berat.

Hidup farm yang tadinya ingin saya tinggalkan kemudian menjadi sesuatu yang berharga. Kami berjanji akan saling menjaga dan menyemangati hingga kami berdua menyelesaikan 88 days untuk second year kami. Hingga saat itu tiba, mari buat penjajahan ini sedikit lebih masuk akal dan menyenangkan.

Semenjak Ogek pindah ke sharehouse saya. Kami jadi sering masak bareng di rumah. Biasanya kami akan mengundang Linda sebagai juru masak (Teman di farm yang juga saya temui di bawah pohon). Setiap selesai masak, kami akan mengundang tetangga tetangga untuk makan di rumah kami #Walau miskin tapi dermawan. Teman-teman backpacker dari berbagai negara akan berbondong-bondong kesenengan dapet makanan gratis. Linda, Ogek dan saya biasanya akan memaksa mereka untuk mencoba makanan pedas khas Manado buatan DJ Kumbang alias Linda ke bule-bule sebelah rumah. Agar mereka tahu alasan dibalik mulut mulut orang Indo yang kayak naga kalo ngomong.

Ogek punya kebiasaan yang unik. Setiap kami makan bareng. Dia lebih suka makan makanan di piring saya daripada di piringnya sendiri. Padahal isi di piringnya sama aja.  Kalo ditanya jawabanya selalu sama. “Karena makanan rampasan itu selalu lebih enak rasanya”. Hmmm baiklahh

Setiap kami bosan, Ogek akan ngajak saya untuk jalan-jalan ke supermarket cuma buat ngecekin bau softener yang diskon (Jajan di coles supermarket ausi adalah hiburan satu-satunya di kota kecil ini). Kenapa softener? Karena softener adalah kebutuhan primer petani Indo, agar baju tetap harum ketika bekerja di ladang, dan tetap semangat bertani.

Kadang kalau lagi jalan pulang ke rumah dari supermarket ada aja orang-orang aborigin yang lari-lari ngejar kami berdua. Mereka paling seneng liat dua orang Indo ini lari terbirit-birit bawa tas belanjaan isinya beras ngumpet di kebun orang. Bangke emang.

Tiap weekend jadwal saya dan Ogek adalah nongkrong di belakang rumah. Kadang kalau lagi niat kami malah suka pasang tenda di kebun belakang, bawa makanan, sambil nyalain musik pake speaker.

Road trip ke kota sebelah, renang di danau, main ke waterfalls, nyetir berjam-jam cuma buat makan burger paling enak di Queensland, atau minum kopi di coffee plantation adalah hal-hal yang mebuat saya bersemangat lagi memperjuangkan 88 days. After all hidup saya bukan sekedar di farm saja.

Bertemu Ogek di hari pertama saya bekerja di kebun anggur adalah hal yang paling saya syukuri. Hari itu saya menemukan teman yang bukan saja baiknya minta ampun, tapi juga teman yang nggak suka drama sama sekali. Kami berdua termasuk orang yang chill dan paling nggak suka ribut. Jadi setiap ada salah paham diatara petani petani ini pasti bisa kami atasi dengan segera. Marahan paling lama 10 menit setelah itu kompak ganjen-ganjenan lagi di belakang rumah caper sama om Justin Bieber.

Sampe pada akhir Juli kami berdua berhasilkan menyelesaikan 88 hari dengan sukses. Setelah perjuangan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

Sekarang ini kami sama-sama tinggal di New South Wales dan sama-sama sudah menjadi student. Tapi sekarang Ogek tinggal bersama suaminya di Gosford, sementara saya di Sydney. Suaminya? Iya, lelaki yang Ogek ceritakan sepanjang row itu akhirnya menikahinya which btw saya yang menjadi saksi pernikahanya. Sweet kan. It was an honor to me menyaksikan Ogek melabuhkan cintanya sama pacar yang sudah bareng dia selama 8 tahun yang panjang ceritanya sama dengan panjang row-row tanpa ujung di kebun anggur. And i’m so happy seeing her happy.

Kadang kalau kami berdua lagi libur, saya bakal naik kereta selama satu setengah jam ke rumah Ogek di Gosford cuma buat minta dimasakin tongseng, dijajanin boba, diajak makan churos setelah itu menghabiskan sore di dermaga. Kadang juga Ogek yang akan main ke Sydney. Dia bakalan muncul di depan rumah dan minta dibuatin sandwich tuna kesukaannya waktu kami di farm. Kemudian duduk-duduk santai di kebun belakang, minum teh hitam sambil mengenang masa-masa itu.

Masa-masa penjajahan di kebun anggur.

IMG-20180430-WA0044
wajah bahagia petani anggur liat kebun yang dirawat dari bayi akhirnya berbuah
20180427_123227
bobo ciang dulu
20180412_172929
teman satu penjajahan
20180613_120621
satu satunya transportasi untuk ke toilet yang sering menghilang ketika dibutuhkan
20180505_165700
liburan ke sungai
DSCF2739
akhirnya dikawinin juga

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

3 thoughts on “Petani Anggur Part 2 (Mareeba, Queensland)

  1. aku pulang dari australia sempat bikin paper tugas kuliah ngebahas kebijakan working holiday ini yang kurang dapat perhatian lebih dari pemerintah kedua negara, apalagi banyak orang indonesia yang diperlakukan kurang layak, dari segi kesehatan maupun pembayaran upahnya.
    makasih, ki. dari kamu aku jadi tau kalau ada kondisi yang sedemikian rupa, karena sebelumnya aku bahkan nggak tau ada konsep WHV ini.

    pas dibaca teman sekelasku, ada yang komentar kalau dikira aku nulis fiktif, semacam “australia bukannya negara maju, ya? masa, sih tenaga kerjanya ada yang disiksa gitu?” mungkin saking mindblowing ceritanya, beberapa orang kaget nggak percaya, ya.

    anyway, aku terharu baca bagian kamu orasi demo minta upah yang layak gara-gara diembat bosmu itu. auranya udah berasa baca pemberontakan terhadap kaum proletar. hahaha. keren, asli! aku salut.

    Like

    1. iya bram sebetulnya banyak juga yang protes tentang kebijakan ini karena, sebagian besar pekerjaan kami memang beresiko dan berbahaya, walaupun memang pengalaman baru yang luar biasa. Tapi ya itu seharusnya faktor safety dan pembayaran yang adil harus diperhatikan. bukan malah jadi ladang penipu-penipu.
      aniwei thank you sudah buat paper tentang kami yaa. hha

      Like

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: