Menghadapi orang-orang rasis dan narsis di Australia (Part 1)

Di postingan ini saya akan bercerita tentang perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan yang saya dapatkan ketika bekerja di berbagai bidang di Australia.

Walaupun tentu saja ada banyak sekali orang-orang luar biasa baiknya yang saya temui disana. Seperti sahabat-sahabat baru yang sudah menjadi keluarga, tetangga-tetangga di Sydney yang setiap hari menyapa “Hey neighbour good day isn’t it”, Ken yang setiap minggu mengajak kami roadtrip keliling Queensland dari Cape Tribulation hingga Innisfail, Sue landlord yang sering mengajak liburan, sailing dan memasak dinner untuk kami, Ted pemilik kedai kopi di dekat rumah yang membuatkan ice latte gratis setiap kami mampir, atau tante Dwi dari Banjarnegara yang sudah hidup selama 19 tahun di Sydney yang sering mengirimi kami makanan dan mengajak nginap di rumahnya.

Tapi terlepas dari orang-orang baik itu, ada pula orang-orang  narsis dan rasis yang berekeliaran di Ausi dan harus saya hadapi selama saya tinggal di negeri kanguru itu. Dari ketika saya bekerja di farm hingga tinggal di Sydney.

Di farm alpukat dulu ada seorang manager bernama William. William adalah salah satu orang paling baik yang pernah saya temui di Australia. Ia memperlakukan kami seperti kawannya sendiri. Jalan keliling farm, menyapa orang-orang, mengajak ngobrol, membantu memetik alpukat. Ia tak pernah sekalipun bertingkah seenaknya atau bahkan menunjukan bahwa ia adalah atasan kami. Begitupula istri dan anaknya yang sering kali main ke farm. Tak pernah saya merasakan adanya hirarki di farm alpukat, semua orang di pandang dan diperlakukan sama. Dari owner, manager, supervisor hingga picker tak ada yang merasa lebih dari yang lainnya. Segala aturan pun jelas dan adil. Segala yang membuat kami merasa menjadi satu keluarga dan mengerjakan pekerjaan berat itu dengan senang hati.

Sementara di farm anggur sebaliknya. Bukan hanya masalah gaji yang underpaid dan banyak sekali kecurangan. Namun acapkali ada saja perlakuan tidak menyenangkan dari Manager. Kami memiliki manager farm sebut saja dia Joko. Si Joko oh Joko! Orang yang pengin saya lindes pake mobil farm tiap kali ketemu. Joko dengan komentar-komentar merendahkannya.

Joko seringkali memutari row dengan mobilnya ketika kami sedang makan siang sambil berkata

“Hey, why are you sitting there? First lunch? Second lunch?” dengan nada yang menghina.

Padahal kami baru saja duduk 10 menit. Lagipula kami dibayar per piece rate yang artinya kalau kami membuang-buang waktu untuk duduk duduk artinya tak akan banyak uang yang kami hasilkan. You don’t pay us well after all, kenapa masih harus memberi pressure yang hanya menunjukan kuasa seperti itu. Silly man.

Pernah sekali si Joko bilang begini “You know what, I don’t need to have a bachelor degree like you guys to work as a farmer in Australia” lalu tertawa-tawa.

Kami para pemegang visa WHV dari Indonesia memang diharuskan untuk setidaknya pernah study selama 2 tahun di perguruan tinggi sebagai syarat untuk mendapatkan visa ini. Dan untuk mendapat visa tahun kedua kami diharuskan bekerja di farm/hospitality di daerah regional Australia selama 88 hari.

Oh well yes, We got our bachelor’s degree from a reputable University in Indonesia, and yet here we are working as a farmer in Australia. And you, yes you stranger, want us to apologize for this, and think that we are less than you?

Hell NO Physco.

Kami anak-anak WHV di farm pada awalnya membiarkan tabiat Joko yang sering merendahkan itu berulang-ulang. Tapi pada suatu hari saya sudah tak sanggup lagi menahan amarah. This got to be stop right here!

Suatu pagi, owner farm datang untuk mengecek pekerjaan kami. He’s a nice person actually. Lelaki itu datang ke row saya dan mengajak mengobrol. Ia menceritakan farm-farm miliknya lainnya yang buah buahnya beku karena sedang musim dingin. Kami berdiskusi tentang banyak hal dan saya bisa melihat bagaimana dia menghargai pendapat-pendapat saya.

Lalu tiba-tiba si Joko manager sialan datang dan berkata seolah-olah bercanda kepada saya

“Hey Angky, you better do your job right or just go back to your country”  katanya sambil cekikikan.

Tangan saya berhenti bekerja lalu saya berjalan ke arahnya. Si owner berdiri di sebelahnya.

“You know what, of course, I can go back to my country if I wanted to, I can also go to Melbourne, or even to the US, or anywhere I want to go in this world”

Owner farm membalas kata-kata saya dengan cepat

“Of course you can Angky cause you’re a strong woman” lalu tersenyum pada saya. Sementara Joko kemudian pergi.

Sejak saat itu ketika Joko merendahkan kami, saya tak lagi bisa diam. Suatu hari saya teringat bagaimana ia merendahkan orang-orang Indonesia yang berpendidikan namun memilih untuk bekerja di farm seperti kami dan memutuskan untuk mendiskusikannya.

“Joko, where are you from again?” saya bertanya seolah-olah saya tak tahu kalau dia berasal dari South Africa.

J: “I’m from South Africa, but I’m a permanent resident here now”

Me: “Oh so you are also an immigrant here, like us. There is a lot of conflicts there, no?”

J: “Yes, cause the economy is just hard there”

Me: “How much is the average wage?”

J: “So low, years ago I remembered they paid me 1 dollar per day”

Me : “Wow really. But how did you get here to Australia?”

J: “Well I flew with my family and worked illegally in the beginning”

Me: “I’m sorry that you had to go through that, I guess Indonesian are lucky cause we have a legal working visa”

J: “Yes but a girl like you doesn’t have a lot of choices right?”

Me: “Well i do, we do. We have a lot of choices in life, and right now we chose this”

J: “I don’t think that girls have more choices than man”

Me: “So you wanna talk about gender equality now? Interesting, let’s talk then”

Lalu sebelum saya sempat ngoceh panjang lebar, Joko memilih untuk pergi. Dan sejak hari itu dia jadi jarang menampakan batang hidungnya lagi. Setidaknya ketika dia datang, ia akan melewati saya dengan cepat tanpa berkomentar.

Oh poor Joko, that is what you got when you messing with the wrong girl.

Ketika kami memutuskan untuk keluar dari farm pun bukan karena musim nya sudah selesai. 88 hari saya dan Ogek sudah selesai thanks God. Tapi pada akhir-akhir masa kami bekerja di farm ada kecurangan yang dilakukan terkait masalah gaji. Mereka dengan semena-mena memotong gaji kami dengan menurunkan harga per pohon yang sudah disepakati ketika pekerjaan sudah selesai. Seperti ketika kami dijanjikan akan dibayar 1 dollar satu pohon untuk pekerjaan rolling. Tapi saat gaji datang ternyata mereka memotong setengah harga yang disepakati. Hingga pada suatu hari kami demo kepada kontraktor kami.

“It’s so unfair boss, can you talk with them or i can go there myself and talk to them”

Kata saya di tengah orasi. Teman-teman saya sudah mulai bercucuran air mata di belakang.

“We will do our best to get your proper salary” kata bos kemudian

“Boss, I can’t take it anymore, besides you know how Joko treated us. We might be poor Bos, but we have dignity, and if you don’t want to talk to them, don’t expect me to shut up about this, I will make a report to fair work”

Dan hari itu adalah hari terakhir saya, Ogek dan Linda di farm anggur itu. Cause when you had enough you had enough. Tapi walaupun banyak kecurangan, masih banyak juga teman-teman yang bertahan, karena 88 days nya belum juga selesai. Dan mereka meminta saya untuk tidak melaporkan farm tersebut dengan kekhawatiran payslip kami tak bisa dipakai untuk mendaftar second year.

Namun sepertinya demo kami membuahkan hasil, teman-teman yang bertahan di farm anggur tersebut akhirnya dibayar dengan proper ketika musim panen tiba. Saat itu, saya sudah berada di Sydney menjalani kehidupan perkotaan. But I’m so glad teman-teman di farm akhirnya mendapatkan perlakuan yang adil. Walaupun saya tak menjadi bagiannya.

Menghadapi Joko dan farm yang tidak adil bukanlah hal yang mudah, tapi saya belajar untuk tidak lagi passive ketika ada orang orang narsis yang menggunakan powernya untuk mengabuse orang-orang yang mereka pikir tak berdaya seperti kami. Orang-orang seperti Joko yang terlalu bodoh untuk mengakui bahwa setiap orang memiliki nilai yang sama.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa if someone dare enough to talk shit to you, talk back. Claim your power. Never ever let them think that you are less than them. Cause trust me you are not.

And let them know that this bitch, ain’t going down with your words, ever.

fullsizeoutput_8ba

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: