Pak De yang mengajarkan berkelana (Purwokerto, Indonesia)

Saya baru saja pulang dari rumah Pak De yang jaraknya hanya lima menit saja dari rumah.

Usianya sudah 60an. Dulu saya paling senang kalau di ajak ke rumah dinas Pak De. Beliau adalah pegawai PJKA, senang sekali dengan yang di kerjakanya. Sosoknya sederhana, taat, dan tak pernah mengeluh. Di rumahnya dulu berjajar buku ensiklopedi sejarah nabi dan buku-buku lainnya yang sering saya obrak abrik. Dan ia tak pernah keberatan.

Sewaktu saya kelas 2 SD dan Mamas kelas 6. Pak De mengajak keluarga besar kami pergi ke Bali. Dari kakek, nenek, om, tante, hingga cucu-cucunya. Rombongan kami memenuhi satu gerbong kereta yang membawa kami ke Surabaya. Untuk menginap sehari di rumah Mbah Hadi. Saya ingat kami menggelar kasur berdempetan di ruang tamu untuk tidur. Paginya kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi lalu menyeberang ke pelabuhan Gilimanuk.

Pada saat itu saya bahkan tidak tahu kemana Ibu membawa kami pergi. Atau apa dan dimana itu Bali. Yang saya tahu adalah keluarga kami berkumpul bersama untuk bersenang-senang di gerbong kereta. Dan memang kami benar-benar bersenang-senang di perjalanan panjang yang melelahkan namun mengasyikan itu.

Liburan ke Bali itu menjadi perjalanan pertama saya dan sepupu sepupu saya keluar dari pulau Jawa. Pak De membawa kami melihat danau Kintamani, pantai Kuta, hingga pemakaman Trunyam. Ia adalah satu-satunya manusia di keluarga besar kami yang bersikeras membawa anak-anak kecil ini mengarungi jalanan Jawa dan Bali dengan budget yang sedikit. Ketika sebagian kepala keluarga lainnya di desa kami menganggap yang dilakukannya ini hanyalah buang-buang uang saja.

***

Setiap saya pulang kampung dan bertemu Pak De, beliau selalu saja bertanya tentang perjalanan saya

“Ki kamu sudah kemana lagi, ke Canada sudah ya?”

“Sudah Pak De tahun lalu” Lalu seperti biasa Pak De akan mulai menceritakan perjalanan dinasnya puluhan tahun lalu ke Canada, ketika ia mengunjungi Niagara Falls. Dan mulai bersemangat mengulang cerita lainnya ketika kantornya mengirimnya ke Belgia, Perancis, Jerman dan Belanda belajar tentang kereta-kereta di negara itu.

“Kamu juga ke sana kan dulu Ki” mata Pak De berbinar-binar setiap kali menceritakan pengalamanya itu. Dan saya tak pernah bosan mendengarnya bercerita tentang negara-negara di Eropa yang dikunjunginya dulu.

“Iya sudah Pak De”

Kemudian saya menambahkan.

“Pak De ingat waktu Pak De ajak kami semua untuk pergi ke Bali tahun 1998? Itu pengalaman pertamaku berkenala. Dan setelah itu, aku pengin terus menjajaki tempat baru seperti Pak De. Terimakasih ya Pak De sudah ajari nikmatnya berkelana”

Senyumnya semakin lebar.

“Angky, nanti cari suami orang Australia saja ya, nanti saya kesana, cuma Australia yang saya belum pernah”

Sepupu saya yang sedang makan es krim tertawa lepas, lalu saya berteriak

“Aminnnn”

Pak De dibesarkan di rumah kecil dan sederhana di desa terpencil. Selepas sekolah ia mendapat beasiswa di ITB kemudian mendapatkan pekerjaan di PJKA. Bekerja sepenuh hati di bidang yang dicintainya membuatnya dipercaya untuk study banding ke luar negeri demi meningkatkan kualitas perkeretaan di Indonesia. Bagi saya Pak De ini adalah the real anak singkong.

Pada masa itu, ketika semua orang berebut kursi untuk menjadi PNS dan guru. Pak De yang mencintai dunia perkeretaapian, memilih untuk bekerja di kantor perkeretaapian Indonesia. Bahkan pada masa pensiunnya, ia masih saja menerima proyek proyek di KAI.  Mengerjakan hal yang disenanginya.

Keluarga Pak De adalah salah satu keluarga paling religious yang pernah saya tahu. Selalu solat berjamaah dan Bu De sendiri mengajar ngaji anak-anak tetangganya. Namun saya tak pernah mendengar Pak De memaksakan orang-orang untuk menjadi sepertinya, atau menghakimi orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Memperlakukan semua orang dengan baik dan adil.

Setiap kali saya datang ke rumahnya hal pertama yang ia tanyakan adalah kabar saya. Lalu ia akan bertanya tentang masalah sekolah, atau buku, atau perjalanan saya. Ia selalu memastikan kalau saya tahu bahwa saya selalu diterima dan dicintai di rumahnya, tanpa perlu menjadi siapa-siapa. Bahwa Pak De bangga dengan ponakannya yang jarang pulang ini. Maka ketika gadisi itu pulang ia hanya akan memberinya kasih yang ia butuhkan, yang mungkin tak pernah didapatnya di rumah atau di tempat lainnya.

Ketika di mata keluarga lainnya, gadis ini hanyalah seorang perempuan yang belum juga tobat dan menutup auratnya, yang sering ngajak ribut kalo disuruh jadi PNS, yang nggak peduli dengan masa depannya dan jalan-jalan sesukanya, yang sudah semakin tua tapi masih saja nggak perduli anjuran orang tua untuk menikah, yang somehow keputusannya untuk tinggal di luar negeri mambuat orang-orang khawatir kalau suaru hari ia akan membawa bule yang katanya kafir itu pulang ke desanya.

Tapi di mata Pak De nya, gadis itu adalah keponakannya yang paling mandiri, yang bisa membawa dirinya sendiri ke setiap sudut dunia, yang nggak takut dengan penilaian orang, yang sedang berusaha menjadi manusia yang berfungsi di masyarakat dengan sebaik-baiknya, yang punya value sendiri, yang memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan sendiri kapan dan dengan siapa ia akan menikah. Keponakannya yang hanyalah manusia biasa yang juga patut untuk diterima dan dicintai seutuhnya.

Dan bagi saya Pak De adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dengan jelas bahwa keponakannya ini adalah perempuan spesial yang tak bisa fit di sistem yang dibuat masyarakat. Dan untuk mendapatkan kasih sayang darinya, saya tidak perlu menjadi siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Karena pilihan-pilihan saya yang berbeda justru yang membuat Pak De bangga memiliki keponakannya ini.

Keponakan yang 22 tahun lalu ia bawa untuk melihat hamparan laut luas terbentang di hadapannya. Yang kemudian berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari ia akan mengarunginya. Dan kembali pulang untuk menceritakan apa yang dilihatnya di luar sana.

kH%CQ5JlTRa3VZykDa6NxA

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

4 thoughts on “Pak De yang mengajarkan berkelana (Purwokerto, Indonesia)

  1. Jadi inget Pak lek kala itu. Pak lek yang pulang dari perantauan ketika lebaran pake mobil sama keluarganya. Sebagai anak kecil dari kampung yang jarang lihat mobil, ku selalu takjub melihat itu dulu. Sekarang malah giliranku yang โ€œmerantauโ€. Thanks tulisannya

    Liked by 1 person

Leave a Reply to adisriyadi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: