Menghadapi Orang-orang Rasis dan Narsis di Australia (PART 2)

Teman-teman mari kita lanjutkan cerita-cerita mengenai orang-orang rasis dan narsis di Ausi dan perlakuan yang saya dapatkan.

Selama di Mareeba, saya, Nita dan Ogek tinggal di sebuah share house di jalan Shuterland. Kami menyewa kamar di sebuah rumah besar berwarna biru yang terletak persis di depan sekolah dasar. Dengan halaman depan yang besar dan halaman belakang yang lebih besar lagi, yang biasa kami pakai untuk piknik. Sebanyak empat belas orang yang berasal dari berbagai macam negara tinggal di rumah biru yang nyaman itu. Orang-orang dari Indonesia, Kanada, Inggris, Thailand, Perancis, Italia, dan Taiwan yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri.

Rumah ini dipisah menjadi dua bagian oleh dinding kayu. Kedua bagiannya memiliki empat kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan dapur masing-masing. Namun qalaupun dipisahkan oleh dinding, seluruh penghuninya sering menghabiskan waktu bersama di kebun belakang. Atau bahkan kami menganggap dinding pemisah itu tidak ada sama sekali. Seringkali saya makan, memasak, atau menonton TV di rumah sebelah. Orang-orang di rumah sebelah pun sering berada di rumah kami untuk sekadar mengobrol.

Saya dan Ogek tinggal di bagian rumah yang hanya berisi orang-orang Indonesia dan Taiwan. Sementara Nita menjadi satu-satunya perempuan dari Indonesia yang tinggal di rumah sebelah yang penuh dengan orang kulit putih. Dulu hal ini bukanlah masalah sama sekali karena orang-orang rumah bersikap baik satu sama lain.

Di rumah itu saya, Ogek dan Nita menjadi sering sekali memasak kemudian membaginya ke seluruh penghuni rumah. Begitupula penghuni lainnya. Apa saja yang mereka buat akan mereka bagi.

“Hey Angky I’m making smoothies do you want some?” kata salah satu penghuni rumah sebelah dari jendela dapurnya ketika melihat saya sedang menjemur baju di halaman belakang,

“Ya sure I’d love that”

Lalu kami akan menghabiskan pagi sarapan bersama. Atau kadang mereka akan request. “Hey let’s make pancake like the other day, it was really delicious”

Atau hanya mengajak untuk pegi ke lake atau cinema.

“We’re going to the open cinema, wanna come?

Hubungan semua orang di rumah itu sudah seperti keluarga. Hingga jika ada yang harus pindah state karena telah menyelesaikan 88 hari kami semua akan membuat pesta perpisahan untuknya. “Oh man, how could you leaving us like this”

Setiap malam kami sering membuat api unggun di belakang rumah. Apalagi ketika winter datang dan udara menjadi semakin dingin. Biasanya si JB akan membuat api unggun dan kami semua akan duduk mengelilingi api itu hingga tengah malam sambil mengobrol. Hubungan antara penduduk rumah kami sungguh ringan dan menyenangkan. Hingga saya dan Ogek pun merasa sungguh beruntung bisa menjadi bagian rumah biru ini.

Namun pada suatu hari ada seorang bule yang tak ingin saya sebutkan namanya atau asal negaranya bertingkah sungguh aneh. Ia tinggal di kamar di sebelah kamar Nita. Ia tak pernah datang ketika kami undang untuk makan di rumah. Atau bahkan ketika Nita memasak di bagian rumahnya dan kami semua berkumpul di sana, ia akan keluar rumah entah kemana hingga acara selesai. Dia dan temannya satu lagi yang berasal dari negara yang sama.

Ia mengakui sendiri bahwa ia tidak suka dengan orang Asia. Sementara temannya satu lagi bilang “One or two Asian in one room it’s okey, but more than that i need to go” Waktu saya dengar hal itu saya hanya bisa mengelus dada sambil bilang WTF! Who do you think you are?

Menurut mereka berdua orang Asia itu berisik. Kalau mereka menunjukan ketidaksukaan dengan orang Asia dengan hanya pergi ketika kami berkumpul (Walaupun itu juga sudah kurang ajar) masih sedikit bisa kami terima. I mean you dont need to like us, but you still need to respect us, no?.  Namun mereka membuat kami merasa sungguh jengkel karena salah satu dari mereka seolah mendeklarasikan perang kepada orang-orang Asia.

Seperti ketika acara ulang tahun saya dan perpisahan Nita, kami mengadakan makan-makan dan mengundang teman-teman dekat. Potong kue haha hihi seperti biasa. Si M dan kawannya yang tidak suka dengan orang Asia tentu saja pergi dari rumah. Namun pada malam hari ketika teman-teman kami orang Asia sudah pulang. Si M ini malah justru mengundang seluruh teman-teman bulenya untuk berpesta di rumah kami. Orang orang yang bahkan tidak pernah saya kenal. Mereka terus saja berdatangan pada malam hari dan bertanya pada saya “hey is it M’s house, he said there’s a party here” WHAT. Mereka berpesta dengan gaduh dengan mengacuhkan kami yang memiliki acara. Lalu besoknya tentu saja saya dan Nita membereskan rumah dan kena semprot landlord karena terlalu banyak sampah di bin. Sampah bir yang mereka bawa sendiri. Are you kidding meh?

Ia pun mau repot-repot membuat acara makan malam di bagian rumahnya dengan hanya mengundang orang-orang kulit putih. Tepat setelah Nita keluar dari rumah itu. Untuk merayakan tak adanya orang Asia lagi di lingkungan mereka. Rumah dengan dinding menyatu seperti rumah kami ini, tentu saja bisa mendengar jelas kegaduhan dari dinding sebelah untuk membuat kami mengerti bahwa we are not welcome there. Saya ingat ia memposting foto dengan capsion “the best housemate ever”. Seperti merayakan akhirnya satu-satunya Asia di rumah itu pergi.

Bukannya kami ingin ingin diundang, kami tidak perduli dengan acara itu, tapi acara itu berlangsung berhari hari bukan hanya satu malam saja, hingga saya tak lagi bisa tidur di kamar sendiri. Karena suara dari rumah sebelah terdengar jelas di kamar saya. Sehingga setiap malam saya harus membawa selimut saya ke depan sofa TV untuk tidur lebih tenang.  What the hell man?

Ketika teman kami ulang tahun, JB, orang waras yang nggak rasis sama sekali. Dia mengundang semua orang ke rumah sebelah, literally semua orang. Kami para Asia ini datang untuk menghormati kawan kami itu di hari ulang tahunnya. Tentu saja si M harus menunjukan ketidaksukaanya kepada kami para Asia yang diundang ini. Ia mengajak bule-bule ke dapur dan mengadakan acara sendiri sementara orang Asia yang berada di ruang tamu kebingungan, karena so obvious kami di buat merasa terpinggilkan. Saya memutuskan untuk keluar dari acara itu karena saya muak dengan tingkahnya.

Bukan hanya itu, ia sering sekali ribut di dinding sebelah kamar saya, berjalan dengan keras dan berteriak-teriak. Berbicara tentang saya. Iya betul, tentang saya, yang digosipkan dengan kawannya. Lalu membanting pintu keras-keras dengan kesadaran penuh bahwa pintu rumahnya menempel dengan kamar saya dan setiap kali ia menutup dengan keras akan membuat kamar saya bergetar. Everytime!

Oke that’s it. We need to talk big guy!

Karena sudah tak sanggup di injak injak, saya bilang sama JB yang tinggal di sebelah kamarnya. Saya bilang padanya kalau saya butuh berbicara dengan M terkait masalah ketidaksukaannya terhadap Asia.

Si JB cuma bilang “Why do you think he hates Asian?”

“First because it’s so obvious, second because he said so!”

Om JB masih ingin khusnuzon dengan sontoloyo ini, karena ia pikir tidak baik kalau tetangga bermusuhan. “No i’m sure he’s not like that, let me talk to him”

Pada hari berikutnya si om datang lagi ke rumah sekalian mengantar alpukat dan berbicara lagi dengan saya.

“Hey you’re right, he doesn’t like Asian, especially Indonesian”

WHOOO OKE. Let me talk to him! Right now!

JB tetap saja menghalangi saya karena takut ada pertumpahan darah di rumah. Karena si rasis ini badannya besar. Kerjaanya nge gym. Pada titik itu saya betul-betul tidak perduli kalau dia mukulin saya. Because someone needs to tell him that it’s not okey what he does. Dan menurut saya hal ini adalah penting untuk dilakukan, karena bukan hanya saya membela diri saya dan orang-orang di rumah kami, tapi juga untuk setiap orang Asia atau orang yang berasal dari mana saja yang diperlakukan tidak adil.

Ketika om JB nanya apa yang akan saya katakan kepada dia. Jawaban saya adalah “I just want to ask him nicely, do you honestly think that because we’re Asian, means that we’re less human than you? And I just want to hear his answer that’s all”

Om JB tetep kekeuh ndak biarin saya pergi bertanya pada si M. Sampai pada suatu hari si M dengan semena-mena mengambil tenda biru peninggalan Nita yang diberikan pada saya dan Ogek. Yang kami simpan di bawah rumah kami. Pemilik tenda ini dulu adalah kawan Nita yang juga pernah tinggal di rumah ini.

Si M yang mau pergi ke festival musik di kota sebelah santai aja gitu ngambil tenda itu, tanpa permisi, tanpa basa basi, tanpa minta ijin. Just’t because he can.

Pada malam kepergian si M ke festival ia sudah mengepack seluruh barangnya di mobil. Kami melihatnya bersiap-siap dan menata semua keperluannya di mobilnya, termasuk tenda biru milik kami. Teman-teman yang ikut bersamanya pun sudah duduk di mobil dengan seatbelt dan siap berangkat. Saya sendiri sedang ngobrol bersama teman saya dan Ogek di dalam rumah. Tiba-tiba M kembali ke dalam rumah untuk mengambil barang yang ketinggalan.

Ogek yang berdiri di sebelah saya kemudian berjalan keluar dan berhenti di sebelah mobil yang penuh dengan manusia dan barang-barang bawaanya untuk festival itu. Saya dan kawan saya mengikuti Ogek dan berhenti di kebun depan. Mau ngapain si Ogek kesana pikir saya. Si M jalan mendekati Ogek yang sudah berdiri menunggunya di sebelah mobil itu.

“I’m sorry did you take our tent, the blue one?” kata Ogek tiba-tiba kepada si M dengan raut wajahnya yang tegas.

Ogek tahu betul kalau ia mengambil tendanya sekarang artinya tidak akan ada tempat tidur untuk si M di festival yang akan mereka hadiri itu. Karena mereka hanya memiliki 3 tenda termasuk tenda milik kami untuk digunakan di sana. Sebenarnya bisa saja kami membiarkan M menggunakan tenda kami toh kami tidak akan menggunakananya sekarang. Tapi sepertinya Ogek memilih caranya sendiri untuk memberi M pelajaran.

“It’s not your tent” kata M kepada Ogek dengan arogannya yang disaksikan kawan kawan Me termasuk om JB yang duduk di kursi belakang. Tak ada seorangpun yang berani bersuara di mobil itu. Mereka juga tahu kalau M mencuri tenda kami beberapa hari sebelumnya. Sementara saya memandang dari tangga rumah aksi Ogek yang berani ini sambil ancang-ancang kalau Ogek kenapa kenapa.

“Oh it is our tent, Nita gave it to us” kata Ogek.

“No, it’s not, I found it under the house”

“That is right, we’re the one who put it there, but it still our tent” Ogek tetap kekeh.

“And I want it back now” tambahnya.

Semua orang menjadi tegang melihat percakapan dua manusia ini. Dari jauh saya bangga dengan Ogek walaupun takut juga dia di gebugin sama M karena badan Ogek hanyalah setengah badan M. Wajah M memerah, orang-orang di mobilnya pun memilih untuk diam dan tak membantunya sama sekali. Ogek berdiri tegak, dengan pandangan mata yang tajam ke arah M.

Perlahan M menuju pintu belakang mobilnya, membukanya dan mengambil tenda biru dari dalamnya dan memberikan ke Ogek tanpa berkata apapun.

“Thank you, enjoy your trip” ujar Ogek sambil kembali ke dalam rumah dengan tenda birunya. Sukses merenggut harga diri yang diinjak-injak selama berbulan-bulan ini kembali. Sebenernya kalau M tinggal bilang pinjem bentar ya tendanya, nggak terus-terusan memusuhi kami seperti ini pasti segalanya lebih mudah.

Saya menyambut Ogek dengan pelukan dan betapa bangga nya saya dengan keberaniannya.

“Gek lu kesurupan apa barusan?” kata saya padanya.

“Hahaha padahal ini tenda kagak gue pake juga, abis gue kesel ki sama dia, songong banget jadi orang”

“Lu gak takut di gampar apa gek tadi?”

“Ngeri sebenernya gue, udah pen ngompol, tapi gimana udah terlanjur”

YA AMPUN …. MAMA BANGGA SAMA KAMOH. NGGAK SIA-SIA KERJA DI KEBUN ANGGUR BERBULAN-BULAN. Jadi anak berani gini.

Saya buru-buru nge chat JB

“Did he upset to Ogek, oh wait to all Asian?”

Om JB lalu membalas.

“Probably, but i think he is more shock than upset”

“Well he should”

Setelah kejadian itu tentu saja si M makin sebal dengan kami. Tapi kami tak lagi merasa terintimidasi dengan tingkahnya, justru bisa dengan santai melewatinya sambil berkata “Morning” dengan senyum yang paling ikhlas di seluruh dunia yang tentu saja diacuhkannya. Ndak opo yang penting sekarang M tau kalo badan besarnya atau ke arogansinya nggak pernah menakuti kami. Kami justru kasihan dengan orang-orang seperti dia, yang mengkotak-kotakan manusia dan merasa superior hanya karena warna kulitnya.

Beberapa teman kami yang berasal dari negara yang sama dengannya justru malu dengan tingkahnya. Mereka memberi ultimatum kepadanya untuk tidak bersikap seperti orang bodoh. “I told him that if you don’t want to see Asian people, you might as well just live in a cave somewhere in a very rural place in your country, but you came to Australia. Where you are also an strangers, but you hate other strangers, that it’s just so stupid”

That is right dude, cause, after all, we are all just a bunch of human beings, living in the same world, trying our best, so would you please, stop acting like you owned this place. Thank you

20180530_14593020180409_112251

20180429_151911
ogek dan tenda birunya
20180429_092033
backyard

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

2 thoughts on “Menghadapi Orang-orang Rasis dan Narsis di Australia (PART 2)

  1. sekilas baca tenda biru, aku jadi ingat lagunya desy ratnasari. “tak sengaja lewat depan rumahmu, ku melihat ada tenda biru, dihiasi indahnya janur kuning…” hahaha.

    ini juga salah satu cerita yang aku suka. aku suka ketika orang-orang berdiri ngelawan saat diinjak-injak dan diperlakukan seenaknya. kamu dan temanmu, ogek, beneran nunjukkin bahwa memang orang yang seenaknya memperlakukan orang lain, terutama yang rasis, seksis, harus dilawan dan jangan cuma diam aja.

    Like

    1. wkwk betul. sebenarnya rasism ada di mana aja. Dan tinggal di Mareeba bikin kami belajar untuk melawan tindakan-tindakan yang disrespectful seperti ini, nggak ada toleransi untuk sikap seperti itu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: