Dipalak dan makan tai burung di Paris

Paris Winter 2014

 

Kata orang, Paris adalah kota yang paling romantis di dunia. Monumen, museum, dan bangunan-bangunan artistiknya seperti menara Eiffel, Arc de Triomphe, Notre-Dame de Paris, The Louvre, Place de la Bastile yang ada di ibukota Prancis ini menjadikan Paris sebagai kota tujuan turis paling populer di dunia. Semua orang ingin merasakan berpesiar sambil makan malam romantis di Seine Cruise atau naik ke menara Eiffel dan memandang kota yang terkenal dengan fashionnya ini dari ketinggian.

Tapi Paris tidak sesempurna cerita-cerita orang. Saya punya pengalaman yang sama sekali nggak menggambarkan keromantisan itu waktu saya melakukan one day trip to Paris dari Antwerpen pada bulan November 2014 lalu.

Pada suatu pagi yang masih gelap dengan angin musim dingin yang mengigit, tepatnya pukul 06.45, saya dan Novia sudah berdiri di Van Stralenstraat, Antwerpen untuk menunggu Megabus yang akan membawa kami ke Paris. Megabus adalah salah satu perusahaan bus yang berbasis di UK yang dapat membantu para traveler untuk berpindah kota di Eropa Barat dan UK dengan ongkos yang murah (www.uk.megabus.com). Perjalanan ke Paris dari Antwerpen memakan waktu sekitar 5 jam 45 menit dengan rute melewati kota Brussels dan Ghent. Saya tidak begitu ingat tentang pemandangan di luar bus, karena selepas dari Ghent saya tertidur pulas di kursi depan dan ketika terbangun kami sudah sampai di terminal Gallieni Paris. Seperti dua anak kecil yang baru pertama kali diajak ke Dufan oleh orang tuanya, saya dan Novia tak bisa menyembunyikan rasa senang dan girang telah sampai di kota impian.

Bonjour Paris!!

Kami langsung menuju destinasi wajib semua traveler yang mengunjungi Paris, Menara Eiffel! Setelah turun dari bus kami menuju stasiun Gallieni untuk naik metro ke stasiun paling dekat dengan Menara setinggi 324 meter itu hanya dengan berbekal peta dan semangat menjelajah. Di dalam metro, sepanjang jalan saya tak henti-hentinya memperhatikan sekeliling saya, orang-orang lokal dan imigran dari Afrika berkumpul jadi satu, kebanyakan sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Perjalanan ke Eiffel tak semudah yang kami bayangkan. Keluar dari stasiun kami tak juga melihat ujung menara Eiffel mengintip dari sela gedung-gedung yang rapat itu. Namun hal ini justru membuat antusiasme kami semakin tinggi. Dengan membolak-balikan peta dan bertanya kepada orang-orang akhirnya kami berhasil sampai di Tour de Eiffel yang tersohor itu setelah berjalan cukup jauh. Beruntunglah sepanjang jalan kami disuguhkan dengan pemandangan kedai-kedai kopi dengan design klasik khas Eropa.

Kadang saat sedang traveling saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat di depan saya dan bertanya-tanya, bagaimana saya yang orang biasa ini bisa sampai dan berada di tempat luar biasa seperti yang ada di depan mata saya sekarang? I’m just the luckiest girl in the world.  Di hadapan saya berdiri kokoh sebuah menara rancangan Gustave Eiffel yang gagah bersanding dengan sungai Seine yang indah. Mata saya hari ini sungguh dimanjakan, saya hampir tidak berkedip memandangnya.

_MG_2966

Saya dan Novia mulai mengitari taman Champ de Mars dan menara Eiffel yang saat itu sedang mendung dengan wajah yang berbinar-binar. Di depan menara terdapat taman besar dengan rumput yang dipangkas rapi dan pohon-pohon yang berjajar di sisi-sisinya. Taman ini menjadi tempat bersantai untuk wisatawan juga penduduk lokal terutama pada saat musim panas tiba di mana mereka dapat menikmati pemandangan Eiffel dengan sempurna.

Pada saat kami sampai tepat di bawah menara,  seorang wanita paruh baya yang membawa sebuah buku besar menghampiri Novia. Wanita itu bertanya apakah Novia bisa berbahasa Inggris. Novia menjawab “Yes, i can speak English”. Awalnya si Mbak bilang kalau ia sedang menggalang dana untuk  deaf people dan dengan terburu-buru meminta Novia untuk menandatangani sebuah kertas tanpa menjelaskan isinya.  Saya mulai curiga dan mengambil jarak, mengingat banyak review yang menegaskan kalau kita harus ekstra hati-hati di Paris karena banyaknya penipuan. Novia yang terlihat risih serta ingin cepat selesai dengan si Mbak agar bisa segera melanjutkan perjalanan, langsung memberikan 2 Euro ke telapak tangan wanita itu untuk donasi. Tapi tanpa diduga si Mbak menolak dan berkata bahwa donasi yang diberikan Novia terlalu sedikit, minimal donasi adalah 5 euro. Kami kaget bukan main. Wanita itu melanjutkan “You already signed this”.

Apa mungkin kertas yang Novia tandatangani sebelumnya berisi tentang persetujuan memberi donasi di atas 5 Euro?. Novia sedikit kesal dan berkata bahwa nilai donasi itu seharusnya tidak boleh ditentukan, seikhlasnya saja. Terjadi perdebatan kecil antara si Mbak dengan kami karena Mbaknya terlihat memaksa Novia harus donasi sebesar yang sudah ditentukan. Hingga akhirnya Novia menyerah dan tidak mau memperpanjang perkara. Ujung-ujungnya ia berikan uang sebesar 5 Euro kepada si Mbak. Saya dan Novia jadi tidak yakin bahwa uang yang ia berikan benar-benar akan digunakan untuk kegiatan amal. Sedih saya melihat kejadian itu, baru saja sampai di Menara Eiffel yang notabene adalah icon kota Paris. Saya berharap tempat ini tourist friendly, tapi kami malah dipalak.

Kami sepakat untuk melupakan kejadian itu dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju Musee du Louvre menggunakan bus kota. Ketika menyusuri sungai Seine dan melihat pemandangan Paris dari dalam bus, saya baru paham mengapa kota ini terkesan sangat romantis dengan gedung-gedungnya yang besar dan indah di sepanjang sungai Seine, membuat siapapun yang datang ke sini akan merasa sedang berada di negeri dongeng. Kami pun merasa Musee du Louvre yang walaupun saya ke sana tidak bersama kekasih pujaan hati tetap memberikan kami kesan romantis. Langit yang mendung sore itu tidak mengurangi keindahan tempat ini. Saya jadi berasa seperti ada di video clip Begin Again nya Taylor Swift.

Setelah puas main-main di Paris kami kembali ke terminal Gailleni untuk pulang ke Antwerpen. Di sana kami masih harus menunggu satu jam lagi sampai bus datang. Waktu menunggu ini saya gunakan untuk masuk ke sebuah toko kecil di dalam terminal yang menjual makanan dan souvenir khas Paris. Dua buah postcard bergambar Eiffel dan satu roti croissant untuk mengganjal perut saya beli di toko tersebut. Saya harus mencoba roti khas Prancis ini di tempat asalnya!

Saya berjalan menuju tempat parkir bus dengan menggenggam roti saya di tangan, sementara Novia pergi ke toilet di dalam terminal. Dengan hati-hati saya membuka bungkus croissant itu dan mulai menikmati gigitan pertama. Baru satu gigit saya, saya merasakan seperti ada tetesan air yang jatuh dari atas ke arah saya. Dengan bingung dan masih menggenggam roti di tangan, saya mendongak untuk mencari tahu apakah ada pipa bocor di atap, tetapi saya tidak mendapati apa-apa karena langit-langit terminal terlalu gelap. Tanpa rasa curiga kembali saya santap croissant yang berharga itu dengan lahap, sepertinya ada yang aneh, kok roti ini pahit ya. Waktu di Belanda saya juga memakan croissant tapi tak pahit seperti ini, apakah croissant yang asli rasanya memang sedikit pahit? Tanya saya dalam hati. Tanpa berpikir lebih panjang saya habiskan saja roti yang sedikit pahit itu, karena ini adalah croissant pertama saya di Prancis jadi tidak akan saya sisakan.

Ketika Novia datang menghampiri saya dari toilet ia melihat saya dari atas sampai bawah lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata “Coat lu kenapa deh ki ada putih-putihnya gitu?” . Dengan cepat saya perhatikan coat hitam saya yang sekarang becorak putih itu. Noda putih menempel di coat saya di beberapa bagian, ini kelihatannya seperti……… Novia tanpa ragu memperjelas dugaan saya sambil menujuk seekor burung lewat di atas kepala kami “Kayak tai burung ki” ia lalu tertawa keras di terminal yang masih sedikit sepi itu.

Langsung saya lepas coat itu walaupun udara di luar sangat dingin. Saya pun teringat akan tetesan air yang jatuh dari langit-langit tadi dan croissant pahit yang saya makan dan habiskan dalam sekejap. Sekarang semuanya menjadi masuk akal. Sepertinya saya baru saja memakan croissant dengan topping tai burung. Dengan muka memerah saya langsung mengambil botol minum dan meminum air sebanyak-banyaknya, mengelap-elap lidah saya berkali-kali dengan tissue.

But after all, “where else can you eat a croissant with bird’s droppings in a city that as beautiful as in Paris? right?

Tapi saya bersumpah akan kembali ke kota ini suatu hari nanti untuk makan croissant lagi tanpa topping tai burung

Paris tunggu saya!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

4 thoughts on “Dipalak dan makan tai burung di Paris

  1. Yg minta td tgn itu orgnya kyk apa ya? Memang banyak yg begitu suka incar turis di Paris yg nggak ngerti Prancis. Biasa di daerah Montmatre dan Eiffel. Copetnya juga perawakan gede2 😅

    Haha tai burung. Lumayan ya mbak. Ada joke belum ngerasain Paris kalau blm injak tai anjing..

    Liked by 1 person

Leave a Reply to bram wijaya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: