Once Upon a Time in New York

New York City, 22 August 2019

This is a city that gets born anew on the fresh eyes of every young person who arrives here for the first time. So that city, that place- newly created for my eyes only – will never exist again. It is preserved forever in my memory like an orchid trapped in a paperweight. That city will always be my perfect New York.

You can have your perfect New York, and other people can have theirs but that one will always be mine. 

-City of Girls, Elizabeth Gilbert-

Langit New York mengintip dari jendela pesawat, ketika pesawat saya landing di bandara JFK setelah 22 jam penerbangan dari bandara Kingsford, Sydney.

“Hello New York” sapa saya berseri-seri.

Mata saya mengamati sekitar. Ke wajah penumpang pesawat lainnya yang terlihat lelah namun bersemangat. Dengan cepat mereka membuka bagasi cabin dan menyalakan handphonenya. Lelaki yang duduk di sebelah saya justru sudah menelefon teman-temannya satu persatu mengabarkan kepulangannya ke Amerika. “Hey I’m home, let’s catch up sometimes” katanya girang.

Saya sendiri. Mesam mesem ndak karuan ketika pramugari mengucapkan perpisahan via speaker yang bergaung di pesawat.

“Thank you for flying with us, and Welcome to New York”

Saya pun mengulang kata-katanya di dalam hati.

“Yes Welcome to NEW YORK Angky, you made it YAYYYYY”

***

Mimpi untuk menginjakan kaki di US sudah saya miliki sejak kecil. Keinginan ini tumbuh sejak saya mulai mencintai dunia perfilman dengan setting di US. Dan mengapa saya begitu kegirangan ketika sampai di New York? Karena saya besar dengan menonton film series berjudul Friends. Dengan Manhattan sebagai latarnya, dan cerita simple keseharian New Yorkers dengan jokes jokesnya yang tak pernah usang oleh waktu.

Diam-diam saya juga ingin merasakan kehidupan keenam karakter ini di New York City. Saya ingin menjadi Rachel dengan semangatnya membangun mimpi dari 0, atau Phoebe dengan keunikannya, Joey dan audisinya, Monica dan karier chefnya, Chandler dan juga Ross dengan pekerjaannya. Menjalani hidup yang menyenangkan dan bergairah di tengah-tengah kota impian setiap anak muda, New York City.

Tapi sejujurnya mimpi untuk pergi ke Amerika bukan satu-satunya hal yang membawa saya ke New York hari itu.

“Setiap fase dalam hidup membutuhkan jeda” kata Najwa Shihab pada episode terakhir Mata Najwa di Metro TV. Saya adalah salah satu penggemar perempuan tangguh satu ini. Di episode terakhir itu setiap kali ditanya alasannya mundur dari metro TV jawabannya selalu saja sama. Karena setiap orang membutuhkan jeda dalam hidup. Bukan untuk berhenti sama sekali, tapi untuk merefleksikan hidupnya sebelum kemudian memulai lagi.

And i couldn’t be more agree with her.

Mungkin ada juga diantara kalian yang sama dengan saya. Saya termasuk orang-orang yang harus memiliki jeda dalam hidup. Sementara liburan satu atau dua minggu bukanlah jeda yang saya butuhkan.

Saya membutuhkan ‘pause’ untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat. Untuk membuat jarak antara saya dan pekerjaan, dengan lingkungan, atau hal-hal yang saya pikirarkan setiap hari. I want to shut down everything for a whole month. Dan menurut saya pribadi, memiliki keinginan untuk mem pause diri dari dunia untuk sejenak adalah gaya hidup yang sehat juga berani.

Karena itu saya memutuskan untuk membawa diri saya sendiri ke Amerika dan Kanada selama 5 minggu penuh. Tentunya setelah 6 bulan bekerja bagai kuda di Australia. Semakin jelas kan alasan saya memilih Australia untuk tinggal dan bekerja, karena kami tidak mengenal 12 hari cuti yang mengikat.

Saya berusaha mengambil jeda dari hidup setiap enam bulan sekali sebagai upaya agar tetap waras.

Enam bulan sebelumnya saya juga mengambil jeda. Dengan pergi ke Bali dan tinggal di sana selama 3 bulan penuh. Untuk istirahat dari rutinitas di Australia sepenuhnya dan bermanja manja dengan alam. Duduk di Ubud sambil minum es kopi buatan teman saya dan membaca. Lalu main rafting keesokan harinya, atau menyeberang ke Nusa Penida untuk Snorkeling dan memancing. Dan menikmati sunset setiap sore.

Saya pribadi berpikir bahwa hidup terlalu singkat untuk berkejar-kejaran dengan pagi yang pendek setiap hari. Have some pause in your life to do whatever you want to do. To get that peace of mind. You deserve it.To simply look after yourself day by day and listen to what you really want. Tapii kerja keras dulu sebelumnya. Oke.

Mungkin saya memang bagian dari orang-orang itu. Yang memiliki prinsip

 

Work hard, play harder.

Alasan ketiga saya pergi ke New York adalah karena saya ingin mengunjungi sahabat baik saya dari kecil yang pindah ke Amerika, namanya Rakhmi. Tipe teman yang paling cantik bak bidadari yang entah mengapa memutuskan untuk berteman dengan kutukupret seperti saya, yang kalau kami jalan di lorong sekolah semua mata tertuju padanya, yang membuat saya invisible setiap kali jalan sebelahan, yang kalau kakak kelas ngajak ngomong saya ujung-ujungnya cuma mau titip salam sama sohib saya itu, yang pada akhirnya wajahnya bermunculan sebagai model di banner banner di kota kami sehingga sepupu-sepupu saya jadi rajin ngintilin saya hang out hanya untuk minta foto sama Rakhmi. I dont even need to explain the kind of nerd i was and why she chose to be friend with me? Cause i dont have the answer

Tapi Amy, begitu saya memanggilnya, bukan sekedar perempuan cantik yang menyerap seluruh perhatian lelaki di sekolah setiap kami lewat. Bukan juga anak cantik arogant yang suka ngebully nerd kayak saya karena merasa paling oke.

Tapi dia justru seorang teman yang bakal bawa saya kemanapun dia pergi dan perkenalkan saya sebagai sahabat baiknya, orang yang selalu mampir ke kelas saya ngajak makan soto di kantin belakang, yang membela dan marah ketika saya dibully, yang akan mengcancel semua janjinya untuk berada di kosan saya di Jakarta pada hari ulang tahun saya, yang menemukan saya ketika saya menghilang ketika saya mulai edan, lalu berjanji akan selalu ada di hidup saya apapun yang terjadi. And yes we are that kind of friends that stuck with each other for the rest of our life.

Dua tahun lalu Amy pindah ke New York bersama suaminya, dan melahirkan anak pertamanya di kota ini. Saya yang saat itu berada di Ausi dan tidak bisa menghadiri pernikahannya di Indonesia pun berjanji akan mengunjunginya di New York City suatu hari nanti. Dan tentu saja janji saya untuk mengunjunginya bukanlah bualan belaka.

Karena Amy bukanlah sembarang teman. Tapi dia adalah tipe sahabat yang akan kamu perjuangkan hanya untuk bertemu dengannya. Cause i know she would do the same. Hingga tahun lalu saya bekerja mati-matian untuk mengumpulkan uang demi mengunjunginya di New York.

Alasan keempat saya pergi ke Amerika adalah untuk merawat diri saya setelah patah hati. Yes i was broken hearted. Lagi. Sian deh lo. But i will tell you later.

Amy was so excited dengan kedatangan saya di New York. Karena terakhir kami bertemu adalah ketika ia mengunjungi saya di Bali. Di sudut Revolver cafe Seminyak. Hanya untuk bercerita tentang seorang lelaki yang mendekatinya, dan seperti biasa ia meminta pendapat sahabatnya ini yang bahkan tak punya kisah cinta yang normal sebagai acuan. Kala itu ia bercerita tentang seorang lelaki baik yang sedang mendekatinya. Lelaki yang pada akhirnya menjadi suaminya sekarang.  “You’re welcome mi”

Di New York, keluarga kecil Amy tinggal di daerah Queens. Suami dan anaknya yang masih berumur 10 bulan bernama Serena menyambut saya dengan hangat. Di Rumah nya selama 3 pekan, bukan saja saya dipersilakan untuk tinggal di kamar tamunya dan diperlakukan layaknya keluarga. Namun ia dan suaminya dengan senang hati mengajak saya berkeliling Manhattan setiap weekend datang. And i couldn’t feel more blessed.

Dari Central Park, Roosevelt island, Brooklyn Bridge, Hudson River, Rockefeller Center, hingga Times Square. Tentu saja sahabat saya yang juga hobby nonton film ini terus menarik narik saya ke berbagai macam tempat pengambilan gambar film-film ternama Hollywood di kota ini, seperti The Metropolitan Museum of Art, Serendipity Caffee, Joe’s Pizza di film Spiderman, dan Apartment Friends. Film favoritenya adalah Gossip Girl, now you know mengapa dia paling senang ngajak duduk di Met steps dan memberi nama anak pertamanya Serena.

But as much as i love strolling around New York with my bestie and her new family, terkadang saya pun ingin menjelajahi kota ini sendirian. Menikmati New York bersama dengan diri saya sendiri. Anaknya emang melankolis kadang.

Dari berkeliling mencari toko buku Shakespere and Co, minum kopi di kedai kecil di Manhattan, duduk di bangku di Central Park sambil menulis jurnal, mengunjungi patung Cheryl Strayed penulis favorit saya dan sembilan patung wanita lainnya di 1285 Avenue, hingga ikut school strike di United Nation Headquarter bersama Greta Thunberg. (Aktivis lingkungan yang tahun lalu saya tonton videonya di Ted Talk)

Tapi seperti kota besar lainnya, New York pun tak sempurna. Dua tahun tinggal di Sydney membuat saya berfikir bahwa setiap kota besar akan memiliki akses transportasi yang baik seperti di Sydney, atau Tokyo, Seoul, Singapore bakan Jakarta sekalipun. Tapi ternyata tidak dengan New York. Kali pertama saya mencoba subway di kota ini, saya kaget bukan main. Bukan hanya tidak setiap stasiun subway memiliki akses escalator atau elevator, tapi kereta bawah tanah ini pun terlihat kumuh. Dengan kurangnya fasilitas escalator dan elevator tentu saja beberapa stasiun kurang ramah untuk orang-orang disable, ibu hamil dan ibu-ibu dengan anak dan strollernya, dan orang tua. Entah berapa kali kami harus meminta bantuan orang untuk manaik turunkan stroller Serena kepada stranger ketika menaiki tangga. Pada musim panas, di dalam stasiun subway sendiri sudah seperti berada di sauna bawah tanah yang pengap dan bau.

Saya pun ingat advice pertama dari Newyorkers yang saya temui di bandara Hawaii

“Hey when you’re in New York. When the sun goes down, just go home, it’s not save to be outside” katanya serius.

Sejujurnya saya bingung. Karena di Sydney dan New York sama sama kota besar, tapi di Sydney saya merasa aman berjalan pada malam hari. Walaupun sama-sama banyak homeless. Tapi di kota besar di New South Wales ini orang-orang yang hidup di jalanan hanya tidur dan minta uang dengan diam dan tidak pernah menyerang. Homeless homeless yang merek sepatunya NIKE lebih mahal dari sepatu orang orang yang kasih receh.

Sementara di New York entah sudah berapa kali orang orang jalanan mendekat dan ngamuk ngamuk minta uang kepada saya dan Amy. Ada pengalaman mengerikan ketika saya harus naik subway sendirian dari Forest Hills. Di sebuah stasiun di daerah Queens yang entah mengapa kosong melonpong pada siang yang terik. Tiba tiba seorang homeless mendekati saya yang sedang mengisi kartu metro di mesin. Tanpa basa basi dia minta uang kalo nggak salah 5 dollar ke saya. Walau sudah saya tolak dia tetep ngintilin sampe saya masuk gate subway baru si om pergi. Deg degan shay rasanya, kalo di pelem-pelem udah di tolongin sama Captain America. Tapi sayangnya ini dunia nyata. Yang kezam.

Pernah sekali saya sampai harus mencari toko terdekat untuk bersembunyi bersama Serena. Alasannya karena ada om om dengan baju compang camping yang berteriak-teriak heboh memaki maki setiap orang yang lewat. Ia berdiri persis di sebelah Amy yang sedang mengantri untuk membeli makanan di food truck.

Karena hal itu advice yang diberikan Amy kepada saya pun sama, ketika sudah tidak ada matahari buru-buru pulang ya ki. Katanya. Karena menurutnya tidak aman untuk pergi sendiri di malam hari di New York.

Namun di luar itu semua, pesona New York tetaplah tak terbantahkan. Selalu saja ada perasaan kagum setiap kali saya berjalan menyusuri jalanan di Manhattan dengan apartment-apartment tuanya yang entah mengapa terasa familiar. Orang-orang yang berani berekspresi di Central Park dan Times Square, dengan pakaian-pakaiannya yang nyentrik, bahkan ada kumpulan nudist yang dengan santai duduk di tengah Sheep Meadow Central Park tanpa bra, musisi jalanan dengan suara yang luar biasa indahnya,  pengrajin magnet sekaligus pembenci Trump, seorang lelaki dengan topi blink-blink bertulisan Jesus yang nge-rap di subway sambil menunjuk ke wajah saya dan berteriak “Jesus die because of your sin”.

Saya pribadi terkesima dengan bagaimana orang-orang New York mengekspresikan dirinya ini. People with total freedom to express their self. It was just big WOW for me. A whole new level of “orang-orang yang berani berekspresi”

Saat berada di New York saya mendapat banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Termasuk African-American yang kerap kali mendapat perlakuan rasis di negara ini. Bahkan seorang teman di Sydney pernah bilang “A lot of black people there in New York, that is why there’s a lot of crime” Dan sejujurnya saya tak habis pikir mengapa bisa terbentuk stigma jahat seperti ini.

Karena kriminal itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Siapa saja. Musuhi apa yang dilakukan. Musuhi orang yang berbuat jahat. Tapi jangan membuat stereotype buruk berdasarkan warna kulit. They did nothing to you. Stop being racist people, that is not okey.

In fact ketika saya berada di New York justru saya banyak bertemu dengan orang African American dengan senyum paling ramah yang pernah saya temui. Yang selalu saja menawarkan bantuan untuk mengangkat stroller Serena, atau memulai obrolan di antrian coffeshop. “Aw she’s really cute, hey baby girl, you are so cute” sambil mencoba membuat Serena tertawa. Lalu menghabiskan waktu ngobrol ngalor ngidul bersama kami.

You know i know exactly how it feels to be minority, di judge berdasarkan warna kulit. Sering diinjak injak hanya karena warna kulit saya yang berbeda.

But i think it just so unfair. Because for me there is only one race in this world. Human race. Yang sama-sama hidup di bumi yang sama. So please oh please stop being unfair menilai orang.

Aniwei.
New York after all has successfully amazed me in so many ways. Saya pasti kembali lagi ke sana. Entah kapan.
Karena saya sungguh menikmati setiap langkah saya ketika berjalan di 5th Avenue. Ketika samar samar saya bisa mendengar tante Alicia Keys bernyanyi dengan suara yang bergaung di langit New York.
***
One hand in the air for the big city
Street lights, big dreams, all looking pretty
No place in the world that can compare
Put your lighters in the air
Everybody say yeah, yeah yeahNew York, concrete jungle where dreams are made of
There’s nothing you can’t do
Now you’re in New York
These streets will make you feel brand new
Big lights will inspire you
Hear it for New York!

And yes tante Ali i do believe what you said

That

If I could make it here, I could make it anywhere.

πŸ™‚

IMG_7918

IMG_0587

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

8 thoughts on “Once Upon a Time in New York

  1. Hai Angky! Aku baru kenal dan ubek2 blog kamu sekitar sebulanan ini. Dan, omaygaattt, sukaaaakkk bgt dgn cara kamu bercerita! Semoga hidup kamu bahagiaaaaaa ya Angky. Kunantikan personal stories yg selalu indah dari kamu πŸ˜€

    Like

    1. Hi mba nurul rahma, waaahh makasih bangettt sudah mampir dan baca blog ini. Bersyukur banget kalo mbak suka bacanyaaaa. Aku jadi makin rajin nulis mbaak. Btw salam kenal yaa semoga kita bisa berteman :)))

      Like

Leave a Reply to sari novita Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: