Terdampar di Australia dengan Working Holiday Visa (Part 1)

Dari kemarin saya cuap-cuap tentang pengalaman WHV saya di Ausi tanpa pernah menjelaskan gimana awal mula saya terdampar di negara kanguru kayak sekarang. Sebagai blogger yang sedang merintis karrier nya yang menginspirasi jutaan manusia di muka bumi, saya akan membantu para pembaca yang budiman untuk lebih mengenal saya dan pilihan-pilihan impulsive yang saya buat dulu. Hingga bisa menjadi inspiring woman 2020 seperti saat ini. (Amin YA ALLAH).

Yes I am am getting crazy karena kelamaan di karantina. So humor me and let’s just pretend that I’m famous and you want to know about me. Oke so here we gooooo (Maapin kebanyakan gula semasa karantina suer)

Bhaiklah.

Di postingan ini akan saya beberkan seluber-lubernya tertang why and how semua perjalanan per WHV an ini bermula.

#diminum dulu boba nya coba, panjang soanya

Here it goes.

Empat tahun yang lalu ketika umur saya baru 24 tahun, lagi lucu lucunya, saya mendaftarkan diri ke dirjen immigrasi untuk mengikuti program Working Holiday di Australia.

Apa itu working holiday visa?

Sesuai namanya, visa ini dibuat untuk tujuan pertukaran budaya sebenernya. Yang punya visa WHV(begitu sebutannya) bisa tinggal dan bekerja di Ausi selama 1 tahun untuk berlibur sekaligus bekerja. Main sama kanguru sambil menghasilkan dollar. Nikmat beb.

Bisa juga dapat visa tahun kedua dengan melakukan 88 hari regional work. Eh bisa juga dapet tahun ke tiga baru-baru ini dengan melakukan regional work selama 6 bulan.

Lalu apa saja syaratnya?

Daripada saya sotoy mending saya kasih link disini dari embassy biar lebih jelas, cekidot gais

Checklist Working Holiday

Baik kembali ke sejarah saya empat tahun lalu mengapa bisa sampe daftar ni visa?

Pada tahun 2016 yang lagi rame sama Pilkada yang heboh dengan banyak orang-orang gampang terprofokasi dan turun ke jalan. Saya dengan keberuntungan saya yang tak kunjung habis, juga sedang tinggal di kota Jakarta yang sungguh tidak bersahabat kala itu.

Dengan bekerja sebagai pegawai Bank Jepang di jalan Sudirman. Sedang kiyis kiyisnya pake flat shoes, rok pendek dan blouse, emmm cucok meong pokoknya. Kata orang-orang di kampung, saya ini adalah ‘wanita carrier’ kebanggaan warga Purwokerto. MANTAF.

Pekerjaan dan kehidupan saya di Jakarta membuat Bapak dan Ibu bangga kepada anak gadisnya yang sudah mereka besarkan dengan susah payah. Kata mereka, akhirnya anak perempuan kami sudah menjadi ‘ORANG’.

Mungkin dulu sewaktu anaknya masih kuliah, anak perempuannya ini masih termasuk sejenis makhluk halus yang sedang ditempa untuk bisa menjadi ‘orang’

Aniwei who can blame them. Bukankah ini adalah harapan setiap orang tua jaman now. Lulus kuliah, kerja kantoran. Tinggal cariin jodoh, nikahin, suruh berkembang biak, lalu beli rumah di Bogor atau Bekasi, atau Pamulang, you name it lah. Lalu bereslah sudah tugas mereka membesarkan makhluk halus di rumahnya menjadi ‘Orang’.

Namun seperti pemuda pemudi kaum milenial yang hobi neko-neko lainnya, saya tidak merasa happy menjalani kehidupan di Jakarta sebagai pegawai Bank kebanggaan bangsa.

Saya justru merasa LOST.

I don’t belong here, it’s too much, i’m not happy here, i can’t take it anymore. Keluh saya sambil guling-guling di lante kosan di depan si Dea. Sepupu saya yang sudah lelah mengurus saudaranya yang hidupnya penuh dengan lika liku dan banyak drama.

Entah mengapa saya mencari segala alasan untuk keluar dari kota metropolitan ini karena merasa dikit lagi mau edan. Ditambah dengan ke chaosan Jakarta karena pemilihan kepala daerah saat itu.

OMG, People are actually crazy. (Sok surprise).

Apakah karena saya ini adalah anak kuampung jadi kaget tinggal di kota besar seperti Jakarta?

Ah nggak juga. Karena dulu saya sudah latihan tinggal di kota. Waktu kuliah di Depok sebelum pindah ke Jakarta. Sama-sama kota besar kan mereka berdua, Jakarta dan Depok. Pikiran saya kala itu. Kalaupun berbeda paling beti beti lah (beda tipis).

Tapi ternyata saya salah BESAR pemirsah!

Jakarta keras shay. Apa karena selama empat tahun tinggal di Depok, saya tidak sepenuhnya menghabiskan waktu di kota Depok yang terkenal dengan jalanan Margonda yang rame luar biasa. Tapi saya justru lebih banyak berada di hutan UI. Lari-lari tiap sore sambil memandangi danau dengan permukaan air yang hijau itu sambil mikir “Nyebur nggak ya” tiap dapat IP jelek dan harus lapor ke kakak saya.

Apakah terbiasa di kelilingi alam seperti di UI yang membuat saya akhirnya sulit beradaptasi dengan baik di Jakarta yang sesak. Nggak ada lagi hutan yang bisa saya kelilingi tiap sore, nggak ada lagi danau-danau yang bisa buat galau galauan alay sendirian. Yang ada cuma knalpot kopaja yang harus saya hirup tiap hari dan kamar kosan yang udah kayak penjara di sudut Benhil.

“Kayaknya gue quarter life crisis deh”. Kata saya sok berteori kepada teman-teman saya yang sudah capek nanggepin anak edan ini. Ketika kamu merasa nggak belong disitu tapi nggak tau lagi mau kemana, tapi nggak bisa balik ke rumah minta dinafkahi lagi sama Bapak karena kamu adalah wanita dewasa yang harus menanggung diri sendiri.

Usia saya 24 tahun kala itu, saya tidak mau kerja kantoran di Jakarta, saya pun nggak mau nikah sekarang seperti kawan-kawan lainnya (kalopun mau sama sopo wong jomblo terus ngono to), saya masih mau main-main dan jalan-jalan aja. Who doesn’t want that anyway kan? Tapi saya juga ingat kalau saya ini kismin nggak punya uang banyak untuk memenuhi mimpi main-main dan jalan-jalan saja tanpa memikirkan uang.

Lalu apa sisa pilihan yang dipunyai manusia seperti saya.

YAP BENAR. Saya cuma bisa GALAU di bawah kolong kasur dan menyalah-nyalahkan dunia. Kenapa ada orang seperti saya yang banyak mau, udah brisik, ngeyel banget lagi nggak mau disuruh diam dan bersyukur aja dikasih kerjaan enak di Jakarta lalu diam dan settle down.

Kala itu saya pikir mungkin ini adalah fase normal yang harus dilewati orang-orang ketika mereka berumur 24 tahun. Wajar kok kalo nggak betah di kerjaan pertama dan nggak tau mau ngapain.

Ini adalah hal yang wajar ki, kamu nggak gila, hang in there. Nanti juga sembuh. (Hmmm maksud Anda, saya penyakitan? Penyakit mental)

Tapi ketika saya lihat sekeliling, temen-temen saya baik-baik saja. Nggak kayak saya yang ngoceh terus. Mereka biasa saja menjalani hidupnya, lurus-lurus aja, seneng-seneng aja kerja kantoran di Jakarta, bahkan sudah banyak yang memutuskan untuk menikah, dan mulai nyicil rumah di Bintaro.

Sementara saya malah lagi sibuk banget ngumpulin receh di celengan ayam buat beli tiket promo ke Jepang.

Wait, what? Ini saya yang belum dewasa atau mereka yang terlalu cepet dewasa? Saya yang edan apa mereka yang terlalu waras.

***

“Kenapa nggak betah di Jakarta si jadi pegawai Bank di perusahaan Internasyenel coba cerita dulu sini?” kata temen-teman ketika dengan penuh drama saya bilang,

“Gais kayaknya gue depresi deh” sambil berlinang air mata.

Kalo ditelusuri dari awal, saya nggak pernah punya cita-cita untuk menjadi pegawai Bank atau bekerja di perkantoran di Jakarta seperti orang-orang lainnya. Dan sok heboh merasa tersesat. Huft. Sebenarnya saya kayaknya cuma pura-pura kaget aja baru merasa lost sekarang, padahal udah dari dulu saya nggak tau mau jadi apa. Engingeng….

Dan bukankah ini adalah umur yang wajar untuk tidak mengetahui apa yang kita mau. Untuk mencoba dan membuat salah sebanyak mungkin dan belajar darinya. Mengikuti keingin tahuan kita. Not about what’s wrong or what’s right, but just do your best kan? (Ini menurut saya pribadi ya)

Satu-satunya hal yang saya tahu dari diri saya ini adalah saya mencintai berkelana. That’s it.

Jadi hal paling adil yang bisa saya berikan kepada diri saya sendiri ketika lulus kuliah adalah mencari pekerjaan yang berhubungan dengan jalan-jalan. (Contohnya jadi menantu Bakrie, atau asisten inces Syahrini maju mundur cantik gitu)

Terus kenapa dulu bisa bisanya daftar jadi pegawai Bank?

Jawabannya : Karena saya harus buru-buru cari kerja saat itu.

Why?

Karena saya harus membayar hutang kartu kredit milik kakak saya?

HUTANG? Anak baru lulus kuliah sudah berhutang? KOK BISYAAA???

“Iya soalnya dulu saya pakai kartu kredit Mamas buat beli tiket pesawat, kirain bakal di ikhlasin seperti dulu dulu ketika saya melakukan tipu daya minta dibeliin tiket konser pas kuliah. Taunya disuruh bayar nggak boleh minta bantuan Bapak Ibu karena sudah lulus dan menjadi wanita dewasa yang sudah seharusnya menanggung dirinya sendiri, hehe gitu” jelas saya panjang lebar menceritakan kebodohan saya pada kawan-kawan dengan wajah polos dan tak berdosa.  (Tambahan hehe dibelakang kalimat panjang penuh dosa itu diharapkan memberi efek imut yang membuat netijen memaklumi kebodohan para darah muda seperti saya yang kerap kali bertindak tanpa berfikir)

Tapi pada akhirnya tantangan kakak saya untuk membayar hutang itu saya terima dengan penuh semangat.

Challenge accepted! (Anaknya sok minta ditantang)

Jadi begitu saja saya mendaftar Bank Jepang di Jakarta yang beruntungnya diterima dengan cepat. Pekerjaan ini adalah pekerjaan pertama yang saya daftar dan diterima setelah saya pulang dari liburan ke Eropa nggak tau diri selama dua bulan abis lulus kuliah. (Eropa? What? Rite pasti Anda bingung kok bisa si Kismin ini nyasar sampe Eropa, ini ceritanya ada sendiri beb, mengenaskan sebenarnya tapi lain kali aja ya)

Tadinya saya mau stay di pekerjaan sebagai banker ini hanya sampai hutang kartu kredit lunas. Tapi seiring dengan menjalani tantangan dari kakak saya untuk membayar kartu kredit tanpa bantuan siapapun ini, saya juga mulai tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri yang bukan lagi makhluk halus di rumah Bapaknya. Tapi sudah menjadi ‘orang’ yang harus terus menghasilkan uang untuk bayar kosan dan makan sehari-hari demi bertahan hidup di dunia yang kejam ini.

Surprise..Surprise. Welcome to adulthood. It sucks!

***

Setelah dua tahun bekerja di Jakarta, di perusahaan yang katanya multinasional itu saya pun mulai merasa crazy. Seolah-olah setelah dua tahun ngerjain assessment nasabah saya baru tersadar “Wait, saya dimana, ini dokumen apa? Kenapa saya ada di sini? Kenapa saya merasa mulai edan? Mana suami saya si Brad Pitt?” Dan dengan impulsivenya saya berkata “This is not where i belong, i need to get out from here ASAP”

Kemudian seperti biasa ketika saya merasa nggak betah di suatu tempat. Pencarian kambing hitam dari permasalahan pun dimulai. Saya mulai menyalah-nyalahkan pekerjaan kantoran dengan ritme yang terlalu repetitif, menyalahkan umur saya yang belum matang untuk disuruh serius membangun hidup (yea rite, i felt like i was still 15), menyalahkan Jakarta dan jalanan berdebunya, menyalahkan orang-orang yang demo di HI. Pokoknya apa saja yang bisa menjadi sasaran kemarahan saya salah salahin. Bahkan patung pancoran yang menjulang tak berdosa itu saya maki maki waktu saya kehujanan sambil bersembunyi di bawah jas ujan babang ojol.

Begitu saja saya merasa ada yang nggak beres dengan hidup saya dan harus dibenahi.

Sejak kecil saya dan sohib TK saya si gendeng Hanum selalu penasaran rasanya hidup di luar negeri. Kami yang hobinya naik kereta ke Jogja waktu SMP berbekal peta dan basmala, senang sekali berkhayal ‘gimana ya rasanya tinggal di apartment kecil di sudut Amsterdam yang dingin terus ngobrol sama bule? Terus waktu belanja di Farmer’s Market nggak sengaja ketemu Brad Pitt, diajak nikah lalu happily ever after’
(Oh that beautiful times, when you have nothing to worry and you do believe in magic and have no idea how this ‘being an adult’ thing ruin your magical world)

Aniweiii,, pada usia 19 tahun akhirnya saya dan si Hanum ini memberanikan diri untuk traveling ke luar negeri berdua aja. Duo racun Purwokerto nekat pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Naik pesawat seharga 400 ribu pulang pergi ke Singapura dan Malaysia, setelah makan nasi sayur selama berbulan bulan dan jualan donat di kampus. Cerita selengkappnya bisa dibaca disini. Terong Balado dan KFC gratis di Malaysia

Sejak sukses menginjakan kaki di luar negeri dengan usaha dan peluh sendiri. Saat itu rasannya nggak ada hal yang bisa menghalangi kami dan mimpi tinggal di luar negeri untuk dinikahin Brad Pitt. Karena itu saat kuliah saya makin sering menantang diri ngumpulin uang, jualan pukis di kampus, jadi SPG di PRJ, demi jalan-jalan. Dari budget trip selama 3 hari hingga 2 bulan di luar negeri walaupun harus mengirit sepenuh hati dan numpang-numpang.

Walaupun sudah sukses pergi ke berbagai negara di Asia dan Eropa dengan upaya saya ngirit-ngirit. Tetap saja itu hanyalah liburan-liburan belaka. Bukan ‘tinggal di luar negeri’.

Dan sekarang bukannya tetap menghidupkan mimpi itu, saya justru stuck di Jakarta. Semua ini terjadi akibat saya harus menanggung kebodohan trip terakhir ke Amsterdam dan terjebak di zona nyaman yang tidak nyaman sama sekali ini. Berpikir seharusnya saya sedang mengusahakan mimpi tinggal di luar negeri bukannya ngerjain document-document yang nggak pernah saya ngerti ini.

Lalu ada dimana partner bermimpi saya si anak cangcorang Hanum ketika saya sedang merasa stuck di Jakarta?

Dia sudah duluan mewujudkan mimpi kami berdua hidup di luar negeri dengan tinggal di Denmark beb. Iya DENMARK! Negara paling bahagia di dunia, sementara sahabatnya lagi nangis guling-guling di Jakarta.

Tegaaaaaaaaaaaaaa kamu num!!!!

Hanum mendapat beasiswa kuliah di Copenhagen University pada tahun 2016. Sebagai sahabat yang supportive dan memiliki mimpi yang sama, tentu saja saya IRI BERAT!

Walaupun kata Ibu saya dan Ibu Hanum, saya pun sudah sukses di Jakarta jadi pegawai dan hidup settle.

“Right on track hon, right on track” Kata persatuan mamak-mamak dengan anak banyak mau ini menyemangati.

“NO MOMMM NOOOOO, you don’t understand!” Keluh saya mengulang memori waktu TK, ketika Hanum dapat permen lolipop saya cuma dapet permen kaki. “It’s not the sammeeeeeee” Saya juga mau kayak Hanum tinggal di luar negeri.  And i will not stop being this grumpy little girl sampai saya tau rasanya tinggal di luar negeri. Titik! #Poormommy.

But again, saya bukan Atta Gledek yang kalo mau tinggal atau sekula ke luar negeri tinggal cus. Saya cuma nak kampung yang harus jualan donut keliling asrama tiap mau beli tiket pesawat. Dan sepertinya kekeras kepalaan saya untuk mencicipi tinggal di luar negeri ini harus saya realisasikan dengan kerja keras seperti yang Hanum lakukan.

Pada akhir tahun 2016, ketika saya menjadikan Hanum sasaran empuk untuk digalaui permasalahan tanpa batas kenapa saya harus keluar dari Jakarta. Hanum pun menyemangati saya untuk mengikuti jejaknya mendaftar beasiswa LPDP. Ketika saya curhat udah mau loncat balkon kosan saking stressnya sama diri saya yang rewel nggak mau lagi tinggal di Jakarta.

“Ayo ki daftar LPDP aja, kita kuliah di Eropa bareng!” katanya semangat. Saya yang merasa memiliki otak secerdas Maudy Ayundya dan suara semerdu Raisa ini pun menyambut baik sarannya. Karena di titik itu saya merasa satu-satunya jalan untuk keluar dari kenestapaan di Jakarta adalah mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Dan mengembalikan semangat hidup yang terlah sirna. Eak

Begitu saja saya mendaftar beasiswa LPDP untuk bersekolah  di Wageningen University Belanda untuk mendapat Master program Leisure, Tourism and Environment. Saya dan Hanum mengenal seorang yang juga sudah berkuliah di kampus ini, dan kami pun yang sama-sama belum pernah ke Wageningen tapi sudah rajin browsing di gugel images kota kecil ini jadi kesetanan bareng untuk setidaknya pernah merasakan tinggal di sana sekali dalam hidup. Desa kecil impian kami berdua. Tinggal di luar negeri di tempat sedamai Wageningen adalah cita-cita si duo racun.

Sebagai sahabat dari TK yang sering berbagi ayunan dulu, mengetahui bahwa saya mendaftar Master di Wageningen, Hanum langsung saja mendaftar summer school di Wageningen University yang ditawarkan kampusnya di Denmark. Agar bisa kembali bersekolah bersama Maudy Ayundya sahabatnya dari TK. Kata dia “Yeay tahun depan kita bisa kuliah bareng di Belanda ki Asoy geboy”. Bisa duet maut di Belanda!

Sungguh optimis si cangcorang. Hal yang juga sungguh berbahaya bagi saya karena melambungkan harapan terbang setinggi monas. Chill num Chill.

Gambaran untuk kuliah bareng di Belanda dengan si Hanum kukuruyuk ini membuat saya kembali bergairah dengan hidup di Jakarta yang sudah terasa hampa. Dan karena bayangan akan bersekolah bersama Hanum di Belanda saya mendapat semangat hidup yang luar biasa yang entah darimana datangnya. Wohooo

Wait,, katanya mau cerita tentang sejarah Working Holiday kenapa jadi ngelantur ke Wageningen?

Sabar beb, bentar lagi we’ll get there, okey?

#seruput lagi bobanya, kalo abis, pesen lagi via Ojol karena you need to stay at home. Untuk menemanimu membaca part 2 yang besok akan saya tulis. HORE!

To be continued.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “Terdampar di Australia dengan Working Holiday Visa (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: