Upaya untuk tetap waras

Akhir-akhir ini rasanya sulit sekali menjaga mood untuk tetap bagus. Berita-berita di tv membuat semakin pesimis dengan keadaan. Kabar-kabar teman-teman yang mulai dirumahkan dan tak memiliki simpanan pun membuat saya semakin putus asa. Hingga rasa rindu akan kehidupan di Sydney yang tak bisa dibendung lagi.

Rindu akan diri saya yang selalu berjalan-jalan sendirian di tengah kota Sydney yang ramai, rindu mampir di Woolies setiap pulang kerja untuk membeli satu buah mangga yang saya jejalkan ke tas untuk membuat smoothies di rumah, rindu lari keliling komplek dan memunguti bunga-bunga yang rontok di depan rumah tetangga sebelah, rindu berkelana dengan kereta untuk mencari coffe shop di ujung-ujung Sydney.

Seperti jutaan manusia lainnya di seluruh penjuru dunia: Saya rindu hidup normal kembali.

Namun entah kapan, keadaan dapat normal kembali.

Kemarin, entah mengapa, semua perasaan negative bergumul menjadi satu hingga membuat upaya saya untuk tetap positive sia-sia. Dengan tidur seharian penuh saya tadinya berharap dapat sedikit lari dari realistas dunia ini yang terasa semakin tak nyata. Tapi setiap kali bangun seluruh badan saya justru pegal nggak karuan. Lalu para pakar kesehatan mental berkata kalau hal ini normal dirasakan orang-orang di situasi sekarang ini.

Merasa putus asa justru dianggap sebagai hal yang normal.

Hidup semakin terasa seperti lelucon.

Tadi pagi saya dan teman saya, Indun saling berkirim pesan. Menanyakan kabar dan kesehatan mental masing-masing menghadapi masa-masa karantina ini.

Pada satu titik kami membahas hari ulang tahun kami yang akan datang dua minggu lagi. Hari ulang tahun yang hanya berbeda 2 hari saja.

Angky: Bentar lagi ultah kita ya bu?

Indun: Iya. Astaga Mak. 28

Angky : Iya, 28. Tapi aku sudah ndak terlalu banyak ekspektasi dengan hidup

Indun: Sama. Wis ra urusan. Urip-uripan gitu aja rasanya.

Iya di titik ini entah mengapa saya nggak lagi mau banyak berekspektasi dengan hidup. Mungkin bukan hanya karena urusan corona.

Ketika saya bertemu Indun 3 tahun yang lalu di Bali. Kami sering duduk di Indomaret Legian sambil minum es pucuk. Menyaksikan orang-orang lalu lalang masuk ke club club malam di kanak kiri kami.

Tak ada yang berjalan baik kala itu. Dari keadaan finansial yang mencekik, hubungan dengan keluarga yang buruk, relasi yang tak pernah berjalan dengan sehat, hingga keadaan mental yang amburadul.

Saat itu pun rasanya orang-orang seperti kami telah putus asa dan nggak berharap neko-neko dengan hidup yang nampaknya selalu mengecewakan ini.

Ekspektasi kami terhadap hidup saat kami berada di Bali pun tak besar. Ya hidup-hidupan saja. Menjalani hidup yang terasa seperti game of survival ini.

Tapi setidaknya saat itu banyak sekali teman-teman yang mengajari kami untuk mentertawakan hidup yang katanya lucu ini. Pergi ke pantai setiap akhir hari dan menenggelamkan seluruh kesedihan kami di depan langit Bali. Atau naik Gunung Batur tengah malam hanya untuk melihat sunrise.

Tak ada harapan yang berlebihan. Tak ada ekspektasi atau rencana untuk beberapa hari kedepan. Satu-satunya hal yang direncanakan hanyalah pantai mana yang akan kami pilih untuk mengakhiri hari ini.

Kehidupan seperti itu tentu saja tak banyak resiko kecewa. Kami tak takut kehilangan, karena kami tak memiliki banyak hal untuk direnggut. Tak ada relasi yang bisa hancur, karena tak ada relasi yang dimulai. Tak ada ketakutan untuk dijatuhkan mimpi, karena mimpi terbesar kami hanyalah menghabiskan sore dengan sunset. Hidup terasa sungguh ringan.

Namun saat ini hidup justru terasa sungguh berat. Walaupun saya memutuskan untuk tak banyak berekspektasi dengan hidup ini, tapi tetap saja, memiliki harapan sekecil keluar rumah tanpa rasa was was membuat saya terus saja kecewa. Kecewa lagi. dan lagi. lalu Putus asa.

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: