Terdampar di Australia dengan Working Holiday Visa (Part 2)

Teman-teman, gimana kabarnya selama masa karantina? Semoga sehat selalu ya baik secara fisik maupun mental.

Dari kemarin saya sebenarnya sedikit merasa putus asa dengan keadaan yang belum juga membaik. Tapi hari ini saya mencoba untuk sedikit memupuk semangat kembali untuk melanjutkan tulisan tentang sejarah terdampar di Australia dengan Working Holiday Visa.

***

Di postingan terakhir Terdampar di Australia dengan Working Holiday Visa (Part 1) saya menceritakan tentang keinginan saya untuk mendaftar beasiswa LPDP ke Belanda sebagai upaya untuk keluar dari krisis jati diri juga dari kota Jakarta.

Hanum sahabat saya yang saat itu sudah berangkat ke Denmark untuk memulai studinya di Copenhagen University mencoba membantu saya untuk menyiapkan seluruh persyaratan beasiswa LPDP. Dari memberikan rekomendasi tempat les IELTS, membuat essay hingga menulis motivation letter untuk kampus Wageningen University di Belanda.

Proses mengejar beasiswa ini membuat semangat saya yang sudah pudar digerus kegaduhan Jakarta dan pikiran saya sendiri, kembali membara. Tiba-tiba saya yang setiap bangun pagi marah-marah sendiri di kasur selama 15 menit sebelum berangkat kerja menjadi nggak punya waktu sama sekali untuk memaki-maki tembok tak berdosa di kamar saya.

Saat itu rasanya setiap detik berharga bagi saya karena tanggal pendaftaran beasiswa sudah semakin dekat. Sementara score IELTS saja saya belum punya. Berbicara mengenai IELTS, sejujurnya saya belum pernah mengikuti tes ini. Tes bahasa inggris yang saya tahu hanyalah tes TOEFL, itupun sudah beberapa tahun yang lalu.

Mendengar cerita Hanum yang mempersiapkan tes IELTS ini dengan matang di Pare untuk beberapa bulan. Membuat saya sedikit ciper. Karena selain tes ini baru untuk saya, saya pun nggak punya waktu banyak untuk mempersiapkan diri dan mendapatkan score 6.5 sebagai persyaratan. Sehingga saat itu juga, saya buru-buru mencari lembaga yang menyediakan pelatihan untuk tes IELTS di Jakarta.

Mengikuti rekomendasi Hanum saya mendaftarkan diri di lembaga IALF. Yang hewwwwwlooo ternyata mehong tshay. Untuk mengikuti course di lembaga ternama itu, saya ahrus merogoh kocek sebanyak 4.5 juta untuk persiapan IELTS selama 5 minggu penuh. Walaupun jadi miskin tiba-tiba dengan biaya yang warbiasah itu, tapi saya merasa harga yang saya bayar itu worth it, karena saya toh mendapat fasilitas untuk menggunakan perpustakannya 7 hari seminggu.

Yak begitu saja, si pegawai Bank yang udah nggak pernah belajar selama 1.5 tahun ini jadi kesetanan dengan persiapan mendapatkan beasiswa ini. Tiba-tiba anak yang suka marah-marah di kantor kalo disuruh baca satu lembar company profile menjadi anak yang rajin membaca menghabiskan berlembar-lembar contoh writing tanpa berkedip.

Dari pagi hingga sore saya akan bekerja di Sudirman,  jam 5 sore saya akan lari-lari cari ojek untuk menuju gedung IALF di Kuningan dan belajar hingga pukul 9 malam. Lalu pulang ke rumah untuk kembali belajar atau mulai menyiapkan essay dan persyaratan lainnya. Hingga weekend pun saya masih saja sibuk bolak balik ke perpustakaan untuk belajar IELTS. Bangga nggak sama saya? Anak yang dalam seminggu mengganti kegiatannya tidur di WC dan main pokemon di kantor menjadi belajar, belajar dan belajar.

Gini emang anaknya kalau sudah punya mimpi baru. Kesetanan shay!

Ketika bekerja di kantorpun saya akan menghabiskan jam makan siang di meja kerja sambil mengerjakan latihan soal atau mengerjakan PR yang diberikan di course. Karena kelelahan, saya sampai pernah tertidur begitu saja di atas tumpukan dokumen. Namun kantor saya tercinta yang lebih sering saya kecewakan ini, membiarkan saya tertidur selama satu jam penuh. Karena mereka tahu sejak mengejar-ngejar beasiswa ini saya jadi jarang tidur. Ketika saya bangun dari tidur siang itu saya cuma ditanya oleh atasan saya Mba Laila.

“Udah bangun lu ki, ngimpi apa lu?”

Setelah 5 minggu penuh belajar pagi, siang, sore, malem. Saya kemudian mengikuti tes IELTS di sebuah hotel di Juanda. Bayar lagi 2.7 juta shay, makin miskuin adek. Tapi gak papa, kalo kata Jojo, demi cita-cita apapun  kulakukan demi cita-cita.

Saat hasilnya keluar sebenarnya saya ketakutan untuk melihat score yang saya dapatkan karena entah mengapa saya nggak percaya diri. Kalau score saya nggak sampai 6.5, seluruh harapan saya untuk mendaftar beasiswa ini runtuh seketika. Harapan untuk keluar dari Jakarta dan bersekolah di Belanda pun akan hilang bersamanya. Dan untuk bisa melakukan tes lagi saya musti nunggu satu bulan, belum lagi untuk menunggu hasilnya. Hal itu tidak memungkinkan mengingat deadline beasiswa sudah semakin dekat. Jadi hasil tes ini adalah satu-satunya harapan saya sekarang untuk bisa lanjut ke tahap selanjutnya mendapat beasiswa ini.

Selama dua jam amplop hasil IETLS saya pegang, dan nggak sampai hati untuk saya buka karena ini kertas menentukan segala galanya. Sampai akhirnya temen kantor saya si Ebby gemas dan mengambil amplop itu dari tangan saya. Kemudian membuka sealnya tanpa beban sementara saya sudah membeku dan melotot di depannya.

“Astaga bernani-beraninya kamu, kembalikan amplop itu Rosalinda”

Teriak saya yang jantungnya hampir copot ngeliat dia ngelurain kertas hasil IELTS saya dari amplop.

“Ebby balikin buruan!” Kata saya masih belum siap melihat hasilnya.

“Aelah bentar, bentar”

Jarinya berputar putar di kertas itu. Sumpah pengin banget itu anak saya jitak nggak tau temenya udah mau kena serangan jantung di depannya.

“Eh ki kamu dapet score 7 ni”

Hati saya berhenti berdetak sekian detik. Melihat Ebby dengan tidak percaya dan mulut menganga. Jangan-jangan si kutukupret ini boong lagi. Main-main dia dengan masa depan saya. Saya masih saja berdiri membeku di depannya tanpa mengucapkan sepatah katapun sampai Ebby memutar kertas di tangannya dan disodorkan ke wajah saya.

“Nih 7 kan”

Hati saya mencelus. Di kertas yang saya bayar seharga handphone Samsung itu ada tulisan Overall score 7.

OMG!!! Scorenya melebihi target dan persayaratan beasiswa dan kampus. Astaga ini nyata nggak sih. YEEEEEEAAYYYYYYYYY……. Saya langsung joget cita citata di kantor.

Hard work never betray. You are AWESOME KI!!!!! Kata saya bangga kepada diri saya sendiri.

Dengan cepat saya memenuhi persyaratan lainnya. Dokumen-dokumen, essay, hingga medical check up yang lagi-lagi menguras kantong si miskin ini. But isoke. Tekad saya sudah bulat untuk mendaftar beasiswa ini. Jadi apapun akan saya pertaruhkan, termasuk jadi gelandangan tiba-tiba karena ternyata mahal juga ini persiapan beasiswa.

Semuanya sudah lengkap. Seluruh usaha sudah saya upayakan sepenuh hati. Here we go. Waktunya untuk mengupload semua document ke situs LPDP dengan hati yang dag dig dug.

Setelah proses administrasi ini selesai. Saya menghabiskan banyak waktu untuk istirahat. Karena ternyata lelah juga mengejar mimpi ini.

Teng teng, ketika saya lagi ngemil cireng sambil pura-pura kerja di kantor. Email yang ditunggu tunggu pun datang.

Email yang membawa berita baik.

Wieeee………

Saya lolos seleksi Administrasi dan dapat mengikuti proses wawancara, essay on the spot dan Leaderless Group Discussion di Kampus STAN Bintaro. Ingin rasanya menitikan air mata saking bangganya pada diri sendiri. Nggak sia-sia begadang berminggu minggu kemarin.

Woshhhh one step closer kiiii…..kata saya dalam hati.

Dengan baju batik andalan saya, saya datang mengikuti tes di Bintaro. Berharap segalanya akan baik-baik saja karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin beberapa bulan ini. Memasuki ruangan interview saya dihadapkan oleh 3 orang professor dari 3 univ ternama di Indonesia. Entah mengapa saya pengin pura-pura pingsan dan kabur aja. Tampang jenius ketiganya membuat lutut saya lemas. Saya yang tadinya datang dengan penuh percaya diri karena sudah mempersiapkan jawaban interview ini di rumah tiba-tiba ciper berat. Membuat lidah saya tak kuasa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang menusuk. Padahal sewaktu mengikuti tes LGD di hadapan banyak peserta lain saya bisa menjawab pertanyaan dengan penuh percaya diri. Ini kenapa….oh no…….whyyyyyyy…..

Dan seperti yang sudah saya duga mengingat hasil wawancara yang dipenuhi dengan tetesan keringat dan kalimat terbata-bata yang keluar dari mulut saya ini. Perjuangan saya beberapa bulan ini untuk mendapat beasiswa ini berakhir di sini. Saya tidak lolos tes wawancara. So sad gaiss. Bukan hanya mimpi saya untuk melanjutkan study master di Belanda hancur berantakan. Kegagalan ini juga berarti bahwa saya harus kembali menghadapi krisis jati diri di Jakarta dengan kegalauan tanpa tepi ini. Shittt!

Sakit hati shay.

Mana udah miskin lagi duit abis buat persiapan tes. WHY GOD WHY . I was sooo closeeeeee to get out from here.

Sebagai sahabat baik, Hanum mencoba menghibur saya. “Nanti daftar lagi ki ya pendaftaran berikutnya”

Saya cuma bisa diam. Daftar lagi katanya? Gagal sekali aja udah sakit hati gini, rasanya kayak diputusin Shawn Mendes. Coba lagi katanya. Nggak kuat Adek ditolak lagi. Tapi mana ngerti si Hanum ini, karena dia nggak tau rasanya gagal dan dia bahkan sudah mewujudkan cita-citanya. Dia nggak terjebak di Jakarta seperti saya.

“Ki mendingan kamu pakai hasil IELTS mu itu untuk daftar working holiday visa di Australia” katanya tiba-tiba di sebuah sambungan telefon.

“Apa emang working holiday Australia?”

“Visa untuk setahun di Ausi lumayan kan”

Ausi. Ngapain coba saya ke Ausi. Cuma buat mengobati sakit hati gegara ditolak beasiswa di Eropa po?  Ni anak gila apa? Saya kan maunya ke Wageningen, Belanda, buat belajar. Ngapain coba ke Australia. Nggak ada mimpi untuk ke negara kanguru ini sama sekali. Maunya sekula di YUROP nummm, ngerti nggak siiii.

“Hmmmm ngapain ke Australia si num?” jawab  saya mencoba untuk tenang.

“Nggak papa untuk pengalaman, siapa tau diterima, nanti selesai dari Australia kamu bisa daftar beasiswa lagi, pasti kalau tes IELTS lagi makin tinggi score mu karena udah tinggal di English speaking country gitu loh”

“Tapi kann…”

“Udah daftar aja ah”

“Oke oke” kata saya setuju pada Hanum hanya untuk membuatnya diam malam itu.

“Masukin datanya ke dirjen immigrasi ki”

“Iyaaah elaahhhh”

Begitu saja saya memasukan semua data ke dirjen immi untuk mendapatkan visa yang nggak tau apa ini. Karena Hanum pikir sayang kalau score IELTS saya itu nggak kepake, mengingat saya sudah keluar uang banyak dan telah melakukan perjuangan yang berdarah-darah untuk menapatkan score 7. Sementara untuk mendaftar visa ini hanya dibutuhkan score 4.5. Menurut Hanum adalah hal yang mubazir, kalo hasil les dan tes mahal yang saya lakukan kemarin nggak dipakai buat apa-apa.

Nah begitulah sejarah saya mendaftar visa working holiday ini. Karena Hanum berisik. Sekian.

Aniwei beberapa bulan setelah gagal beasiswa, saya kemudian resign dari kantor lalu pindah ke Bali. Mengubur mimpi untuk sekolah dan tinggal di luar negeri dalam-dalam dan mulai belajar untuk realistis. Sudahlah mungkin mimpi tinggal di luar negeri terlalu neko-neko, istirahat dulu dari kegilaan ini. Mendingan saya memulai hidup baru di pulau, dekat dengan alam. Yang penting nggak di Jakarta kan.

Just like that I dropped everything and moved to an island.

Saat itu lah saya memulai menulis blog ini. Ini postingan pertama saya menceritakan saat pertama kali resign dan memutuskan untuk mengambil jeda.

To the right direction

***

Tujuh bulan setelah saya memasukan data di dirjen immi, saya mendapat panggilan wawancara untuk mendapatkan SRPI (Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia) yang sebenarnya saya sendiri sudah lupa pernah mendaftar visa ini. Saat itu saya berada di Bali, menjalani hidup selow tanpa banyak ekspektasi dengan hidup. Sudah cape ngejar-ngejar mimpi. Di pulau dewata ini saya bekerja di start up dengan gaji yang jauh lebih kecil dari di Jakarta. Tapi pekerjaan saya cukup menantang dan membutuhkan kreatifitas. Jadi keadaan mental saya jauh lebih baik daripada di Jakarta dulu. Saya pun akhirnya berdamai dengan diri sendiri dan merasa cukup dengan yang saya miliki saat itu.

Karena ini kan yang saya mau, hidup yang tenang, dekat dengan alam.

Sewaktu mendapat panggilan wawancara SRPI untuk visa working holiday ini di Jakarta, sejujurnya saya nggak ingin mengurusnya. I was actually happy di Bali. I had everything i needed there. And i didn’t want more. It wasn’t perfect. But it was enough.

Nggak mau saya neko-neko lagi. Miskin nggak papa lah yang penting perasaan saya tenang.

“Ki tapi kan ini cita-citamu untuk keluar negeri” kata teman saya Emil di Bali yang lebih tahu tentang working holiday visa daripada saya, ketika saya menunjukan email dari dirjen immigrasi.

“Ya mil betul, tapi aku sudah happy di Bali he, pengin hidup selo aja lah”

“Ki kesempatan hanya datang sekali ki, ayo dong” katanya meyakinkan.

“Tapi aku ndak punya uang mil untuk ngurus ini itu, harus ada bukti keuangan 5000 AUD kan, uang darimana aku mil, lalu biaya visa, biaya medcheck, belum aku harus terbang ke Jakarta untuk wawancara, sudah lah ndak mampu aku afford itu semua”

“Ki, semuanya itu bisa diusahakan, ayo dong, kamu mau po hidup begini terus, di Bali enak tenang emang, tapi disini kamu akan terus hidup di lingkaran game of survival, gajimu kecil nggak bisa nabung”

Yah kehidupan saya di Bali walaupun bahagia tapi saya nggak punya banyak uang, Gaji saya pas pasan untuk makan dan bayar kosan. Bukan rahasia lagi beberapa perusahaan di Bali membayar pegawainya underpaid. Kalau kata sahabat saya Emil, hidup kami di sini sebatas untuk mempertahankan hidup. Gimana mau nabung, kalau uang selalu habis cuma buat makan. Sementara katanya kalau kerja di Ausi, jasa dihargai mahal. Saya bisa save up dan keluar dari game of survival ini, plus saya bisa punya pengalaman baru dan bisa mewujudkan cita-cita tinggal di luar negeri.

“Ki dicoba ya. Kamu bisa pulang ke Bali kapanpun yang kamu mau, tapi please diurus ya visa ini, ini kesempatan emas” Kata Emil meyakinkan karena menurutnya kuota untuk visa ini sangat sedikit.

“Iya mil”

Begitu saja saya mengikuti segala persyaratan untuk mendapat visa working holiday di Australia yang hidup saya di Bali semakin mengenaskan. Karena ternyata proses mengurusnya lebih MEHONG daripada mengurus beasiswa LPDP.

Tapi walaupun prosesnya berdarah-darah saya tetap melakukan segala upaya untuk mendapatkan visa ini. Dari meminjam uang Ibu, hingga pindah ke kosan Emil karena nggak mampu lagi bayar kosan di Bali. Uang gaji saya hanya lewat di rekening karena  habis untuk biaya visa dan medcheck. Belum lagi saya harus membeli tiket paling murah ke Sydney dan menyewa kamar disana. Bangkrut TSAY!

Jadi sebenernya alasan terdamparnya saya di Ausi ini adalah karena dua sohib saya si Hanum dan Emil yang rewel dan nggak pernah lelah menyemangati temannya yang banyak mau ini tapi gampang depresi menghadapi kegagalan.

Tanpa sahabat-sahabat saya yang suportive ini mungkin saya nggak akan pernah tau rasanya jadi petani di Queensland, atau rasanya jadi tukang ikan di Sydney. Nggak pernah belajar untuk keluar dari game of survival dan mulai mengelolah finansial dan emosi dengan baik.

Dan benar kata Emil, saya bisa kembali ke Bali kapanpun yang saya mau. Bahkan saya bisa menghabiskan berapa bulan di rumah kedua saya ini untuk mengobati rindu akan hidup yang selo. Dengan sunset sunsetnya. Dan dengan keadaan finasial yang lebih baik.

Turned out saya pun menikmati kehidupan di Australia dan mendapat banyak cerita di sini. Negara yang nggak pernah saya lirik dulu ini karena di otak saya hanya ada Eropa dan Amerika, negara yang so kewl gitu loh. Tapi ternyata Australia menjadi rumah yang nyaman selama dua tahun ini dan juga untuk dua tahun kedepan. Bahkan siapa yang tahu Sydney mungkin saja akan menjadi rumah saya untuk seterusnya.

Dengan memberanikan diri merantau ke Australia dengan working holiday visa hidup saya justru sudah sedikit terarah dan saya nggak merasa teralalu lost seperti ketika saya berada di Jakarta dulu. Semua karena saya punya dua teman paling bijak seperti Hanum dan Emil.

Jadi di postingan ini, saya secara pribadi ingin berterimakasih kepada sahabat-sahabat saya Hanum dan Emil. Tanpa kalian, saya nggak akan seberani ini mengambil keputusan-keputusan yang membuat perubahan besar di hidup saya seperti sekarang ini.

You guys are a big part of my adventure in Australia.

I lope you gais so much. Suerrr.

Muach

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: