Menemukan rumah di Bali

Tiga tahun yang lalu, sebelum saya pindah ke Australia menggunakan Working Holiday Visa. Saya sempat tinggal di Bali selama empat bulan. Empat bulan yang penuh dengan pelajaran berharga untuk mentertawakan hidup.

***

September 2017

Sudah sekitar tiga bulan saya memutuskan untuk keluar dari Jakarta dan pindah ke Bali. Setelah sempat menganggur selama empat bulan penuh karena terlalu banyak memilih pekerjaan, saya akhirnya diterima di sebuah perusahaan start up yang memiliki cabang di Bali.

Perusahaan kecil yang didirikan oleh tiga anak muda ini baru saja meluncurkan sebuah aplikasi untuk mengakses tempat-tempat kesehatan dan olahraga di Jakarta dan Bali. Sekarang bisinis mereka justru sudah di expand ke ranah pariwisata.

Pekerjaan ini adalah job ideal yang selama ini saya cari. Di Bali, mobile, tanpa jam kerja, sebagai assistant marketing manager saya dibebaskan untuk membuat bisnis plan saya sendiri. Pegawai di Bali hanya ada tiga orang; IT, marketing manager, dan saya assistant marketing manager.

Saya tidak harus duduk di depan komputer selama delapan jam di kantor. Karena kami bahkan nggak punya kantor di Bali. Seluruh kegiatan meeting kami lakukan di cafe cafe di daerah Seminyak untuk membuat marketing plan penjualan product. Setelah itu kami akan mengeksekusi marketing plan tersebut.

Biasanya kami akan berkeliling hotel, restaurant, coworking space, hingga tempat fitness untuk bertemu managernya dan menawarkan kerjasama. Kalau sedang tidak mengunjungi client, saya biasanya akan membuat report di Starbucks Kuta sambil menunggu Emil, kawan saya yang bekerja sebagai barista menyelesaikan shiftnya sambil minta jatah es kopi.

Nggak perlu bangun pagi lari lari ke mesin absen, nggak ada kantor, hopping cafe di Seminyak untuk meeting, mengerjakan report sambil menyeruput ice latte sambil menunggu sunset di Kuta, bebas menggunakan kaos oblong dan sandal jepit setiap hari.

I know what you think gais.

I finally got my dream job kan? IRI KAN ANDA. Mana suaranya yang lagi macet macetan di Karet?

Tapi tunggu dulu pemirsah. Nggak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau terlalu sempurna mungkin anda salah buka blog. Bukan blog Angky Ridayana, melainkan blog Nia Ramadani Bakrie

Betewe despite segala kebebasan dan keasyikan yang membuat temen-temen saya di Jakarta iri setengah mati tiap liat postingan saya. Karena ketika mereka semua lagi sakit punggung ngurus dokumen nasabah yang nggak kelar kelar pada jam 11 siang, saya suka iseng posting foto leptop dan es kopi di Milu Canggu pake caption “Afternoon meeting with a view” biar makin bergetar hati para haters. (Emang jahara anaknya)

Jangan sedih gais itu cuma pencitraan agar dianggap bahagia. Sebenarnya banyak juga kisah sedih di hari minggu gegara pekerjaan ini.

Tidak memiliki jam kerja yang pasti, membuat saya sebenarnya bekerja selama 24 jam sehari. Walaupun yaa betul saya bisa main main di pantai sambil kerja, tapi customer dam merchant bisa menelfon saya kapanpun mereka mau. Dari pagi buta hingga tengah malam untuk menanyakan tentang voucher. Karena saya satu-satunya contact person yang bisa dihubungi.

Belum lagi masalah gaji yang underpaid yang tidak sebanding dengan beban kerja. Ketika sign contract untuk pekerjaan ini, saya sudah hopeless untuk mendapatkan pekerjaan di luar Jakarta. Kala itu saya sudah berada di titik tak mau lagi kerja sebagai pegawai Bank atau menerima pekerjaan lainnya yang tak sesuai dengan karakter saya. Apalagi ada urgency untuk meninggalkan Jakarta secepatnya untuk tetap waras.

Karena itu ketika saya mendapat tawaran pekerjaan yang berlokasi di Bali saya langsung semangat untuk bilang Yes i’ll do it. Apalagi waktu bosnya menjelaskan job desk yang menantang saya untuk terus berkembang. Saya langsung bilang iya tanpa ada keinginan untuk menego gaji yang ditawarkan.

I just signed it right away.

Namun ketika saya sudah diterbangkan ke Bali dan mulai bekerja. Saya baru sadar betapa gaji yang saya terima tidak bisa memenuhi biaya hidup disana. Tak ada pula fasilitas yang diberikan untuk menunjang pekerjaan saya.

Bos saya di Jakarta tahu betul bahwa pekerjaan ini mengharuskan saya untuk mobile bertemu pegawai lainnya dan juga customer. Tapi saya tidak diberi fasilitas kendaraan. Sehingga saya harus menggunakan transportasi umum atau untuk menyewa motor yang saya bayar dengan uang pribadi. Ada uang bensin tapi tak cukup untuk sewa motor satu bulan.

Belum lagi kami tak memiliki kantor dengan fasilitas internet. Padahal koneksi internet adalah hal paling penting yang dibutuhkan pekerjaan ini. Karena itu kami harus selalu mencari cafe dengan wifi yang memakan banyak biaya. Saya heran dulu kenapa nggak disewain coworking space biar pegawainya nggak jatuh miskin kebanyakan beli kopi cuma buat dapet wifi. Gaji pas pasan yang diberikan selalu habis dengan cepat untuk membayar kosan, makan, transportasi dan biaya cari wifi. Trust me saya anaknya nggak suka neko neko belanja macem-macem. Makanan favorit juga sayuran warteg. Hidup saya jauh dari kata boros. Jadi kalau saya bilang gaji saya cepat habis dalam sebulan ini artinya habis untuk kebutuhan pokok bukan buat hura hura.

Tapi saat itu saya sedang semangat semangatnya karena mendapat pekerjaan baru di Bali. Walaupun dengan uang pas pasan, bagi saya hidup di Bali dengan bekerja di perusahaan ini terasa jauh lebih masuk akal daripada bekerja di Bank di Jakarta.

Karena meskipun gajinya kecil, ada banyak kebebasan yang diberikan pekerjaan ini. Seperti kebebasan menentukan jam kerja, kebebasan memilih tempat kerja, kebebasan membuat marketing plan sendiri. Satu satunya kebebasan yang tak saya miliki adalah kebebasan finansial. Who does anyway kan.

Walaupun kadang stress karena nggak punya duit tapi hal-hal lainnya di Bali yang tidak bersifat materi membuat saya lebih bahagia.

Saya bisa video call Ebby kawan saya di kantor di Bank pas saya lagi di pantai.

“Hei bit lagi apa?”

“Kerja lah”

“Sama dong” sambil membalik kamera saya memperlihatkan pemandangan Seminyak pagi itu. Lalu saya matikan telefonnya. Sebel nggak punya temen kayak saya.

Awal-awal ketika bekerja di perusahaan ini walaupun saya harus mengirit sepenuh hati tapi saya si senang senang aja. Karena toh saya masih punya sisa tabungan dari pekerjaan lama di Jakarta. Kehidupan saya tidak terlalu mengenaskan. Masih bisalah hura-hura dikit. Makanya saya tidak terlalu worry dengan gaji yang kecil.

Tapi keadaan finansial saya tidak lagi baik-baik saja ketika saya memutuskan untuk mengikuti saran Emil  untuk mengurus working holiday visa di Australia.

Disitulah perjuangan hidup saya di Bali yang sesungguhnya di mulai.

Satu bulan sebelumnya, Emil datang ke kosan saya di Soputan untuk mengajak lihat sunset bareng di Kuta.

“Kenapa ki” katanya ketika melihat temannya ini duduk di tepi kasur dengan pandangan kosong

“Mil”

“Ya”

“Kamu kalo punya temen gelandangan malu ndak?”

“Hah?”

“Aku sudah ndak punya uang buat bayar kosan bulan ini”

“Ya Allah, mesake tenan koe cuk. Hayolah cepet beresin barangmu ki, ayo tinggal di kamarku aja sementara”

Iya uang tabungan dan gaji saya sudah habis-habisan untuk proses WHV ini. Dari bolak balik ke Jakarta untuk interview, membayar medical check up, hingga biaya visa. Belum lagi saya harus mulai menabung untuk membeli tiket pesawat ke Sydney dan uang bond dan rent untuk tempat tinggal yang sudah di urus oleh kawan saya. Karena rencananya kami akan berangkat bulan November ke Oz.

Semua uang yang saya keluarkan untuk WHV membuat saya jatuh misqueen.

Emil yang tinggal di kamar kosan di lantai dua di jalan Imam Bonjol memboyong kawannya yang sudah jadi gelandangan ini untuk tinggal bersamanya sementara. Rumah kosannya hanya berjarak lima menit saja dari kosan lama saya yang tidak bisa saya bayar di Gunung Soputan. Sambil menarik koper ke dalam kamarnya, saya merasa menjadi perempuan termiskin sekaligus terkaya sedunia karena memiliki teman sebaik Emil.

Seorang perempuan berambut hitam pekat dengan kulit putih pucat memandang saya dari dalam kamar Emil.

“Eh lupa bilang aku ki, ini Mona, teman kuliahku di Jogja dari Kalimantan. Dia kemarin baru aja kerampokan dan dipecat dari kantornya, jadi sementara tinggal di sini juga. Nggak papa kan kita sempit-sempitan di sini?” Kata Emil minta ijin untuk menampung teman lainnya di kamarnya sendiri kepada saya gelandangan yang dipungutnya di jalan.

Mona juga baru saja pindah ke Bali sebulan yang lalu. Naik bus dari Jogja, dengan sisa uang yang dikumpulkannya semasa kuliah. Uang yang hanya cukup untuk beli tiket bus dan sewa kosan bulan pertama. Karena cita-citanya selepas kuliah hanyalah pindah dan bekerja di Bali, ndak ada pikiran sama sekali untuk merantau ke Jakarta. Beruntungnya, sesampainya di Bali, perempuan ini langsung mendapat pekerjaan di NGO di daerah Kuta.

Sebulan kemudian, pada hari pembayaran gaji pertamanya, seluruh ATM BCA tidak bisa dipakai di seluruh Bali. Mona yang harus hari itu harus membayar uang kosannya, request ke bosnya untuk membayarkan gajinya secara cash. Tanpa babibu bosnya pun setuju. Tapi bukan hanya gaji yang diberikannya kepada Mona, bosnya juga menitipkan dokumen yang harus Mona pelajari di rumah untuk dipresentasikan besok.

Tapi emang sial nasib Mona, di perjalanan pulang ke kosannya dari kantor naik gojek, tas Mona di jambret sama begal. Seluruh uang gaji dan dokumen dari bosnya yang ia simpan di tas itu, hilang seketika. Esoknya, ia melaporkan kejadian naas itu ke kantornya, siapa tau bosnya kasian dan kasih uang sodakoh buat Mona. Tapi bukannya iba pada nasib karyawannya, bosnya justru memecat Mona karena telah menghilangkan dokumen kantor.

“Tau ndak, tadinya aku mau nangis loh pas dirampok dan ndak punya uang lagi buat bayar kosan dan biaya hidup”

“Terus?”

“Terus aku dipecat besoknya. Ya aku langsung ngekek ketawa tawa”

“Lah kok malah ketawa Mon”

“Lah lucu to. Aku pikir iki hidup kok lawak tenan. Kok bisa tragis ngono” ceritanya suatu hari ketika kami semua sedang menikmati sunset di Kuta.

“Mau kamu sudah kerja keras, jadi orang baik, mencintai sepenuh hari, pasti ada aja kejadian tragis yang bikin kamu mikir, lucu kamu hidup, ndak ngerti lagi saya”

“Yo tenan og, urip iki cen lawak tok, ngambang sek ae” (Ya memang. Hidup ini cuma bercandaan, ngambang aja dulu). Moto hidup Mona yang dibagikan kepada kawan-kawan barunya.

Bukan hanya Mona, di kamar Emil juga sudah ada Indun. Teman kuliah Mona dan Emil dari Jogja, yang memang tinggal bersama Emil sebulan ini karena ia pun baru memulai hidup barunya di Bali dan nggak memiliki banyak uang. Iya, Emil, menampung tiga perempuan yang nekat ini, yang lari dari kotanya masing-masing untuk belajar hidup mandiri. Di pulau jauh dari rumahnya. Pulau yang mereka semua percaya menawarkan kehidupan yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk ketigannya.

Kadang Adel perempuan asal Flores kawan kami yang tinggal di Uluwatu dan Kevin akan menginap di kosan kami. Ketika Adel atau Kevin datang salah satu dari kami harus rela tidur di lantai berganti gantian karena kasur sudah ndak muat.

Sementara kami harus sempit-sempitan tinggal di kamar Emil, di kamar kosan sebelah ada tiga anjing yang di sewa kan satu kamar khusus oleh pemiliknya. Iya kamar khusus untuk anjing-anjing yang lucu. Indun kadang nyeletuk.

“Itu satu kamar sebelah buat tiga anjing, lah iki kita sekamar berempat, iki sing kewan sopo sebenere sih?” (Ini yang hewan siapa sebenernya?)

***

Merasa sama-sama ndak punya uang dan sedang sama-sama berjuang, saya dan teman-teman baru saya jadi merasa senasib dan sepenanggungan. Entah mengapa kami merasa setiap hal yang kami miliki harus dibagi kepada seluruh penghuni kamar ini. Membuat kami belajar untuk berbagi, saling merawat dan menjaga.

Seperti setiap saya bangun pagi. Hal pertama yang saya lihat adalah Mona yang lagi jongkok memasak nasi untuk kami semua. Ia kemudian akan menarik saya dari kasur untuk pergi ke warteg depan gang untuk membeli sayur dan gorengan yang akan dimakan ramai-ramai.

“Bu iki berapa harganya?” tanya Mona menunjuk tumisan usus di etalase.

“Tiga ribu mbok”

“Kalo itu” tunjuknya lagi ke sayuran di sebelahnya

“Dua ribu”

“Kalo ini?”

“Seribu”

“Ya yang iki aja buk, yang seribu, kasih kuah yang banyak”

Kemiskinan membuat urat malu kami putus.

Ketika Emil pulang malam-malam selesai shift biasanya ia membawa banyak roti dari Starbucks untuk kami makan bersama-sama. Roti-roti yang sudah mendekati tanggal expired yang bisa ia bawa pulang. Ia akan masuk ke dalam kamar sambil berteriak “Papa pulang….. bawa roti buat kalian” yang langsung saja kami serbu karena kelaparan.

Kalau saya baru saja gajian dan bisa beli lauk mewah favorit kami di warteg jalan mataram. Biasanya saya membeli ayam sambel hijau seharga 6000 rupiah. Beli dua ayam untuk dimakan ramai-ramai.

Dua bungkus nasi jinggo seharga lima ribu, lumpia, atau sate lilit yang dimakan ramai-ramai sambil melihat matahari tenggelam pun rasanya menjadi sungguh nikmat di lidah saya. Atau seporsi sate kambing yang dibeli Emil ketika kami naik motor selama dua jam ke danau Bedugul yang dimakan berdua. Karena kami hanya mampu beli satu porsi dengan dua nasi. Nasi yang akhirnya disiram kuah gule sama Bapak penjualnya karena kasian. Rasanya luar biasa nikmat.

***

Waktu tinggal di Jakarta, saya kira saya hanya akan merasa benar-benar bahagia ketika saya bisa mengumpulkan uang untuk liburan ke luar negeri, atau setidaknya mengambil cuti untuk keluar dari Jakarta. Membeli tiket tiket kebahagiaan sementara untuk escape dari rutinitas di Jakarta yang membuat saya merasa jenuh dan kosong. Bahkan hal yang selalu ada di pikiriran saya dulu adalah; saya tidak akan merasa sepenuhnya bahagia jika mimpi saya untuk tinggal dan sekolah di luar negeri belum terwujud. Karena itu kegagalan mendapat beasiswa LPDP menghantam saya keras.

Saya pun pernah mengira kalau saya belum memiliki kekasih atau calon suami seperti kawan-kawan saya, saya tidak akan merasa utuh dan senang. Ada banyak sekali hal-hal yang terus saya kejar karena orang bilang jika saya berhasil mendapatkannya, saya akan merasa bahagia. Tapi biasanya ketika saya sudah memenuhi target saya, kebahagiaan itu hanyalah sesaat, kemudian saya butuh hal lain untuk dikejar. Sehingga pada satu titik mengejar kebahagiaan terasa melelahkan dan kata bahagia itu sendiri semakin lama semakin terasa absurd. Padahal ada yang bilang bahwa bahagia itu sederhana kok.

Ketika saya tinggal di Bali saya akhirnya mengerti arti kalimat tersebut. Arti kebahagiaan sederhana yang sesungguhnya.

Bahagia memang sederhana. Sesederhana mengendarai motor bobrok Michele ke Ubud untuk mencari sate lilit pinggir jalan, atau bangun subuh-subuh untuk melihat sunrise di Sanur, atau mendengar Indun dan Emil jamming dengan gitarnya di kamar setiap malam, atau rutinitas accoustic night di Pison cafe Seminyak, atau hanya berkumpul di belakang discovery mall setiap akhir hari untuk melihat matahari terbenam. Atau melihat tingkah Mona setiap pagi melumuri sekujur tubuhnya dengan ampas kopi bekas yang dibawa Emil dari Starbucks sebagai upaya untuk tetap glowing.

“Biarpun miskin kita harus tetap merawat diri cuk” katanya berkotbah kepada kami semua dengan wajah cemongnya.

Ini toh rasanya bahagia, kata saya dalam hati.

***

Ada cerita tentang Heli. Motor kharisma tua milik Michele kawan Emil yang bunyinya seperti heli kopter yang sudah mau rontok. Motor ini kami sewa seharga dua ratus ribu sebulan selama di Bali. Motor yang kalo di setater harus pake tenaga dalam dan harus di engkol sampe betis kekar. Saya, Mona dan Indun sering naik motor ini barengan karena kami hanya mampu menyewa satu motor untuk dipakai bertiga. Mona biasanya akan kami suruh untuk duduk paling belakang karena dia paling kurus. Setiap melewati perempatan yang ada polisinya saya dan Indun akan menurunkan Mona dengan paksa.

“Turun cuk cepet, ono polisi iku”

Sambil marah-marah Mona akan cepat-cepat melipir ke pinggiran sambil bersembunyi dari polisi.

“Juancukkkk koe kabeh, ngopo aku teruss si, cen asuww kalian” (Juancuk kalian, kenapa saya terus, dasar anjing kalian) Iya benar. Kalo lagi marah mulut Mona memang kayak cabe-cabean.

Mas mas yang jalan di depannya biasanya komentar

“Mbak mbak e ayu ayu yo, tapi gemblung he” (Mbak nya catik-cantik ya tapi gila he)

 

 

Si heli adalah motor sewaan bobrok yang paling kami sayangi. Walaupun sering membakar emosi karena sulit di setater, tapi justru si heli ini yang berjasa membawa kami bertiga melihat puluhan pantai-pantai cantik di Bali.

Karena umur Heli yang sudah uzur. Motor ini menjadi motor paling bijak yang ada di muka bumi. Motor yang selalu mengingatkan kami untuk tetap rendah diri, kalau kami sedang sedikit lupa diri.

Ada teman kantor saya di Bank dulu si Aci yang datang ke Bali dari Jakarta untuk berlibur dan mengunjungi saya. Ia dan suaminya menginap di resort LV8 Canggu. Suatu sore ia mengajak saya dan Indun untuk nongkrong di beach club di hotel tempatnya menginap. Hal yang nggak pernah kami lakukan karena nggak mampu bayar minuman yang harganya setara dengan 10 bungkus nasi jinggo itu.

Hiburan paling dekat dengan nongkrong di beach club selama saya di Bali ; adalah naik heli sama Indun bawa sate lilit untuk nongkrong di pantai Berawa persis di depan Finns beach club biar bisa denger musiknya. Itupun kadang pas baru duduk di pasir pantai dan sudah siap untuk nongkrong sambil makan sate lilit yang harganya seribuan satu tusuk, seperti tak direstui alam, hujan turun begitu derasnya membasahi tidak hanya baju kami, tapi sate sate kami juga ikut basah. Memang kaum wong susah seperti kami ini nggak dikasih kesempatan untuk mencicipi hidup kaum elite samsek. Rite, we got it.

Waktu Aci ngundang kami ke resort tempat dia nginap, saya dan Indun tentu saja semangat untuk pergi kesana. Karena akhirnya kami bisa tau gimana si rasanya nongki di beach club itu. Kayak di instastory orang-orang itu loh kalo ke Bali. Biar kalo ada temen yang komen “Enak banget ki tinggal di Bali, bisa ke beach club tiap hari” akhirnya bisa saya jawab. Karena selama ini kalo ada yang komen gitu saya cuma bisa nyengir sambil tengsin.

Diantar oleh si heli kesayangan saya dan Indun berangkat ke Canggu. Pake baju cakepan dikit biar nggak malu maluin. Sampai disana kami sempat bingung dimana harus parkir si heli kukukuk. Muter muter ndak karuan di depan satpam yang mulai curiga. Mungkin yang ada di pikiran satpam satpam itu adalah ; Ini mau jualan lumpia apa gimana ni cecurut dua biji. Sampai akhirnya saya bilang ke Indun.

“We raopo parkir sebelah Lamborgini Rapi Ahmad iku, rak bakalan minder heli iki”

Sambil melewati satpam yang makin curiga ketika kami meminta ijin masuk.

“Misi bli mau ke beach club, parkir motor dimana ya?”

Satpam yang curigaan itu meminta kami membuka jok si Heli. Mungkin ia takut kalau kami menyembunyikan bom atau benda tajam di dalamnya.

“Hoalah pak pak, beli ayam di warteg aja gak mampu kami iki loh, piye beli benda tajam ke Ace Hardware, pak pak sampeyan iki lucu”

Dengan penuh perjuangan melewati berbagai rintangan akhirnya heli sukses melakukan kunjungan perdananya ke tempat rang kaya nginep. Anteng sebelah-sebelahan sama mobil alphard Syahrini.

L “Jan kemana-mana. Tunggu disitu ya nak, mama mau renang-renang cantik dulu di resort mumpung gratis” Kata kami kepada heli meninggalkannya seorang diri di parkiran.

Setelah sekian purnama tinggal di Pulau Dewata kami akhirnya bisa duduk duduk syantik di pool beach club yang menghadap ke laut ini. Aci dan suaminya pun mentraktir kami pizza dan minuman untuk kami. Tau tamu-tamunya kere dan norak.

Dengan hati riang gembira saya dan Indun memandang sunset dengan manja layaknya anak-anak gaul Jakarta yang sering menghabiskan weekend di Bali cuma buat nongki di beach club. Setelah sekian lama tinggal di Bali akhirnya saya dan Indun punya foto yang beradab yang bisa membuat para haters iri. Bahagianya.

Tidak lupa saya izin untuk numpang mandi di kamar mandi hotel Aci yang besarnya sama persis kayak kamar tidur kami di imam bonjol. Udah lama nggak mandi pake sabun dan shampo yang wangi pake air anget. Biasanya di kosan kami berempat sabun dan sampo cepat sekali habisnya. Karena kami selalu beli botol kecil biar hemat beb. Udah botol kecil patungan lagi belinya bertiga.

Saya, Mona dan Indun paling hobi ke Alfamart cari sabun dan sampo barengan. Bertiga jongkok di depan rak sabun sambil membandingkan wangi dan harganya.

“Podo iku berate cuk, kok ya esih ditimbang-timbang ngono, dasar kismin” (sama aja itu beratnya, kok ya masih saja ditimbang gitu, dasar miskin) celetuk Indun saat melihat Mona menimbang nimbang dua botol sabun berukuran sama di tangannya.

Bahkan kadang kalau sampo kami habis total. Mona akan lari ke warung beli satu saset sampo kecil harga seribuan.

“Mon sabun juga gak ada loh”

“Raopo cuk, iki sampone tak bikin busa yang banyak di rambut terus busanya tak turunin ke badan buat sabunan juga, SING PENTING ONO BUSANE CUK”

(Gapapa cuk, ini samponya aku buat busa yang banyaj di rambut terus busanya aku turunin untuk sabunan juga, yang penting ada busanya cuk)

Karena capek dengan kegiatan rebutan sabun dan sampo tiap mau mandi di kosan. Kesempatan mandi di resort mevvah ini tak akan saya sia siakan.

Setelah perut kenyang, badan harum dan hati senang saya dan Indun sudah siap kembali ke kehidupan nyata naik heli yang sudah menunggu kami dengan sabar di parkiran. Bersenandung riang gembira di jalan menuju kosan kami di Imam Bonjol. Seolah untuk sesaat kami lupa akan kemelaratan kemelaratan yang sudah menunggu di pintu kosan.

Baru saja kami menjalankan heli beberapa meter dari resort. Di tengah jalanan sepi canggu yang gelap, ban belakang si heli tiba-tiba kempes ndak karuan. Posisi kami saat itu di jalanan sepi kanan kiri sawah, ndak ada lampu ndak ada tambal ban. Waktu minta tolong satpam-satpam villa mewah di sepanjang jalan kami malah disuruh dorong motornya sendiri malem-malem sampe daerah Seminyak karena kawasan elit gitu nggak ada tambal ban.

“Nice. Waktu yang tepat untuk kempes ban mu heli. Good job. Marah tah kamu ndak diajak nongkrong tadi?” Kata saya kepada si heli.

“Bajigur, baru hidup enak sebentar, kok ya langsung diingatkan dengan kemiskinan lagi koyok ngene iki piye to? Kata Indun marah-marah.

Surprise waktu pura pura kaya Anda sudah expired.

***

Mona, Indun, Emil, Adel, dan Kevin. Kawan-kawan yang saya temukan di Bali ini membuat saya merasa memiliki rumah baru. Rumah yang penuh dengan gelak tawa dan rasa saling menerima yang tinggi. Mau datang dari latar belakang apa saja tak pernah jadi masalah di rumah kami.

Yang lucu adalah, kami semua datang dari keluarga broken home. Kami tahu betul rasanya kehilangan. Terutama kehilangan arti sebuah rumah dan keluarga. Sehingga tanpa sadar kami semua mencoba menghadirkan rumah dengan rasa nyaman yang telah hilang itu di kamar kecil Emil. Menyediakan keluarga yang telah hilang. Keluarga sederhana yang saling menerima dan saling mencintai. Tanpa syarat apapun.

Kawan kawan saya ini adalah perempuan perempuan hebat yang berani memulai lagi. Yang tak lagi mencoba untuk bahagia untuk orang lain. Yang tak lagi menangisi keadaan. Yang berani melepaskan dan menertawakan hidup.

Focus on what’s work for us and let go of what’s not. Mungkin itu adalah moto kami berenam.

Manusia-manusia yang memutuskan untuk memberi jarak dengan kehidupan lamanya ini adalah guru terbaik saya. Yang mengajari saya untuk melihat segala permasalah secara lebih realistis. Dan dengan semua jalan yang pernah mereka lalui mereka belajar untuk tidak menghakimi orang dan menerima manusia lain dengan utuh apapun pilihannya.

Pelajaran menertawakan kehidupan yang saya dapatkan di Bali adalah pedoman saya dalam hidup. Bukan mengecilkan masalah, namun terkadang mentertawakan tragedi adalah cara satu-satunya untuk menjaga kewarasan ketika sulitnya hidup susah untuk dinalar.

Sampai saat ini kalau saya merasa sedang tertekan dengan suatu permasalah, mereka adalah orang-orang pertama yang akan saya hubungi.

 

Seperti sebuah percakapan dengan Mona baru-baru ini setelah membahas kegiatan karantina masing-masing.

“Mon berat tenan idup iki rasanya gara-gara corona, mulai stress aku iki”

“Halah, opo to koe, jangan sok surprise gitu lah”

“Ancuk koe”

“Loh bener to. Hidup iki cen sulit, ngopo baru sadar koe, hidupmu di Bali loh juga susah, saiki susah meneh ya jangan sok kaget gitu lah, BIASA AE” (Lah bener kan, hidup ini emang sulit, kenapa baru sadar kamu, hidupmu di Bali itu loh juga susah, sekarang sulit lagi ya jangan sok kaget gitu, BIASA AJA”

Katanya tanpa beban.

Sementara beberapa bulan lalu saya ceritanya lagi curhat tentang lelaki yang mendekati saya kepada Indun di sambungan telfon. Perempuan Jogja ini paling jago kalo disuruh kasih saran dengan sarkasme nya. Sebagai sesama wanita psyco yang pengin dicintai seutuhnya tapi naksirnya sama bad boy terus. Saran saran dari Indun adalah saran paling masuk akal buat saya terkait urusan relasi.

“Bu, aku dekat sama laki laki ini, anaknya ganteng dan pintar, tapi aku takut disakiti he”

“HALAH, opo to koe. Wes biasa to disakiti, ojo kagetan, kalo kamu dibuat seneng baru kamu bingung”

“Oiya bener juga, gak pernah disenengin he sama laki laki”

“Iyo aku juga, kemarin aku diajak ke mall sama pacarku terus aku dibelikan baju. Aku malah bingung. Loh mas aku kok dicintai nggak disakiti iki piye”

“Cen koe psyco”

Mungkin dulu kami pun nggak punya patokan dan contoh yang baik akan relasi jadi rusak gini pandangannya. Poor girls.

Aniwei

Mengapa saya merasa Bali adalah rumah saya? Alasannya obviously karena saya menemukan keluarga saya disini. Orang orang yang saling mencintai dan menerima apa adanya. Manusia-manusia yang melihat hidup secara realistis. Disamping itu mereka ini juga orang-orang paling pintar yang pernah saya temui. Dengan wawasan yang sungguh luas yang nyaman untuk diajak berdiskusi tentang apa saja. Dari isu lingkungan, kesetaraan gender, politik, relasi, buku, musik, hingga memberi nasihat hidup penuh dengan sarkasme yang menenangkan qolbu.

Hanya di rumah baru kami ini, kami merasa tidak dituntut ini itu. Kami bebas menentukan pilihan kami yang kadang absurd tanpa perlu merasa dihakimi. Tidak heran orang-orang ‘aneh’ seperti kami ini sulit fit di sistem kehidupan penuh tuntutan masyarakat yang kurang masuk akal di tempat asal kami dulu. Orang-orang seperti kami akan selalu mencari ruang yang mengapresiasi keberadaan, pilihannya, dan suara-suara kami.

“Lagipula ditempat tempat itu terlalu banyak tuntutan. Tuntutan-tuntutan yang entah untuk hidup dan kebahagiaan siapa?” kata Indun suatu hari saat kami membahas tentang mengapa kami semua menganggap Bali adalah tempat yang nyaman untuk membangun rumah.

Karena hanya di pulau ini, kami tak pernah merasa dituntut untuk menjadi siapa-siapa kecuali diri kami sendiri untuk kemudian merasa dicintai dan dihargai.

Bertemu dengan perempuan-perempuan yang berani memulai hidup baru di tempat yang asing dan menakutkan ini membuat saya merasa tak sendiri. Perempuan-perempuan yang hanya ingin menertawakan lelucon-lelucon yang diberikan hidupnya ini.

Orang-orang seperti kami ini sekarang ini mungkin tak memiliki privilage untuk membeli makanan enak atau membeli baju-baju cantik seperti ketika saya bekerja di Jakarta. Tapi setidaknya kami bisa selalu memilih untuk berada di pantai pada akhir hari ketika matahari mulai terbenam di langit Bali. Bersama orang orang yang mencintai dan menerima satu sama lain apa adanya.

Sebuah harta yang tak ternilai harganya.

 

Got up on the wrong side of life today, yeah
Crashed the car, and I’m gonna be really late
My phone doesn’t work ’cause it’s out of range
Looks like it’s just one of those kind of days
You can’t kick me down; I’m already on the ground
No, you can’t ’cause you couldn’t catch me anyhow
Blue skies but the sun isn’t coming out, no
Today, it’s like I’m under a heavy cloud
And I feel so alive
I can’t help myself
Don’t you realize?

 

***

20170910_17370120170730_064215

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

6 thoughts on “Menemukan rumah di Bali

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: