Sunrise di Gunung Batur (Bali, Indonesia)

Ada cerita

Tentang sebuah pendakian

Lima perempuan, dua liter air, dan sepotong roti.

Satu tujuan.

Puncak Batur.

***

Sebuah warung nasi jinggo pinggir jalan di daerah Kuta menjadi tempat lima perempuan ini mencari pengganjal perut setiap malam. Nasi jinggo seharga 5000 satu bungkus selalu cukup untuk perut kami yang memang sudah jarang diisi makanan dalam porsi yang banyak.

Tiba-tiba Emil, manusia penuh ide-ide impulsive untuk berekreasi di Bali berceletuk.

“Gais sunrisean yuk”

Hiburan kami sebagai warga perantau Bali yang kismin memang nggak neko-neko. Liat sunset tiap sore di pantai Batu Belig sambil ngemil lumpia aja udah bahagia. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, di Bali, kebahagiaan saya sederhana. Namun walaupun sederhana, kawan saya si emil kadang mulai kreative megusulkan ide-ide lain untuk mencari hiburan selain liat sunset. Kalau si Emil tahu kalau besok dapet day off pasti temen-temennya satu rumah diculik satu-satu buat nemenin dia keliling Bali.

Seperti pada suatu hari dia ngotot ngajak saya untuk nyetir motor shogun tuanya ke Bedugul. Padahal saya sudah bilang kalau saya harus bekerja mengurus platform. Siang itu kami berkendara selama dua jam ke Bedugul cuma buat nongkrong di lantai dua Indomaret yang berada persis di depan danau. Lalu kembali mempersilakan saya untuk bekerja dengan leptop sambil memandang danau Beratan. Rite.

Kadang pada pagi buta dia bakalan bangunin kami, gelandangan-gelandangan yang di tampung di kosannya satu-satu. “Bangun-bangun, ayo sunrisean di Sanur”. Saya yang masih setengah tidur dipaksa ngegendong gitar sambil ngebonceng di jok belakang. Sambil nunggu sunrise, Adel bakalan bernyanyi dengan gitarnya untuk menghibur gelandangan-gelandangan yang masih ngantuk ini dengan lagu lagu hits andalannya. Atau kadang dia juga membawa kami ke Ubud untuk nyobain kopi yang katanya paling enak sedunia. Banyak  penculikan-penculikan lainnya yang dia lakukan ke tempat-tempat absurd di Bali.

20170730_063726DSC02016

Kali ini entah kemana lagi ia mengajak kami untuk sunrisan.

“Sunrise dimana lagi mil?”

“Gunung Batur”

Semua mata tertuju pada mulut Emil yang dengan santui ngunyah kerupuk di tangannya. Ini sudah jam 11 malam. Dan sebenarnya kami semua sudah siap untuk pulang ke kosan setelah hari yang panjang dengan perut kenyang malam itu. Untuk kembali tidur berhimpit himpitan.

“Maksudnya? Liat sunrise di puncak gunung?”

“Iya dong, tinggal nyetir ke Ubud, terus ke Kintamani, abis itu mendaki Batur deh”

Masih belum ada yang berkomentar dengan idenya yang terdengar fun dan simple ini. Sesimple temen teman saya di Jakarta kalo ngajak nonton di Kokas. “Iya dong tinggal cari ojek depan kantor, nyebrang jembatan kokas, abis itu nonton deh”

Saya hanya punya satu pengalaman mendaki seumur hidup. Itupun hanya pendakian pendek ke Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda beberapa bulan lalu. Walaupun kata Emil, Batur ini nggak terlalu tinggi, palingan juga 4 jam mendaki sampai puncak karena dia sendiri sudah pernah mendaki gunung ini sebanyak 3 kali. Tapi tetep aja sebuah pendakian harus direncakan dengan matang apalagi untuk newbie kayak saya.

“Ayolah gais, it will be fun!” katanya santai sambil menyeruput es tehnya.

Hanya orang-orang kurang waras yang menyetujui rencana mendaki gunung sejam sebelum pendakian. Dan hanya perempuan-perempuan yang kelewat miskin yang nggak punya hiburan lainnya untuk sejenak melupakan kemelaratan akut ini yang langsung berdiri dan lari ke kosan untuk mengambil jaket, sepatu, dan senter. Sepotong roti dan dua liter air.

Walaupun ngeri ngeri sedep dengan kurangnya pengalaman mendaki. Tapi saya juga merasa tertantang dengan ajakan Emil ini. Kapan lagi yakan naik Batur sama geng misqueen ini.

Kata Indun di kaki gunung Batur ada sebuah tempat berendam air panas namanya Toyadevasha. Biasanya para pendaki yang baru turun dari Batur datang ke tempat itu untuk berendam air panas sambil menikmati pemandangan Danau Kintamani dan Gunung Agung. Kedengaranya menarik kan. Habis cape-cape manjat gunung, turun turun berendam air panas, berasa dipijat tsay. Harga tiketnya Rp 60.000. Tapi tentu saja hal itu hanyalah additional happiness yang harus kami lupakan. Karena kami berlima nggak mampu bayar harga tiketnya.

“Ayolah let’s go to Batur!” teriak saya anak yang nggak ngerti apa-apa tentang manjat gunung ini, sambil menggendong backpack yang berisi botol besar air dan sepotong roti.

Emil sebagai pendaki paling berpengalaman dan pencetus ide tentu saja menjadi orang yang paling sibuk mempersiapkan bekal. Dari memasukan kopi saset, sebungkus indomie dan kompor gunung ke dalam tas kecilnya.

Dengan perlengkapan seadannya, saya, Adel, Indun, Emil, dan Mona siap menakhlukan Batur malam ini. Diantara kami nggak ada yang punya sepatu ataupun sandal gunung kecuali Emil. Jadi semua pake sepatu yang ada di rak. Mona justru pakai sepatu sneakers milik saya karena ndak punya sepatu lain yang layak untuk manjat gunung. Saya sendiri malah pake celana Jeans karena nggak bisa menemukan celana legging di kamar kami.

“Wes ra urusan sing penting manjat!” (Dah nggak urusan yang penting naik)” kata Indun.

Dengan semangat 45 kami berlima memacu tiga motor dari kosan kami di Imam Bonjol  ke arah Ubud. Tepat pada jam 12 malam. Nggak lupa kami patungan duit untuk mengisi full tangki tiga motor ini. Cuma kalau mau naik gunung kami ikhlas motor diisi full bensinnya. Biasanya paling ngisi 5000 buat keliling Kuta. Emil mengendarai motor shogun tuanya sendirian. Di jok belakang Fitz R Adel da Mona yang duduk anteng, sementara saya memboncengi Indun dengan Vario sewaan milik teman saya yang sudah kembali ke Jawa. Si Kharisma Heli kami tinggal di rumah.

Berkendara tengah malam naik motor gini dari daerah Kuta ke Ubud ternyata asik juga. Sepi dan udaranya lebih sejuk daripada pada siang hari. Sampai di Ubud perjalanan kami belum menemui hambatan yang berarti. Saya pun yang tadinya ngantuk berat malah merasa segeran. Bisa nyanyi nyanyi nggak karuan di motor.

Cobaan pertama dari pendakian ini baru kami rasakan ketika kami melanjutkan perjalanan dari Ubud ke Kintamani pada pukul 1 pagi. Jalanan di kaki gunung mulai ditutupi oleh kabut yang tebal yang membuat jarak pandang kami hanya sejauh 1 meter ke depan. Saya sampai harus bertukar posisi dengan Indun karena sudah ndak bisa lagi melihat jalanan di depan. Jalanan yang terlalu gelap dan pekat dengan kabut. Semakin dekat ke area Danau Kintamani, udara di sekitar kami pun semakin dingin. Dengan jaket jaket lumayan tebal yang melekat di tubuh kami ini, kami semua masih menggigil kedinginan.

Tiba-tiba ditengah kegelapan malam dan pekatnya kabut, mesin motor Vario yang dikendarai saya dan Indun mati. Mungkin motor matic memang ndak kuat dijalanan yang nanjak seperti ini. Saya dan Indun cepat cepat turun dari motor dan menuntunnya ke pinggir jalan. Tidak ada rumah penduduk yang ada di area itu. Yang ada hanyalah sawah-sawah gelap dan satu gubuk kecil di dekatnya. Waktu menunjukan pukul 1.30 malam. Suasana yang tadinya ceria tiba-tiba menjadi mistis. Perjalanan ke Batur untuk liat sunrise di Puncak Batur berubah menjadi perjalanan jurit malam di gubuk berhantu di Kintamani.

“Medeni iki kalo ada yang lewat” (Serem ini ya kalau ada yang lewat). Kata Adel dengan suara lirih.

“Asuw ojo guyon setan Del” (Jangan bercandaan setan Del)

Gais bukan waktu yang tepat untuk bercanda tentang syaiton. Nggak lucu kan kalo kita kesurupan leak di Kintamani. Karena suwer itu tempat rasanya kayak sarang uka uka. Meskipun kayaknya setan setan itu juga males merasuki tubuh-tubuh kurang gizi yang sering kelaparan ini.

Agar cepat hengkang dari tempat serem ini. Satu persatu dari kami mencoba untuk meng engkol motor Vario dengan tenaga dalamnya. Tapi sia-sia, motor kami tetap tidak bergeming sama sekali. Menolak untuk mengantar saya dan Indun ke Gunung Batur.

Nice bukannya melihat sunrise sekarang kami malah terjebak di tengah sawah subuh subuh.

“Haduh, piye iki terusan” tanya Indun sambil merapatkan jaketnya.

“Iya mil piye iki, balik opo terus?” tanya saya kepada kepala suku.

“Dah gini aja. Kamu bonceng aku Ndun, Angky bonceng bertiga sama Adel dan Mona, Vario kita titip saja di gubuk ini, besok pagi pas kita turun gunung, kita ambil”

Yak benar, nyatanya tak ada yang bisa menghentikan kami untuk melihat sunrise di Batur pagi itu. Tidak perlengkapan mendaki seadanya, tidak motor bobrok, tidak kabut pekat Kintamani, tidak kuntilanak tengah sawah, tidak juga peristiwa gaib motor mogok tengah malam ini.

Entah mengapa saran Emil pagi itu untuk meninggalkan motor sewaan di gubuk sepi di Kintamani masuk akal bagi saya. Saran yang kalo diutarakan untuk warga Jakarta terdengar sungguh bodoh. Nggak usah di pinggir jalan, di parkir di garasi rumah aja suka rahib. Apalagi ni motor adalah motor sewaan bukan motor saya sendiri.

Tapi saat itu tak ada kekhawatiran sama sekali kalau motor kami bakalan ilang besok paginya. Atau ketakutan di satu titik motor tua Adel nggak akan kuat ngangkut saya, Adel dan Mona menyusuri jalanan yang menanjak.

Piye meneh, habisnya ndak ada hal lain yang bisa kami pikirkan hari itu. Satu-satunya isi kepala kami malam itu hanyalah besok subuh kami harus bertemu sunrise di Puncak Batur.

Dengan keyakinan penuh, saya pun setuju untuk meninggalkan Vario di gubuk gelap itu dan meneruskan perjalanan dengan membonceng Adel dan Mona. Walaupun Adel harus ngeden tarik gas penuh sepanjang jalan, karena semua jalan tanjankan. Pada pukul 2 malam kami berlima sudah berada di kaki Gunung Batur dan memarkir Shogun Emil dan Fitz R Adel. Membuktikan keperkasaan motor Fitz R Adel yang walau dipake goncengan tiga manusia nggak turun mesin di tengah jalan yang nanjak. Di kaki gunung sudah ramai orang-orang yang berkumpul dengan kelompok-kelompoknya dan tourguidenya masing-masing. Dengan backpack yang saya yakin berisi lebih banyak dari sekedar satu potong roti.

Sebenarnya setiap pendaki ke Gunung Batur diwajibkan untuk menyewa tour guide agar nggak nyasar di atas. Makanya kalian kalian yang mau mendaki dianjurkan untuk cari tourguide, banyak kok paket-paket yang dijual dengan harga yang terjangkau. Tapi kami adalah pengecualian. Gimana mau sewa tour guide, bisa patungan isi bensin full aja udah Alhamdulilah. Pokoknya kami pasrahkan nyawa kami yang nggak seberapa ini ke Emil yang sudah berkali kali manjat Batur.

“We are readyyyyy”

Awal-awal mendaki menuju pos pertama, saya merasa bisa menakhlukan pendakian ini dengan mudah. Nggak terlalu sulit dan menguras tenaga juga ternyata naik Batur, menurut saya yang masih songong kala itu. Tapi Yassalam dari pos pertama ke pos kedua, walaupun menurut Emil dia sudah memilih rute paling mudah. Jalanan terjal ini membuat saya sedikit ngos-ngosan. Nanjak, gelap, banyak batu yang bikin kepleset. Udah gitu saya yang kegiatan olahraga favoritnya adalah rebahan di pantai Kuta ini jadi gampang engap disuruh jalan nanjak berjam-jam.

Emil sebagai orang yang paling berpengalaman manjat gunung ini berjalan paling belakang memastikan rombongannya aman di depannya. Mona berjalan setengah berlari di barisan paling depan. Kami sebenarnya sudah memperingatkan Mona untuk mengatur ritmenya agar tidak mudah kelelahan, tapi sepertinya dia nggak mau dengar. Adel mengikuti Mona dibelakangnya. Diikuti Indun kemudian saya.

Kami harus berhenti beberapa kali, karena kami butuh istirahat dan karena Indun juga mulai merasa nggak enak badan. Mungkin ia kedinginan tadi malam waktu mengendarai motor di Kintamani. Beberapa kali kami musti berhenti dan tiduran di atas batu besar, sambil saya memijat mijat Indun biar merasa enakan. Sementara kaki Mona mulai lecet karena pakai sneakers saya yang kegedean. Sehingga saya dan Mona bolak balik harus bertukar sepatu, karena saya pakai sepatu olahraga yang lebih nyaman dari sneakers. Memang kaki saya juga ikutan lecet, tapi setidaknya kaki kami berdua jadi nggak lecet terlalu parah.

Di tengah jalan ketika saya mulai kehabisan nafas saya menyadari bahwa mendaki gunung ternyata tidak semudah itu Alejandro. Ada moment-moment dimana saya ingin menyerah dan turun balik aja karena sumpah engap banget rasanya. Baju saya pun sudah basah karena keringat. Tapi ketika saya melihat teman-teman yang masih saja semangat walaupun kecapaian, sakit dan lecet lecet kakinya, saya nggak jadi nyerah.

Lagipula ada sunrise indah yang menunggu kami di puncak. Karena itu saya memberi kekuatan pada diri saya sendiri untuk meletakan satu kaki di depan kakinya dan terus berjalan. Mengerahkan kekuatan si miskin yang pengin cari hiburan.

Waktu menunjukan pukul 4.30 pagi. Sebentar lagi matahari terbit. Tapi kami masih jauh dari puncak. Saya mulai merasa khawatir. Gimana kalau kami nggak berhasil sampai di puncak tepat waktu untuk melihat sunrise? Apakah ini berarti pendakian kami gagal? Bukankah melihat sunrise di puncak adalah satu satunya tujuan kami berada disini?

DSC02347

Puncak Batur yang megah sudah nampak dari tempat kami beristirahat, tapi kami setidaknya membutuhkan 30 menit lagi untuk sampai kesana. Sementara Indun harus kembali beristirahat karena tubuhnya semakin lemas.

Sedikit lagi sampai. Tapi kami malah masih disini, dan pagi akan segera datang. Dari tempat kami berdiri kami bisa melihat para pendaki yang tadi berjalan bersama dari bawah sudah berkumpul. Semua orang sudah berada di puncak kecuali kami. Bagaimana ini. Tiba-tiba saya mulai merasa resah. Semua kekhawatiran akan kegagalan mulai menghantui saya. Saya merasa tertinggal oleh orang-orang yang sudah dulu berada puncak.

Wait, hold on, what is this, sejak kapan saya jadi terobsesi untuk berada di puncak Batur?

Hingga sebuah suara memecah lamunan saya.

“Gais gais, lihat tuh” kata Emil tiba-tiba.

Kami semua melihat ke arah yang ditunjuknya.

Sebuah pemandangan matahari terbit menghentikan langkah kami. Matahari yang muncul dari sela pohon di depan kami memandang kami berlima. Warna orange kemerahan menyinari wajah kami yang kelelahan dan penuh debu. Tubuh yang penuh keringat ini kami rebahkan di tanah. Wajah kami bermadikan cahaya matahari yang baru saja terbit pagi itu. Tak ada satupun dari kami yang bersuara. Lima pasang mata itu hanya fokus memandang ke satu arah.

DSC02419

“Sunrise seindah ini nggak cuma bisa diliat dari puncak kok gais” kata Emil sambil minum air dari botol.

Anak itu walaupun nyebelin tapi kata-katanya selalu benar. Pagi itu adalah kali pertama saya melihat sunrise seindah ini. Bersama kawan-kawan baik saya di Batur. Belum pernah saya merasa sedamai ini dalam hidup saya. Perasaan ringan, tanpa beban sama sekali.

Tadinya saya pikir bahwa kami sudah gagal karena kami terlambat sampai ke puncak untuk melihat sunrise. Tapi saya tahu betul perasaan yang saya rasakan ini bukanlah kegagalan.

Tiba-tiba segalanya menjadi make sense bagi saya. Selama ini saya selalu ribut pengin sampe puncak secepatnya. Saya pikir keindahan sunrise cuma bisa saya nikmati ketika saya sampai di puncak. Saya sibuk iri dengan orang-orang yang sudah sampai puncak duluan. Saya berjalan secepat mungkin, agar nggak ketinggalan. Saya nggak ngerti kenapa keindahan sunrise bukan lagi tujuan saya kala itu. Yang saya mau hanya sampai ke puncak Batur.

Hal ini mengingatkan saya dengan bagaimana saya memperlakukan hidup selama ini. Saya selalu fokus untuk berlari secepat mungkin ke puncak. Ke tempat orang-orang berada. Tanpa tahu caranya untuk menikmati perjalanan atau mengapresiasi keadaan di sekitar saya. Hingga kegagalan mencapai puncak tepat waktu membuat saya khawatir dan takut untuk mengecewakan diri sendiri.

Saya teringat nasihat teman saya ketika saya baru saja lulus kuliah dan merasa galau dengan pekerjaan. “Ki life is not a race”

Now it all make sense.

DSC02455

Dalam hidup saya tidak benar-benar berhenti untuk melihat keindahan di sekitar atau belajar untuk menikmati perjalanan. Namun hari ini kawan kawan saya mengajarkan untuk berhenti sejenak dan menyadari satu fakta bahwa tak hanya di puncak sunrise dan pemandangan indah bisa saya nikmati. Tapi di sepanjang perjalanan menuju puncak itu sendiri.

Bukan hanya perasaan bahagia menikmati keindahan sunrise yang harus saya rasakan. Tapi juga segala perasaan yang menyertainya. Bangga, takut, lelah, dan bimbang.

Bukan hanya pemandangan sunrise pagi itu yang membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk terkadang berhenti sejenak dalam hidup untuk mengapresiasi keindahan di sekitar saya. Tapi juga pemandangan kawan-kawan saya yang kelaparan dan berebut satu batang roti dan minuman yang sudah mau abis.

Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Untuk memasak mie instan dan minum kopi. Bagi saya setelah hari itu, nggak ada indomie dan kopi yang lebih enak lagi dari yang pernah saya makan di puncak Batur. Indomie satu biji yang direbutkan oleh lima orang ini.

Pengalaman saya mendaki gunung Batur ini mengajari saya banyak hal. Dari pelajaran untuk berani menghadapi hambatan-hambatan yang datang di perjalanan ke puncak hingga pelajaran untuk berhenti sejenak dan mengapresiasi keindahan di sekitar saya.

Saya semakin percaya bahwa mendaki gunung adalah salah satu cara terbaik untuk lebih mengenal diri sendiri.

***

Ketika kami turun gunung. Sekarang giliran Mona yang sakit dan muntah-muntah karena terlalu banyak lari saat naik gunung.

“Lah to, angel dikandani si koe Mon Mon” (Lah kan, susah dibilangin si kamu Mon Mon)

Kata anak-anak yang dari awal sudah memperingatkannya ketika ia lari larian di depan barisan sendirian.

Namun, sakitnya Mona ini justru membawa keberuntungan lain kepada kami. Di perjalanan turun, kami bertemu pendaki lainnya yang bersedia membantu kami merawat Mona. Mereka mengajak kami untuk mengistirahatkan Mona di tempatnya menginap tepat di kaki gunung Batur.

Dan tau nggak, hostel tempatnya menginap ternyata punya kolam renang kecil yang memilki sumber air panas yang sama kaya di Toyadevasya. Mereka mempersilakan kami untuk renang dengan gratis karena yang punya hostel teman mereka sendiri. Padahal sebelum berangkat kami sudah mengubur jauh jauh mimpi untuk berendam air panas di Toyadevasya karena nggak punya uang.

Memang betul kata orang bijak. Semakin kecil ekspektasi kita pada hidup, hidup justru kerap kali memberi surprise surpirse kecil.

Pendaki pendaki ini pun yang akhirnya membantu kami mengambil motor vario di gubuk yang untungnya masih ada. Dan membawanya ke bengkel. Oh MY. Kami merasa menjadi orang terberuntung sedunia

 

***

Setelah kembali ke Kuta dengan kaki yang nggak bisa dipakai jalan selama tiga hari, saya jadi ingat puisi Gie tentang lembah Mandalawangi di Pangrango.

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

***

DSC02476

 

 

DSC02443

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

5 thoughts on “Sunrise di Gunung Batur (Bali, Indonesia)

  1. Pelajaran hidup yang gue dapet setelah pendakian ini: Jangan ndaki pake sneaker! Anyway, makasih untuk mengangkat kembali penggalan kisah kita di Bali, cun. Seenggaknya kalau ingatan gue nggak bagus-bagus amat, cucu gue ntar bisa baca blog lu biar tau neneknya pejuang kehidupan. Kirim peluk dari Kalimantan, Monalisa.

    Like

    1. Wah terimakasih banyakk untuk awardnya. Baik sekali sudah menominasikan saya. Awardnya saya terima dengan senang hatii. hhe tapi untuk membalas awardnya saya butuh waktu ya. hhe. Terimakasih sekali lagi.

      Liked by 1 person

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: