Belajar metertawakan hidup dengan Mona

“Semakin dewasa arti bahagia itu bukan lagi berdasar pada kemampuan kita meraih sesuatu, tapi sebaliknya, kemampuan untuk melepas” -Monalisa.

Monalisa itu namanya. Sahabat yang saya temui tiga tahun lalu di Bali. Perempuan yang paling keras mentertawakan hidup dan lelucon lelucon yang diberikannya.

Pertemuan saya dengan manusia unik satu ini berawal ketika saya tinggal di Bali. Saat itu saya baru pindah ke kamar kosan Emil, teman kami berdua, karena sudah nggak mampu bayar kosan. Di kamar kosan Emil ternyata sudah ada Mona yang juga baru dipungut Emil dari kosannya karena baru saja kerampokan dan dipecat dan nggak punya uang untuk bertahan hidup.

Cerita selengkapnya bisa di baca di postingan Menemukan rumah di Bali.

Sejak saat itu, saya dan Mona menjadi kawan baik bahkan hingga sekarang. Kalau sulitnya hidup sudah nggak bisa dinalar. Mona adalah orang pertama yang saya hubungi sebagai pengingat untuk mentertawakan masalah masalah dalam hidup.

“Urip iki emang terasa sedikit lebih ringan ketika kita mampu menertawakan candaan-candaan Tuhan cun” katanya menanggapi curhatatan saya via WA.

“Jangan lupa makan yang banyak ya cun, ben kuat mentertawakan lawakan lawakan hidup” sarannya setiap sambungan telfon berakhir.

Dulu sewaktu kami berdua tinggal di Bali, saya pernah nanya ke Mona.

“Mon apa alasan kamu pindah ke Bali?”

“Ki aku merasa ndak bakal bisa berkembang kalau aku tetap tinggal di Kalimantan. Aku butuh jauh dari rumah dan belajar banyak dari dunia luar”

Seperti pemuda pemudi lain. Dia berharap bisa keluar dari kampungnya dan belajar banyak hal yang nggak bisa didapatkannya jika ia tetap tinggal di tempat lahirnya. Karena cita-citanya itu, ada banyak sekali keputusan-keputusan nekat yang dibuatnya. Demi bisa keluar kampungnya dan belajar lebih banyak di tempat lain. Saking nekatnya, selesai kuliah di Jogja, Mona menghabiskan seluruh uang simpanannya untuk membeli tiket bus dari Jogja ke Bali.

And that’s how her journey begins.

DSC02430

Sampai di pulau dewata, nasib nggak dengan mudah berpihak padanya. Seperti yang saya bilang, dari awal ketemu aja ini bocah udah naas. Kerampokan dan dipecat pada bulan pertamanya di Bali. Tapi bukan Mona namanya, kalo menangisi nasib buruknya. Waktu itu perempuan tangguh yang berasal dari desa kecil bernama Hurung Bunut di Kalimantan Tengah ini malah ngakak nggak karuan.

“Lah kon nggak ngerasa ini lucu tah, kok aku rasane pengin ngekek terus ya”

Teman-teman barunya saat itu merasa kemiskinan sudah membuat anak ini nggak waras.

Hubungan saya dan Mona tetap terjalin baik meski saya akhirnya pindah ke Australia pada November 2017. Mona seringkali telfon saya buat nanya tentang kerjaan. Iya kerjaan saya di Bali akhirnya saya wariskan ke Mona setelah saya berhasil meyakinkan si bos di Jakarta untuk menggantikan posisi saya dengan Mona.

Kadang dia cuma nelfon buat cerita hari harinya di Bali atau hanya telfon karena sekedar kangen. Kangen membagi kemiskinan bersama saya. So swit anak ini emang.

Pada bulan Desember 2017, Mona menghubungi saya. Di sambungan telfon itu dia bilang kalau dia harus pulang ke Kalimantan dan meninggalkan Bali. Karena orang tuanya memintanya pulang karena ada yang urgent.

“Cun kamu ingat kan waktu kita tinggal bareng dan aku suka kejang tengah malem. Kejang kejang ku itu ternyata bukan karena kondisi medis”

“Wait what?”

***

Oke mari kita flashback. Waktu kami tinggal sempit-sempitan di kosan Emil. Mona pernah tiba-tiba saja bilang.

“Cun kalo aku kejang tengah malem biarin aja ya, memang suka gitu”

“Ngomong opo to koe Mon rak nggenah” (Ngomong apa kamu Mon nggak jelas)

Saya dan kawan -kawan saya nggak menghiraukan kata-katanya. Karena kami pikir dia cuma bercanda. Ngomongnya juga sambil ngekek.

Tapi tiba-tiba pada suatu malam. Saya ingat Emil menepuk-nepuk kaki saya dengan keras pada jam 3 subuh.

“Ki bangun bangun bangun”

Mengingat tabiat Emil yang hobi membangunkan kami semua subuh subuh untuk ngeliat sunrise saya cuma bisa ngulet dan protes.

“Opo si mil, ngantuk aku ki”

“Wei bangun djuancuk iku Mona kenangopo di sebelahmu cuk”

Sewaktu saya membuka mata, Mona yang tidur tepat disamping saya sudah kejang nggak karuan. Saya langsung loncat dari tempat tidur dan berdiri di samping Emil yang mukannya udah pucet ketakutan. Indun yang sepertinya sudah bangun dari tadi, duduk menjauh di dekat tembok tanpa bersuara sambil tetap ngeliat ke arah Mona yang seluruh tubuhnya bergetar hebat. Hanya Adel yang duduk di samping Mona sambil manggil-manggil Mona sebagai upayanya untuk berkomunikasi dengannya yang sudah pasti useless. “Mon, Mona, Mon”

Saya masih ingat tangan Mona mulai terpelintir ke belakang, seluruh matanya menjadi putih, dan mulutnya penuh busa. Emil lari mengambil telfon genggam Mona di lantai dan langsung menelfon Ibu Mona.

“Tante ini Mona kejang tengah malam biasanya apa tindakannya ya?”

“Ohhh sudah biasa itu Mba, biarkan saja, kasih saja dia ruang” kata Ibu Mona santai.

Kami semakin bingung dengan reaksi ibunya yang santuy mendengar anaknya lagi kejang kejang hebat di Bali. Karena Ibu dan Bapak Mona sudah berpisah, kami pikir mungkin ayahnya lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk kondisi Mona ini. Kami pun menelfon ayahnya yang ternyata beliau malah ndak tahu sama sekali perihal Mona suka kejang tengah malem.

“Haduh piye iki, bawa rumah sakit po?” kata Indun mulai khawatir.

Setelah tiga menit yang terasa sungguh panjang, akhirnya tubuh Mona mulai berhenti kejang. Busa di mulutnya pun sudah di bersihkan oleh Adel dan nggak keluar lagi. Mata Mona mulai terbuka dan kali ini nggak cuma putihnya aja yang terlihat. Sepasang matanya melotot ke arah saya. Seperti orang marah walaupun tetap tanpa bersuara sedikitpun.

“Del tutup matane iku mendelik ke aku piye”

Adel satu-satunya orang yang berani duduk di sebelahnya pun langsung menutup mata Mona dengan tangannya. Malam itu menjadi malam terpajang kami di Bali, lebih panjang daripada waktu manjat Batur kemarin. Hari itu semua orang di kosan Emil tidur sambil nemplok tembok kayak cicak saking ketakutannya. Cuma Adel yang santai tidur di sebelah Mona dengan pulas. Karena dari kami berlima hanya Adel yang nggak punya rasa takut sama sekali. Biasanya mahkluk goib yang malah takut sama dia.

Waktu saya bangun pagi, Mona sudah ndak ada di kasur. Dari arah dapur saya bisa mendengar Mona yang lagi nyuci beras tanpa beban. Melakukan ritualnya masak nasi tiap pagi. Dengan kaki gemeteran saya mendekati Mona.

“Mon, kon ndak papa?”

“Ngopo emang? Eh badanku kok pegel banget iki ngopo yo?”

“Koe kejang  semalem ancuk, ndak sadar tah”

“Hoalah, pantes badanku sakit semua iki. Biasanya habis kejang gini rasanya. Lah aku ndak pernah tau kok kalo aku kejang, makanya lagi lagi kalo aku mulai kejang mbok ya di videoin biar aku bisa liat paginya”

“Hooo asuw koe, lagi-lagi kalo kamu kejang tak tinggal malah. Ra urusan. Ngeri cuk”

Begitulah cerita kejang-kejang Mona yang nggak ada penjelasannya ini. Katanya dia sudah memeriksakan dirinya ke dokter, tetapi Dokter nggak menemukan ada masalah dengan kesehatannya. Jadi treatment orang-orang sekitarnya setiap dia mulai kejang cuma dibiarin aja, dikasih space, nanti juga diem sendiri. Cuma efek yang dirasakannya setelah kejang biasanya dia bakal sakit badan seharian dan nggak punya tenaga sama sekali hari itu. Oke rite.

***

Kembali ke sambungan telfon.

“Iya ingat kamu suka kejang tengah malam kan dulu”

“Cun itu bukan kejang biasa. Kata orang tuaku ternyata aku memang diberi sesuatu yang menjaga aku gitu loh”

“Aku ndak ngerti maksudmu Mon”

“Nenekku dulu pengikut Kaharingan, agama tua orang Dayak yang percaya mistis-mistis ngono lah. Sebelum seluruh keluargaku pindah agama jadi Kristen. Jadi karena katanya aku adalah cucu paling kuat, diwarisilah sesosok makhluk yang sekarang menempel di dalam badanku ini. Dan setiap aku keluar dari Kalimantan, mahkluk ini ndak suka, maka semua urusanku nggak akan beres dan aku akan terus kejang-kejang kayak kemarin”

Saya terdiam. Ini anak ngomong opo to. Setan Kalimantan opo. Jadi selama ini Mona ditempeli? Kami tidur sama orang ketempelan setan gitu?

“Halah, kok bisa ngono! Kamu percaya tah? Terus kenapa kamu harus balik ke Kalimantan?”

“Yo piye meneh, tapi betul kok, ada ada saja masalah aneh di hidupku kalau aku ndak berada di Kalimantan. Kata ibuku aku harus kembali ke desa dan lakuin ritual untuk ngelepas iki makhluk. Tapi harus di kampung nenekku, jauh dari Palangkaraya”

“Astaga yowes lah. Balik dulu kon ke Kalimantan, piye meneh”

“Ya ki, nanti kalau sudah sukses ritualnya aku tak balik ke Bali”

Begitu saja, hidup Mona kemudian disibukan dengan ritual-ritual untuk melepas makhluk halus yang menempel di dirinya yang menurutnya ternyata sudah sulit di keluarin.

Beberapa waktu kemudian, ketika saya nanya gimana kehidupannya di Kalimantan sekarang. Mona selalu memberi jawaban yang sama; sejak pindah ke Kalimantan dia sudah ndak pernah kejang lagi sama sekali.

Wahh sayang betul ini makhluk kepada Mona.

***.

Mona menuruti kata orang tuanya, untuk tinggal di Kalimantan kali ini. Walaupun tentu saja ia masih ingin keluar dari Kalimantan dan melihat dunia suatu hari nanti.

Saya mendapat kabar baik darinya, ia mendapat pekerjaan di salah satu NGO yang memperjuangkan isu lingkungan di Kalimantan bernama Fairventures Worldwide. Pekerjaan yang membuat semangat hidupnya kembali menggebu-gebu.

Beberapa tahun belakangan setiap kami telfonan kami bahkan nggak pernah lagi membahas tentang makhluk yang menempel di dalam dirinya ataupun keinginannya untuk keluar dari Kalimantan. Tapi setiap kali Mona nelfon dia bakalan cerita tentang pekerjaanya. Project-project yang dikerjakannya bersama NGO. Orang-orang di kampung-kampung yang ia ajari metode bertanam dan akses yang ia berikan pada mereka untuk menjual hasil kebunnya.

Karena pekerjaan Mona menuntutnya untuk keluar masuk desa terpencil yang nggak ada sinyal sama sekali. Mona hanya bisa menelfon saya kalau dia lagi ada di kota. Suatu hari dia bercerita.

“Cun tau ndak, waktu kemarin aku masuk kampung ada ibu ibu yang lari lari datang ke arahku, lalu bilang gini”

“Mbak Mona saya mau bilang terimakasih”

“Terimakasih untuk apa bu?” Sesungguhnya Mona sudah lupa siapa Ibu ini.

“Beberapa bulan lalu Mbak datang ke kampung ini lalu ajari saya cara menanam tumbuhan yang benar di kebun saya, sekarang tumbuhan itu sudah berbuah dengan baik dan banyak dan bisa saya jual ke pasar yang mbak saranin, makasih banyak ya Mbak”

“Cun nggak ada yang bisa nandingin kebahagiaan yang gue rasain detik itu juga, nggak ada cun” katanya disambungan telefon.

Saat itu Mona sadar, arti bahagia baginya adalah membahagiakan orang lain dengan upayanya.

Sejak saat itu Mona semakin mencintai apa yang dikerjakannya. Merawat lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Membuat opportunity lain bagi warga disana untuk mendapat penghasilan lain dengan menanam tanaman di kebun mereka sendiri daripada bekerja di tambang emas yang jelas-jelas merusak lingkungan dan kesehatan mereka sendiri.

Beberapa bulan belakang Mona justru sedang semangat semangatnya bercerita tentang project mandirinya menanam pohon bambu di kampungnya sendiri, Hurung Bunut. Bambu bambu itu rencananya akan diolah menjadi sedotan bambu yang akan ia coba pasarkan di tanah Eropa. Sebagai upayanya dalam mengatasi isu pencemaran lingkungan oleh limbah plastik sekali pakai sekaligus mensejahterakan warga desanya dengan membuka industri rumahan yang memproduksi sedotan berbahan dasar bambu.

Selain bersemangat dalam melawan pencemaran lingkungan, Mona pun punya cita-cita kalau suatu hari desanya bisa berdikari dengan produk produk bamboo yang dihasilkan. Mimpi terbarunya yang bikin dia sampe ngotot ngajak saya untuk pindah ke Kalimantan adalah project green school untuk anak-anak di kampungnya. Agar anak-anak di desanya memiliki kualitas pendidikan yang tinggi sekaligus aware dengan krisis lingkungan. Sungguh mulia cita-citanya.

5541bf6e-2dd0-43c7-9ab3-4d6fdf4d226a9c3ca5b0-c8f9-4e79-b8ef-dacd16066c68

Saya tahu betapa Mona mencintai yang dikerjakannya dari cara ia membicarakan project projectnya, teman-temannya, hingga perubahan-perubahan kecil namun efektif yang dilakukannya. Pernah suatu hari saya telfon Mona pada hari ulang tahunnya untuk ngucapin selamat. Nggak diangkat. Beberapa jam kemudian dia video call balik.

“Opo cun?”

“Mau ngucapin ulang tahun”

“Sopo sing ultah”

“Koe ancuk”

“Iya to? Tanggal piro iki? Oiyooo ki lupa, aku lagi di kampung iki lagi nanam sejuta pohon, lupa hari aku” katanya dengan santainya. Sambil menunjukan sekop dan bajunya yang dipenuhi debu.

Sekarang project terbarunya bersama empat kawan pejuang lingkungan lainnya adalah membuat sedotan dari purun atau rumput gambut yang juga salah satu upayanya untuk memberdayakan perempuan perempuan di desa Tumbangnusa Kalimantan Tengah. Bisa di cek di akun instagramnya mengenai project anak-anak tangguh ini ” @limarupa.id

Suatu hari saya menghubungi Mona. Seperti layaknya sahabat, saya menanyakan update kehidupannya.

“Mon gimana keadaanmu sekarang? Kamu merasa bahagia ndak di Kalimantan?”

“Yo bahagia aku cun. Akhirnya aku bisa bekerja di bidang yang aku senangi, sama orang-orang hebat disini yang peduli dengan lingkungan dan kesejahteraan orang-orang”

“Inget ndak dulu kamu bilang nggak bakal berkembang kalau nggak keluar Kalimantan, sekarang justru kamu menemukan sesuatu yang kamu senangi dan berkembang pesat di sana”

“Iya he. Makin kesini kok ya kayaknya bahagia itu justu bukan lagi berdasar pada kemampuan kita meraih sesuatu, tapi justru sebaliknya, kemampuan untuk melepas..,semesta emang penulis skenario hidup yang tak terduga yak, bisa bener kasih kejutan-kejutan kecil di tengah-tengah putus harap”

Monalisa ini memang ya. Bukan hanya mengajari saya untuk mentertawakan kehidupan yang jenaka tapi juga membantu saya untuk belajar melepaskan. Melepaskan obsesi obsesi gila saya pada hal-hal yang absurd.

Bagi Mona, belajar untuk melepaskan bukan berarti menyerah pada mimpinya untuk belajar lebih banyak dari dunia luar. Namun saat ini ia memilih untuk lebih fokus pada segala sesuatu yang berjalan baik di hidupnya. And let go of what’s not. And take it easy with life. Biar nggak mudah kecewa.

“Anw, aku baru dipromosiin sebagai communication manager di kantor dan kebijakan ini datang dari kantor pusat di Jerman, galau juga sebenernya, kontrakku selesai Desember ini dan udah bilang sama bos sebelumnya kalau aku multi project sendiri dan sambil nyari beasiswa juga. Aku sejujurnya pengen banget punya pengalaman entah berdarah-darah di project sendiri atau living abroad kayak kamu gini dah”

“Aku ngerasa masih terlalu muda dan masih haus akan kehidupan diluar cun. Pengin liat gimana cara fikir orang disana, masalah apa yang mereka hadapi, and so on. Bukan carier orienter loh, sing penting iso mangan karo belajar di tempat baru masih jadi top priority ku cun”

Curhatnya suatu hari. Walaupun sudah berdamai dengan fakta bahwa dia harus tinggal di Kalimantan kali ini. Tapi Mona masih punya mimpi besar yang suatu hari harus ia wujudkan. Seperti mimpinya untuk kuliah di Jerman. Belajar mengenai Environmental sustainability untuk kemudian ilmu yang didapatkannya bisa diterapkan di desanya. Malaikat tenan to manusia iki.

Tapi waktu saya tanya gimana dengan kejang-kejangnya. Dia menjawab bahwa ia sudah lama ndak pernah kejang di Kalimantan. Tapi kemarin kejangnya ini sempat kambuh sekali waktu dia harus menghadiri confrence di Jakarta.

“Kon pasti nggak nyangka dimana aku kejang kali ini cun”

“Mana?” tanya saya penasaran.

“Pesawat cuk, kaget semua orang di dalamnya. Saat turun di bandara, aku langsung ae di bawa ke rumah sakit, diperiksa seluruh badanku sama dokter, di CT Scan segala macem. Bingung semua orang ternyata hasilnya rak ono opo opo”

“Hoalahh Mon mon, bisa seajaib itu ya koe iki”.

Saya berdoa semoga suatu hari makhluk di dalam tubuh Mona ini mengizinkannya untuk pergi jauh dari Kalimantan dan agar Mona dapat mewujudkan cita-citanya untuk belajar banyak dari dunia luar.

***

Saya dan Mona punya mimpi bahwa suatu hari kami akan pergi ke Nepal untuk mendaki Annapurna. Saking semangatnya setiap Mona keluar dari kampung dan bisa telfon saya, kami selalu cari blog blog yang membahas pendakian ke Annapurna bersama. Karena itu kami berdua jadi rajin ngumpulin duit bareng untuk mengeksekusi mimpi ini.

Tapi pada suatu hari dia telfon.

“Cun aku pinjam uang sejuta boleh ndak?”

Loh kenapa. Setahu saya Mona ini anaknya seperti saya. Ndak boros dan rajin menabung. Setelah stay di Kalimantan dan kerja di NGO ia juga mulai bisa menabung banyak. Apalagi beberapa bulan lalu jabatannya baru saja naik begitu pula gajinya. Dan kami sudah bersama-sama menyisihkan uang untuk trip ke Nepal. Jadi mustahil sekali kalau Mona nggak punya uang saat ini. Kecuali kalau dia sedang dirundung masalah.

“Kenapa kamu Mon?”

Mona kemudian menceritakan masalahnya. Ada hal urgent di keluarganya yang membuat dia harus mengeluarkan seluruh tabungannya untuk mengatasi masalah itu.

“I’m sorry to hear that Mon, are you okey?” tanya saya khawatir.

“Halah kamu kaya ndak tau aku aja si cun, hehe hehe aku yo meh ngguyu ae nek ngene cun, urip ki pancen onok- onok ae kok. Baru aku mulai berpikir kalau hidup sudah mulai membaik, sedikit demi sedikit, eh…”

(Halah kamu kaya nggak tau aku aja si cun, hehe hehe aku ya cuma bisa ketawa aja gini cun, hidup ini memang ada ada aja kok, baru aku mulai berpikir kalau hidup sudah mulai membaik sedikit demi sedikit, eh..”)

“Lah tapi kamu ndak marah sama keadaan to Mon?”

“Lah iki rahasia semesta sing suka becanda yo ngene… kita melu aja cun”

(Lah ini rahasia semesta yang suka bercanda ya gini… kita ikut aja cun”)

Mona dan cara ampuhnya menghadapi hidup yang jenaka ini. Mentertawakan setiap kisah tragis di dalam hidupnya. Selama saya hidup saya nggak pernah ketemu orang se unik dia. Belum pernah sekalipun saya dengar dia ngeluh dengan hidupnya. Kerjaanya ketawa aja. Bahkan ketika hidup berada di titik terendah pun dia masih bisa menemukan alasan untuk tertawa.

***

Walaupun sekarang saya dan Mona sudah berada di kondisi finansial yang lebih baik daripada ketika kami hidup di Bali. Tapi seringkali kami juga masih rindu kehidupan kami di Bali yang tanpa beban.

“Makin nambah umur dan sibuk sama realita, kadang aku lupa cara nertawain lawakan kehidupan. Lupa aku betapa lantangnya dulu kita tertawa saat beli lauk tujuh rebu bisa untuk makan kita semua. yasalammmm” katanya suatu hari.

“Iya kangen aku hidup sederhana saja di Bali”

“Hmm wajar cun, hidup kita yang sekarang nggak jauh dari orang kebanyakan. Kerja cari duit, nabung. Padahal dulu di Bali mewah banget hidup kita, nggak sempet mikir masalah, masalahnya cuma mau beli sayuran apa pagi itu. Saiki masalah nggak ono ae di ada-adakan toh, ben nggak merasa kesepian”

Benar kata Mona. Dulu ketika kami hidup di Bali, saking susahnya keadaan finansial kami. Kami sampai nggak punya privilege untuk mikirin masalah lainnya. Masalah kaum menengah atas nggak ada di daftar permasalahan kami. Nggak ada yang mikirin tentang pacar. Apalagi ngurusin berita-berita negative di TV. Cuma urusan perut yang kami urusi. Yang ada di pikiran kami cuma lauk apa yang bisa kami beli hari itu. What a luxury life we had back then.

Aniwei sebagai teman baik, Mona sempat menjodohkan temannya dengan saya.

“Cun, tak kenalin kamu ya sama temanku disini. Dia dari New York cun, pintar banget, punya production house sendiri di Kalimantan. Suka bikin project dengan Nat Geo. Ini orang paling baik hati yang pernah kutemui seumur hidupku. Kayaknya hatinya terbuat dari kubis rebus, lembut tenan.  Ketoke setia, pas buat kamu”

“Dia ada di Kalimantan Mon?”

“Iyo, kan kerja bareng, ngurus project purunku”

“Pejuang lingkungan koyo koe to?”

“Loh iyo”

“Lah terus ngopo kon jodohin dia sama aku. Kamu ya juga jomblo. Sama sama di Kalimantan lagi. Mending sama kamu aja to”

“Loh kamu ndak dengerin tah daritadi aku cuap-cuap panjang lebar. Iki orang paling baik yang pernah aku temui. Kon kan ngerti. Aku kan senenge lelaki jahat yang suka menyakiti”

“Hooo cen asuw koe Mon………………………… Aku yo podo”

#JERITANHATIPARAWANITAPSYCO

Aniwei ketika saya menulis tentang Bali banyak teman-teman pembaca yang akhirnya komen.

“Ki Mona yang mana si? Cerita yang ini ada Mona nya nggak”

Lalu saya bilang pada Mona kalau orang-orang yang membaca cerita saya sungguh mencintai karakternya. Dan menurut saya, perempuan tangguh sepertinya memang layak untuk dicintai dan dijadikan inspirasi.

Jawaban Mona kala itu adalah

“Difavoritkan dalam kemisqinan dan nestapa tuh gini yah rasanya cun, yasalam……”

Saya kemudian memutuskan untuk menulis satu cerita khusus tentang dirinya. Dengan harapan agar orang-orang bisa lebih dekat mengenal sosoknya ini. Yang tangguh dan apa adanya. Dan berharap semua yang membaca dapat sedikit banyak belajar untuk mentertawakan lelucon hidup darinya.

Seperti motonya yang menjadi pegangan hidup saya hingga hari ini.

“Urip iki cen lawak, ngambang sek ae”

Hidup ini cuma lelucon. Ngambang dulu aja.

Screen Shot 2020-05-04 at 8.13.04 pm
Pohon bambu yang ditanamnya tahun lalu sudah tinggi.

“Wow sudah setinggi itu anakmu Mon!!!”

“Iyo iki cun, saking bahagianya mereka tumbuh tinggi, aku sampe lupa kalo anak-anakku iki nggak punya Bapak hhe”

#proudmama

Screen Shot 2020-05-04 at 3.06.35 pm

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

10 thoughts on “Belajar metertawakan hidup dengan Mona

  1. Woaaaaaaaaaa iso ngono yo, kon hapal aibku lebih dari siapapun. Jadi terharu! Suwun cun, ojo lupa mimpi ke Annapura, aku dengar mereka jual susu kambing enak disana. Semangat terus nulisnya, engko nek korona selesai, kancani aku makan lumpia di kuta. Peluk dari Kalimantan.

    Liked by 1 person

    1. Loh aku ini punya buku aib kalian semua. In case butuh hiburan tak buka satu2. Wqwq asiyapp hang in there yo mon. Salam buat anak anakmu si bambu bambu tak berbapak itu

      Like

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: