Stepping back from toxic friendship

And all those things I didn’t say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them loud tonight
Can you hear my voice this time?

***

Sudah beberapa hari ini saya merasa nggak punya energi untuk melakukan apa apa. Bahkan demotivasi ini bukan lagi disebabkan oleh pengaruh terlalu lama dikarantina karena corona.

Tapi ada hal lain.

***

Sudah hampir 3 bulan saya berada di Indonesia. Karena pandemi, saya belum bisa kembali ke Australia sesuai rencana. Tadinya saya pikir, stuck di kampung sendiri bersama orang tua lebih baik daripada stuck di luar negeri dengan kondisi yang mengkhawatirkan seperti sekarang ini. Jadi ketika perdana menteri Australia mengumumkan untuk menutup perbatasannya di tengah tengah liburan saya di Indonesia. Saya justru semakin yakin untuk tidak buru-buru cari tiket untuk kembali ke Sydney.

Tapi ternyata terjebak di kampung halaman tidak semudah itu. Beberapa hal yang terjadi belakangan justru mengingatkan alasan awal mengapa saya memilih untuk tinggal jauh dari kota ini.

Beberapa hari ini saya merasa energi saya terkuras untuk memikirkan ‘candaan’ teman-teman. Candaan yang dulu mungkin tak pernah saya pikirkan sekeras ini. Komentar-komentar mengenai warna kulit yang sebenarnya sudah sering saya dengar dulu. Yang ternyata di upgrade melihat kenyataan saya tinggal di luar negeri sekarang.

=

“Iya kan Angky kulitnya item biar dapet bule”

Pernyataan ini terus berputar-putar di otak saya selama beberapa hari.

Padahal kulit saya emang gini dari dulu. Kenapa kedengarannya kayak saya sengaja ngitemin kulit buat dapet bule. Lagian emang bule liat perempuan cuma liat dari warna kulit aja?

Dan apakah mereka pikir semua hal yang saya lakukan semata-mata untuk dapetin perhatian dari laki-laki?

Ya oke saya paham stereotip tentang bule suka orang berkulit tanned. Karena hey tau nggak? Kata teman perempuan saya dulu di Ausi, si cantik yang lagi berjemur. Dia bilang dia iri berat sama kulit saya, karena baginya kulit berwarna coklat seperti saya yang terkena matahari terlihat lebih sehat daripada kulit yang pale. Pembahasan warna kulit selalu dikaitkan dengan kesehatan.

Tidak seperti di Indonesia, warna kulit selalu saja dikaitkan cantik dan jelek. Karena di negara kita standar kecantikan, sadly, adalah memiliki warna kulit yang cerah. Faktor yang lain seperti hanya extra.

Tapi dulu-dulu ketika beberapa orang berkomentar tentang kulit saya, saya enggan melawan.

***

“Ki lagi menggaet bule mana lagi nih sekarang?”

Pertanyaan dari teman yang bahkan nggak pernah ngobrol. Yang seakan-akan dia tahu betul bahwa selama ini kerjaan saya gaet bule sana sini. Di dalam hati saya berpikir, kalau saya marah akan hal ini apakah saya akan dicap terlalu sensitif dan nggak bisa bercanda?

Salah nggak sih kalau saya ingin marah dan bilang. “Emang lu pikir kerjaan gue di dunia ini cuma menggaet bule apa gimana sih?”  Hanya karena saya tinggal di luar negeri. Ke luar negeri cuma biar bisa menggaet bule bule gitu ya?

Ini basa basi, saya tahu, tapi kok di dalam pertanyaan itu saya mendengar judgement. Lalu apakah saya  yang terlalu tense nggak bisa diajak bercanda? Apa saya harus selo, ikut bercanda juga dan jawab.

“Lagi menggaet bule Jerman, cucok meong beb, yang kemarin kurang oke soalnya”

Seriously apakah mereka pikir bule bule ini adalah object yang hanya berfungsi untuk digaet.

Basa basi dan bercandaan jaman sekarang.

Tapi reaksi berbeda selalu didapatkan ketika teman lelaki saya berbicara mengenai keinginannya untuk punya pacar bule. Atau perempuan-perempuan yang dikejarnya.

So it’s okay kalau laki-laki yang ‘memacari perempuan-perempuan bule’ dan nggak mendapat stigma negatif seperti yang saya dapatkan. Justru biasanya di puji-puji atas kesuksesannya. And it’s not okay for me berelasi dengan lelaki mana saja yang saya pilih termasuk orang asing? Relasi perempuan Indonesia bersama bule lalu dilabeli sebagai “menggaet”.

***

“Iyalah yang mau sama Angky kan cuma dia (mantan saya yang duduk di depan saya saat itu) dan bule-bule” kata teman laki-laki saya tiba-tiba. Teman yang sudah saya kenal lama.

Saya sebenarnya nggak bisa mengartikan secara utuh kalimatnya. Apa maksudnya? Apa ini pujian. Karena saya pikir mantan saya itu adalah orang yang pintar dan open mind. Cuma dia dan bule-bule? Bule bule yang suka kulit hitam seperti saya gitu?

Apa sih ini maksudnya?

Kalimat ini artinya selain mantan saya dan bule nggak ada lagi yang mau gitu ya sama saya. Dia dan laki-laki Indonesia (yang suka cewe-cewe kulit putih dan nurut sama laki) nggak mau sama saya?

Kalau saya pikir ini dibilang sensitif lagi nggak?

Saya nggak ngerti apakah komentar-komentar ini dilontarkan karena warna kulit saya yang coklat? Yang katanya eksotis di mata bule? Yang menurut mereka sengaja saya bikin seperti ini untuk menarik perhatian bule. Karena saya tinggal di luar negeri? Nggak pernah mikir kalo ini gen keturunan dari Bapak Ibu saya. Dan saya nggak pernah usaha untuk kelihatan putih cuma biar dibilang cakep.

Atau karena saya pernah berelasi dengan bule dahulu kala? Lalu apa si yang ada di pikiran mereka tentang bule bule ini? Konotasinya negatif gitu ya? Bule bukan manusia tapi makhluk liar yang ngeliat cewek cuma dari kulit eksotisnya aja. Bukan kepribadiannya.

Dan apa dia pikir dalam berelasi hanya lelaki saja yang memiliki privilege untuk memilih kami perempuan. Dan kami tinggal nunggu dipilih aja gitu. No. It goes two ways dude.

We choose.

I choose.

And definitely not you.

***

“Yaudah lah maklumin aja, mereka kan nggak  pernah tinggal di luar negeri”. atau “Ya namanya juga bercanda laki” kata beberapa orang menenangkan kemarahan saya.

Hmmm apakah ini adalah anjuran untuk selow aja dan menormalisasi hal ini seperti dulu-dulu. Jadi kalau disindir gitu lagi anggap aja angin lalu dan pura pura nggak sakit hati.

Namun api kemarahan saya semakin memuncak ketika saya tahu bahwa bukan hanya saya yang dijadikan sasaran pergunjingan mereka. Ada juga teman saya yang tinggal di Amerika Latin yang berelasi dengan orang asing selama bertahun-tahun. Pasangan yang bahagia menurut saya dan teman-teman baik saya. Kawan saya ini juga berkulit coklat  yang glowing sekali. Orangnya cerdas dan mandiri sekali.

“Kebetulan yang berelasi dengan bule-bule ini ya perempuan-perempuan seperti kamu atau dia bukan yang seperti Amy”. Amy adalah sahabat saya yang tinggal di New York bersama suami orang Semarang. Mantan Putri Indonesia yang memenuhi semua beauty standard di Indonesia. Putih, tinggi, rambut panjang dll. Yang memang dapet jodohnya orang Semarang.

Tapi apakah kalau Amy dapat suami bule apa kalian akan berkomentar sama seperti kalian berkomentar tentang kami?

Seriously. Apa setiap bertemu yang dibahas hanyalah membandingkan perempuan-perempuan dengan standar kecantikan yang mereka patok sendiri. Lalu membuat yang lain merasa kecil?

Lalu ada lagi ‘becandaan’ lainnya seperti ini.

“Kamu si terlalu independent, makan tuh nggak ada yang mau sama kamu”

Lucu ya? Padahal di luar negeri cewe independent dihargai. Terus salah saya gitu jadi perempuan mandiri sehingga laki-laki seperti yang barusan berkomentar merasa terintimidasi?

Jawab saya “Yah baguslah kalau yang nggak mau sama saya itu ya laki-laki yang nggak pede dan merasa perempuan nggak boleh independent dan harus selalu di bawah laki-laki. Malah enak, nggak usah repot-repot nge filter”

Ladies listen, being smart, being independent is not a sin. No one should apologize for that!

Saya jadi ingat lirik lagu The Man nya Taylor Swift yang related dengan apa yang saya rasakan sekarang.I’m so sick of running
As fast as I can
Wondering if I’d get there quicker
If I was a manAnd I’m so sick of them
Coming at me again
‘Cause if I was a man
Then I’d be the man
I’d be the man
I’d be the manWhat’s it like to brag about raking in dollars
And getting bitches and models?
And it’s all good if you’re bad
And it’s okay if you’re madIf I was out flashin’ my dollars
I’d be a bitch, not a baller
They’d paint me out to be bad
So it’s okay that I’m mad

***

Abis itu kalau pada akhirnya saya jalan sama bule dibilangnya karena bule sukanya kulit item (buangan laki-laki Indonesia yang nggak mau sama perempuan item karena jelek) bukan kenyataan karena banyak dari bule bule ini nggak memandang orang dari warna kulit dan bahwa mereka menghargai perempuan yang kuat dan independen. Bukan karena laki-laki yang bilang saya ‘terlalu independen’ merasa terintimidasi dengan kesuksesan perempuan. Abis itu saya dihina lagi kalo jalan sebelahan sama bule keliatan kaya pembantunya karena saya hitam dia putih.

Seriously sesempit itukah pemikiran mereka? Bahwa apa saja yang dilakukan oleh perempuan seperti saya, yang hitam dan mandiri ini salah. Salah. Karena nggak punya kulit putih dan nggak memenuhi standar kecantikan yang dibuat masyarakat. Salah. Karena melebihi standar kemandirian sebagai perempuan yang membuat lelaki merasa lebih kecil? Salah kalo akhirnya saya memilih pergi ke lingkungan yang menerima saya apa adanya dan menghargai perempuan-perempuan kuat. Salah kalo akhirnya yang tertarik dengan saya adalah ‘bule’ yang katanya liar dan sukanya sama perempuan-perempuan kulit hitam buangan mereka.

If I’m not your type it’s okay, cause you are not my type either. But don’t attack me or girls like me over and over again cause your only definition about beauty is as narrow as skin color, as black or white, or don’t make me feel like I was rejected by you so I begged to be loved by a foreign man who can actually see our worth and see independency as a something they adore not afraid of.

Na ah, I’m not playing this mind game with you.

This game won’t make me think like I don’t deserve you.

But you don’t deserve me sucker!

***

Namun suara-suara penolakan yang sudah saya simpan bertahun-tahun menggugat.

This is not okay. This is not normal.

Mengapa sekarang saya marah? Karena selama bertahun-tahun tinggal jauh dari kota ini. Terutama ketika saya pindah ke Bali dan Australia. Saya tidak pernah menghabiskan energi saya untuk hal-hal seperti ini lagi.

You simply don’t make people feel small with your comments and claim it as a joke. Over and over again I think that it’s funny.

Untuk pertama kalinya saya berani bersuara.

“Stop, it’s not funny and it’s not okay”

Tentu saja aksi saya untuk bersuara membela diri ini dianggap sebagai ketidakluwesan saya menghadapi candaan. “Laki-laki kan kalo bercanda gitu, selo aja”.

Saya punya banyak teman. Di Bali dan di Australia. Baik perempuan maupun laki-laki. Yang ketika kami bertemu setiap pulang ke rumah saya rasanya nggak pengen ngamuk. Nggak ada budaya ‘bercanda’ yang menjatuhkan. Nggak ada keperluan untuk membuat orang lain merasa kecil untuk merasa besar.

Tentu saja hal-hal seperti diskriminasi dan rasisme juga masih banyak di Bali maupun Australia. Yang membuat saya belajar untuk berdiri dan berbicara untuk melawannya.

Tapi apakah ekspektasi saya berlebihan ketika saya menganggap bahwa pertemanan adalah tempat dimana penerimaan, support, dan rasa aman didapatkan. Lalu apakah ada yang salah di sebuah pertemanan itu ketika yang didapatkan adalah kebalikannya. Penolakan, judgment, dan rasa insecurity. Bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan pertemanan ini adala menormalisasi ‘verbal abuse’ dan menganggap bahwa ini adalah hal yang biasa tidak perlu dibesar-besarkan?

This is too toxic.

Ketika saya sudah memahami bahwa berteman bukan hanya sekedar bertemu dan berkumpul. Ketika saya belajar bahwa basa basi menjatuhkan itu seharusnya nggak bisa diterima sama sekali. Atau bercanda yang normal nggak perlu menghina itu banyak.

Sepertinya semakin dewasa semakin mudah untuk mengevaluasi pertemanan. Dan bagi saya pertemanan yang lebih sering membuat kita selalu merasa kecil dan menyepelekan perasaan kita sudah seharusnya dibatasi. Apalagi melihat kenyataan bahwa di luar sana masih banyak teman-teman yang saling support, saling merawat dan menjaga dan sama-sama ingin berkembang bukan saling menjatuhkan. Yang saling menghargai dan mencintai.

Bertahan di sebuah pertemanan yang membuatmu terus menerus merasa nggak pantas untuk dicintai adalah sebuah kesia-siaan.

Yang toxic, toxic, ya mon map. Bye.

Use your time and energy for something that’s worth fighting for.

After all, losing toxic friendships is not a loss at all. It is gaining.

Gaining your time and self-respect back.

Love yourself enough to let go of things that make you feel like you don’t deserve to be respected and loved.

Cause you are worthy.

Cheers.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

11 thoughts on “Stepping back from toxic friendship

  1. “Jadi manusia yang manusiawi itu susah, ditambah kamu perempuan yang lahir dan besar di lingkungan patriarki. Dimana menjadi mandiri akan dipandang sebagai ketidak-wajaran dan dijadikan bahan olok kawan-kawanmu atas dalih bercanda” Ucap perempuan Amerika yang hidup 20 tahun di Indonesia sambil kami menghisap marlboro merah setelah saya marah-marah selepas meeting. “Di anggap terlalu muda, perempuan pula, mana pantas mewakili organisasi untuk bertukar pendapat” begitu pembenaran orang-orang yang simpang siur saya dengar. Pada akhirnya, kita sadar bahwa orang-orang yang mem-bully, dalam hal apapun, hanya menutup dengki atau iri atau memang saluran otaknya segede lubang semut. Terima kasih
    ki, untuk terus menyuarakan bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan. Cheers.

    Liked by 3 people

  2. Aku pernah menghadapi becandaan dan basa-basi semacam itu, tentang nikah. Waktu itu sedang ramai. Setelah senyum sedikit, aku nyeletuk: “Kalau kamu banyak membaca, kamu pasti ngomongin hal yang lebih sehat. Tapi saya maklum karena kamu cuma makan gosip.” Semua sempat hening sebelum akhirnya menggoda orang yang tadi becandain aku, tapi orang itu kayaknya sudah terlanjur syok. Saya sempat merasa bersalah, tapi bukan karena saya telah berkata benar. Saya merasa bersalah karena saya tidak punya kesempatan dan kemampuan untuk menjelaskannya lebih baik.

    Like

    1. Ada bagian diri saya yang ingin mengedukasi. Bukan memaklumi. Tapi di satu titik hal-hal seperti ini sungguh menguras energi dan emosi. Dan pada akhirnya saya hanya memilih untuk pergi dan merawat diri.

      Liked by 3 people

  3. aku sendiri dari kecil ga pernah mau mencandai hal2 spt itu. ada hal2 yg memang bersifat sangat pribadi meskipun terlihat biasa aja, tapi kan emang hati orang tidak bisa ditebak, suatu saat ok2 aja tapi saat yg lain mungkin sudah ga sama lagi. yg paling bijaksana ya berusaha untuk memikirkan dan mempertimbangkan sesuatu sebelum mengucapkannya. dan aku sendiri mengalami hal ini koq meskipun beda konteks ya dan bahkan yg melakukannya adalah sahabat yg amat dekat. langsung aku jauhin aja orang itu. ahahaha

    Liked by 1 person

    1. Betul. Menurut saya tingkat toleransi orang pun berbeda2. Dikelilingi banyak circle yang positive bikin saya lebih ngeh ketika berada di circle yang negative. Bukan seperti ini pertemanan yang sehat. Iya saya juga rasanya nggak ada energi lagi untuk berkompromi dengan hal hal toxic seperti ini. Btw salam kenal! Terimakasih sudah membaca dan berkomentar 🙂

      Liked by 2 people

  4. Kadang memang suka kesel ketika dibilang — Selooow aja, seloow—. Dalam hati, ah sudahlah pasti tahuuu

    Keep Fight mbak Angky

    Btw, maybe jodohku putri Indonesia periode selanjutnya. Karena aku orang Semarang haha 😂

    Like

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: