Musim gugur tahun lalu- 2019- (Lindfield, New South Wales)

Warning: Di postingan ini ada banyak sekali foto-foto narsis saya. Yang sakit perut mon map.

Tadi saya dan Bapak rebahan sambil nonton berita. Di layar kaca, Menteri keuangan Sri Mulyani sedang membahas rencana anggaran penanganan Corona dari kediamannya sendiri. Tiba-tiba Bapak bilang

“Burungnya bagus bagus ya Sri Mulyani”

Saya bingung. Lalu ketika volume TV dinaikkan terdengar suara kicauan burung menjadi background suara Bu menteri. Dulu Bapak suka piara burung burung cantik yang di kandangkan di rumah. Sebelum burung-burung itu sering lepas dan sebelum saya sering protes tiap pulang ke rumahnya.

“Saya aja nggak mau dikandangin, biarin lah burung-burung itu terbang bebas” protes saya tiap pulang.

Sekarang Bapak sudah melepas semua burung peliharaannya dan beralih ke hobi barunya, bercocok tanam di halaman. Tiap malam sambil ngerokok Bapak suka youtuban nontonin video tutorial menanam tumbuhan seperti pare, anggur, terong, cabe dan lain-lain. Kalo tanamannya berbuah, biasanya Bapak bagikan ke keluarga dan tetangga. Love you Bapake.

Saya jadi teringat burung-burung liar di Sydney yang sering saya jumpai di perjalanan menuju stasiun dekat rumah. Burung-burung beraneka jenis dan warna yang bebas terbang tanpa takut akan ada yang menangkap dan mengurungnya. Jangankan burung, kelinci liar aja banyak di belakang rumah.

Dengan cepat saya beranjak dari kursi tempat saya duduk dan mengambil handphone untuk menunjukan video burung-burung yang sering saya rekam di Sydney kepada Bapak.

“Cantik kan mereka, setiap pagi datang ke belakang rumah lalu berkicau ramai”

Bapak senyum senyum sendiri melihat video video itu. Mulai setuju dengan ide burung yang bebas lebih cantik bertengger di pohon manapun sesuka hati.

***

Sementara Bapak sudah fokus kembali menonton berita, saya masih sibuk mengscroll foto-foto di handphone saya. Gambar-gambar yang saya ambil tepat setahun yang lalu.

Musim gugur pertama saya di Australia.

Tahun 2019 memang menjadi tahun kedua saya di Australia. Tapi baru kali ini saya merasakan musim gugur di negeri kanguru ini. Karena sepanjang musim gugur tahun 2018 saya masih sibuk mengumpulkan 88 days untuk second year di Queensland yang tak memiliki musim gugur senyata di Sydney.

Tidak seperti di Eropa atau Amerika yang musim gugurnya jatuh pada akhir September hingga akhir Desember. Di Australia musim gugur tahun 2019 justru jatuh pada tanggal 1 Maret 2019 dan berakhir pada 31 Mei 2019.

Musim gugur di Australia akhirnya menjadi musim favorite saya. Yang saya akui betapa beratnya menerima kenyataan bahwa tahun ini saya harus rela melewatkan musim favorit saya ini. Menurut saya pribadi, musim gugur di Australia cantik sekali. Karena bukan hanya daun-daun yang berubah warna menjadi kuning dan merah yang menghiasi jalanan. Tetapi di musim ini, bunga-bunga berwarna merah jambu yang tumbuh subur di musim semi dan musim panas juga mulai berguguran ke tanah yang membuat lautan merah jambu yang indahnya luar biasa.

Berikut foto-foto yang sama ambil pake henpon jadul di deket rumah.

IMG_4739
IMG_4822
IMG_5138

Di foto di bawah tulisan ini ada gambar saya yang lagi nyender ke pohon Gingko, pohon favorit saya. (Penginnya nyender ke bebeb tapi nggak punya). Pohon ini ada di depan rumah tetangga yang tiap hari saya lewati kalo mau berangkat kerja. Yang saya bela belain berangkat lebih awal buat nongkrong dibawahnya ngeliatin daunnya jatuh sambil mesam mesem.

fullsizeoutput_d

***

February tahun lalu, saya kembali ke Sydney setelah mengambil jeda selama 3 bulan di Indonesia. Ngapain aja selama 3 bulan? : Di Bali renang renang di pantai, snorkeling, hiking, ngopi-ngopi di Ubud, makan gorengan dan bakso di double six. Ajak Ibu liburan dan bercocok tanam sama Bapak di depan rumah. Ketemu temen-temen kantor lama di Jakarta. Sama jalan-jalan di Malioboro sama teman TK.

Kenapa butuh jeda selama itu?

Karena saya butuh istirahat dari kehidupan tahun pertama di Australia yang kedjam. Pada tahun pertama saya di Australia hidup saya sungguh penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Berdarah-darah secara physical, finansial juga emosional. Dari kerja keras di bawah matahari di farm dan stress berat double job di Sydney yang bikin saya nggak punya waktu sama sekali buat sekedar duduk santai dan makan. Jadi cita-cita saya tahun lalu ketika tahun pertama saya selesai di Australia memang untuk pulang Indo dan main-main selama 3 bulan penuh. Ngopi syantix di Seniman coffee Ubud sambil ngelamunin jodoh. Yang mau tahu penderitaan saya dulu bisa cek ceritanya di sini Petani Anggur Part 1 (Mareeba, Queensland) dan sini Petani Anggur Part 2 (Mareeba, Queensland)

Tapi setelah 3 bulan acara leha-leha itu selesai. Saya harus menanggung akibat perbuatan hura-hura saya di Indonesia. Saat kembali ke Sydney bukan saja saya bangkrut karena duit hasil kerja setahun habis dipakai buat hura-hura (tolong jangan ditiru) tapi saya juga baru patah hati huhu. Cerita patah hatinya kapan-kapan ya saya ceritain kalau adek udah kuat batin dan udah move on. (Yahhh ketauan bucin)

Aniwei waktu balik ke Sydney dengan sisa sisa kejayaan tahun pertama dan hati yang compang camping ini saya kemudian bertekad. Kali ini saya harus memulai hidup saya di Australia dengan benar. Mengembalikan keadaan finansial dengan baik dan keadaan hati agar kokoh kembali.

Kambali ke Sydney untuk yang kedua kalinya, kali ini saya memilih untuk tinggal di suburb di area utara CBD di sebuah daerah kecil bernama Lindfield bersama kawan-kawan saya dulu di Mareeba. Lindfield terletak di Upper North Shore of Sydney. Kami tinggal di sebuah apartment kecil yang hanya berjarak 5 menit dari stasiun dan berada di belakang supermarket kecil IGA. Lokasi yang strategis buat tinggal. Lindfield ini seperti kota kecil yang cocok untuk anak muda yang jiwanya tua kayak saya. Yang jam 7 malem udah dikasur sambil ngeteh dan nonton netflix. Semua resto dan toko kecil di Lindfield tutup jam 6 sore. Jadi nggak ada yang bisa didatengin kalo malem kecuali mau repot repot naik kereta ke kota. Tempat yang sungguh cocok untuk saya yang lagi belajar menabung. Nggak banyak godaan.

Di tulisan ini saya pengin berbagi cerita tentang memori musim gugur tahun lalu yang saya ingat selama saya tinggal di Lindfield.

Oke baiklah berikut memori musim gugur 2019 beserta foto-foto pendukung yang barusan saya scroll dan bikin kangen. Memori yang mengingatkan kesuksesan program #angkypunyaduit2019 dan #angkysehatjasmanidanmental2019

<1>Tahun lalu saya punya hobi baru= Masak. Hobi yang saya paksakan untuk mendukung program #angkypunyaduit2019. Setiap bangun pagi saya harus masak untuk makan hari itu dan bekal ke tempat kerja. Dari masakan Indo sampe masak pasta-pasta saya pelajari dengan tekun. Dari terong balado, seafood dabu-dabu, sampai fettucini smoked beef mushroom alfredo sukses tersaji di meja makan saya.

Setiap sabtu pagi saya dan teman rumah belanja ke Coles (Supermarket di Ausi) untuk membeli persediaan masak selama seminggu. Jan lupa untuk membeli semua merek yang paling murah yang ada tulisanya Reduced, Down atau Special biar makin hemat. Dari Coles kami langsung menuju IGA untuk menjarah Reduced corner yang isinya sayuran dan buah buahan yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa. Harganya beb bisa discount sampe 90%! Mantap ga.

Tapi semua sayuran dan buah yang dibeli dari tempat ini harus cepet-cepet dimasak kalau nggak nanti keburu busuk. Bahkan dalam sehari saya bisa minum strawberry smooties sebanyak 3 kali, kalo lagi dapet stawberry satu bungkus besar dengan harga 0.60 cent yang artinya 6000 rupiah. Sampe kalo belum abis juga itu buah, saya bejek bejek tu strawberry dan jadiin masker oleskan ke seluruh wajah, tangan, dan kaki agar ternutrisi. Kalo masih juga sisa jan lupa oles juga ke gigi (kata gugel biar gigi menjadi putih). Saya ingat nasihat Mona dulu = Biar miskin kita tetap harus rajin merawat diri.

Sayuran lainnya pun harus dimasak dan dimakan dengan cepat sebelum expired. Pertanyaan netijen: Emang nggak sakit perut kak? Nggak beb, itu orang Ausi bilang mau expired padahal kalo di pasar deket rumah dibilang Ibu penjual masih fresh. Bisa bertahan 2-3 hari. Ditambah kenyataan bahwa perut saya sudah terlatih makan zampah selama di Bali.

Tapi kita harus datang ke IGA pagi-pagi kalo bisa toko buka langsung lari, agar stock sayuran dan buah yang otewe expired ini masih menggunung. Kalo nggak buru-buru biasanya sayuran itu sudah di borong sama kakek-kakek tetangga yang sungguh competitive. Yang suka ngagetin dari belakang kalo saya lagi milih jamur jamur yang masih bagusan “Hello miss how are yah? Did you leave something for me there”.

Yang saya jawab dengan senyum syantix “Of course love” Tapi kadang kalau kesiangan kami cuma disisain wortel-wortel kecil buat makan kelinci. Hmz

Berikut hasil kreasi saya dari bahan reduced di supermarket. Rasanya jan ditanya. Absurd. Sing penting wareg cuk. (Yang penting kenyang)

<2> Ada pula upaya yang saya lakukan untuk sehat secara jasmani selama musim gugur 2019. Tentu tetap mengikuti prosedur khusus berhemat agar bisa bugar tanpa modal! Gimana caranya kak?

Ah gampang aja.

Jaman sekarang kalo mau Yoga nggak usah datang ke kelas Yoga yang harganya sama dengan satu piring makanan di resto di kota. Youtuban aja di rumah ya kan. Yoga mat pinjem sama landlord rumah yang baik hati. (Memang sungguh kemiskinan ini tanpa ujung).

Dan ada satu hal lagi. Ini juga keuntungan memilih tinggal di suburb selain lebih murah rentnya daripada di kota dan nggak bisa banyak jajan karena nggak ada toko buka abis jam 6 sore. Suburb tempat saya tinggal adalah tempat yang nyaman buat orang-orang yang hobi lari sore seperti saya. Satu-satunya hobi saya dari jaman kuliah yang bisa dibanggakan adalah lari sore sambil mungutin bunga-bunga yang rontok di jalanan. Apalagi kalau tempatnya mendukung. Di Lindfield setiap saya pergi keluar rumah untuk lari sore, saya bisa sembari ngeliatin rumah-rumah cantik yang kayak di pelem pelem Hollywood. Ngimpi dulu boleh, siapa tahu suatu hari nanti celengan ayam saya kalo dipecah isinya cukup buat beli rumah di sini. (Amen!)

Lindfield juga dekat dengan National Park dan danau. Jadi kalau yang suka jalan jauh, juga bisa olahraga sambil bushwalk di Lane Cove National Park dan ngelamun di danau.

Tahun lalu saya juga lumayan rajin nge gym? What? Nge gym di Ausi mahal ga kak? Gatau beb, saya cuma nebeng membershipnya temen rumah saya yang boleh bawa satu temen untuk nge gym gratiz. Karena itu saya harus mecocokan jadwal nge gym dia dan free time saya biar bisa nebeng. (Tips cari roomate di ausi, cek dulu punya member gym nggak. Kalo nggak, cari yang punya. kidding, cari yang hatinya baik dan tidak sombong domz). Cari yang kayak saya juga boleh, walaupun nggak punya member gym tapi sering sodakoh masakan buat seluruh penduduk rumah.

<3> Untuk menjaga mental agar tetap sehat. Saya dan teman-teman rumah setiap seminggu sekali punya kegiatan family dinner setiap sabtu malam. Ketika semua orang libur dan ada di rumah. (Ketauan misquuen semua ga mampu jajan diluar). Biasanya saya bakalan masak steak with mashed potato and gravy sauce (teteup cari daging dan kentangnya yang reduced discount 60% di IGA supermarket depan rumah biar hemat beb). Disajikannya sambil meredupkan lampu rumah dan menyalakan lilin agar romantiez. Tak boleh ketinggalan nyalain speaker sambil puter ‘fine dining jazz music cocktail bar playlist- di yutub. Lalu ngomongin Saham yang sedang turun. Family night = Halu night.

Tapi kadang seminggu sekali kami juga keluar dan makan di resto kalo punya duit. Nongkrong di Guylian Belgian Chocholate Cafe di dekat Opera House pake dress sama heels biar cakepan. Harganya mayan mehong -9 dollar satu cup beb. Tapi nggak papa sekali-sekali menikmati hidup. Tapi jangan pesen makanan ya ingat.

Makannya dimana dong? Tetep cari paket M. Paket misqueen di Chinatown. Ikan goreng segede gaban seharga 13 dollar buat patungan ber 3. NICE.

<4> Autumn tahun lalu juga menjadi autumn pertama saya merayakan ulang tahun di Australia. Tahun lalu kakak tiri saya juga akhirnya mengikuti jejak adiknya yang inspiring ini untuk pindah dan sekolah di Sydney, jadi untuk pertama kalinya saya bisa ngerayain ultah bareng keluarga di Ausi. Heyowww. Apa yang kami lakukan? Kami pergi fishmarket untuk makan sushi dan ngopi di Prymont. Kebetulan lagi nggak puasa. Saya juga dengan impulsivenya pergi ke toko gitar dan menghadiahi diri saya sendiri dengan sebuah gitar akustik yang sampe sekarang belum juga disentuh. Alasannya? Nunggu Emil teman saya ke Sydney buat ngajarin.

<5> Bulan Mei tahun 2019, kakak saya ketemu seorang tante-tante dari Banjarnegara yang sudah tinggal di Sydney selama 19 tahun di cafe tempatnya kerja. Tante ini yang yang sampai sekarang menjadi keluarga kami di Sydney. Baik banget parah. Sering kirim kolak dan pepes ke rumah. Mengerti penderitaan anak kosan yang makannya cuma kentang yang mau basi. Saya dan kakak saya juga sering dijemput dan diajak ngopi bareng anaknya yang usianya juga nggak jauh beda dengan kami. Baiknya keluarganya Masya Allah. Waktu bulan ramadhan tante ngajak kami ngumpul untuk bukber bareng tante-tante Indo lainnya. Di rumahnya yang WAW EMEJING. Pulangnya kami di bungkusin banyak makanan biar orang di rumah juga sekali kali ngerasain makan makanan bergizi. Tante ini juga sering ngajak kami nginap kalau lebaran atau natalan.

<6> Pada tanggal 13 April 2019 warga Indonesia di Sydney melakukan pemilihan umum. Saya tentu saja sudah mendaftar dari awal mula dibuka pendaftaran pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai warga Indonesia dan temporary resident di Australia saya mendapatkan surat suara untuk mencoblos. Waktu itu sahabat saya dari SMP juga sedang berkunjung ke Sydney dan ikut mengantri di Town Hall yang antriannya luar biasa beb. Mengular mengitari gedung besar di tengah kota ini. Walaupun sudah mengantri selama 1.5 jam kami akhirnya nggak dapet surat suara karena katanya surat suaranya sudah habis? What? Aneh bukan? Padahal saya sudah terdaftar sebagai pemilih tetap dan datang pada waktu yang sudah dijadwalkan oleh panitia. Situasi di Town Hall sempat kisruh karena banyak juga yang senasib dengan saya. Tapi pada akhirnya karena cape protes dan lapar karena belum makan dari siang. Saya dan Bram sepakat untuk mengakhiri kekesalan kami dengan menghabiskan malam dengan damai bareng Mpok Esti temen saya di farm dulu yang juga dari Purwokerto, ngobrol ngalor ngidul pake bahasa Ngapak.

<7> Hobi saya lainnya di musim gugur tahun lalu adalah pergi subuh-subuh ke Pasar Flemington buat cari sepatu bekas. Sepatu olahraga dan boots yang masih bagus-bagus yang harganya berkisar 5-20 dollar tergantung pintar-pintar menawar.

IMG_4160

Di Australia ada banyak toko barang bekas. Karena di negara ini orang-orangnya sangat menghargai barang bekas. Sepertinya moto mereka adalah “Kalau masih bisa dipakai dan bermanfaat buat orang lain kenapa tidak difungsikan kembali”. Saya sendiri memang suka sekali ke tempat-tempat seperti Newtown yang menjual baju baju dan buku buku bekas. Atau ke Vinnies toko barang antik yang juga menjual buku-buku bekas.

Bahkan kalau saya lagi rajin, saya suka main di pantai di depan komplek orang kaya. Iya orang kaya yang halaman belakang rumahnya adalah pantai pribadi biar bisa parkir pesawat amfibi dan kapal kapalnya. (Ini serius, saya sama temen saya yang suka numpang tidur siang di bawah pohonnya sering kebangun gegara satu keluarga baru pulang jalan-jalan naik pesawat amfibinya). Waw langsung berasa remahan rengginang.

Saya biasanya cuma mulung buku-buku. Buku-buku yang ditaruh di depan rumah empunya, siapa saja boleh ambil. Bukan cuma buku sebenarnya, ada juga barang bekas lainnya, seperti meja, komputer, skateboard, surfing board, sofa dll. Waktu itu saya bahkan pernah liat motor dibuang. Barang-barang itu sebenarnya akan dibawa ke tempat pembuangan, yang kemudian dipilah-pilah kembali. Beberapa barang yang layak jual pun, dijual kembali di tempat itu. (Jan ditanya kalau orang kaya saya pernah kesana nggak? It’s my Disneyworld).

Karena hobi mulung ini adalah hobi masyarakat Sydney kebanyakan. Kami jadi nggak malu-malu muter muter komplek rang kaya cari barang yang bisa dijual atau disimpan. Makannya temen-temen saya yang sewa rumah di Sydney, nggak pernah repot repot keluarin duit cuma buat beli furnitur untuk mengisi rumah. Mulung aja ke depan rumah orang kaya tiap minggu kedua. Barangnya jan salah masih bagus-bagus tsay!

Ini buku hasil mulung dan beli di Vinnies.

Bagi saya musim gugur di Australia adalah musim paling cantik yang pernah saya alami. Walaupun tahun ini nggak bisa merasakan musim gugur di sana, tapi saya tetep bersyukur tahun ini bisa menghabiskan banyak waktu di rumah Bapak nanem pare dan cabe. Saya sudah berjanji nggak mau ngeluh ataupun berharap macam-macam ditengah-tengah pandemi ini. Karena pandemi ini juga yang mengajari saya pelajaran berharga, bahwa nggak ada hal yang pasti di dunia ini.

Tapi kalau suatu hari dunia kembali pulih dan kita bisa hidup normal tanpa banyak aturan untuk menjaga jarak. Saya merekomendasikan kalian untuk main ke Sydney saat autumn tiba. Jangan lupa bawa jaket yang tebal karena suhunya bisa mencapai 7 derajat celcius di akhir Mei. Nanti main ke Lindfield, kita makan spagetti andalan saya dengan semua sayuran reduced. NIKMAT BEB!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

7 thoughts on “Musim gugur tahun lalu- 2019- (Lindfield, New South Wales)

  1. tahun lalu juga sebetulnya musim gugur pertamaku seumur hidup. bagus, ya, warna warni daunnya. apalagi pas ke melbourne udah sampai berguguran jadi gunungan daun. mudah-mudahan bisa ketemu lagi, masak pasta bareng lagi. hahaha.

    Liked by 1 person

    1. Iya bram bener2 skip tahun ini. Padahal autumn menjelang winter gini biasanya juga banyak festival. Ada vivid show, Bastille french festival, di Kirribilli biasanya juga banyak acara. Sekarang hanya ada covid show. Sedih dahh

      Like

Leave a Reply to Bram Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: