Tante Suez di Zandaam

Kemarin tante saya datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Entah awalnya sedang membahas apa, kami jadi teringat dengan Tante Suez.

Tante kami yang hidup seorang diri di Zandaam.

“Tante Suez dan Tante Marry itu nggak pernah ngerumpi apalagi ngomongin orang, keluarga mereka memang super baik, semua orang yang dia kenal di treat dengan baik dan nggak punya kepentingan untuk men judge orang, kangen ya” kata Tante Mang panjang lebar.

Saya pun jadi teringat sosoknya.

“Andai ada lebih banyak orang baik seperti dia, pasti dunia menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk dihuni”

Tiga bulan kembali ke kampung. Ada saja hal yang membuat saya kesal. Saya bertanya-tanya apakah ‘membicarakan keburukan orang’ sudah menjadi budaya yang wajar di sini. Bertemu tetangga lama yang dibahas cenderung keburukan tetangga tetangga lainnya. Apakah sesulit itu membahas cuaca, atau hal-hal yang lebih menarik. Saya bahkan tak lagi menyalahkan orang-orangnya. Inikah budaya di sini? Namun sungguh menyedihkannya ketika merendahkan orang lain menjadi sebuah pengikat masyarakat disini. Hal-hal yang menghabiskan waktu untuk didebat, akhir-akhir ini saya justru belajar untuk mengurangi interaksi.

Dan ketika kami lelah dengan kenyataan ini. Ingatan tentang Tante Suez dan keluarganya selalu menjadi pengingat, bahwa di dunia ini, masih banyak orang-orang baik dan relasi-relasi sehat yang bisa dibangun.

***

Bulan Juni 2019 saya mendapat kabar dari Belanda.

Sepupu saya di Den Haag mengirim pesan ketika saya sedang bekerja pada pukul 8 malam. “Angky, i have some sad news. Tante Suze passed away”

Hati saya hancur. Saya berlari ke parkiran dan menangis sejadi-jadinya. Ditemani jalanan yang gelap dan angin musim dingin Sydney yang menusuk sampai tulang. Tangan saya menutup wajah, menghadang air mata yang tumpah tak terkendali. Merasa dibuat tak berdaya dengan jarak yang menganga antara kami. Lalu bagaimana keadaanya di Zandaam.

Perlahan saya membuka mata saya dan menghapus air mata saya. Di depan saya sebuah bak sampah besar yang saya lewati setiap hari berdiri diam menyerap dinginnya malam. Sudah enam bulan saya bekerja di tempat ini tapi baru malam ini saya membaca tulisan di depannya.

Suez

“Tante, are you watching me now?”

***

Seluruh memori tentang Tante berkelebat di kepala saya.

Pada akhir tahun 2014 saya berkesempatan mengunjungi saudara jauh saya di Den Haag. Sebenarnya saya hanya mengenal satu orang sepupu jauh saya bernama Randy yang setiap tahun pulang ke kampung neneknya. Bahkan ia lebih sering pulang ke Indonesia daripada mengunjungi saudaranya di Belgia. Negara yang jaraknya hanya 2 jam dari tempatnya tinggal. Di Indonesia pun dia maunya cuma di Purwokerto dan di kampung neneknya selama sebulan. Dikasih makan nasi telor juga udah seneng. Keluarganya sudah pindah ke Den Haag sebelum ia dilahirkan dan jarang sekali kembali ke Indonesia. Selain Randy, saya hanya pernah mendengar nama keluarga lainnya yang tinggal di Belanda dari cerita-cerita saja.

Pada bulan November 2014 Randy menjemput saya di bandara Schipol bersama kakaknya Patrick. Mereka berdua mengerti bahasa Indonesia namun tak pernah terbiasa berbicara dengan bahasa neneknya ini. Saya sebaliknya, mengerti ketika mereka berbicara bahasa Belanda, tapi masih belum pede membalas dengan bahasa yang sama. Alhasil kami lebih sering menggunakan bahasa Inggris. Atau bahasa campuran. Seperti tante Mang kalo ngomong sama Randy di Purwokerto. Yang nyambung-nyambung aja padahal yang satu ngomong pake bahasa Indo bahkan Jawa yang satu bahasa belanda.

“Ren, dusen (mandi) dulu sana kamu, nanti bajunya mau tante wasen (cuci). Nanti baru boleh pergi eten (makan) sama Fredy”

“Ja tant, ik ga naar Mbah ya tant, met Fredy” (Iya tante, aku pergi ke tempat Mbah ta tant, sama Fredy”

“Ohh kowe mau ke rumah Mbah? Aja kelalen lawuhe digawa” (Oh kamu mau ke rumah mbah? Jangan lupa lauknya dibawa)

“Ja tant, waar is dat?” (Iya tan, dimana ya)

“Neng meja makan lah, yawis ya, tante ke pasar dulu” (Di meja makan lah, yaudah tante ke pasar dulu)

“Oke tant dui dui” (Oke tant dadah)

Kadang saya sama Dea sepupu saya yang dengar puyeng sendiri.

Di Den Haag. Randy membawa saya jalan-jalan. Mengajak makan makanan khas Belanda, dan mengunjungi makam ayah nya Pak De Doddy, di dekat rumah. Pak De yang nggak pernah saya temui yang katanya baiknya luar biasa yang sudah meninggal lima tahun yang lalu karena penyakit kanker paru-paru.

Ia juga mengajak saya untuk mengunjungi semua rumah keluarga di Belanda yang hanya pernah saya dengar dari cerita-cerita dari Tante Mang. Walaupun tak pernah bertemu sebelumnya, mereka semua menyambut kedatangan saya dengan hangat. Saya baru tahu ternyata saya punya banyak keponakan-keponakan lucu di negara ini. Yang gemez gemez.

Saya ingat pertemuan pertama saya dengan tante Suez. “Angky ini tante Suez, tante yang tinggal di Zandaam” kata Mbak Reni, istri Charles sepupu saya.

Seorang wanita tua dengan senyum paling cantik memperkenalkan dirinya pada saya. “Hai Angky sudah kemana saja di Eropa?” katanya ramah. Usianya 75 tahun kala itu. Tante memiliki bercak putih di sekujur tubuhnya, ia memilki vitiligo. Wanita cantik ini memilih tinggal di Zandaam seorang diri. Karena usianya yang menginjak angka 70 lututnya seringkali sakit. Apalagi ketika musim dingin tiba. Walaupun tinggal jauh dari saudara lainnya di Den Haag, tante selalu mengunjungi cucu-cucunya sebulan sekali dengan menggunakan taxy. Katanya dapat diskon kalau sudah tua dari pemerintah. Mudah sekali jatuh cinta kepada perempuan satu ini hanya dengan berbicara dengannya.

Kadang tante memarahi Randy karena tidak mengajak saya untuk jalan-jalan selama saya di Eropa. Karena ia sibuk untuk bekerja. Padahal saya juga main-main sendiri sama Nurul teman kuliah saya yang lagi melanjutkan studinya di Breda.

Rencana awalnya saya hanya akan menghabiskan dua minggu di Eropa bersama mereka, tapi Mbak Reny bersikeras untuk mengganti tiket kepulangan saya. Menjadi dua bulan. Agar saya bisa melewatkan natal dan tahun baru bersama mereka di Den Haag. Dan ulang tahun keponanakan saya yang bernama Felicia, yang jatuh pada akhir Desember. Mereka tak terlalu perduli ketika saya bilang cuma bawa uang pas-pasan. Untung ditampung, kalo nggak udah jadi gelandangan di Yurop beb.

Walaupun liburan saya hanya berputar-putar antara rumah sepupu dan menjaga anak-anak mereka karena nggak punya budget banyak untuk traveling. Tapi saya sungguh happy. Karena akhirnya saya bisa menghabiskan waktu dengan keluarga jauh saya yang jarang pulang ini di Den Haag.

Beberapa hari sebelum natal, Tante Suez datang ke Den Haag. Ia minta saya untuk menemaninya berbelanja kado natal di Centrum untuk cucu cucu nya; Alicia, Felicia, Richy, dan Louis George. Udara Den Haag yang dingin, ditambah dengan lutut Tante yang tak lagi kuat membuat kami harus berhenti beberapa kali agar tante bisa duduk dan istirahat. Tapi bukan Tante Suez namanya, kalau nggak ngotot untuk mencari dan membungkus kado kado natalnya sendiri untuk cucu-cucunya. Walaupun jalannya harus tertatih-tatih dengan tongkatnya tante tetap senyam senyum sendiri milih baju-baju kecil buat anak-anak itu.

“Angky kamu mau kado natal apa, pilih saja” katanya sambil menggenggam tangan saya yang dingin.

“Nggak usah tante, nanti Angky minta Randy saja” kata saya buru-buru sebelum Tante membelikan saya baju yang daritadi dipegangnya.

Selesai berbelanja, kami duduk di sebuah kursi panjang di tengah centrum. Walaupun Mba Reny nitip santan untuk bikin rendang saya bersikeras untuk cepat-cepat kembali ke mobil karena tante sudah terlihat kecapaian.

“Jangan gitu, kamu belikan santannya ya itu di Asian Market dibawah, tante tunggu disini”

“Tante pulang aja yuk, disini dingin nanti kaki tante makin sakit, masa Angky tinggalin tante sendirian”

“Nggak papa udah tante tunggu disini saja”

Ia bersikeras kalau ia akan baik-baik saja dan nggak mau pulang tanpa santan titipan Mbak Reny. Saya buru-buru ke Asian Market cari santan sambil takut-takut tante saya bakal kedinginan atau ilang di di centrum.

***

Pernah sekali saya disuruh ke Albert Heijn, sebuah supermarket di Belanda sendirian untuk beli jajanan yang kurang untuk bungkusan ulang tahun Felice, karena semua orang sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Hanya membutuhkan 10 menit jalan ke Albert Heijn dari rumah. Mba Reny pun percaya kalau saya nggak bakalan nyasar karena memang sudah sering jalan-jalan di komplek rumahnya.

Namun ketika sampai di toko itu, saya lupa nama jajan pesanan Mba Reny. Karena namanya sungguh ribet. Sementara bertanya ke petugas toko dengan bahasa belanda yang belepotan adalah hal yang sia-sia. Nggak bawa handphone pula. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyusuri lorong jajanan anak dan mengingat-ingat gambar jajanan dari bungkusan di ulang tahun Feli. Walaupun setelah beberapa menit nemu juga itu jajan, tapi saya jadi menghabiskan waktu yang cukup lama dari waktu yang diperkirakan di Albert Heijn.

Waktu saya jalan pulang ke rumah ditengah jalan tante Suez dengan lututnya yang kesakitan dan tongkatnya sedang berjalan menghampiri saya dengan pelan sambil sedikit berteriak.

“Angkyy, tante pikir kamu ilang”

“Yaelahhh tanteee, kok disamperin, dinginn, kakinya sakit ya ayokk pulang”

Kami berjalan pulang bersama. Sampe rumah tante langsung duduk sambil pijat-pijat kakinya.

Saya tersenyum simpul.

Tant, terimakasih sudah mencari dan menghawatirkan. Di dekat tante saya selalu merasa dicintai habis habisan. 🙂

***

Pada hari kepulangan saya ke Indonesia, saya diantar oleh sepupu-sepupu saya dari Den Haag. Mereka hanya akan men drop saya di airport pada pagi hari karena harus langsung kerja setelahnya. Pesawat saya take off sore hari sekitar jam 4.

“Angky look, who is that” sambil meraik koper saya Randy menunjuk seorang wanita paruh baya dengan tongkatnya di kursi Burger King.

“Tanteeee……”saya lari dan memeluk Tante Suez.

“Tante mau antar kamu”

Saya langsung mewek. Ini hati perempuan ini terbuat dari apa si? Bisa lembut sekali seperti ini. Tante harus naik tram ke bandara di cuaca sedingin ini, cuma buat antar saya pulang.

“Angky nanti kalau sudah di Indo sering telefon Tante ya”

“Angky nanti kalau ke Belanda lagi, tinggal sama tante di Zandaam ya”

Katanya sambil menemani saya duduk di Bandara.

“Iya pastilah tante, tante pulang aja nggak papa Angky, pesawatnya masih lama”

“Nggak mau, mau nungguin sampe kamu masuk dan gak kelihatan di gate”

“Ih tante nanti kesorean”

“Biarin”

Saya tersenyum membiarkan tante yang ngeyel ini untuk menemani saya sampai saya masuk gate. Benar saja dia menolak pergi sampe saya benar-benar hilang dari pandangannya. Untung saat itu ada teman saya Nurul yang juga ikut mengantar yang bisa saya percaya untuk menjaga Tante Suez. Saya masih ingat senyuman Tante sambil dadah dadah sumringah sampai saya benar-benar sudah masuk ke gate baru dia mau pulang.

***

Ketika sampai di Indonesia pun tante kadang telfon hanya untuk bertanya kabar. Tahun lalu entah mengapa saya kangen sekali dengan tante Suez, saya bilang ke sepupu-sepupu saya bahwa tahun ini saya harus pergi ke Den Haag untuk natal dan tahun baru bersama tante. Saya kangen sekali. Saya mau temani tante beli kado untuk anak-anak. Saya mau belanja di supermarket untuk ulang tahun feli dengan tante, saya mau ngobrol sampe tengah malam dan tidur di sofa ruang tamu sama tante sambil minum kopi hitam.

Tapi ternyata mimpi itu nggak pernah kesampaian. Tante harus pergi.

Saya tahu, saya hanya menghabiskan dua bulan dengan tante Suez semasa hidupnya. Tapi itu sudah cukup. Sudah cukup untuk mengenal wanita cantik yang memiliki hati yang besar. Perempuan yang sepertinya tak pernah kehabisan kasih sayang untuk dibagi. Wanita kuat yang berani memilih untuk hidup sendiri. Yang nggak pernah melihat kekurangannya sebagai hambatan untuk apapun. Yang sayang sekali sama keluarganya.

***

“I was picking up Tante Merry from the airport. Tante Suez should be there as well to pick her up. We’re going to meet there, but she wasn’t there. So Charles called Santi to reach her, but when we arrived at Tante Suze house. The police were there, they told me tante has passed away”

Tante although it did break my heart when Randy sent me those messages. But I could picture your sincere smile when you left this world. He told me how beautiful you were in your bed resting peacefully. Tante although it hurts so bad losing you like this, and I wish I was there holding your hand for the last time, like when you were holding mine when they got too cold. But deep down I know that you’re not really going anywhere, you’re always here with us, watching us grow to be such a strong and kind person like you. I really wish I do. I would never forget how stubborn you were at the airport so you could wave me goodbye, little did I know, that was for the last time. And that you were really meant it when you said goodbye. I love you so much tant, we’ll keep your walking stick here since you won’t need it anymore, run freely tant, without having to feel pain again, I’ll see you there”

Dear tante Suez rust in vrede.

“Als ik doodga, huil maar niet – (Jika aku mati, jangan menangis)

Ik ben niet echt dood, moet je weten – ( Aku tidak benar-benar mati, kamu harus tahu)

Het is maar een lichaam dat ik achterliet (Hanya tubuhku yang kutinggalkan)

Dood ben ik pas, als je me bent vergeten” (Aku hanya akan mati, jika kau melupakanku)

(Tulisan di nisan Pak De Dody, adik tante Suez)

Tante, voor altijd in ons hart

Oma, we zullen je missen.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

4 thoughts on “Tante Suez di Zandaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: