Rumah ‘itu’ dan cerita-cerita dulu

Selama berada di kampung halaman, Ibu jadi sering bercerita tentang tingkah saya ketika kecil.

Ada sebuah kejadian 26 tahun lalu, yang diceritakannya berulang kali. Sejarah anak-anaknya yang menakutkan juga membanggakan.

“Waktu Angky umurnya masih 2 tahun, baru beberapa bulan bisa jalan dengan lancar. Anak ini udah ilang”

Menurut kesaksian Ibu dan om tante saya. Saya memang pernah hilang ketika usia saya baru 2 tahun. Namun kala itu bukan hanya saya yang hilang. Ada empat anak lain yang juga ikut rahib dari rumahnya.

Kakak laki-laki saya sendiri yang berusia 6 tahun, sepupu saya si Dimas (3 tahun), dan dua anak laki-laki tetangga yang usianya diatas Mamas.

Saat itu tak ada seorang keluarga pun yang menyadari hilangnya 5 anak kecil ini. Dulu kami tinggal di rumah eyang dari Bapak. Rumah kami bersebelahan dengan rumah Mbah (orang tua Bapak) dan dekat dengan rumah om tante.

Dari kecilpun saya dan Mamas sering dititipkan di rumah Mbah dan bermain bersama sepupu sepupu saya. Sehingga ketika saya dan kakak tak ada di rumah, kami pasti bisa ditemukan di rumah Mbah.

Tapi tidak hari itu.

Seorang tetangga mendatangi Ibu yang sedang membersihkan rumah dan mengaku melihat saya dan Mamas bersama tiga anak lainnya di kota. Tanpa babibu, Bapak langsung saja memacu vesta bututnya ke kota untuk menjemput anak-anaknya. Kami ditemukan di depan toko textile di kota yang jaraknya sekitar 3.9 kilometer dari rumah.

Saya tak ingat betul tentang memori ini, tapi samar-samar saya ingat Bapak menjemput kami dengan vespa bututnya dan membawa kami pulang. Ibu bilang malam itu Mamas kena marah hebat dari Bapak.

Ibu sering mengkaitkan cerita ini dengan tingkah laku saya sekarang yang suka berkelana.

“Baru bisa jalan aja udah ilang, apalagi sekarang, makin jauh lah anak ini jalan-jalannya”

Waktu kecil saya memang lebih senang main dengan teman-teman lelaki Mamas daripada bermain dengan anak perempuan sebaya saya. Saya lebih suka main di luar rumah seperti naik pohon, ngejar ayam dan balap sepeda. Boneka boneka yang ibu belikan biasanya hanya akan jadi saksi bisu setiap kali saya diam-diam mengeluarkan sepeda Mamas dari garasi untuk main balap sepeda dengan Doni, tetangga sebelah rumah.

Entah berapa kali saya pulang ke rumah sambil menggiring sepeda kakak saya yang jauh lebih besar dari saya, dengan lutut sobek dan wajah penuh debu.

“Jatuh lagi?” kata ibu santai.

***

Waktu usia saya 5 tahun, kami sekeluarga pindah ke sebuah rumah kecil di perumahan dekat kampung mbah. Perumahan yang tetangga-tetangganya temen deket Ibu semua. Dan anak-anak temennya, jadi temen main saya dan Mamas yang menemani kami tumbuh hingga usia 18 tahun.

Di komplek ini saya mendapat banyak saudara.

Semasa saya kecil, saya sering jatuh nggak karuan. Herannya, Ibu nggak pernah marah setiap kali saya pulang dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dulu saya sering heran dengan perigai Ibu. Melihat beberapa anak perempuan tetangga atau sepupu saya dimarahi ketika naik-naik pohon. Sementara saya dibiarkan begitu saja. Ini Ibu ndak sayang sama saya atau gimana si?

Ternyata setelah saya besar saya baru tahu, kelakuan saya yang aktif dan nakal justru di claim Ibu sebagai hasil turunannya. Semasa kecilnya, Ibu pun adalah anak yang tomboi dan pecicilan. Akunya.

Penggalan cerita masa lalunya pun membuat saya yakin, saya memang anak benar anak kandung Ibu.

“Dulu Ibu suka naik pohon ambil buah tetangga. Atau naik genteng. Mbah ndak tahu”

“Dulu Ibu suka main petak umpet sama teman-teman laki-laki. Biasanya kalo giliran si K, Ibu ajak orang-orang untuk pulang aja ke rumah tidur nggak usah dicari. Karena dia suka ngumpet bawah keranda di masjid, biarin aja besok paginya dia bangun di bawah keranda”

Tega banget si bu!

***

Waktu saya SD, saya ingat pernah ngambek berhari-hari sama Bapak. Karena waktu pulang sekolah dan lari ke kebuh depan, saya lihat pohon mangga depan rumah rahib tiba-tiba. Ditebang sama Bapak. Padahal mangganya manis.

Hari itu Bapak pulang kerja sore-sore mendapati anak perempuannya lagi teriak teriak ke istrinya di atas pohon di depan rumahnya.

“Bu turunn! Gantian buuu. Ibu udah dari tadi diatas”

Ya, hobi Ibu memanjat pohon memang dipeliharanya sampai ia punya dua anak. Bahkan tiap saya nyariin Ibu, kalau nggak nemu ibu di dapur, sudah bisa dipastikan Ibu pasti lagi manjat pohon. Karena kesamaan hobi kami ini Ibu nggak pernah sekalipun protes kalau saya lagi manjat pohon ketapang di depan rumah tetangga sama anak anak laki.

Paling cuma dibilang.

“Ati-ati ya de”

Keputusan Bapak untuk melenyapkan pohon mangga kesayangan kami dipicu karena pohon ini dianggap berpotensi menjadi pemicu retaknnya hubungan anak dan Ibu. Rebutan dan ribut mulu tiap hari.

Jadi ketika kami berdua lengah, nggak tanggung-tanggung, pohon tak berdosa itu Bapak tebang tanpa meminta ijin para penghuninya (Anak dan istrinya). Saya dan Ibu yang sama-sama kesal ujung-ujungnya cuma bisa saling melempar kesalahan.

“Gara-gara Ibu si kemarin, nggak mau gantian”

“Kamu juga tu brisik triak-triak”

Namun, apakah Ibu kapok setelah pohon kami ditebang?

Tentu saja tidak.

Seperti tak pernah hilang akal, Ibu justru menawarkan diri untuk membantu tetangga mengambil buah rambutan yang sudah matang di pohon rumah depan. Yassalamm.

Kali ini Bapak cuma bisa ngelus dada, karena nggak punya hak buat nebang pohon tetangga.

***

Tingkah saya sering dibanding-bandingkan dengan sepupu saya, Dea. Usia kami hanya terpaut 3 hari. Tapi kelakuannya berbeda drastis. Dari kecil Dea adalah anak yang nurut Ibunya, jalannya pelan seperti putri solo. Ketakutannya kala itu hanya satu, jatuh dan terluka.

Berbanding terbalik dengan saya. Yang punya banyak bekas luka di sekujur tubuh karena jatuh setiap hari. Bolak balik jatuh dari pohon dan sepeda.

Karena kehati-hatiannya, kulit Dea halus hampir tanpa luka sedikitpun.

Hanya ada satu jahitan di kepalanya.

Luka yang saya berikan untuknya belasan tahun yang lalu. i’m not proud of it, tapi menurut Ibu saya, saya memang senakal itu.

Ketika kami SD, Bapak membuat kolam ikan kecil di belakang rumah. Kolam yang nggak terlalu dalam, agar saya dan Mamas bisa memelihara ikan kecil-kecil.

Doni tetangga saya yang sering saya ajak balap sepeda sedang bermain di rumah liat ikan. Begitu pula Dea. Tiba-tiba Doni mendorong saya masuk ke dalam kolam dan langsung lari. Tentu saja saya langsung memanjat kolam itu dan naik ke permukaan. Entah kenapa ketika saya melihat Dea yang sedang asyik melihat ikan, ingin rasanya membalas perbuatan Doni kepadanya. Jadi saya jorogin aja sepupu saya yang nggak bersalah itu sampe kepalanya mentok di batu, berdarah hebat, dan harus dijait.

Tolong ini buibu kalo punya anak aktif saya diawasin dengan bener. Berbahaya beb.

Hari itu, saya dimarahin habis-habisan sama Ibu.

“BISA BISANYA SEPUPUNYA DI JOROGIN, MINTA MAAP NGGAK”

Sekarang Dea justru menjadi sepupu yang paling dekat dengan saya. Karena sampai saat ini saya masih saja merasa bersalah dengannya. Saya pun yang udah menjadi anak baik-baik (amen) mencoba membayar kekejaman saya kepada Dea hingga saat ini. Apapun yang Dea mau saya kabulkan.

Dari minta diajarin naik motor, dibantuin PDKT sama temen SMP, sampe membanutunya mewujudkan impiannya di Jakarta.

P.S: Dulu anak ini paling takut kalo disuruh ke Jakarta sendiri. Sekarang nggak punya rasa takut sama sekali, pagi buta juga berani naik ojek sendirian ke Senen.

Sambil ngelus-elus jidatnya sendiri, Dea masih suka membahas betapa kejamnya saya dulu yang cuma bisa saya balas.

“YA MAAPPPP”

***

Dulu saya punya teman main. Anak perempuan belakang rumah namanya Kiki. Kata orang-orang, Kiki adalah adik perempuan saya. Selain nama kami mirip, paras kami juga tak jauh berbeda. Mungkin karena sering main bareng dan karena Ibu kami bersahabat. Usia kami terpaut 5 tahun. Kami sama-sama suka balap sepeda dan menolak pakai rok.

Kalau main ke rumah Kiki, saya akan memanjat tembok yang menyambungkan rumah kami berdua dan muncul di tempat jemurannya. Ibu Kiki pun sudah terbiasa dengan tabiat saya ini dan nggak pernah heran kalau saya tiba-tiba sudah ada di dapurnya makan bakwan buatannya.

Kami tumbuh bersama hingga pada usia 18 tahun saya meninggalkan kampung untuk kuliah di Depok.

Suatu malam ketika saya sedang nginap di kosan Mamas di Tangerang. Bapak menelfon saya. Suaranya parau.

“De…. lagi dimana?”

“Di kosan Mamas”

“De………yang sabar ya…..Kiki meninggal tadi sore”

Berita yang kami dengar malam itu terasa seperti sebuah bom yang dijatuhkan di tanah Allepo. Tiba-tiba dan mematikan. Saya dan Mamas langsung menyewa mobil untuk pulang ke Purwokerto malam itu juga.

Kiki berumur 16 tahun ketika ia meninggalkan dunia ini. Anak yang aktif ini baru saja pulang latihan paskibraka di Gor. Little did we know, hari itu ia pulang ke ‘rumah’ abadinya.

Sambil terisak di perjalanan pulang ke kampung. Saya teringat celotehan Ibu Kiki setiap saya pulang kampung.

“Nih Kiki mau ikutin kamu ki, kuliah di UI, tapi mau ambil kedokteran, mau jadi dokter dia”

“Yeee bareng lagi dong kita ki” kata saya menimpali dengan semangat.

Di mobil dalam perjalanan pulang, saya bahkan masih menganggap semua ini tidak nyata. Bahwa saya pulang kampung untuk bermain bersama teman-teman saya. Bukan untuk menguburkan adik saya. Tapi pada satu titik saya harus belajar menerima kenyataan bahwa Kiki telah pergi. Terlalu jauh dan terlalu cepat.

Ibu sering mengingatkan saya tentang hari kelahiran Kiki. 16 tahun yang lalu Ibu membawa saya ke rumah bidan di depan perumahan. Katanya hari itu adik perempuan saya lahir. Saya masih ingat betapa bahagianya saya melompat-lompat tinggi untuk melihat Kiki di dekapan Ibu.

“Bu turunin bu mau liatt” kata saya nggak sabaran.

Pada hari kepergian Kiki. Ibu pula yang menjemput jenazah Kiki di rumah sakit dan membawanya pulang dengan ambulans.

Ketika sampai di Purwokerto, Mamas dan saya masuk ke rumah Kiki untuk mengucapkan belasungkawa kepada Ibunya. Saya menahan isak tangis, sementara Mamas terlihat lebih tegar.

Kakak lelaki Kiki yang bernama Mas Erwin masih memeluk helm yang Kiki kenakan ketika terjadi kecelakaan.

Di sebelah saya Ibu berbisik “De coba copot kacamatamu, nanti Ibunya Kiki sedih liat kamu, karena kalian mirip kalau pakai kacamata”

Saya melepas kacamata saya dan memasukannya ke tas. Berjalan menuju Ibu Kiki yang duduk dengan pandangan kosong. Tangan saya meraih tangganya dan menciumnya tanpa berucap sepatah katapun. Seketika itu juga tangis Ibunya kembali pecah melihat saya.

Mungkin, ia melihat sosok anak perempuannya di diri saya.

Kemarin sebelum puasa saya datang ke makam Kiki yang sudah bertahun-tahun tak pernah saya datangi.

“Ki, Mba pulang”

***

Ada banyak kenakalan-kenalakan saya dan kakak saya di rumah kami di perumahan sukajati. Kenakalan-kenakalan yang pada akhirnya dimaafkan Ibu dan Bapak karena menurut mereka tabiat kami sudah terbayar lunas dengan nilai-nilai emejing kami di sekolah dan kemandirian kami sekarang ini.

Rumah masa kecil kami ‘itu’ akhirnya kami tinggalkan beberapa tahun setelah meninggalnya Kiki.

Beberapa bulan setelah perceraian Bapak dan Ibu. Rumah tanpa penghuni yang kini kosong dan berdebu. Namun masih menyimpan sisa sisa kenangan masa lalu. Yang merekam segala haru biru.

Kadang rasanya, kangen sekali ingin kembali ke rumah ‘itu’.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

2 thoughts on “Rumah ‘itu’ dan cerita-cerita dulu

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: