Surat Anak Rantau

“Perjumpaan tidak sengaja membuat empat orang siswa-siswi SMA ini menjalin persahabatan. Sejak berpisah kota di tahun 2010 mereka saling bertukar kabar melalui sebuah buku jurnal yang mereka beri judul Surat Anak Rantau (SAR). Buku tersebut secara bergantian berpindah dari satu kota ke kota lainnya hingga mereka lulus dari perguruan tinggi negeri masing-masing dan melanjutkan hidup sebagai manusia dewasa dengan caranya masing-masing.

Kini mereka berempat masih gemar membuat catatan hidup dan terus mengejar mimpi-mimpi yang mereka tulis di SAR. SAR lebih dari sekadar buku curhat ala remaja belia. Tapi SAR merupakan sebuah catatan sejarah yang juga membantu mereka menemukan apa arti hidup. Lewat SAR mereka juga diam diam belajar untuk memaknai setiap perjalanan yang mereka lalui.

Sejujurnya buku SAR sudah hilang entah kemana, tapi mereka masih ingin terus menulis tentang cerita hidup mereka. Akhirnya tiga diantara empat sahabat ini memutuskan untuk mengabadikan cerita-cerita mereka melalui blog agar suatu hari cerita mereka dapat menjadi renungan dikala senja sambil minum air putih agar sehat. Selamat membaca dan semoga bermanfaat!”

Tepat sepuluh tahun yang lalu saya harus keluar dari kampung halaman untuk berkuliah di UI, Depok. Meninggalkan kota Purwokerto juga berarti berpisah dengan ketiga sahabat saya; Hanum, Ibnu, dan Fachreza. Kawan-kawan yang setia menemani saya memacu motor butut menuju bukit bernama Baturaden, untuk sekadar makan mendoan atau minum wedang jahe sambil berbicang tentang rencana masa depan.

Pada tahun yang sama Hanum juga harus meninggalkan Purwokerto untuk melanjutkan studinya di UNDIP, Semarang. Sementara Ibnu memilih UGM di Yogyakarta sebagai kota rantauannya. Satu-satunya yang bertahan di kota kami hanyalah Fach yang berkuliah di UNSOED.

Pada tahun-tahun pertama merantau, saya dan Hanum yang memang senang menulis menjadi sering berkirim surat dan post card dari Depok ke Semarang atau sebaliknya. Keingininan untuk berkirim kabar dan cerita menggunakan surat kami kembangkan menjadi lebih kreatif lagi. Saya kemudian membeli sebuah buku yang saya beri judul ‘Surat Anak Rantau’. Sebuah buku catatan yang kami kirim bergantian ke kota masing-masing. Dimulai dari Depok-Semarang-Yogyakarta-Purwokerto.

Isinya? Cerita-cerita dan gambar-gambar kami berempat di tanah rantau. Dari kisah masa-masa orientasi, gambar sebuah peta kampus masing-masing dan kosan, tempelan foto-foto menggunakan jaket almamater, dan segala euforia perkampusan dan hiruk pikuk kota besar dari sudut pandang anak rantau seperti kami.

Sekarang buku tersebut sudah rahib di tangan Ibnu. Sudah beberapa tahun ini dicarinya tapi belum juga ketemu. Alhasil kami jadi berinisifstif mengganti journal itu dengan journal digital. Karena alasan ini terlahirlah blog Surat Anak Rantau. Tapi blog ini hanya diisi oleh saya, Hanum dan Ibnu saja. Karena sebelumnya kami memang senang menulis Blog. Dimana Fach? Di Sumatera bersama istri dan anaknya. Tapi memang hanya Ia yang tidak hobi menulis.

Sejak sepuluh tahun lalu hingga kini kami berempat selalu saja terpisahkan oleh jarak dengan tinggal di kota yang berbeda. Setelah lulus kuliah, saya memilih tinggal di Jakarta, sementara Ibnu bertahan di Yogyakarta, Hanum melanjutkan masternya di Copenhagen, sementara Fach dinas di Nias.

Dua tahun kemudian saya pindah ke Sydney, Hanum masih di Copenhagen, Ibnu yang sekarang justru tinggal di Jakarta. Cerita-cerita di jurnal itu pun mulai berubah seiring berjalannya waktu. Mulai dari cerita kegalauan masa masa Ospek, kehidupan mahasiswa baru, dunia pekerjaan, kehidupan diaspora, travelling, hingga cerita mengenai relasi dan pernikahan.

Tahun lalu Hanum pulang dari Denmark dan menetap di Jakarta bersama suaminya. Akhirnya setelah sembilan tahun ada dari kami yang tinggal di kota yang sama. Hanum dan Ibnu. Kadang mereka makan siang bersama di Juanda.

Walaupun blog bersama ini seringkali terbengkalai karena kesibukan masing-masing, kami bertiga masih saling mengingatkan untuk mengisi kolom di blog Surat Anak Rantau sebagai catatan sejarah kami sendiri. Untuk diceritakan ke anak cucu, kalau punya besok.

Untuk yang ingin membaca catatan kami bisa dilihat di link ini https://suratanakrantau.wordpress.com/

Untuk blog Hanum bisa dibuka di tautan ini http://www.hanumhapsari.com

Yaudah itu saja informasi hari ini gais. Kebetulan saya baru aja nulis di blog Surat Anak Rantau dan sudah menghabiskan lima setengah jam duduk di caffee mengurus segala urusan persianpan kepulangan ke Sydney dan mau keluar cari makan dan udara segar.

Sampai ketemu di blog sebelah.

Cheers

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

9 thoughts on “Surat Anak Rantau

      1. Tadi tulisannya direkomendasikan oleh WordPress dan memang tertarik baca kak Angky Ridayana. Tidak hanya karena tulisannya yang menarik namun isinya juga semakin menarik bagi saya. Saya jadi berpikir bahwa jika penulisnya sudah sangat baik menyampaikan ceritanya dan bagaimana persahabatannya terjalin selama ini (dimana persahabatan seperti itu juga yang saya impikan), maka sempurnalah bacaaanya bagi saya dan tidak mengharapkan lebih dari itu. And thank you for that.

        Liked by 1 person

Leave a Reply to Afridani Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: