Sesuatu di Jogja (Part 1)

Jakarta, 2020

Sebuah Toyota Innova menerobos pekatnya jalanan Jakarta yang basah di akhir pekan. Aku bisa mencium bau air hujan yang jatuh tanpa upaya di luar jendela. Sudah satu tahun aku tak kembali. Jakarta, masih sama. Padat dan berdebu.

Sayup suara Adhitya Sofyan menyelip melalui radio memecah keheningan malam.

Hey cantik
Coba kau catat keretaku tiba pukul empat sore
Tak usah kau tanya aku ceritakan nanti

Hey cantik
Ke mana saja tak ada berita sedikit cerita
Tak kubaca lagi pesan di ujung malam

Sepasang mataku tersenyum, wajahku berpaling memandang sosok di belakang kemudi. Aku menatap sepasang tangan yang biasa menggandengku berkeliling jalanan kota yang layak untuk di kenang.

Ya Jakarta diam kehilanganmu
Bau wangi hujan tak lagi sama
Sudah saatnya kau jemput musik yang tertinggal
Sampai kapan aku kan bernyanyi sendiri
Hingga kini masih selalu menanti nanti

Hujan mulai reda. Kurendahkan kaca jendela di sebelah bangku penumpang. Diantara angin malam yang menderu-deru, sebuah memori mendadak menerobos memenuhi pikiranku. Berdiri, begitu tegak, begitu dekat.

Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja

Dengar lagu lama ini katanya
Izinkan aku pulang ke kotamu
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja

***

Yogyakarta, 2011.

“A jemput dong di Tugu”

Pesan singkat segera kukirim kepada seorang teman yang kami panggil dengan sebutan Aa sesampainya di Jogja pukul 6 pagi. Karena sepertinya, lagi-lagi, pacarku gagal mendengar alarm dan bangun untuk menjemput kekasihnya yang datang dengan kereta ekonomi jauh-jauh dari Jakarta.

Baru beberapa bulan lalu, ia pindah ke Jogja. Kepindahannya ini juga berarti membuat jarak diantara kami semakin menganga. Jalanan Bandung-Depok yang tadinya rajin disusurinya untuk menemuiku di Depok sekarang sudah menjadi sejarah. Mimpinya menghapuskan jarak diantara kami dengan mendaftarkan dirinya ke kampus UI justru membawanya jauh ke Yogyakarta, ke kampus UGM, pilihan keduanya.

Tapi kami berdua tahu, bahwa kepindahannya ke kota Yogyakarta merupakan sebuah perayaan yang ingin kami rayakan dengan gagap gempita. Kami mencintai Jogja lebih dahsyat daripada kami mencintai kota Depok dan Bandung, bahkan daripada kota tempat kami lahir. Kami ingin menikmati langkah kaki dan kota Jogja dengan lantang. Menuliskan berjilid jilid cerita tentang kami dan Jogja. Bersamanya, dan bersama sahabat-sahabat yang sudah dulu menghirup udara di kota ini.

Kali ini giliranku yang sering menghampirinya di Jogja. Karena bukan hanya ada kekasihku di sana, tapi diam-diam aku jatuh cinta pada kota ini.

“Kok nggak dijemput abang?” tanya aa setelah sampai dengan motornya di depan Tugu.

“Ketiduran” Jawabku singkat “Lagi”

Akhir-akhir ini aku merasa upayaku mempertahankan hubungan kami lebih besar dari upayanya. Hubungan kami yang dulu ringan lama kelamaan terasa seperti sebuah perjungan yang melelahkan.

Padahal dulu ketika aku tinggal di Depok, dia yang lebih banyak berjuang untuk kami. Ketika ia masih tinggal di Bandung, justru aku yang agaknya tidak mengerti bagaimana menyambut baik perasaann dan upayanya. Niat baiknya mengantarku dari kota kami di Purwokerto ke Depok, lalu baru kemudian pulang ke Bandung, sering ku anggap angin lalu. Kalau kata anak jaman sekarang, ia adalah budak cinta.

Sekarang, boro-boro bangun hanya untuk mejemputku di stasiun Tugu setelah kutempuh puluhan kilometer untuk menemuinya di Jogja. Wait a minute, apakah sekarang aku yang bucin? Tanyaku pada diriku sendiri.

Seseorang pernah mengatakan padaku, bahwa dalam hubungan selalu ada yang memberi lebih banyak. Aku setuju. Kami berdua mungkin tak pernah mencintai di porsi yang seharusnya. Lalu kenapa aku tidak pernah marah ketika ia lupa menjemputku di Tugu?

Karena aku tak ingin ia menjadi jengkel karena kerewelanku. Karena aku benci dengan konflik. Dan karena aku ingin hubungan kami “baik-baik” saja.

To be continued.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

4 thoughts on “Sesuatu di Jogja (Part 1)

  1. Ga sabar juga ky

    Suka paragraf terakhir. Ku juga sering mikir kayak gini, jauh jauh sama konflik

    “Karena aku tak ingin ia menjadi jengkel karena kerewelanku. Karena aku benci dengan konflik. Dan karena aku ingin hubungan kami “baik-baik” saja”

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: