Status: ODP (lagi)

Empat bulan lalu pada 29 February 2020 saya landing di Bali dari Sydney. Beberapa hari stay di Bali bersama Ibu, saya terbang lagi ke Jakarta dan tinggal beberapa malam di kosan sepupu di Benhil. Lalu pada tanggal 10 Maret saya akhirnya pulang ke Purwokerto naik kereta api. Ketika saya pulang Indo, di sini belum ada yang positif corona sampai pada tanggal 2 Maret Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada 2 pasien positif corona di Jakarta. Daerah lain selain Jakarta masih merasa aman dari virus menular ini dan belum ada restriction khusus seperti saat ini.

Sampai di Purwokerto saya memutuskan untuk mengisolasi diri saya secara mandiri, karena saya memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri dan baru kembali dari Bali dan Jakarta. Selama satu bulan penuh saya cuma rebahan di rumah dan menjaga jarak dengan orang rumah karena saya merasa bahwa status saya kala itu adalah ODP atau orang dalam pemantauan.

Apalagi saat saya di Bali, saya sempat demam selama satu hari penuh. Sebenarnya demam saya kala itu bisa jadi disebabkan karena kelelahan karena di sana saya nggak berhenti beraktifitas. Dari hopping pulau pulau dan renang sambil panasan sama teman-teman saya saking kangennya setahun penuh nggak pulang. Makin-makin lah parno ya kan. Saudara-saudara saya di Purwokerto menjadi banyak yang protes karena udah pulang ke Purwokerto tapi belum bisa ditemui, tapi yaaa mo gimana lagi demi kebaikan bersama juga.

Setelah masa karantina selesai dan kondisi saya baik-baik saja, saya mulai berani main ke rumah saudara-saudara. Ketemu ponakan-ponakan yang udah pada gede tapi tetep menggemazkan. Apalagi ketika new normal di berlakukan, saya mulai ketemu beberapa teman tetapi tetap dong menghindari kerumunan dan mengikuti protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan cuci tangan bawa hand sanitiser kemana-mana.

Setiap orang harus berhati-hati dan menjaga diri serta orang-orang disekitar tentu saja. Tapi setelah kota kami di deklarasikan sebagai zona hijau oleh Bupati, perasaan sedikit aman tentu saja ada. Dan ketika new normal mulai diberlakukan, dan restriction di angkat satu persatu, semua orang menggunakan kesempatan ini untuk bertemu saudara dan teman yang sudah lama tak bersua. Termasuk saya sendiri. Keadaan mental yang tadinya amburadul pun sudah mulai membaik karena banyak berinteraksi dan berdiskusi dengan kawan-kawan saya. Karena somehow, sedikit demi sedikit kami sudah merasa aman untuk menjalani hidup di luar rumah.

Pada masa pandemi ini pun saya jadi menyadari satu hal. Aktifitas dan interaksi adalah hal esensial untuk manusia bertahan hidup. Juga sebagai upaya untuk menjaga kesehatan mental. Karena saya merasakan betapa mau gilanya saya beberapa bulan di rumah walaupun sudah melakukan hal-hal yang nggak bikin spaneng. Karena setiap hari sedikit demi sedikit saya mulai putus harap. Sedikit sedikit menerima kalau kita semua sedang tidak baik-baik saja.

Teman-teman saya yang bekerja di Jakarta tapi selama ini stuck di Purwokerto mulai kembali ke ibu kota karena sudah diperbolehkan bekerja di kantor. Kereta mulai dioperasikan, orang-orang boleh kembali ke Jakarta asal memiliki SIKM dan punya hasil rapid yang non reactive. Minggu lalu, sebelum pulang ke Jakarta sohib saya yang juga mantan cinta monyet jaman kuliah ngajak ke Baturaden, buat liat sapi sambil makan mendoan. Sebut saja kawan saya ini abang. Again kami bersahabat baik. Sebagai upaya meng-visualisasikan mimpinya untuk kuliah di New Zealand tahun depan. Konon bukit berisi sapi sapi lucu itu, kata Ibnu kawan kami, mirip dengan pemandangan yang ada di NZ.

Setelah pulang dari Baturaden yang btw gagal liat sapi karena tempatnya ditutup karena corona. Saya nemenin si abang tes rapid buat bekal beli tiket balik ke Jakarta. Dia disuruh untuk nunggu hasil tesnya keluar selama satu jam. Kami waktu itu memilih untuk menunggu hasil tes di kedai kopi dekat rumah sakit.

Ketika kami kembali ke rumah sakit. Voila. Ternyata hasil test rapid abang reactive. Saya tentu saja auto-panic karena beberapa hari belakang setelah tatanan new normal di berlakukan, kami jadi suka ngopi bareng buat membahas rencana studynya tahun depan ke New Zealand.

Tapi teman saya yang bekerja di rumah sakit tempat dia tes justru bilang untuk tidak panik, karena hasil rapid reactive tidak menjamin bahwa hasil swabnya nanti positive. Dan ternyata menurut informasinya ada banyak orang yang hasil rapidnya reactive dan ketika di swab negative. Bahkan kamar isolasi nggak pernah terisi di rumah sakitnya. Hanya sesekali saja. I know, seharusnya kami tetap tidak boleh menyepelekan hasil rapid ini.

Kata teman saya yang lainnya, hasil test rapid kan juga berdasarkan immunitas orang yang di tes hari itu. Katanya lagi, kalau orang yang di tes sering begadang dan ketahanan tubuh sedang tidak fit, kemungkinan hasil rapidnya reactive semakin besar. Si abang pun mengaku bahwa memang akhir-akhir ini dia sering begadang karena sulit tidur kalau malam. Walaupun saya yakin, faktor yang membuat hasil reactive tak se-simple itu. Tapi untuk mem puk puk diri kami berdua kami kiranya butuh untuk mendengar ini. Test lanjutan pun dilakukan, ia langsung melakukan swab test saat itu juga. Saya cuma nunggu di mobil sambil cari-cari berita yang menenangkan.

Lima hari kemudian saya mendapat telfon darinya

“Ki jangan panik, jangan panik ya”

Ketika ada orang bilang kalimat itu di sambungan telefon, yang bisa saya lakukan justru hal sebaliknya. PANIK.

“Apa si?”

“Aku postive”

Saya yang lagi nyanyi nyanyi sambil ngetik-ngetik nggak jelas di lepto langsung nge freeze. Saat itu saya lagi ada di coffee shop sendirian.

Oh Dear God. What should i do? Saya benar-benar nggak bisa bereaksi atau merespon dia di sambungan telfon.

“Mereka bilang aku harus diisolasi di RS”

Otak saya masih mampet. Ga bisa diajak mikir. Yang saya tahu, saya nggak boleh kembali ke rumah dan harus segera menjalani tes untuk memastikan apakah saya juga positive atau tidak. Saya harus langsung pergi ke rumah sakit. Entah mengapa saya nggak bisa mengontrol pikiran dan diri saya kala itu. Yang ada di pikiran saya, kalau dia positive ya saya pasti juga positive. Karena selama ini temen main saya di Purwokerto cuma ada 3 biji. Termasuk dia dan pertemuan kami cukup intensive sering. Apalagi sering berada di mobil bareng. Goshhhhhhhh.

Hari itu saya, Bapak Ibu dan kawan-kawannya yang kontak langsung dengannya langsung terbirit-birit ke rumah sakit untuk melakukan rapid. Rumah sakit yang aniwei kosong melompong, pasiennya cuma kita kita aja.

Disitu pikiran saya udah kemana-mana, gimana kalau saya juga positive? Merasa bersalah dengan orang-orang di sekitar saya. Padahal minggu-minggu ini saya lagi sering main ke rumah keponakan dan voluntarily njagain ketiga anak sepupu saya hampir tiap hari. And you know how 3 yo yang suka eyus eyus dan cium-cium tante kesayangannya tiap tidur siang. NOOOOOOO

Gimana Ibu dan Om yang kemaren makan bareng dengan saya. Bapak dan tante yang tinggal dengan saya. Tiba-tiba semua pikiran negative masuk ke otak nggak bisa terbendung. Saya langsung mikir setiap kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

Bahkan bukannya saya yang menelefonnya abang yang jelas-jelas positive untuk kasih support, tapi justru dia yang nenang-nenangin saya yang kelimpungan. Karena saya nangis di parkiran kayak anak TK nggak dibeliin cireng. PANIK SHAY!

Saya menjalani rapid test di rumah sakit swasta yang sama dimana dia akhirnya di isolasi. Bersama orang-orang rumahnya dan kawan-kawan lainnya. Setelah sejam menunggu hasilnya di parkiran sambil makan jagung rebus yang dikasih temen karena ternyata panik juga menguras banyak tenaga, hasil tes saya keluar.

Di ruang dokter saya udah pasrah sepasrah-pasrahnya. Kalo saya juga positive, saya mau diisolasi atau dilakban sekalian. Doketernya senyum-senyum liat saya yang nggak bisa tenang sama sekali. Jantung dag dig dug pas dokter buka amplop yang hasilnya ternyata non reactive. Bukannya merasa lega, saya malah merasa aneh. Saya justru minta dokternya untuk melakukan swab test. Tapi kata Pak dokter saya nggak bisa swab karena hasil rapid saya negative. Hanya orang dengan hasil rapid test reactive dan pasien dalam pengawasan atau PDP yang di prioritaskan. Menurut teman saya yang bekerja dengan dinas kesehatan saat ini alat PCR di Indonesia memang masih sangat terbatas.

“Udah kamu jangan panik nanti malah stress, isolasi mandiri aja dulu” kata Pak dokter.

Hari itu, bukan hanya saya saja yang hasil tes nya non reactive, tapi semua keluarga dan temannya yang kontak langsung dengannya pun sama. Non reactive, dan kami semua tetap harus dikarantina mandiri selama 14 hari. Fair enough.

Saat ini status saya adalah ODP, sementara si abang OTG, atau orang tanpa gejala. Yang menurut ketentuan penanganan pasien corona yang saya baca di beberapa media masa seharusnya orang tanpa gejala bisa di isolasi mandiri di rumah. Tapi sewaktu abang dikabarkan oleh rumah sakit bahwa dia positive corona, dia hanya diberi dua pilihan; mau dijemput pake ambulan yang pasti bikin geger seluruh jagat raya atau berangkat sendiri ke rumah sakit.

Yang pada akhirnya dia nyetir sendiri ke RS. Menurut saya ada kesalahan prosedur, harusnya pasien diberi informasi dan opsi untuk isolasi mandiri dengan tetap diawasi oleh tenaga medis. Later on ada dinkes dan orang puskesmas yang didampingi polisi ke rumahnya untuk meng-swab seluruh orang di rumahnya.

Aniwei sekarang doi udah berada di ruang isolasi selama 6 hari. Kondisinya sehat-sehat saja. Banyak teman yang support dengan kirim makanan, obat, jamu, sampai paket data biar nggak bosen di ruang isolasi sendirian. Walaupun sempat ada drama kamar isolasi yang panas luar biasa kayak sauna karena cuma ada kipas angin (fyi di Purwokerto sekarang tiap siang panasnya membakar) tapi syukurlah sekarang udah dipindah ke ruang yang lebih layak. Walaupun ruangannya sudah nyaman tapi tetep aja kalo malem ngeri katanya karena satu lantai isinya dia doang. Langsung terbayang lorong rumah sakit yang gelap dan creepy.

Setiap malam sebagai bentuk support saya dan teman-teman lain mengadakan whatsapp group call untuk membahas beberapa issue seputar pandemi, atau cuma ngobrol biasa biar dia nggak ngerasa sendirian.

Tapi pengalaman ini membuat saya menyadari sesuatu yang berbeda dari fenomena corona. Jauh berbeda dari 4 bulan lalu.

Beberapa bulan lalu pikiran saya akan pandemi ini hanyalah sebatas penyakit menular yang harus dihindari, yang berbahaya untuk lansia dan orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, yang memporak porandakan sistem sosial ekonomi yang ada di masyarakat, yang memaksa orang berjarak dengan manusia lainnya. Ada simpati terhadap penderita dan keluarga yang ditinggalkan korban meninggal tentu saja tapi fokus saya kala itu hanya menjaga diri untuk tetap sehat secara fisik dan mental karena semua hal menjadi semakin tidak pasti. Membantu sebisanya kepada teman-teman yang terkena dampak. Melepaskan ekspektasi dan rencana satu persatu agar tidak mudah kecewa. Dulu statistik perkembanagn pasien dan korban meninggal yang terus bergerak maju di negara kami masih terasa seperti angka-angka saja.

Kini ketika kawan dekat saya yang menjadi salah satu pasien corona. Kata corona sendiri semakin terasa dekat dan nyata di hidup saya. Perasaan perasaan saya akan si anak nakal bernama corona ini juga mengalami evolusi. Bukan ke arah yang lebih negative justru ke arah yang lebih positive.

Reaksi teman-teman yang memberi endless support kepada abang adalah sebuah hal menyenangkan untuk disaksikan. Ketika di berita-berita yang saya tonton dulu justru banyak orang yang insensitive yang menancapkan stigma negative ke penderita dan keluarganya. Diskriminasi dan perlakuan yang tidak menyenangkan diterima oleh pasien dan tenaga medis dari lingkungan sekitarnya. Hal negative itu tak terjadi di case satu ini. Abang justru dirundung semakin banyak kasih sayang dari orang-orang dekatnya yang diam-diam khawatir akan keadaanya.

Emphaty dari beberapa teman dan saudara yang membuat saya juga lebih positive menghadapi pandemi ini. Orang-orang yang baru bertemu saya si ODP ini, yang bukannya takut, tapi justru ikut memberi support.

Bahkan setiap hari orang tua saya menanyakan kabar abang. Khawatir katanya. Melihat saya yang biasa pergi bersamanya atau main dengan keponakan-keponakan yang di isolasi di rumah saja sudah kasihan. Apalagi dia yang di rumah sakit sendirian.

Ada pula reaksi tak terduga yang saya rasakan pada hari kedua si abang di isolasi. Tiba-tiba pada malam hari setelah saya selesai mandi, saya yang biasa ngecek statistik perkembangan coronavirus live update . Entah mengapa angka jumlah pasien dan korban meninggal yang dulu hanya sekedar angka itu kian menjadi nyata. Jumlah kasus yang sudah menyentuh angka 9 juta membuat saya merinding. Bahwa satu dari 9 juta orang itu adalah kawan dekat saya sendiri. Someone that i truly care about.

Cari distraksi scrolling instagram saya malah nemu foto Glen Fredly, penyanyi favorit saya yang baru saja meninggal beberapa bulan lalu. (P.s kawan saya itu banyak yang bilang mirip om Glen karena kulitnya yang eksotis dan berjanggut). Tiba-tiba perasaan hopeless menyelimuti diri saya dengan cepat. I worry shit about him and everything. Literally every single thing came to my mind and beat the shit out of me.

The thought of losing him is always too much.

Nangis bombay selama 2 jam sambil berkata “Why GOD Whyyyyyy?” . Mikir macem-macem yang enggak-enggak. After all 2020 sudah memberi banyak surprise yang nggak terduga dan mengecewakan. Saya diam-diam frustasi dan merasa putus asa dengan hidup.

Bahkan pada akhirnya manusia yang lagi di isolasi di rumah sakit serem itu yang akhirnya harus selfon saya bilang bahwa dia baik-baik saja. Apakah saya kena panic attack karena ke trigger ngeliat foto om Glen kesayangan. Atau ini emosi normal yang dirasakan orang-orang yang juga berada di posisi seperti saya. I have no idea, yang jelas di situasi seperti ini semua orang harus baik-baik dalam merawat diri karena banyak sekali trigger stress.

Aniwei doi udah swab test lagi kalau hasilnya negative boleh diisolasi di rumah. All my prayers goes to him rite now. Dan saya sendiri akan melakukan rapid test lagi setelah masa karantina selesai. Dan swab test kalau diperlukan. Toh harapannya bulan depan perbatasan Australia dibuka untuk international student dan saya bisa kembali ke sana. Kalau nggak jadi dibuka yaaaa sudah mencoba berdamai dengan situasi apapun. Ingat harus perlahan belajar melepaskan ekspektasi biar nggak kecewa.

Yaudah itu aja cerita hari ini. Doakan segalanya baik-baik saja. Untuk kalian sehat-sehat ya dan saling jaga.

Love you.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

3 thoughts on “Status: ODP (lagi)

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: