Catatan solo trip pertama, musim panas 2019

The broken hearted is the bravest among us-they dared to love, and they dared to forgive.

Brene Brown-

Agustus tahun lalu, saya melakukan solo trip perdana saya ke tanah Amerika dan Kanada.

Alasan utamanya karena seperti yang sudah di sebutkan di postingan-postingan sebelumnya saya baru patah hati. Pengin merawat diri dan hati yang potek-potek.

Tadinya saya pengin nulis dengan emosi yang menggebu-gebu gimana perihnya hati yang udah kayak seblak ini, benyek into pieces. Sampai sampai saya butuh untuk pergi jauh seorang diri ribuan kilometer ke Utara. But thanks to corona, walau perasaan patah hati ini masih membekas, tapi sedikit banyak terdistraksi dengan permasalah pandemi ini yang ternyata lebih dahsyat. Dan luka itu sedikit mengering #eaa.

Kenekatan saya ini juga didukung oleh buku terakhir yang saya baca sebelum melakukan trip ini. Buku yang saya temukan di vinnies, toko barang bekas di daerah Chatswood berjudul Eat, Pray, Love: One Woman’s Search for Everything Across Italy, India, and Indonesia karya Elizabeth Gilbert. Orang-orang mungkin lebih familiar dengan film adaptasi dari cerita di buku ini yang diperankan oleh Julia Roberts.

Buku yang bercerita tentang pengalaman pribadi penulisnya yang melakukan solo trip ke tiga negara untuk memberi dirinya sendiri waktu dan ruang untuk kemudian menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya. Setelah ia mengalami banyak kehilangan dan jatuh dalam jurang depresi. Cerita Elizabeth Gilbert ini yang akhirnya menginspirasi saya untuk pergi sejenak dan merawat luka yang menganga. Asyedap.

Enam bulan setelah patah hati yang saya lakukan hanyalah kerja, kerja, kerja. Kayak Jokowi yakan. Olahraga, masak, baca buku, dan segala hal yang bisa mendistraksi saya dari perasaan-perasaan tidak berdaya ini. Ada saat-saat saya belajar sleep meditation karena ternyata kalau patah hati malam-malam menjadi terasa semakin panjang beb. Pada titik itu akhirnya mengakui kalau saya membutuhkan professional help.

Saya kemudian mencari terapist online dari Aplikasi Betterhelp. Yang terapistnya malah langsung kasih resep antideppresant karena saya sudah depresi katanya (hmmm gimana gimana). Tentu saja saya mencari second opinion ke terapist lain yang nggak menyarankan obat itu dan justru mengajari saya teknik mindfullness yang saya akui sulit sekali ternyata. Sebenarnya it did help me to heal punya therapist, tapi biayanya lumayan mahal kala itu sehingga saya harus berhenti.

“Mil i feel like a joke” kata saya suatu hari kepada sahabat saya di Bali.

“Ki kamu pasti sudah nggak sabar pengin merasakan perasaan seperti dulu. Sebelum kamu kenal dia. Ketika semuanya masih baik-baik saja kan?” kata Emil, kawan saya yang melihat langsung kehancuran kisah cinta saya kala itu.

“Ki, sabar ya. You’ll get there. Orang patah hati sering ingin cepat cepat sembuh sampai lupa, satu hal yang paling penting. Sabar. Nanti ada hari ketika kamu mentertawakan hari ini”

“Iya mil tapi aku sudah lelah dengan perasaan seperti ini”

“Sabar”

Pada satu titik saya menyadari bahwa sedikit demi sedikit saya mulai kehilangan diri saya sendiri. Diam-diam saya mulai frustasi. Ketika rasanya berat sekali menjalani hidup sambil menyeret nyeret luka seperti ini. Mengapa saya harus menghadapi hal yang sama setiap kali saya berusaha membuka hati.

Saat itu saya nggak punya pilihan lain selain belajar untuk menerima segala yang terjadi kemudian sedikit demi sedikit mulai melepaskan. Pil pahit yang harus saya telan di perjalanan cinta ini dan yang sebelum sebelumnya adalah seringkali dalam proses mencintai orang lain, saya lupa untuk mencintai diri sendiri.

Dari proses patah hati kali ini saya jadi belajar sebuah pelajaran berharga. Pelajaran untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Klise memang. Tapi seperti nasihat klise lainnya, its goddamn true.

Kadang saya mikir kenapa teman-teman saya yang lain sepertinya dengan mudah menemukan tambatan hati dan membangun keluarga. Kamu iki piye, kok masih patah hati patah lagi patah hati lagi ki. Ndak cape apa.

Heyyy, yo cape lah.

Tapi yahhhhh emang cerita semua orang harus sama. Emang saya nggak mau juga ketemu soul mate terus happily ever after. Ya mau lah. Tapi piye jalan hidup orang berbeda-beda. Begitu pula jalan saya untuk menemukan orang yang memang pantas dicintai.

TERJAL.

***

Di Sydney dalam rangka keeping my mind busy biar nggak ingat kalo lagi patah hati. Saya jadi sering mendengarkan Podcast di bus kalau mau berangkat kerja. Biasanya podcast milik Oprah; Super Soul Conversation. Pada satu Podcast ada kata-kata seperti ini.

In order to get over it (the broken heart), first you need to go through it. You need to feel everything. The pain, the loneliness, the helplessness. You need to embrace those feelings to allow them to teach you something.

That was when i decided to take a break from life, stop distracting my self and finally deal with this.

Saya akan pergi ke utara. Selama 5 minggu penuh, untuk merawat luka dan merasai semua.

Kenapa harus pergi jauh seorang diri?

Karena sebuah perjalanan bagi saya pribadi adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal diri sendiri. Untuk kemudian dapat berdamai dengan keadaan sekaligus memaafkan diri sendiri.

Kenapa harus ke Utara?

Karena dari sanalah asalnya. Lelaki yang berhasil meyakinkan saya untuk membuka hati, hanya untuk dipermainkan dan diporak porandakan.

***

Sebelum berangkat ke Amerika dan Kanada. Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan membuat catatan di journal hitam kecil yang saya beli di Daiso setiap hari. Yang pada akhirnya gagal saya tulisi setiap hari karena kadang terlalu lelah setiap pulang ke tempat menginap. Namun ada beberapa catatan yang saya temukan di jurnal itu dan akan saya tuliskan di postingan ini. #dibuangsayang.

21 Agustus 2019

Sydney Kingsford International Airport

Aku sudah siap. Memulai perjalanan dari Selatan ke Utara. Menemui teman baikku, Amy.

Aku ingat kali terakhir kami bertemu. Amy datang ke Bali. Menemuiku yang saat itu baru memulai hidup baru di Bali. Pulau impianku. Aku ingat kami duduk berdua di sebuah sudut di Revolver Caffe Seminyak. Amy membelikanku burger seharga 80 ribu karena aku mengaku kalau saat itu aku sedang tak punya banyak uang. Kami berbicara mengenai lelaki yang sedang dekat dengannya. Namanya Tofan, yang sekarang menjadi suaminya.

Sudah dua tahun lebih berlalu setelah hari yang ramah itu. Sekarang aku yang duduk di sisi jendela di seat 24A di sebuah pesawat tujuan Honolulu, Hawaii. Beberapa menit lagi aku akan terbang menemuinya. Menemui putrinya yang berumur sembilan bulan. Meninggalkan Australia untuk sementara. Negara yang sudah menjadi rumah bagiku selama 1.5 tahun belakangan.

Kapten sudah berbicara. Pesawat mundur perlahan. Jam menunjukan 9.48 PM waktu Sydney. Pesawatku siap terbang ke Honolulu Hawaii, US.

Amy, sampai jumpa di New York. 24 jam dari sekarang.

From Angky 15,979 km away. Soon there will be no distance between us.

21 August 2019

Honolulu, Hawaii, USA.

I made it to US. Can you actually believe it?

Udara lembabnya mengingatkanku pada Bali. Pada rumah. Orang-orang super baiknya pun sama. Hari ini aku hanya transit selama 3 jam. Tapi sepertinya Hawaii layak untuk dikunjungi untuk kedua kalinya.

Hawaii, tunggu aku ya, 5 minggu lagi aku datang lagi πŸ™‚

10 more hours to see baby S.

22 Agustus 2019

New York City, USA

Touchdown New York! Capital of the world. Kata orang-orang.

Aku ingat dulu aku pernah bilang pada Ibu dan temanku. Bahwa suatu hari aku akan menginjakan kakiku di tanah Amerika. Bagaimanapun caranya. Hari ini aku mewujudkan mimpi itu. Mimpi yang kubuat karena terlalu banyak menonton serial TV Friends.

New York terasa lebih lembab dan panas ketika aku sampai di JFK. Tapi beruntung sekali aku bisa melihat matahari terbit dari jendela pesawat. Matahari terbit di hari pertamaku menginjakan kaki di New York City baby!

Aku bersikeras untuk mencari jalan sendiri ke apartment Amy di Queens.

“Yakin nggak nyasar” katanya mengkhawatirkanku seperti biasa.

Sudah ribuan kali aku nyasar, tapi aku selalu sampai juga di tempat tujuan pada akhirnya. Jangan khawatirkan sahabatmu yang juga pengelana gila ini!

Aku berjalan menuju Air train dan turun di stasiun Jamaica. Sedikit terkejut melihat subway di New York. Membanding-bandingkan dengan Sydney. Stasiunnya tidak bersih dan tak terawat. Serta kereta subway yang kotor dan sesak. Tapi ini kan baru sentuhan kecil New York, nggak adil kalau aku beri impressi keseluruhan untuk kota ini.

Bertemu Amy untuk pertama kalinya setelah dua tahun, rasanya luar biasa menyenangkan. Tidak ada yang berubah darinya. Yang berubah hanyalah sekarang ia sudah punya bayi! Namanya Serena. Dan aku akhirnya bisa bertemu suaminya. Lelaki yang ia ceritakan dua tahun lalu di Revolver caffe Bali.

Ia terlihat lebih dewasa. Aku masih saja seperti ini, mengeluhkan ini itu. Amy memberiku kamar tamunya yang luar biasa nyaman. Dengan jendela menghadap pusat kota. Ke jajaran gedung di Queens.

Walaupun jetlag hampir membuatku gila. Tapi keluarga kecil Amy membuat 20 jam penerbangan terbayar sudah.

WELCOME TO NEW YORK CITY ANGKY!

23 Agustus 2019

Oh Central Park…

Taman besar di tengah Manhattan. Tempat dimana orang bisa berekspresi sesuka hati. Taman sebesar dan seluas ini tak membuatku pegal mengitarinya. Bedanya dengan taman di Sydney adalah di sana jarang ada orang yang membuat art di tengah tengah taman seperti di sini. Kumpulan orang bernyanyi dengan suara yang merdu sekali membuatku mesam mesem sendiri.

New York berbeda. Setiap orang yang ku lihat di jalan terlihat sungguh percaya diri. Banyak homeless yang lebih agressive dari Sydney.

Aku mau makan lebih banyak food truck!

24 August 2014

Amy’s husband is so nice to me. We went to Little India in Manhattan, South Houston/SoHo, Washington Park, and China Town.

That tax and tips in Restaurant drive me crazy.

25 August 2019

Central Park.

Here I am again. In Sheep Meadow in Central Park. Watching people. Walking by.

Someone asked me what i love about NY. Not the subway obviously. What i love about this city is that people unafraid to be their self. Who sing out loud in the park. Who dance in the subway. Who can express their self the way they are.

Meanwhile in the other part of the world people have this heavy burden. Hiding their own true self. Afraid of people’s judgment. What a waste of time.

Then which one are you, Angky?

I’m half of each.

But I’m heading there. To be that girl who dare to be her own true self. And this is what this trip is for. To be closer and closer to be myself. And love her. Cause i deserve it πŸ™‚

Btw, let me continue what i love about NYC. Those red brick building with fire escape stairs. LOVE IT. Can’t stop adoring it.

Went to Shakespere & Co today. Wrote chapter 4 of my book. I’m gonna finish it. Promise to myself!

And today i booked a flight ticket to North Carolina to see Jenna. I’m gonna hear every single details of her 3 months trip.

So excited.

3 September 2019.

Asheville, North Carolina

Sudah lama nggak nulis. Padahal janji mau nulis setiap hari. Di rumah teman Jenna yang besar dan bagus sekali.

Kami membantu Edward teman Jenna untuk menjaga anjing-anjingnya selama ia pergi menjenguk anggota keluarganya di luar kota yang sedang sakit dengan tinggal di rumah ini.

American dream house dengan porch yang cantik. Impian ku hanya duduk dan minum teh disana. Bermain dengan Berdie, anjing milik Edward yang lucu. Jenna mengajakku untuk bertemu dengan Sam dan Clensey. Orang-orang baik yang bilang “Angky you are very welcome here in Ashville, come back again someday. You could stay with us, or Jenna or Edward”. Couldn’t ask for more. Having this love from a complete stranger.

Btw, i tried CBD. It was something else. Bought handmade earrings for $18. Kata Jenna orang-orang di Asheville menghargai art. They say that they are weird, and they love being weird, and they want to stay weird!

I don’t know i kind of love Asheville. Menyenangkan berada di suatu tempat yang mencintaimu karena keanehanmu. Authentic, as my friend Jenna said.

15 September 2019

Montreal, Quebeq, Canada.

Setengah perjalanan sudah berlalu. Kemarin aku melintasi perbatasan Amerika dan Kanada. Sungguh moment yang bersejarah bukan? Gadis ini, seorang diri di Kanada sekarang. Menikmati secangkir teh hijau hangat di sebuah restauran Jepang di downtown Montreal. Di belakangku ada sekelompok anak-anak sekolah yang berasal dari Thailand.

Tenggorokanku masih terasa aneh. Mungkin aku kecapaian. Harus segela sembuh. Karena mau ke Quebec.

Salam hangat dari Montreal.

..

Berada di Kanada tentu saja mengingatkanku pada seseorang. Lelaki yang paling banyak memberi tahuku tentang negara ini. Yang lahir dan besar di bagian barat Kanada. Lelaki yang seharusnya tak kuingat ingat lagi.

Andai segalanya berjalan baik-baik saja. Mungkin sekarang aku sedang duduk di hadapannya di sebuah kedai kopi di Old Montreal. Sambil mendengarkannya ngoceh tentang dokumenter yang baru selesai kami tonton.

16 September 2019

Old Montreal

Aku sudah salah sangka betul tentang Montreal. Aku pikir Montreal hanya begitu saja. (Kata pengelana yang hanya mengikuti kemana arah angin membawanya). Australia/Sydney jauh lebih cantik. Tapi ternyata aku terlalu cepat menilai.

Montreal cantik!

Kota tuanya cantik sekali. Apalagi aku memang gampang terpesona dengan bangunan tua dan jalanan ini.

19 September 2019

Quebec, 4 derajat celcius.

I’m trying to figure out which one is colder. Winter in Sydney or summer in Canada?

I’m trying to figure out which is more painful, when dad destroyed my trust or when mom kept talking to people about the women her daughter supposed to be.

And here I am looking in the mirror. Questioning my own reflection. Are you okey now?

Old Quebec Canada

No, i don’t think about you, or him. At least i don’t want to. I just need to learn how to stop hurting myself this way. The way I always do. By putting you in my mind, constantly thinking about you. Repeating the same memory over and over again. The last time i saw you. When i realized that i had enough and that I should walk away. And I did. My heart was never been so ache like that morning. My heart was aching, hands were shaking. And i’m doing this trip just to find that girl again, that happy girl that i lost before you came to her life. Cause i lost her, when i tried too hard to love you.

Sad girl sitting with her thoughts in the strange city called Quebec.

22 September 2019

Gare du Palais

So this is it. my journey to forget you and forgive myself has come to an end. In Quebec. Adele sent me her picture this morning. She’s wearing the blue shirt you gave her. She looks gorgeous.

I still remember how handsome you were wearing that shirt.

And i feel bad, for still hurting whenever i see a small piece of you. Here or there. I thought by flying far away from the place where i saw you for the last time. It would heal my wounds. And just push this wound as hard as i can in the place that would remind me of every piece of you. I dare to visit your ‘home’. So i have a closure.

But in my last day here I think I am still far from finding that clarity I’ve been searching since i left you. My broken pieces still in Ubud, where you destroyed my heart. As well as the warm feeling i have for Ubud. Or Canada.

There’s this part of me that’s broken. And I can’t even blame you for it. Since it wasn’t even whole to start with.

This just the price i have to pay from loving the wrong person.

Walaupun jujur saja saya belum benar-benar pulih dari patah hati itu. Tapi saya belajar banyak dari perjalanan saya kemarin.

Bahwa saya bisa menjaga diri saya sendiri dengan baik. Bahwa berjalan seorang diri tidak semenakutkan yang saya pikirkan. In fact, jauh lebih menyenangkan dari pada berjalan berdua dengan orang yang hanya bisa menyerap seluruh emosi dan energimu untuk sebuah kesia-siaan. Bahwa bukan seperti itu yang dinamakan cinta.

Bahwa ternyata saya, baik-baik saja tanpanya.

And the rule of Quest Physics maybe goes like this: “If you are brave enough to leave behind everything familiar and comforting (which can be anything from your house to your bitter old resentments) and set out on a truth-seeking journey (either externally or internally), and if you are truly willing to regard everything that happens to you on that journey as a clue, and if you accept everyone you meet along the way as a teacher, and if you are prepared – most of all – to face (and forgive) some very difficult realities about yourself… then truth will not be withheld from you.” Or so I’ve come to believe.”

-Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love-

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

8 thoughts on “Catatan solo trip pertama, musim panas 2019

  1. Kak Angky kereeen bangeet solo tripnya langsung yang jauh.

    Apakah ke utara ini maksudnya kakak pergi ke negara tempat dia berasal? Atau hanya sama-sama berasal dari negara yang berada di kawasan America Utara? Sepertinya patah hatinya sehebat itu sampai sampai harus menenangkan diri jauh sekali..

    Semoga kak Angky selalu bahagia dan lekas pulih dari semua luka hatinya yaaa πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

    Liked by 1 person

    1. Wahh terimakasih kak Nadya.

      Sebenarnya dari dulu memang bercita-cita untuk pergi ke US. Tapi masih takut-takut visanya di tolak. Ngeri duluan denger kata US. Tapi waktu memberanikan diri untuk coba buat visanya di Sydney, ternyata persyaratan dan interviewnya jauh lbh mudah drpd di Indo dan lgsg approved. Kebetulan disana juga ada sahabat kecil saya baru pindah 2 tahun sebelumnya jadi sekalian visit keluarga barunya. Trs denger2 kalau punya visa US lebih mudah buat bikin visa Canada jadi saya sekalian buat dan benar saja lbh dipermudah. Jadilah saya mantap solo trip ke dua negara itu habis kerja keras bagai khuda ngumpulin uang.

      Betul kak Nadya dia dari Canada. Dan memang ternyata ada luka luka yang membutuhkan perawatan khusus untuk mengeringkannya. But i have no regrets.

      Hhe terimakasih banyaaakkkkk kak Nadya doanyaa… semoga kita semua belajar untuk mencintai orang yang tepat. Hhe 😊😊😊

      Like

    1. Saya juga menemukan banyak keluarga baru hampir di setiap perjalanan yang saya lakukan bang Ical. Ini juga salah satu alasan mengapa saya menyukai berkelana. Bahkan ketika memutuskan untuk pergi ke Bali bukan saja saya menemukan keluarga baru, tapi juga sebuah tempat yang bisa saya sebut rumah

      Liked by 1 person

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: