Perihal merawat diri (Quebec, Canada)

Purwokerto, 2012

Saya adalah produk dari keluarga yang hancur. Makna rumah yang aman dan penuh kasih direnggut oleh perpisahan orang tua saya beberapa tahun lalu. Walaupun saya masih memiliki ingatan tentang masa kecil yang ceria di rumah saya dan Mamas dibesarkan. Tapi trauma-trauma seorang anak yang memiliki orang tua yang berpisah tentu akan selalu ada.

Dulu, ketika keadaan rumah sedang tidak baik-baik saja, saya kerap kali keluar dari rumah untuk mencari tempat yang aman demi melindungi diri sendiri dari ketakutan dan kekecewaan yang berulang. Di usia yang masih terbilang muda saya belajar tentang kebutuhan khusus untuk anak-anak broken home seperti saya untuk keluar dari rumah dan menjauh sejenak. Bahwa menyendiri dan mencari tempat yang tenang adalah hal yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan dan merawat diri.

Sejak SMA saya sering pergi keluar untuk memacu motor vario keliling kota. Di jalanan kota kecil ini dengan angin malam yang menerpa tubuh saya mendapatkan ketenangan. Diam-diam saya sering menangis di balik helm yang tertutup rapat. Melepaskan emosi-emosi yang tak pernah saya keluarkan di rumah.

Saya akan berhenti di sebuah kedai kopi untuk memesan kopi hitam sambil mendengarkan lantunan musik akustik di earphone saya. Untuk sejenak, segala kekacauan di rumah dan di dalam kepala dapat teredam dengan kepulan asap di cangkir yang menyuguhkan aroma kopi arabica ditambah dengan suara lembut Duta Sheila on 7 yang menyanyikan lagu ‘Kita’. For a minute, I found my own happy place. Walaupun ketika saya harus kembali ke rumah, saya harus menghadapi ‘perang dunia ketiga’ lagi.

Terkadang kalau di rumah sedang ribut, kalau saya sedang tidak ingin sendiri, saya akan menghubungi sahabat yang juga mantan kekasih saya waktu SMA. Saya akan duduk di bangku penumpang dan menyalakan radio. Ia akan menyetir tanpa bertanya apa apa kecuali “Sudah makan belum”. Hingga saya sendiri yang siap bercerita padanya. Kadang kalau sudah nggak tahan, saya justru nangis kayak orang kesurupan disampingnya. Ia akan membawa saya berkeliling kota selama berjam-jam sampai saya sedikit tenang. Ia tahu bahwa tak banyak yang bisa dilakukannya setiap kali hati gadis di sampingnya ini pecah di dalam rumahnya sendiri selain duduk di sampingnya dan menemaninya. Dan bila perlu, menangis bersamanya.

Mantan kekasih kala SMA ini yang akhirnya menjadi teman baik saya hingga kini. Untuk beberapa waktu, bangku penumpang di dalam mobilnya adalah ‘rumah’ yang nyaman bagi saya. Karena dulu hanya di sudut kecil itu, saya merasa aman dari segala bentuk kekecewaan. Baru kemarin ketika kami pergi ke bukit saya bilang padanya, berada di bangku penumpang di sampingnya membuat saya merasa kembali ke rumah.

Memiliki orang tua yang memutuskan bahwa relasi yang sudah dibangun selama 25 tahun harus diakhiri tidaklah mudah. Ketika saya berumur 20 tahun, mereka sepakat untuk melanjutkan hidupnya masing-masing tanpa ikatan pernikahan lagi, hati saya ikut hancur. Jangan ditanya rasanya. Perih bukan main.

Beberapa bulan setelahnya, satu persatu anggota keluarga saya mulai melanjutkan hidupnya dan mencari pasangan hidup yang baru. Hal ini terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Dimulai dari pernikahan Bapak, lalu Mamas, lalu Ibu. Mereka semua mulai membangun keluarga kecilnya yang baru di rumah yang juga baru. Fresh start, they said. Lalu bagaimana dengan saya? Saya justru menjauh sejauh yang saya bisa dari apa apa yang berbau relasi. Bukannya tidak percaya pada ide membangun relasi, kala itu saya hanya merasa cukup dengan ide ini. Apakah kala itu saya merasa ditinggalkan begitu saja seorang diri? Jujur saja, awalnya tentu saja iya.

Tapi pada satu titik ketika saya sudah lebih dewasa dan bisa mengerti. Saya mencoba memahami bahwa orang tua saya hanyalah manusia biasa yang memiliki kesalahan dan kebutuhannya sendiri. Saya yakin, dulu mereka pun sebenarnya sudah mencoba melakukan yang terbaik untuk mempertahankan relasinya sembari menjalani hidupnya. Dan entah mengapa, walaupun saya tahu bahwa pastilah masih ada rasa cinta diantara keduanya, namun hubungan mereka tak lagi bisa dipaksakan. Cause sometimes love just ain’t enough.

Seorang anak yang menghadapi kehancuran keluarganya tak akan pernah lagi utuh. Karena ada yang hilang darinya ketika perceraian terjadi. Ada yang direnggut dari diri mereka dan tak pernah bisa kembali.

Namun anak-anak tangguh ini yang pernah merasakan kehilangan mendalam telah belajar banyak. Mereka mendapatkan pelajaran paling berharga dari proses paling pahit dalam hidup mereka. Proses jatuh lalu bangkit. Proses hilang lalu menemukan. Begitupula saya.

Dalam proses kehancuran yang terjadi di kehidupan keluarga saya, saya dipaksa untuk belajar merawat hati saya yang remuk di rumah masa kecil saya. Saya pun belajar untuk mencari tempat yang aman dan nyaman untuk akhirnya bisa saya sebut dengan sebutan ‘rumah’.

Dalam proses kehilangan saya belajar untuk mengenal seorang perempuan yang semakin hari semakin kuat dan bijak. Mengapresiasi keinginannya untuk sembuh dari masa lalunya. Seorang anak yang belajar mencintai keluarganya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seorang wanita yang memilih untuk memberi jarak-jarak yang dibutuhkan di sebuah relasi antara ia dan keluarganya. Karena baginya, terkadang hanya jarak yang bisa menyelamatkan mereka semua dari kehancuran yang lebih mendalam.

***

Sydney, 19 July 2019

Sebuah notifikasi muncul di ponsel saya. Surat elektronik dari Indun, seorang kawan yang saya temukan di Bali. Satu bulan lalu, saya mengirim pesan melalui email kepadanya. Bercerita tentang kehidupan di Sydney dan keadaan hati saya, yang lagi-lagi sedang tidak baik-baik saja kala itu. Seperti yang sudah saya ceritakan di beberapa postingan, tahun lalu saya patah hati hebat.

Karena sering melakukan percakapan whatsap yang panjang lebar saya dan Indun memutuskan untuk saling berkirim email saja untuk bisa berdiskusi lebih panjang dan mendalam. Dulu ketika kami masih tinggal bersama di Bali, saya dan Indun sering menghabiskan sore di Canggu sambil minum jus jeruk untuk ngobrol segala permasalahan tentang relasi. Kalau untuk urusan hati entah mengapa hanya Indun yang selalu mengerti apa yang harus dikatakan.

Indun memiliki latar belakang keadaan keluarga yang sama dengan saya. Karena itu, nggak heran kalau kami sepakat dalam beberapa hal, terutama untuk urusan hati. Menurut kami, anak-anak broken home seperti kami yang nggak memiliki privilege untuk menyaksikan hubungan yang sehat di rumah masa kecil, cenderung akan memilih relasi yang sama toxicnya dengan hubungan orang tuanya. Tidak semua tentunya, hanya beberapa kasus saja. Sedihnya kami dua diatara orang-orang yang memiliki trauma itu. Untuk mengartikan bahwa sebuah relasi adalah dua orang saling mencintai dan menghargai satu sama lain saja masih sulit bagi kami. Dan mungkin karena ini juga kami selalu terjerumus ke dalam hubungan toxic yang melelahkan. Apakah karena kami terbiasa dengan kekecewaan. Atau karena trauma itu sedikit demi sedikit membuat kami kehilangan nilai diri kami sendiri dan tak mengerti kalau kami juga layak untuk dicintai dan dipertahankan.

Terkadang terjebak di sebuah relasi yang toxic justru merupakan hal yang normal bagi kami. Karena sedari kecil hanya ini bentuk relasi yang kami tahu.

Ketika sebagian orang yang saya ceritakan tentang masalah hati saya atau kegagalan cinta yang berulang justru menyepelekan, karena pattern saya selalu sama. Jatuh cinta dengan bad boys nanti sakit hati sendiri. Indun menjadi satu-satunya orang yang menganggap saya adalah manusia yang normal. Yang perasaan patah hatinya juga valid. Yang butuh untuk didengar dan disembuhkan. Karena saya akan melakukan hal yang sama untuknya. Karena bagaimanapun juga kami sepakat untuk tidak pernah lagi meremehkan urusan hati. Dan berharap suatu hari dapat merubah pattern ini, menyembuhkan trauma masa lalu, belajar memahami nilai diri sendiri dan memperbaiki definisi tentang cinta yang lebih sehat. Untuk kemudian jatuh hati kepada orang-orang yang memang pantas dicintai.

But for now, i need to deal with this broken heart.

An ending of relationship was never easy for me. Just because i’ve been hurt in the past, doesn’t mean that it hurts any less.

“1 Juny 2019.

Sydney, Hari pertama di musim dingin, 

Dear Indun,
Gimana kabarmu? Sehat2 kan disana? Jangan lupa bahagia. Makan banyak dan jangan stress. 

Keadaanku sekarang sehat secara jasmani tapi untuk urusan mental tau sendiri. Up and down banget. I’ve tried everything to help and fix myself. From listening to a lot of podcast, reading, learning about self love, trying mindfulness, sleep meditation, even having my own therapist. Those things did work out Bu, but for just for a couple of days, then it went straight back to square one. Feeling weak, sad, pathetic, ridiculous, and pitiful to myself, again. All that hurtful  memories came rushing back into my mind in the middle of the night and made me frustrated. Then i tried to distract  myself with a lot of things that’s happening right in front of my eyes. But it won’t work. I’m super exhausted sometimes. I cannot longer deal with this. But I keep reminding myself that it just a matter of time till i get over it. But i’m still waiting.

Bu aku capek dengan diriku yang seperti ini. Melancholy. Disakiti satu kali saja sama satu orang butuh waktu yang lama dan effort yang besar buat bangkit lagi. Kadang iri lihat orang yang mudah sekali move on. Tahu betul apa yang pantas untuk dirinya. Atau bahkan iri lihat teman yang gampang sekali bermain-main dengan perasaan. Atau bahkan nggak pakai perasaan sama sekali. Apa rahasianya? “

Semarang 19 July 2019

Dear Angky,


Maafkan aku baru sempat berkabar. Tiga bulan belakangan aku dihabisi oleh pekerjaan. 

How’s your life there? How do you feel now?

Aku senang karena kamu berusaha betul untuk terlepas dari perasaan dan memori buruk dalam hidupmu. Artinya, kamu masih sayang dengan dirimu karena kamu berharap hidupmu lebih baik dari yang sekarang.


Kata temanku, hidup ini perkara jatuh bangun saja. Kedengarannya putus asa sekali tapi barangkali ada benarnya. Khususnya kalau kita sedang kebanyakan ekspektasi terhadap kehidupan. Keindahan dalam hidup ini mungkin cuma diawang-awang atau kita indah-indahkan saja.
Dulu aku gak tahu rasanya bersyukur dan ikhlas. Sekarang pelan-pelan belajar agar lebih mengapresiasi hidup. Kehilangan itu rasanya pedih sekali. Sayang kalau kita kehilangan hanya karena lupa menghargai dan merawat. Termasuk dalam hal kehilangan diri sendiri. Kita ini sering sambat gak dihargai tapi jangan-jangan kita ini yang justru gak bisa menghargai diri kita sendiri. Menghargai dirimu yang sudah berjuang sejauh ini. Bukan sekadar bertahan hidup. Menghargai dirimu yang bersikeras untuk terus menjadi orang baik di dunia yang jahat. Juga menghargai setiap kesempatan baik bertemu dengan orang-orang baik, momen-momen yang indah (sekalipun orangnya sekarang brengsek wkwkwkw), dan hal-hal baik lainnya yang didapat secara cuma-cuma atau simply out of the blue.

Aku gak bisa meminta hidupmu akan selalu dipenuhi dengan kebahagiaan. Semua perasaan itu sifatnya sementara. Akan lebih baik diterima saja kala memang tidak baik sebagaimana kita menyambut perasaan baik. Asalkan jangan larut. Karena di luar sana ada banyak orang yang selalu mendoakan kebahagiaanmu di manapun kamu berada.


Penuh cinta dan penuh rindu,

Indun.

Saya menangis di pertengahan malam membaca surat Indun. Suratnya mengingatkan saya tentang hal-hal yang saya lupakan. Saya terlalu sibuk dengan segala emosi tentang kegagalan hubungan saya, hingga saya lupa untuk mengapresiasi diri sendiri yang sudah berjuang dan menjadi orang baik walaupun seluruh isi bumi seperti terus terusan menguji kesabaran saya. Saya lupa hal yang sering saya lakukan dulu ketika hidup rasanya sudah tak bisa saya pertahankan lagi. Saya lupa untuk keluar sejenak untuk merawat diri. Pergi menjauh untuk mencari ketenangan.

***

17 September, Quebec, Canada 2019

Day 1

Saya menyewa sebuah apartment dua kamar di 2350 Avenue de la Ronde 6, Québec. Apartment cantik jauh dari pusat kota. Keputusan untuk merawat diri di kota ini sudah saya rencanakan beberapa bulan lalu. Di kota cantik ini saya hanya akan bersama dengan diri sendiri dan mengabulkan apa saja kemauannya selama disini. Selama 5 hari penuh.

Saya memang sedang solo travelling untuk menghadapi segala perasaan yang sudah saya abaikan. Dan dengan menghentikan segala rutinitas, lalu terbang jauh ke utara, untuk bersama diri sendiri adalah cara saya menyembuhkan luka. Walaupun solo travelling dan ingin memberi waktu untuk bersama dengan diri sendiri, tapi sebelum sampai di Quebec, saya tidak benar-benar sendirian. Seperti ketika sampai di New York, saya tinggal bersama Amy sahabat saya yang dari dulu paling sabar menemani saya makan indomie di dapurnya setiap salah satu dari kami patah hati. Atau di Asheville, saya ditemani Jenna dan teman-temannya, Sam dan Clansey yang sedang melanjutkan studinya di ranah mental health yang justru mengkaitkan patah hati saya dengan segala teori kesehatan mental yang mereka pelajari di Universitasnya. Lalu kemarin di Montreal, saya menyewa kamar private di sebuah apartment milik dua perempuan kece asal kota ini yang ramahnya minta ampun. Yang dari hari pertama saya tinggal di kamar yang disewakan saya sudah dianggap teman main mereka. Menyiapkan tatanan rambut Arianne untuk kencannya malam itu, dan ngobrol banyak dengan Chanel yang mengurus saya karena saya tidak bisa berhenti batuk. Saya memang beruntung karena selalu bisa menemukan orang-orang baik di setiap perjalanan saya.

Tapi kali ini, saya hanya ingin sendiri.

Apartment yang saya sewa berada di lantai 3 di sebuah komplek rumah dengan jalanan yang sepi. Autumn sepertinya datang lebih cepat di Quebec, karena jalanan sudah dipenuhi dengan daun-daun maple yang berguguran. Cantik sekali.

Tidak ada lift di bangunan tua ini, jadi saya tak punya pilihan lain selain mengangkat koper saya ke lantai 3 seorang diri. Semangat ki, yaelah cuma 3 lantai aja pasti bisa. Kemarin di New York dan Montreal saja kamu bisa ngangkat koper hitam ini ke puluhan anak tangga di stasiun subway. Walaupun koper ukuran cabin ini nggak terlalu berat karena sebagian barang saya tinggal di apartment Amy di Queens. Tapi saya akui, solo trip ini membuat tangan saya makin kekar.

Sampai di apartment ini saya langsung saja menyimpan koper saya di kamar depan dan memutuskan untuk tidur di kamar belakang yang lebih dekat dengan kamar mandi. Kemudian saya mengeluarkan laptop dan meletakannya di ruang TV yang dekat dengan balkon. Aihhh saya punya balkon sendiri. Saya punya space sendiri. This feels like home.

Di Sydney saya seringkali harus hidup berhimpitan dengan 3 manusia sekaligus dalam satu kamar karena harga private room terlalu mahal. Di sini saya bahkan punya dua kamar untuk diri saya sendiri. Walau hanya untuk 5 hari saja. Saya memiliki privasi. Yeay.

Pundak dan badan saya rontok karena lelah juga naik kereta dari Montreal. Dari stasiun saya memilih untuk naik uber, karena tarif harga uber jauh lebih murah daripada Sydney. Hal ini juga dikarenakan selepas dari Montreal saya sakit. Sebenarnya waktu berangkat dari New York naik bus selama 10 jam itu saya udah nggak enak badan. Mungkin karena cuacanya yang panas dingin panas dingin nggak karuan. Saya jadi gampang sakit.

Sampai di apartment saya benar-benar kelelahan karena sebelumnya saya menunggu di stasiun Montreal selama 5 jam. Saya membuka pintu kaca dan membiarkan angin akhir musim panas masuk ke dalam ruang TV. Malam itu saya tidur dengan pulas di sebuah sudut kota yang masih asing untuk saya bernama Quebec.

Day 2

Hari ini saya bangun dengan tenggorokan yang perih tapi perasaan yang lebih baik. Amy menelfon saya pagi-pagi hanya untuk mengecek apa sahabatnya baik-baik saja di Kanada. Ia memutar kameranya ke arah Serena, putri semata wayangnya. “Cepat pulang ke New York, Nena kangen” katanya mewakili Serena sambil mengakhiri pembicaraan.

Pagi ini saya mencoba mengingat-ingat lagi kenapa saya bisa memilih kota ini untuk menyendiri. Apa sebenarnya yang mengispirasi saya untuk pergi ke kota ini? Ahhhh saya ingat. Beberapa bulan lalu, LJ, kawan kerja saya di Sydney merekomendasikan drama korea yang membuatnya nangis bombay waktu menontonnya. Saya sebenarnya yang bertanya pada LJ apakah ia punya rekomendasi film yang bikin nangis. Jawabannya kala itu adalah “You have to watch Goblin, you will cry a river” katanya meyakinkan.

Sejujurnya saya nggak pernah bisa konsisten menonton drama Korea. Entah mengapa saya jarang sekali menyelesaikan satu drama yang memiliki banyak episode itu, pasti berhenti di episode ke 3 atau ke 4. Mungkin karena jalan cerita pada beberapa drama membuat saya berfikir “Nopeee It’s too good to be true, masa sih ada orang se sweet itu”. Lagi-lagi review suka-suka dari anak yang skeptis tentang relasi karena relasi yang dijalaninya selalu toxic.

Karena itu setiap kali nonton drama korea seringkali saya menyerah pada episode awal-awal. Masa sih sedih banget drmaannya? Sesedih apa si dramanya? Palingan kalau Goblin yang nonton kisah cinta saya dia yang nangis. hhe. Namun LJ mulai gemas karena jawaban saya selalu saja sama, belum nonton, setiap dia nanya apakah saya sudah nonton drama rekomendasinya. Pertanyaan LJ yang berulang yang membuat saya akhirnya nonton Goblin walaupun tentu saja saya nggak bisa menyelesaikannya. Berhenti pada episode-episode awal dan nggak nangis sama sekali seperti ekspektasi LJ. Mungkin benar hati saya sudah beku.

Tapi tetap saja saya besyukur diberitahu tentang drama ini oleh LJ. Karena dari serial itu saya jadi tau ada kota cantik bernama Quebec di Kanada. Yang waktu saya cek di peta ternyata nggak terlalu jauh dari New York, kota yang akan saya kunjungi untuk bertemu sahabat saya, Amy. Quebec pun bisa ditempuh dengan perjalanan darat dengan cara naik bus ke Montreal lalu sambung dengan train ke Quebec. Yang ternyata harga tiketnya juga masih masuk akal walaupun harus menempuh perjalanan darat selama 13 jam. Karena nggak mampu beli tiket pesawat yang harganya mahal bagi saya.

Harga tiket bus dari New York ke Montreal yang termasuk perjalanan internasional hanyalah 65 USD (Dengan rate 14.488 harganya menjadi sekitar ekitar 942.000 IDR) yang memakan waktu 10 jam perjalanan. Dengan provider bus yang sama Greyhound di Australia saya pernah menempuh perjalanan dari Darwin ke Kununurra, perjalanan interstate yang memakan waktu 10 jam juga harganya 150 AUD (Dengan rate 10.000 hingga harganya sekitar 1.5 juta rupiah). Sementara tiket kereta Via Rail dari Montreal ke Quebec adalah 34 CAD (Sekitar 363.000 IDR) dengan lama perjalanan 3 jam saja, btw kereta di Kanada ini bagus banget, so far ini adalah kereta terbagus yang pernah saya naiki. Walaupun mungkin saja harga tiket bus dan kereta bisa naik turun, tapi saya pikir harga tiket bus dan kereta di US dan Kanada tetap lebih murah daripada di Australia.

Hari masih pagi, tapi perut saya sudah mulai keruyukan, sepertinya karena semalam saya skip makan malam saking lelahnya. Hari ini rencana saya hanya akan belanja bahan makanan untuk 4 hari kedepan. Tapi dimana saya harus membeli bahan makanan? Saya harus mencari supermarket untuk belanja. Saya membuka google maps dan mencari supermarket terdekat dari tempat saya tinggal. Men screen shoot petanya dan menyimpan di galeri saya.

Wah ternyata toko ini lumayan jauh juga kalau jalan kaki. Tapi sepertiya hal itu bukan masalah. Karena setiap liburan pun saya senang jalan kaki di sekitar penginapan untuk mengamati lingkungan sekitar. Lagipula hanya ini agenda saya hari ini. Membeli bahan makanan dan memasak. Feeding myself with a good and healthy food that i cook for myself.

Barangkali untuk orang-orang yang senang bereksperiment di dapur seperti saya (walaupun jarang-jarang) membuat masakan terasa seperti sebuah seni sekaligus sebuah terapi. Saya nggak suka melihat resep makanan, lebih senang berkreasi sendiri dengan bumbu-bumbu yang ada. Biasanya saya akan menyalakan musik dan fokus dengan masakan saya saat itu. Untuk saya, kegiatan ini pun membantu saya untuk fokus dengan apa yang ada di hadapan saya. Menerapkan mindfullness. Fully present and aware of where I am and what I am doing. Di waktu-waktu yang sibuk di Sydney biasanya kalau saya punya waktu luang di akhir pekan, saya akan menghabiskan hari di dapur dengan masak masakan nusantara, yang walaupun rasanya kadang ngawur tapi saya tetep puas dan teman-teman serumah juga doyan. Sekalian quality time dengan diri sendiri. Setelah itu saya baru ketemu temen di city dan kembali ke rumah untuk joging sore-sore.

Oke kembali ke Quebec. Akhirnya setelah mencari-cari tempat berbelanja terdekat, saya memutuskan untuk pergi ke supermarket yang namanya super C di pengkolan jalan. Dengan menenteng tas belanja saya mulai menyusuri jalanan di sekitar apartment dengan santai. Mengagumi rumah dengan halaman halaman besar yang mulai dipenuhi daun-daun maple yang mulai menguning. Beberapa teras rumah sudah penuh dengan ornamen Hallowen yang justru semakin memanjakan mata saya. Udaranya yang sejuk dan bersih membuat saya ingin terus menghirup udara ini dalam-dalam.

Setelah berjalan sekitar setengah jam karena banyak berhenti untuk lihat-lihat bunga di jalanan akhirnya saya sampai ke Super C. Wah ternyata supermarketnya besar juga. Ada sebuah kebiasaan yang sering saya lakukan ketika saya berlibur di tempat baru. Saya paling senang ngiterin supermarket setiap datang ke negara baru. Mencari-cari barang yang nggak ada di tempat asal saya dan membandingkan harga-harga snack. Apalagi di negara yang memiliki bahasa yang berbeda, sekalian belajar kosa kata baru. Kegiatan ini somehow membuat saya puas.

Di toko itu saya langsung menuju stall sayur-sayuran dan buah-buahan untuk membeli lemon dan jahe. Karena tenggorokan saya sudah nggak bisa lagi diajak kompromi. Perih bukan main, rasanya seperti ada yang meradang persis seperti hati saya. Hmmm. Setiap sakit tenggorokan saya memang kurang suka mengkonsumsi obat dari apotek dan lebih memilih mengkonsumsi bahan-bahan tradisional rekomendasi om gugel. Untuk menambah stamina saya pun memang sering membuat rebusan air jahe dan infuse water dengan lemon. Selain itu saya juga mencari bubuk kunyit dan garam. Karena kata gugel kunyit memiliki zat kurkumin yang mampu mengatasi inflamasi, termasuk mengurangi rasa sakit, bengkak dan menyembuhkan luka pada tenggorokan.

Sementara kumur-kumur air hangat dengan campuran garam bisa mengurangi rasa nyeri dan radang di tenggorokan. Dan metode ini untuk saya memang terbukti ampuh. Untuk saya pribadi bahan-bahan alami ini lebih cepat mengatasi masalah tenggorokan daripada langsung menggunakan obat. Seperti obat yang Amy anjurkan yang saya beli di apotek di Montreal justru nggak ngaruh sama sekali. Sekian review dari saya. Tapi ini review pribadi, untuk lebih lengkapanya bisa ditanyakan ke dokter.

Untuk melakukan ritual masak selama di Qubec saya membeli bahan-bahan makanan seperti telur, daging sapi dan ayam fillet, brokoli, tomat, jeruk, roti tawar, udang, jamur, dan butter. Mau masak apa urusan nanti. Pokoknya pasti nikmat dan hemat karena nggak perlu jajan diluar.

Berdasarkan Constitution Act 1982 ada dua provinsi di Kanada yang bahasa resminya adalah bahasa Prancis, termasuk Quebec dan New Brunswick. Sebagai pelancong yang cuma ngerti dua kata dalam bahasa perancis yaitu Bonjour dan Merci dan nggak punya sambungan internet di hape saya untuk buka google translate saya mengalami sedikit kendala di sini setiap kali berbelanja atau nyasar di jalan. Walaupun tentu saja banyak juga yang bisa berbicara dengan bahasa Inggris.

Setelah selesai belanja dan membayar di kasir, Mbak di belakang counter mencoba berkomunikasi dengan saya menggunkaan bahasa Perancis. Dari kalimat panjangnya saya hanya bisa mendengar kata sac. Yang lagi-lagi hanya bisa saya jawab dengan nyengir sambil bilang “I’m sorry maam, i don’t speak French”. Sepertinya Mbak itu juga nggak bisa berbicara bahasa Inggris. Ngeliat muka saya yang udah kebingungan, ibu ibu di belakang saya langsung mendekat dan mencoba menjelaskan kepada saya dengan senyum yang sungguh manis “She’s asking you if you want bag for your grocery” sambil mengangkat kantong belanjanya “Sac means bag”

“Owhhhh you mean bag, ah okeeyy, Merci maam” kata saya kepada si Ibu. Lalu buru-buru mengeluarkan tas belanja saya dan memperlihatkan kepada si Embak “No sac for me, i brought my own sac, Merci beaucoup” . Mbak nya senyum-senyum melihat saya belagak ngomong pake bahasa Perancis campur-campur yang belepotan.

Saya kembali ke apartment dengan memanggul tas penuh bahan makanan yang beratnya luar biasa. Apalagi jarak supermarket dan apartment lumayan jauh. Tapi tetap dong nggak meruntukkan semangat saya hari itu, saya tetap saja jalan sambil nyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Hari kedua di Quebec hanya saya habiskan untuk memasak simple dish untuk saya habiskan sendiri. Ketika hari sudah sore saya mentreat diri saya sendiri dengan long bath pake bubble bubble. Nyanyi-nyanyi sambil joget-joget keliling apartment. Nonton netflix sambil selimutan sampai ketiduran. Nulis jurnal. Nangis-nangis nggak jelas.

This is actually the art of having your own space and time to do whatever you want to do.

Your own free space to simply taking a good care of yourself.

Day 3

Wow saya terbangun pukul 4 pagi karena tiba-tiba saja kaki kedinginan. Saya meraih ponsel saya yang saya letakan di kursi di sebelah kasur. Menyalakannya untuk mengecek suhu pagi ini. Alamak, 4 derajat celcius. Kok bisa? Padahal semalam suhunya masih 19 derajat. Memang sudah mendekti autumn tapi ini bukannya masih summer. Apa summer di Kanada lebih dingin daripada winter di Sydney jarang menyentuh 5 derajat. Saya buru-buru membungkus kaki saya dengan selimut. Untung saja saya punya dua selimut disini.

Saya jadi ingat ada seseorang yang pernah menceritakan tentang seberapa dinginnya Kanada saat winter. “Di kampung halamanku suhunya bisa mencapai minus 20 derajat” katanya sambil menunjukan video seorang lelaki yang melempar segelas air ke udara yang langsung berubah menjadi es. Saya tersenyum kecut. Memori yang ingin saya kubur dalam-dalam mulai bermunculan. Saya berharap ingatan itu hilang ditelan bumi saja tanpa pernah muncul kembali.

Tetapi bukankah ini salah satu tujuan saya datang ke negara ini. Selain untuk merawat diri, saya juga akan menghadapi setiap perasaan yang tidak nyaman ini. Berhenti men-deny semua perasaan yang saya abaikan beberapa bulan lalu. Kalau sedih ya tinggal nangis, nggak papa kok nangis juga. Kata saya kepada diri sendiri.

Hari ini setelah memasak, sarapan dan makan buah saya berencana untuk pergi ke Old Town. Itu loh kota tua cantik yang saya lihat di film Goblin. Yaa saya hampir nggak pernah bikin itinerary kemanapun saya liburan karena saya tipe orang yang lebih suka liburan dengan ritme yang lambat. Nemu tempat bagus duduk manis lalu ngelamun (red:menikmati keindahan tempat itu). Begitupula liburan kali ini.

Untuk menuju ke old town dari tempat saya menginap saya memutuskan untuk naik Uber. Nggak papa sekali kali. Lagi-lagi saya mau membandingkan harga Uber di Kanada dan Sydney. Di sini, untuk jarak yang lumayan jauh harga yang saya bayar hanyalah sekitar 10-16 CAD (100-170 ribu IDR). Di Sydney dengan jarak yang sama, saya harus membayar 20-26 AUD (200-260 ribu IDR). Biasanya saya naik Uber di Sydney kalau bangun kesiangan dan ketinggalan bus. Jadi tetap urusan transportasi Kanada lebih murah.

“Bonjour Madam Anjiki” kata abang Uber yang nggak tahu lagi gimana pronounce nama Angky. Jan sedih bang, Bapak saya sendiri juga suka salah-salah nyebut nama anaknya sendiri.

“Bonjour Monsieur” balas saya mantap. Waktu babang Uber melanjutkan ngajak ngomong pake bahasa Perancis saya cuma bisa saya bales dengan cengar cengir seperti biasa.

Old town atau yang dalam bahasa Perancis bernama Vieux-Québec adalah kawasan bersejarah di Quebec. Bangunan tua dan jalanan setapaknya sungguh memanjakan mata. I can never get enough of it.

Abang Uber menurunkan saya di depan The Fairmont Le Château Frontenac sebuah bangunan hotel megah bersejarah yang berdiri gagah di depan Saint Lawrence River. Iya lagi-lagi pertama liat hotel keren ini di film Goblin yang kalau nggak salah ceritanya itu hotel punya Goblin karena dia udah idup ratusan tahun dan tajir melintir. Saya yang dipenuhi rasa penasaran tentu saja ngecek harga sewa kamarnya untuk satu malam yang angkanya langsung bikin auto-istighfar. Semalem di sana bisa buat beli tiket pesawat pulang balik ke Sydney.

Kawasan old town terdiri dari Upper dan Lower Town. Setelah puas ngelamun di Upper Town sambil memandang Saint Lawrence river, saya melanjutkan perjalanan ke Lower Town tepatnya ke jalanan bernama rue du petit Camplain. Sebuah jalanan kecil yang berisi jajaran bangunan tua yang menjual berbagai macam pernak pernik, makanan, serta kedai-kedai kopi yang cantik. Yang saya ingat tentang jalanan ini adalah banyaknya pemilik toko yang menjual maple syrup yang terlihat menggiurkan.

Berbicara mengenai maple syrup, kemarin di Montreal waktu saya jalan-jalan di Old Townnya, saya sudah beli homemade maple syrup seharga 5 CAD. Di sana saya juga beli postcard, cincin dan anting perak dengan harga yang sungguh miring yang juga handmade. Wait ada cerita dibalik keputusan saya untuk membeli cincin. Ini ceritanya waktu di Asheville, North Carolina saya diajarin buat self love sama temen saya Clansey. Waktu dia tahu saya lagi solo trip untuk merawat diri sendiri dan belajar self love dia langsung bilang “I have a good idea! Why don’t you buy a ring and marry yourself, that’s when you promise to yourself that you won’t let anyone hurt you like he did again” And i think it’s good idea. Walaupun nggak ada yang bisa menjamin di masa depan saya nggak akan terluka lagi karena hubungan, tapi menurut saya ide ini adalah sebuah langkah yang baik untuk memberi simbol bahwa saya berusaha untuk menjaga diri sendiri. Sebagai pengingat kalau besok besok saya akan mengulangi kesalahan yang sama, terjebak di hubungan toxic, saya bisa lihat ini cincin dan ingat. “Wait, nope, ingat janjinya dulu. Kamu sudah melambangkan cintamu sendiri kepada dirimu dengan cincin ini, masa mau mencintai orang yang akan membuatmu lupa akan hal itu” Jadilah saya belikan diri saya sendiri cincin perak yang cantik di Montreal dan menikahi diri saya sendiri.

Jalan-jalan sendirian sambil nyanyi haha hehem ternyata terasa sungguh liberating tapi juga membuat saya mulai kelaparan. Karena itu saya memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe kecil di sudut jalan yang bernama Le Packwood. Cafe yang juga menjual pernak pernik dan lukisan yang menurut saya so pwetty. Saya kemudian memesan segelas ice latte dan satu tangkap sandwich lalu membuka leptop saya untuk menulis di blog ini.

By the way i had a good day with myself today. Saya pulang ke apartment dan tidur nyenyak malam itu.

Day 4

Hari ini saya ingin kembali ke Vieux-Québec. Karena sebenarnya masih banyak yang harus saya explore di kawasan ini. Kali ini saya hanya ingin menikmati seniman-seniman jalanan yang sedang main alat musik. Atau pelukis yang sepertinya menikmati harinya dengan duduk seharian melukis pemandangan di sekitarnya di bawah pohon. Saya bertanya tanya dalam hati “Are they living their best life?” I guess so cause they look happy and totally calm. Tapi saya yakin, bahkan mereka pun pasti pernah patah hati dan memiliki permasalah hidupnya masing-masing. Tapi sungguh melihat mereka berkarya membuat saya ingin melakukan hal yang sama suatu hari. Siapa tahu beberapa tahun lagi saya bisa ditemukan di Old Quebec sedang main harpa sambil melihat seorang perempuan dengan backpacknya yang memandang iri ke saya, lalu berpikir sepertinya cewek itu lagi patah hati. Saya kemudian berharap saya bisa bilang ke perempuan itu, “Madam, I’ve been there, and you’ll get through it” hhe. Apa si kiiii

Saya melanjutkan perjalanan ke Terrasse Pierre-Dugua-De-Mons sebuah green space yang menyajikan pemandangan yang magnificent ke arah Château Frontenac, Dufferin Terrace, dan the city of Levis. Ya Allah kayak di negeri dongeng rasanya ini beneran mah. Nggak bosen-bosen saya bolak balik jalan ngelilingin kawasan ini. Sampai akhirnya punggung saya yang ternyata sudah tak lagi muda lelah dan minta rebahan. Di sebuah open space di atas rumput hijau dengan udara musim panas Kanada yang adem adem semilir di sebelah Château Frontenac saya merebahkan diri. Sambil liat keluarga dengan tiga anak kecil yang lagi prosotan di rumput ketawa-ketawa di sebelah saya. Look how happy they are. And it makes me happy.

Perasaan menyenangkan menyergap memenuhi paru-paru saya. I’m happy now. I don’t want to be anywhere else but here. Di atas rumput ini, memandang ke sungai Saint Lawrence di hadapan saya. Seorang diri. Di Kanada.

Saya memejamkan mata. Sayup-sayup terdengar suara dalam diri saya yang ditiupkan angin akhir musim panas kala itu.

Thank you for bringing me here, Angky.

Day 5

This is it. This is my last day here. Hari ini saya akan pulang ke New York. Dengan rute yang sama, naik kereta ke Montreal lalu naik bus ke New York. Saya akan bertemu Amy dan Serena lagi.

Saya berdiri di balkon apartment yang sudah menjadi rumah saya selama 5 hari penuh ini. Gosh I’m gonna miss this place so much. Tempat telah membantu saya merawat diri, menyembuhkan luka, dan membebaskan saya untuk menjadi diri sendiri. Dari nangis, ketawa, dansa, nyanyi, nonton, sampai memasak semua makanan enak untuk diri saya sendiri.

Saya mulai membersihkan apartment ini dengan perasaan berat hati. Ya bagi saya merawat diri sendiri juga berarti merawat lingkungan sekitar. Membereskan dan membersihkan seluruh apartment dan membuang semua sampah ke tempatnya hingga tempat ini terlihat baru lagi seperti sedia kala. Mungkin beberapa hari ini saya juga melakukan hal yang sama kepada hati saya, membersihkan dan membuang yang tidak perlu. And i felt great.

Sambil menggeret koper saya ke bawah saya mengucapkan salam perpisahan kepada apartment ini.

I’ll see you again someday, home. Thank you for everything.

Pukul 11 siang saya sudah harus check out dari apartment ini. Sementara kereta saya ke Montreal baru akan berangkat pukul 5 sore yang berarti saya harus menunggu selama 6 jam di stasiun. Tidak masalah, karena stasiun Quebec, Gare Du Palais adalah sebuah bangunan tua yang nggak kalah cantiknya dari bangunan-bangunan yang saya lihat di Old Town kemarin. Pastilah saya betah.

Setelah berkeliling di dalam stasiun, saya memutuskan untuk keluar dan menghabiskan waktu saya di sebuah bangku taman di depan stasiun. Sambil menulis di jurnal hitam saya. Memuntahkan seluruh isi hati kepada buku kecil yang saya bawa dari Sydney.

Tiba-tiba saja air mata saya mengalir tak terkendali. Segala emosi tumpah tak tertahankan. Saya dulu mengira bahwa perjalanan seorang diri ke Kanada ini akan menyembuhkan setiap luka hati yang saya miliki. Tapi ternyata hati saya toh terasa perih disini.

Hey ki, it’s okey. It’s okey. Sebuah suara menenangkan saya.

Don’t fight it. It hurts when you argue with reality. It’s okey. When things fall apart, you are allowed to cry and feel the pain. You can feel all those feelings. And then if you’re ready, you can rise from it, rise from your pain. And this is your journey, to be whole again. I’m so proud of you cause you’ve been so brave to stop running away and choose to deal with it. Letting go is never easy but you’re doing your best. Be grateful cause it’s over. And when you’re ready, you can start all over again. But if you’re not, it’s okey too.

Saya menarik nafas dalam-dalam. Menghapuskan air mata saya. Saya tahu sebenarnya air mata ini turun bukan hanya karena patah hati saya beberapa bulan yang lalu. Bahwa keberadaan saya di Kanada sekarang juga bukan hanya karenannya. Tapi ada alasan lainnya. Ada masalah-masalah dan perasaan-perasaan yang belum selesai di diri saya yang terkubur bertahun tahun lamanya yang mulai bermuculah begitu saja ketika saya mengambil jeda. Di sebuah tempat yang jauh dimana saya adalah orang asing, tangis saya pecah tak karuan. Tangis dan perasaan perasaan yang ingin saya tuntaskan sore ini juga.

Saya tahu perjalanan kali ini tidak serta merta menyembuhkan setiap luka yang saya miliki. Tapi setidaknya sekarang saya lebih berani untuk berhenti dan menerima semua perasaaan yang datang dengan hati yang lebih lapang.

Seperti nasihat Indun dulu tentang perasaan yang sifatnya sementara. Akan lebih baik diterima saja kala memang tidak baik sebagaimana kita menyambut perasaan baik. Asalkan jangan larut.

Karena di luar sana ada banyak orang yang selalu mendoakan kebahagiaanmu di manapun kamu berada.

You did your best ki 🙂

Tapi setidaknya sekarang saya juga lebih mengenal diri saya. Ketika saya mulai merasa kewalahan dengan keadaan yang tak bisa saya ubah dan perasaan perasaan yang menguras emosi. Saya boleh memilih untuk step back lalu sejenak pergi menjauh untuk merawat diri saya sendiri. Lalu belajar untuk mencintai gadis kecil yang telah banyak kecewa ini. Agar ia tahu, bagaimana rasanya dicintai setulus-tulusnya dan sejujur-jujurnya. Agar suatu hari ia pun dapat menemukan ‘rumah’nya.

***

Langit Quebec cerah sore itu, ketika kereta mulai melaju menuju Montreal saya berbisik.

“Quebec, thank you for everything”

Sebuah lagu berputar di ponsel saya mengiringi kepulangan saya ke New York sore itu.

I’m out of touch, I’m out of love
I’ll pick you up when you’re getting down
And out of all these things I’ve done I think I love you better now
.

-Ed Sheeran, Lego House-

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

6 thoughts on “Perihal merawat diri (Quebec, Canada)

  1. My dear Angky, terima kasih selalu berbaik hati untuk berbagi. Terima kasih juga untuk selalu menginspirasi.. untuk berani menatap kecewa dan membuka diri pada setiap jengkal kecewa. Saya yakin banyak orang diluar sana yang tersenyum membaca blog ini, saya salah satunya saya. Ya, ada perasaan aneh dan lega. Setidaknya saya tahu saya tidak berjuang sendirian. Terus ajak kami keliling dunia ya!

    Kirim rindu dari Kalimantan,
    Mona

    Liked by 1 person

  2. Hi mba Angky. Tulisannya bagus-bagus, suka banget. Kebetulan yg satu ini agak emosional ya, jadi ikutan mewek haha. I feel you, mba. Semoga suatu saat bisa terbebas dari kesedihan yg mba rasakan. Paling gak saat mba teringat masa lalu, sudah nggak nangis lagi ehe 🌻🌻

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: