„Dunia yang Sempurna“ by Monalisa

Kemarin saya dan Mona ngobrol tentang dunia yang Sempurna. Karena saya baru saja mencoret-coret jurnal saya menuliskan dunia yang sempurna versi saya. 

Saya mengirimkannya pada Mona. Kawan saya yang pernah saya ceritakan di postingan Belajar metertawakan hidup dengan Mona

Kami tahu dunia yang sempurna itu nggak ada. Tapi dengan menuliskan coretan tentang perfect world somehow kami jadi tahu sebenarnya hidup ideal versi kami itu seperti apa. Tentu saja ada hal-hal yang nggak bisa diwujudkan, seperti berharap dunia tanpa perang. Tapi ternyata setelah menulis dunia yang sempurna versi saya. Saya jadi melihat mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang masih ada di dalam diri saya dan masih bisa diperjuangkan. Hal ini sedikit mengembalikan optimisme dalam hidup. 

“Mon kalau kamu diberi secarik kertas dan pena dan bisa menuliskan dunia yang sempurna versimu. Kamu mau nulis apa?” Tanya saya kepada Mona

Monalisa

Typing……..

*******

 

„Dunia yang Sempurna“

by Monalisa

Udara pagi ini terasa segar, rumput di depan kamar tidur kami masih terlihat basah oleh embun tadi malam. Rutinitas bangun pagi saya bermula 3 tahun lalu. Jam 5 pagi, saya akan bangun dengan sapaan laki-laki yang menjadi teman hidup saya 2 tahun belakangan ini. Ia sudah tahu jika saya bukan penggemar morning cuddle, jadi Ia hanya akan tersenyum, menyapa selamat pagi dan mengecup lembut kening saya. Jika sedang manja, Ia akan mendekap erat saya dalam pelukannya dan menghujam saya dengan ciuman. Dasar!

Saya akan bangun dan memulai hari dengan olahraga ringan, sementara si tampan masih membutuhkan 30 menit untuk melanjutkan tidurnya. Biasanya Ia akan bangun ketika saya selesai dengan sesi olahraga, lalu kita akan menghabiskan waktu di dapur. Mengecek apakah ada buah-buahan yang bisa kita olah menjadi smoothies. Jika tidak ada, saya akan mengecek disekitar halaman rumah kami untuk melihat apakah sudah ada buah atau sayuran yang sudah tumbuh dan dapat dipanen. Si suami menjalankan tugasnya sebagai chef dirumah dengan membuatkan pancake favorit istrinya yang tidak bisa masak ini. Sesi sarapan biasanya ditemani dengan obrolan hangat seputar rencana hari itu. Benar-benar rutinitas yang selalu berhasil memberikan senyum di bibir saya sepanjang hari. Sarapan ditutup dengan saya yang bertugas untuk mencuci piring.

Mandi menjadi ritual favorit yang menurut saya sangat krusial untuk membangun mood. Jadi kamar mandi kami design senyaman mungkin. Kamar mandi dengan konsep yang menyatu dengan alam terbuka ini cukup luas, 4 x 6. Dipagari bambu, kami memiliki bath up yang suami buat sendiri dengan bahan dasar batuan alam. Ada shower yang juga berdiri tegak dengan tiang bambu, cermin besar di sudut beserta banyak tanaman disekelilingnya. Untuk menjaga air dan tanah dari pencemaran, kami pastikan untuk hanya menggunakan produk ramah lingkungan seperti shampoo dan sabun organik. Hanya itu, tidak ada produk kecantikan lainnya. Hasilnya, tidak ada pengeluaran extra untuk produk-produk tersebut, karena kami berbagi produk yang sama. Karena menurutnya saya secantik alam, sudah cantik apa adanya. Si suami akan menunggu saya di kamar mandi, lalu memulai proses mandi dengan saling mengusap punggung masing-masing.

Ia seorang arsitek yang memiliki kantor tidak jauh dari rumah. 20 menit dengan berjalan kaki. Ia membuka jasa arsitektur dengan klien-klien yang tertarik dengan sustainable design. Sementara saya bekerja di sebuah NGO yang saya bangun 5 tahun lalu. Hari-hari saya akan sibuk dengan pertemuan-pertemuan dengan pemerintah daerah serta masyarakat setempat, menggali lebih dalam isu lingkungan dan sosial serta menciptakan project dari masalah yang ada di sekitar. Saya memiliki tim yang terdiri dari 40 orang, kebanyakan perempuan. Beberapa project kami fokus pada pendidikan lingkungan serta penguatan ekonomi di tingkat tapak. Beberapa project ini berjalan dengan sangat baik, salah satunya adalah waste manajemen di kota Palangka Raya. Dengan inisiatif kami, bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat kami mencipatakan sistem pengolahan sampah terpadu serta memperkuat edukasi tentang sampah kepada masyarakat. Setelah 5 tahun berjalan, hasil yang dapat dilihatpun lebih signifikan. Sudah ada UU daerah yang mengatur tentang penggunaan sampah plastik, mendorong industri rumahan yang menciptakan produk pengganti plastik, serta kesadaran besar dari masyarakat sendiri. Masyarakat di kota ini rata-rata membuat kompos dari sisa makanan rumahan karena kesadaran tinggi akan kesehatan tanah dan air.

Tahun ini, kami akan berfokus pada penguatan ekonomi desa di Kalimantan dengan penanaman bambu di lahan terdegradasi. Si suami banyak membantu saya untuk membangun bisnis model yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat, tetapi juga masuk akal untuk industri serta dapat menarik investor.

Makan siang akan lebih banyak saya habiskan bersama kolega di kantor. Sementara suami biasanya memilih untuk pulang ke rumah sembari beristirahat sejenak. Saya kagum dengan bagaimana Ia menjaga keseimbangan dalam hidupnya. Bekerja dan istirahat, menjaga kesehatan tubuh dan mental, memperhatikan hal sederhana dalam keseharian seperti menjaga kebun sayur kami agar dapat bisa dipanen sepanjang waktu, pergi ke pasar tradisional untuk mendukung ekonomi petani lokal, hingga memastikan bahwa tidak ada makanan terbuang dari dapur kami, merupakan hal-hal sederhana yang Ia jaga, dan ternyata berdampak besar dalam kehidupan rumah tangga kecil kami. Rumah ini terasa hangat dengan energi positif. Oh, betapa saya beruntung dicintai oleh laki-laki ini.

Rumah kami terdiri dari 3 bangunan utama yang saling terhubung. Design rumah memastikan kami menikmati seluruh fasilitas gratis yang alam sediakan seperti angin dan cahaya. Pepohonan dan bambu menjadi kanopi sempurna yang memfilter udara serta air dalam tanah. Weekend seringkali kami habiskan untuk berkebun, membuat kompos, menonton dokumenter atau barbeque dengan mengundang beberapa teman dekat. Kami berdua pecinta wine, oh we love it so much! Saya pikir ini mengapa rumah kami menjadi favorit untuk tempat hangout bagi teman-kami juga hahaha

Sore itu, si suami pulang lebih awal dari saya dan memutuskan untuk memasak sup sayuran yang baru Ia panen dari halaman rumah sebagai menu makan malam kami. Seperti makan malam biasanya, kami akan bertukar cerita tentang hari kami masing-masing. Dia selalu antusias menjelaskan tentang design untuk project barunya, bagaimana design bangunan sangat berpengaruh pada lingkungan sekitar dan kesehatan jiwa dan raga bagi penghuninya, serta pemilihan material yang tepat sangat mempengaruhi penilaiannya terhadap sebuah bangunan. Saya dengan takjub mendengarkan. Bukan, bukan karena saya mengerti maksudnya, melainkan kecintaan saya melihat laki-laki yang saya cintai, mencintai pekerjaannya. Bagian saya? Lebih banyak berisi komplain mengenai isu lingkungan atau betapa hati saya bahagia jika tahu bahwa apa yang saya lakukan membawa dampak positif bagi orang lain. Sesederhana, namun juga sepekat itu. Bagi saya, hanya ada frustasi atau solusi. There is nothing in between. Laki-laki didepan saya ini juga akan mendengar dengan sabar dan mendukung setiap langkah saya, mengingatkan untuk mengikhlaskan beberapa hal yang tidak bisa saya ubah, serta menghargai kerja keras saya sendiri. Seperti biasanya, makan malam akan ditutup dengan saya mencuci piring yang seringkali dibantu suami.

Perbincangan biasanya berlanjut ke kasur dengan wine di tangan masing-masing. Tiba-tiba si suami bilang “Hey honey, you said you miss Angky, right? I am gonna have a presentation in a converence in Bali next week. I booked a flight for both of us”. I lost my words, this guy really knows how to make me fall in love with him over and over again.

Tonight, I am going to sleep well because I remember how lucky I am to have this man in my life and of course, because I will meet my favourite couple on earth next week, my best friend Angky and her husband in Ubud and spending time with her in her coffee shop. Cita-citanya sedari dulu memang memiliki coffee shop dan hidup sederhana di Ubud. Dan mengajaknya membatunya mengajar di Greenshool yang kami dirikan tahun lalu. Perhaps.

Sekian cerita sebuah “hari di dunia yang sempurna” versi Monalisa. 

Memang tak semua hal bisa berjalan seperti yang ada di tulisan ini. Tapi at least, beberapa point masih bisa saya perjuangan. Ya kan?

Anyway. 

Selamat malam semua. Tidur nyenyak dan semoga bermimpi indah malam ini. I know i will. 🙂

Love

Monalisa

ef6e0e4c-f979-49f3-9de3-dd3a930b705a

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

11 thoughts on “„Dunia yang Sempurna“ by Monalisa

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: