Supremasi kulit putih di Indonesia?

 

Saya punya cerita.

Waktu saya tinggal di Bali, saya bekerja di sebuah perusahaan start up. Owner perusahaan kecil ini adalah orang Jakarta. Ketika itu mereka membutuhkan seorang assistant marketing manager di Bali. Saya kemudian diterbangkan ke pulau dewata. Saya mendapatkan gaji pokok Rp. 4 juta rupiah dengan tambahan Rp. 500 ribu untuk uang transportasi. Karena ternyata pekerjaan ini menuntut untuk mobile pergi menemui client. Saat itu saya tidak banyak menuntut karena ini adalah keinginan saya sendiri meninggalkan Jakarta kemudian memulai hidup di Bali. Asal saya bisa bayar tempat tinggal dan makan pada bulan-bulan awal gaji itu masih masuk akal.

Saya mendapat kosan di daerah Imam Bonjol seharga Rp 1.2 juta belum dengan listrik. Ditambah biaya listrik sebulan bisa mencapai Rp 200 ribu. Sehingga total biaya tempat tinggal adalah Rp. 1.4 juta.

Di bali saya tidak memiliki kantor. Ada enaknya, ada tidaknya. Enaknya bisa menentukan tempat bekerja sendiri. Asal ada sambungan internet bisa kerja dimana saja. Nggak enaknya, duit saya habis buat nongkrong di café cafe seminyak canggu berjam-jam buat kerja. Nggak di reimburse biaya nongki sambil cari wifinya. Tapi nggak ada pilihan lain karena kosan saya nggak ada wifinya pun nggak punya kantor dengan sambungan internet. Kalo mau kosan pakai wifi nambah lagi biayanya. Saya awalnya pengin menuntut untuk disewakan coworking space di Bali, karena memang saya butuh. Tapi karena saya masih anak baru dan lagi seneng-senengnya di Bali jadi waktu itu saya ikhlas ikhlas aja.

Biaya sekali beli kopi di café-café itu sekitar 20-30 ribu. Jadi itungan kasarnya kalo sehari misal Rp. 25 ribu dikali 20 hari kerja (padahal kerjanya 30 hari karena nggak ada jam kerja pasti dan bisa ditelfon client kapan aja) hitungan kasarnya Rp 500 ribuan sebulan lah buat nongki nggak pake makan. Ini bulan pertama doang rajin menclok café sana sini. Karena masih punya tabungan dan lagi seneng godain Ebby temen kantor saya di Jakarta biar pindah ke Bali juga. Bulan kedua saya di Bali saya cuma mampu nongkrong di lantai 2 Indomaret point legian, beli kopi nescafe yang kecil harga 6000 rupiah sambil cari wifi yang koneksinya iya engga engga. Kaya mantan kalo mau ngajak balikan

Belum disana saya harus sewa motor karena kalo naik ojek terus terusan bangkrut shay. Motor ini wajib hukumnya di kerjaan saya, karena sehari bisa visit 10 hotel dari ujung Seminyak terus lari ke Nusa Dua visit tempat watersport. Seru ya sebenernya, pas banget kalo suka pecicilan. Tapi ya ituuu nggak punya motor. Harga sewa motor Rp. 600 ribu sebulan. Ini nggak ditanggung kantor. Ada uang transport 500 ribu dari gaji saya yang Rp 4.5 juta itu buat beli bensin. Ya engap lah pokoknya.

Jadi kalo ditotal biaya hidup saya disana belum pake makan. Cuma buat kosan, sewa motor, bensin, sama cari wifi perkiraan kasar bulan pertama itu mencapai Rp 3 juta rupiah. Sisanya 1.5 juta buat makan. Waktu bulan pertama saya tinggal dan kerja di bali belum terasa beratnya hidup ini gais karena emang lagi haha hihi di Bali mencoba hidup baru yakaannn, makan lumpia 5000 an aja udah seneng sambil liat sunset. Toh masih ada tabungan waktu resign dari kantor lama di Jakarta. Makan nggak enak dan tekor gapapa yang penting bisa liat sunset dan renang di pantai tiap hari.

Bulan kedua  disana mulai terasa kenestapaan hidup ini karena waktu itu saya mulai ngurusin syarat-syarat working holiday ke Ausi yang bikin saya harus bolak balik Jakarta dan membayar biaya ini itu. Visa, Medical Check up, dll. Saya mulai ngirit biar uangnya cukup buat bayar bayar dan hidup. Dari nggak lagi sewa motor, minjem motor Emil, kalo dia lagi kerja motornya saya bawa buat kerja atau pada bulan ke 3 saya Mona dan Indun nyewa motor Michele yang udah mau rontok harganya 200 ribu aja sebulan ini pun bagi 3 orang, hidup nebeng di kosan Emil juga dengan 3 perempuan lainnya sempit-sempitan, nongkrong cuma di Indomaret point aja sambil liat dibawah itu bule-bule lagi masuk club sana sini duitnya banyak bener sementara saya dan teman-teman saya mau makan nasi jinggo harga 10 rebu aja dibilang mahal. Makan tiap hari harus beli sup di warteg depan bareng-bareng anak kosan yang sama-sama miskinnya.

Saya sempet tanya ke bos kenapa nggak ada fasilitas buat pegawai di Bali, kalau memang nggak ada kantor mbok ya di sewain co working space gitu. Atau ya di reimburse biaya café. Kadang dibilang bakal di reimburse tapi nggak juga. Ini kerja apa dikerjain sebenernya. Charity po.

Anyway…

Hanya ada 3 pegawai di cabang Bali, IT, Marketing Manager, dan saya Assistant Marketing Manager. Marketing Manager saya berasal dari Chile. Saya sebenernya nggak tahu berapa gaji dia, tapi kok idupnya enak bener bisa sewa villa private pool sama temen-temennya di Ungasan. Katanya dia disewain coworking space juga sama bos di Jakarta. Sante banget kalo ngajak meeting di Nook ata café-café yang harga air mineralnya aja 10 rebu. Awal-awal saya ikut pesen yang paling murah lah, akhir-akhir nya saya nggak pesen dan cuma liatin dia makan saladnya yang harganya 60 rebuan itu. Kata pegawai lain gajinya memang jauh dari saya. Oke mungkin karena title nya yang  Marketing Manager dan mungkin sudah berpengalaman. Saya kan baru belajar.

Setelah mengenal lebih lama, dia mengaku pengalaman marketingnya adalah karena doi punya toko roti kecil-kecilan di negaranya. Ohh mungkin udah expert, toko rotinya laku keras, jadi dipercaya disini walaupun yang dijual bukan roti yakan. Namun setelah lama bekerja bareng kok beban pekerjaan semua jadi jatuh sama saya. Alasanya karena ia belum familiar dengan budaya Indonesia jadi marketing plannya nggak sesuai di sana sini, ditambah dia nggak bisa berbahasa Indonesia jadi susah ngomong sama client-client, dan nggak begitu ngerti gadget yang kadang harus saya kasih tutorial.

Padahal saat itu hampir semua platform dimana kami menjual voucher adalah platform Indonesia. Gimana itu rasanya gais, jadi call center 11 platform dari menghubungi marketing platform sampe customer yang jumlahnya mayan banyak itu saya semua yang harus handle. Ngapain Marketing Manager saya? Cuma pegang Instagram yang ujung-ujungnya saya juga yang ngejalanin. Alhasil 80% pekerjaan saya yang menjalankan. Saya awalnya nggak masalah si karena emang menarik juga ini kerjaan bikin saya tertantang. Kayak punya perusahaan sendiri gitu. Tapi lama-lama kewalahan karena cuma saya aja yang kerjain semuanya sendiri. Mbok ya di hire satu orang Indonesia lagi yakan biar saya nggak keteteran sendiri.

Bos mulai puji-puji marketing plan saya yang bisa tereksekusi dengan baik. Dan penjualan meningkat pesat. Tapi apakah gaji saya dinaikan? Tidak. Apakah fasilitas saya ditambah? Tidak juga, Apakah gaji si Chile masih lebih besar dari saya? Tentu saja.

Ini beneran, kerja rodi apa gimana ya? Kenapa gaji kami berjarak banyak walaupun sudah jelas-jelas kinerja saya lebih baik darinya? Dia pun mengakui sendiri. Apa karena Marketing Manager saya itu seorang ‘expat’. Mana mau dia digaji kecil yakan. Apa saya yang bego nggak bisa nego gaji dari awal?

Pada suatu hari bos saya nelfon, katanya dia memberhentikan Marketing Manager karena toh sudah cukup semua kerjaan di handle saya. Waktu itu strategi marketing saya berhasil menjual produk dengan cepat dan orang-orang di Jakarta mengakui kualitas pekerjaan saya jauh lebih memuaskan daripada orang asing itu.

Walaupun si mbak Chile kerjaanya nggak banyak, tapi kan semua kerjaan jadi tumpah ruah ke saya. Apakah artinya saya ini jadi Marketing Manager karena si mbak diberhentikan? Harusnya yakan, walaupun nggak ada pembicaraan khusus. Bagaimana dengan gaji saya? Sama saja, nggak ada peningkatan sedikit pun.

Tapi gaiss, tentu saja nggak semua perusahaan memperlakukan pekerjanya seperti perusahaan ini. Saya hanya berbicara berdasarkan pengalaman. Dan bahkan saya nggak menyalahkan Marketing Manager yang gajinya jauh diatas saya. Yang saya sayangkan adalah, kenapa si langsung aja dia digaji besar tanpa mengukur pengalaman dan kualitas. Atau nggak papa deh dia gajinya besar, tapi kenapa gaji saya kecil dan jauh banget tanpa fasilitas sama sekali dengan beban kerja yang gila gilaan. Apa karena dia orang asing? Saya dirasisin dong sama orang sendiri?

Tapi saya juga nggak 100% benar dalam hal ini. Kenapa nggak ngitung-ngitung dulu coba dan menuntut dengan berani yang memang hak saya. Yaa lagi-lagi waktu itu saya hanyalah perempuan yang sudah lelah dengan Jakarta. Yang lagi excited-excitednya tinggal di Bali.

Lalu apa yang saya lakukan kala itu? Saya memutuskan untuk keluar, karena waktu itu juga ada kesempatan untuk pergi ke Australia. Dan waktu bekerja di perusahaan Ausi saya baru mengenal dengan istilah minimum wage. Setiap pekerjaan tidak boleh memberi upah dibawah minimum wage yang sudah ditetapkan pemerintah. Ya di Indo juga ada ya. Tapi kok ya kalau ada orang asing jauh banget dari minimun wagenya pemerintah. Di Ausi minimum wage ini di perlakukan adil ke semua orang. Mereka pun sudah mengukur-ngukur itu gaji masuk akal buat hidup di Ausi nggak. Waktu saya kerja di Lush saya melihat ke multiculturan perusahaan ini. Ada yang dari Nepal, Nigeria, Jerman, New Zealand, Indonesia, Korea, Philipin. Kebanyakan yang bekerja di sana adalah anak muda karena ini team khusus di hire untuk Christmast season. Guess what, kami semua digaji, diberi fasilitas dan di treat dengan sama.

Padahal dulu saya pikir kalau saya tinggal di luar negeri jurang-jurang rasisme bakalan lebih terasa daripada di Indo. Tapi jutru sebaliknya. Bahkan nggak hanya masalah pekerjaan, di Bali kadang kalau mau masuk resto besar orang Bule di treat lebih manis. Mau pake sendal jepit mau pake apa kek nggak masalah. Orang Indo diliatin dari atas sampe bawah ditanya dengan nada ketus kepentingannya apa kalo nggak pake baju perlente. Nggak di semua tempat memang, tapi di beberapa tempat rasisme kerasa pake banget. Ya mungkin yang kulit coklat pake sendal jepit langsung dikira nggak punya duit kan beda sama yang kulit putih walaupun sama-sama pake swallow tapi dompetnya tebel, jadi harus dibaik-baikin. Lagi-lagi saya nggak ada masalah perlakuan ramah ke bule-bule tamu tamu kita ini, tapi mbok ya yang orang Indonesia dan kulit coklat atau hitam lainnya juga diperlakuin sama. Apa si susahnya? Stigma apa si yang mereka punya buat saudara satu ras sendiri ini?

Tentu saja saya nggak sendiri. Ada temen saya yang bekerja di perusahaan dari Eropa di Indonesia. Gajinya hanya sepertiga dari gaji orang-orang kulit putih dengan jabatan yang sama. Padahal kemampuannya sudah diakui, di suruh memegang beberapa project besar. Bahkan gajinya jauh lebih kecil daripada intern mahasiswa-mahasiswa yang didatangkan dari Eropa. Waktu dia tanya kenapa kok nggak adil, alasan mereka adalah karena orang-orang Indonesia kan kebanyakan kualitasnya memang nggak bagus, kerja cuma duduk duduk nggak jelas di kantor. Lalu di generalisirkan ke semua orang. Termasuk teman saya yang kerjanya diakui dan sering disuruh untuk memimpin proyek besar dan meeting dengan pimpinan-pimpinan perusahaan dari Eropa. Jabatannya terus saja dinaikkan dengan gaji yang masih saja bukan lagi separuh dari orang-orang kulit putih itu, tapi 1/3 nya saja.

Waktu saya tanya apa yang dia lakukan untuk menghadapi situasinya ini? Katanya dia sering membahas ketidaksetaraan ini di forum-forum besar dan menuntut keadilan untuk dirinya sendiri dan kolega lainnya. Karena ia mencintai bidang pekerjaanya, yang nggak adil kan hanya sistem di perusahaanya. Dia malah makin semangat untuk kuliah di Eropa untuk mendapat ilmu lalu balik buat menuntut kesetaraan dan perlakuan nggak adil yang dia terima. Belum lagi teman saya ini harus menghadapi budaya patriarki di Indonesia. Yang walaupun dia mendapat ketidaksetaraan di sisi gaji, di usia muda dia sudah mendapat jabatan yang tinggi. Orang-orang mulai seksis dan berkomentar; katanya dianggap terlalu muda, perempuan lagi, mana mampu mewakili organisasi untuk bertukar pendapat.

Ada juga dosen expat di sebuah perguruan negeri di Indonesia yang mengaku gajinya jauh lebih besar dari gaji dosen lokal yang beban kerjanya sama.

Walaupun banyak instansi yang memperlakukan pekerjanya dengan adil dari segi gaji dan beban kerja di Indonesia tapi masih banyak ketidaksetaraan antara kulit putih dan kulit cokelat di negara kita ini. Lagi-lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman.

Tapi serius, rasanya dilematis. Happy banget dulu waktu kerja di Bali membantu mengembangkan karya anak bangsa sendiri. Kreatif dan Inofatif gitu. Pengin bareng-bareng maju biar Indonesia bisa maju juga kayak negara lain. Tapi cape juga kalau saya harus selalu berteriak keras-keras untuk keadilan yang sebenarnya adalah hak kami. Ada pula orang-orang yang sedang dan akan terus berjuang untuk kesetaraan seperti yang teman saya lakukan, walaupun tentu saja perjuangannya akan sangat panjang. Ada yang melipir seperti saya ke negara maju untuk mendapat perlakuan yang adil.

Nggak mudah tentu saja menghilangkan white supremacy yang ada disini. Toh masih ada trauma-trauma zaman kolonial yang membuat perlakuan lebih ke orang-orang putih ini normal dan terlihat kekal di beberapa tempat. Saya sedikit menyesal dulu nggak bersuara ke bos saya tentang ketidaksetaraan gaji dan perlakuan yang saya terima, tapi sekarang harapannya setiap saya merasa adanya kesenjangan saya tahu saya harus berani bersuara. Karena kalau saya berani bersuara, bukan hanya saya akan memperbaiki nasib saya kala itu, tapi mungkin orang-orang setelah saya yang bekerja di tempat yang sama. Atau orang-orang di sekeliling saya.

Dan mudah-mudahan kita semua bisa berlajar untuk berhenti memperlakukan orang secara tidak adil berdasarkan warna kulit. Hal-hal kecil saja seperti berhenti memberi beauty standart kalau punya kulit putih baru layak dibilang cantik yang hitam di bully, semua cantik gais. Dan jika hal seperti ini terjadi di depanmu. Bersuaralah.

Karena kata tante oprah gini

“The next time you see an injustice and you pretend you didn’t see it, you are a part of the problem”

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

14 thoughts on “Supremasi kulit putih di Indonesia?

  1. Wadidaw… Tetangga. Salam terhangat dari Glogor Carik😂😂😂 eh udah gak di Bali ya padahal. Tapi saya setuju mbak sama ceritanya karena pernah ngerasain juga waktu kerja sama orang Perancis. Temen2nya si bos yang intern kirain bisa ngebantu banget. Orang dari negara maju gitu loh meskipun masih student. Eh, malah saya mending kerja sendiri. Gara-gara hal ini saya jadi makin percaya sama kata2 orang bahwa Indonesia itu sangat bisa sebenarnya. Banyak yang cerdas dan punya skill. Tapi yah balik lagi ke superioritas si bule dan anggapan masyarakat lainnya yang seolah2 kita itu gak ada apa2nya. Padahal banyak saya lihat bahwa kita itu luar biasa banget. Kurang pede kali ya…

    Liked by 3 people

    1. Wahhh di gelogor carik toh.. saya muter muter imam bonjol gunung soputan aja kosannya dulu. Betul di Bali menurut saya justru kental sekali isu supremasi kulit putih ini. Sedih sebenarnya tapi Bali rumah saya gimana dong. hhe

      Liked by 1 person

      1. Nah itu juga yang saya bingung mbak. Tapi kalau di Bali memang cukup terasa sih kalau ngomongin privilege bule dan lokal. Meskipun saya juga gak menutup mata bahwa banyak juga yang pada dasarnya baik banget.

        Like

  2. Menarik sekali cerita ini, Mbak.
    Saya pernah mendengar langsung cerita yang kurang lebih sama, masih tentang ketidakadilan dalam bekerja antara orang Indonesia asli dan orang luar. Padahal, kerja di negeri sendiri. Lucu sebenarnya, tapi itu kenyataan.

    Terima kasih sudah berbagi, Mbak. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

    Liked by 2 people

    1. Sebenarnya banyak sekali cerita cerita serupa yang sering saya dengar dari teman-teman saya tentang hal ini. Dan reaksi mereka benar-benar hanya tiga. Diam, melawan, dan pergi sama sekali.

      Btw terimakasih banyak sudah mampir dan membaca Mbak Ayu. Salam kenal 🙂

      Liked by 1 person

      1. Betul, Mbak. Saya pun yang mendengarkan cerita, tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendengarkan sampai selesai dan kalau bisa menyarankan untuk pergi/keluar dari lingkaran pekerjaan tersebut.

        Terima kasih juga sudah menulis cerita seperti ini, Mbak. Salam kenal juga untuk Mbak Angky.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: