Kembali ke BALI

Di masa penuh ketidakpastian karena pandemi ini akhirnya saya memutuskan untuk bergerak.

Hari ini tepat 5 bulan saya berada di Indonesia, dengan pasang surut aturan yang tak menentu dari pemerintah Ausi dan juga Indonesia. Singkat cerita saya memutuskan untuk belajar menerima kenyataan bahwa semua plan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kedepan harus pupus dan saya harus berdamai dengan keadaan. Tapi bukankah semua orang sedang merasakan apa yang sedang saya rasakan?

Anehnya saya tidak terlalu merasa kecewa dan bingung seperti dulu dulu. Setelah banyak berdiskusi dengan kawan saya Mona, yang selalu mengingatkan saya bahwa hidup memang suka bercanda dan suka kasih kejutan yang nggak terduga. Coba belajar menertawakannya. Atau kata teman saya Indun, yang bilang ya hidup ini perkara jatuh bangun saja. Kalau jatuh ya bangun lagi.

Tentu saja setiap proses dan gejolak emosi yang harus di hadapi tak sesederhana itu. Namun pelan-pelan saya mulai belajar untuk merelakan dan memilih untuk fokus dengan apa yang ada di depan mata. Segala hal yang masih bisa dilakukan dan diperjuangkan.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Bali. Karena sudah melepaskan harapan untuk kembali ke Sydney secepatnya.

Lalu mengapa Bali? Karena saya pikir saya pun butuh untuk menjauh dari rumah barang sekedar. Selama lima bulan di rumah tentu saja saya senang bisa dekat dengan keluarga. Tapi merantau selama 10 tahun membuat saya menjadi terbiasa hidup sendiri. Apalagi biasanya kalau saya kembali ke rumah, saya selalu saja hanya singgah untuk beberapa minggu saja. Paling lama satu bulan. Kali ini 5 bulan penuh saya berada di rumah.

Rasanya aneh.

Mengapa aneh? Karena rasanya bukan hanya saya yang sudah terbisasa hidup seorang diri jauh dari tempat yang dulu saya sebut rumah ini. Tapi orang-orang di tempat ini pun sudah terbiasa hidup tanpa saya. Apalagi rumah tempat saya pulang kali ini bukan pula rumah masa kecil saya dulu. Tapi rumah Bapak dan istrinya. Saya pun tidak bisa memaksakan istri Bapak untuk beradaptasi dan nyaman dengan kehadiran saya. Jangan salah paham, ibu tiri saya adalah orang yang baik, selalu memasak masakan rumah yang lezat dan mengurus Bapak dengan penuh kasih. Selalu membelikan jamu setiap pagi ketika saya sedang nyeri haid. Hanya saja, pada satu titik kami berdua sadar bahwa kami tetaplah orang asing yang harus terus belajar beradaptasi di rumah ini. Maka ketika ada perasaan aneh dari diri saya, atau mungkin dari dirinya, adalah perasaan yang lumrah.

Walaupun saya senang menemani Bapak makan pagi dan memberi makan lele lele peliharaannya di halaman belakang. Atau sekedar duduk di teras melihatnya menyirami tanaman. Atau mengantarnya ke rumah adiknya. Tapi tetap saja, kembali hidup bersama Bapak berarti kembali menjadi gadis kecil yang Bapak kenal dulu. Ada perasaan bersalah ketika saya berada di luar rumah terlalu lama, atau tetap saja ada perasaan asing di rumah barunya yang ia bangun bersama istrinya yang tidak bisa saya tepis dengan mudah.

Rumah Bapak menjadi tempat singgah yang nyaman. Namun bukan lagi tempat pulang.

Saya juga senang setiap Ibu minta ditemani ke rumah Tante Mang untuk sekedar silaturahmi. Saya senang menjemputnya di rumahnya. Atau ia yang menjemput saya di rumah Bapak untuk kemudian makan bersama dengan ia dan suaminya. Lalu mengantarkan saya kembali lagi ke rumah Bapak. Atau hanya sekedar menemaninya menyetir seharian keliling kota saja sudah menyenangkan. Tapi masih saja ada perasaan bersalah di dalam diri saya karena dari awal saya lebih memilih untuk tinggal di rumah Bapak yang lebih sepi. Atau merasa kurang membagi waktu dan perhatian dengannya.

Segala perasaan ini ditambah perasaan tidak berdaya yang datang karena tidak melakukan dan menghasilkan apapun beberapa bulan belakang selain tulisan tulisan di blog.

Saya ingin kembali bergerak dan berdaya.

Padahal mungkin semua perasaan dan pikiran yang berlebihan ini hanya ada di kepala saya saja. Karena kondisi tidak menentu seperti ini membuat pikiran orang-orang menjadi kacau. Tapi bukan berarti perasaan yang saya rasakan ini tidak valid dan tidak perlu ditanggapi.

Saya kemudian bertanya kepada Mamas di Jakarta. Apakah ia merasakan hal sama seperti yang saya rasakan ketika berada terlalu lama di kota lahir kami?

Jawabannya; terkadang ia merasakan bersalah kepada Ibu karena tinggal terlalu lama di rumah Bapak. Tapj seperti saya, ia tak suka keramaian. Ia merasa saat ini saya justru butuh untuk pergi ke tempat dimana saya merasa berada di rumah. Pulang ke Bali.

“You’ve been home a bit too long, just go to Bali already” kata Mamas.

Saya merasa beruntung memiliki kakak laki laki yang selalu memilih mendengar dan mengerti adiknya yang rewel ini. Daripada menghakiminya macam-macam seperti yang orang-orang sering lakukan setiap mendengar keputusan saya untuk ke Bali. Yang katanya terdengar egois.

Mamas melihat jauh ke dalam emosi saya dan mencoba mengerti bahwa adiknya butuh bersama dirinya sendiri untuk berpikir jernih dan menyusun kembali plan hidupnya. Ia pun tahu adiknya membutuhkan ‘rumah’ nya.

Begitulah akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Bali. Untuk kesekian kalinya.

Untuk kembali pulang ke rumah setiap kali merasa tersesat di jalan.

***

I’m a phoenix in the water
A fish that’s learnt to fly
And i’ve always been a daughter
But feathers are meant for the sky

So I’m wishing, wishing further
For the excitement to arrive
It’s just I’d rather be causing the chaos
Than laying at the sharp end of this knife
With every small disaster I’ll let the waters still

Take me away to some place real
‘Cause they say home is where your heart is set in stone
Where you go when you’re alone
Is where you go to rest your bones
It’s not just where you lay your head
It’s not just where you make your bed
As long as we’re together, does it matter where we go?

Home
Home

-Home- Gabrielle Aplin

 

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

3 thoughts on “Kembali ke BALI

  1. Sebaliknya, saya merasa jenuh karena belakangan ini terlalu hectic. Saya bahkan merasa tidak punya waktu yang lapang untuk membaca blog-blog kawan terdekat yang ada dalam list saya. Seperti blog Kakak.

    Kakak beruntung sekali memiliki Mamas yang pengertian. Saya harap saya memilikinya, atau bisa menjadi sepertinya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: