Belajar menatap kecewa (Bali)

Beberapa hari belakangan saya dipaksa untuk belajar menerima semua kegagalan yang datang bertubi-tubi. Semua kegagalan kali ini berhubungan dengan situasi finansial yang sedang saya alami. Sebenarnya keadaan keuangan saya sekarang masih aman-aman saja. Bahkan jauh dari kata hancur atau tidak bisa dipertahankan. Tidak pula serta merta kembali ke posisi survival seperti dulu karena secara bertahap selama beberapa tahun belakang tahap survival itu sudah berhasil saya lewati dan mulai maju ke tahap development.

Lalu apa masalahnya? Apa yang membuat situasi kali ini terasa berat?

Jadi satu tahun belakang saya belajar betul tentang management keuangan untuk diri saya sendiri. Karena kala itu saya merasa sudah cukup dewasa (aka tua) untuk mulai mengatur keuangan dengan bijak. Ditambah dengan nilai pendapatan yang saya dapatkan yang mulai masuk akal dan nggak hanya habis untuk kebutuhan primer tapi bisa juga disisihkan untuk keperluan lainnya. Karena itu saya memaksakan diri saya untuk mulai paham dengan konsep personal money management.

Karena satu tahun sebelumnya kerjaan saja cuma main-main terooosss. Kalo punya duit pasti saya pakai untuk traveling dan jajan ini itu. Saya pun masih ceroboh dalam menggunakan dana pribadi tanpa banyak memikirkan untuk mulai menabung. Masa-masa senang karena akhirnya punya duit sendiri dan bebas menggunakannya sesuka hati.

Sementara 3 tahun sebelumnya, kondisi keuangan saya hanya berkisar survival saja. Kerja di Jakarta dan Bali dengan status fresh graduate benar-benar hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari saja. Walaupun masih bisa lah nabung buat liburan hemat-hemat, tapi untuk menabung dalam skala besar masih saja sulit.

Karena itu tahun lalu setelah capek terus terusan survive dan somehow sudah puas main-main. Saya mulai belajar untuk mengelola penghasilan dengan bijak.

Saat itu seminggu sekali semua penghasilan yang masuk ke rekening, langsung saya pisah-pisahkan. Karena di Australia gaji saya dibayarkan mingguan. Pengeluaran paling utama yang saya hitung tentu saja biaya rent per minggu dan belanja mingguan. Dua hal itu adalah kewajiban utama anak kos. Lalu secara disiplin saya memasukan sisanya untuk dana darurat, investasi, support keluarga walau sedikit, dan sedikit-sedikit mengumpulkan dana untuk mewujudkan mimpi punya bisnis kecil-kecilan sendiri. Sudah ada persenan persenannya sendiri tentu saja. Sisanya yang nggak seberapa itu baru saya taruh di rekening yang bisa saya akses untuk kebutuhan sehari-hari.

Walaupun nggak ahli-ahli amat dalam urusan mengatur keuangan dan berinvestasi. Dan pengetahuan yang dipake hanyalah pengetahuan ala-ala anak yang pengin belajar nabung. Namun tahap kehidupan ini membuat saya menjadi lebih disiplin mengatur uang dan lebih semangat dalam bekerja. Lebih bijak dalam mengatur pengeluaran dan secara otomatis menjadi lebih fungsional melihat guna barang. Rasanya uang yang saya hasilkan kala itu lebih cantik kalau bisa bertengger di dalam tabungan atau deposito atau untuk investasi kecil-kecilan. Somehow saya lebih puas diam di rumah minum teh kalau libur sambil melihat-lihat tabungan saya dan senyum-senyum sendiri daripada pecicilan di mall.

Dengan sadar saya pun mulai melakukan pemotongan expense-expense yang nggak perlu. Dari hal kecil dengan membatasi keinginan beli take away kopi setiap hari (sejak punya kerjaan dua saya jadi candu dengan kopi). Bukan lagi beli kopi di coffee shop yang harganya 3-6 dollar satu cup saya jadi mulai belajar untuk menyeduh kopi saya sendiri di rumah dan nongkrongnya nggak lagi di coffee shop tapi ganti jadi di park. Nongkrong di kedai kopinya seminggu sekali aja udah cukup. Atau kalo lagi males bikin kopi sendiri saya biasanya beli kopi di Sevel Eleven yang harganya sedolar satu cupnya. Saya juga mengerem keinginan minum boba seharga 7$ tiap turun bus setelah pulang kerja walau tenggorokan nangis tiap liat iklan boba di depan bus stop dan sedang panas-panasnya terbakar panasnya Ausi di kala musim panas dan meracuni diri saya sendiri untuk membeli satu buah mangga dan susu buat dibikin smoothies di rumah. Sudah hemat, sehat pulak! #kemiskinanmeningkatkanlevelkekreatifan

Bahkan saking menjiwai tahap belajar management keuangan ini, keinginan saya untuk membeli baju hanya muncul kalo ganti musim saja atau kalau saya mau traveling dan memang harus beli jaket. Karena yaahhh ngapain punya baju banyak-banyak, nggak punya banyak acara juga. Apalagi setelah pindah ke Ausi jadi jarang ada kondangan. Karena itu setiap pulang ke rumah Bapak suka komen “Bajunya itu itu aja de?”. Yahhh emang ini ini aja piye meneh. Tapi saya sendiri sebenarnya juga lebih suka beli baju bekas di Newtown tempat baju, tas, sampe buku bekas bertebaran. Ada seninya rasanya.

Bukan berarti saya tight sekali dengan uang dan nggak bisa mereward diri. Tapi mengelola uang saat itu menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Dulu cara saya mereward diri selalu saja dengan mengajak diri saya sendiri berlibur, tapi sekarang menabung juga terasa seperti hiburan dan reward yang saya dapatkan setelah bekerja mati-matian.

Namun ada kalanya saya pengin juga beli barang atau pengin liburan. Saat keinginan itu datang, saya tidak mengabaikannya begitu saja. Namun yang saya lakukan adalah men-set tabungan baru khusus untuk beli barang itu atau ngumpulin duit dari awal buat dana liburan. Bukan menggunakan uang tabungan dan investasi yang sudah ada.

Tiap masukin uang ke dana darurat dan investasi saya menganggap itu uang ilang. Nggak usah di tengok-tengok dan gatel pengin menarik dan memakai uang itu. Uang yang boleh saya gunakan untuk kebutuhan sehari hari adalah uang yang ada di tabungan yang bisa saya akses. Selebihnya nggak boleh saya sentuh. Galak kan rawr.

Tahun lalu dengan kegalakan dan kedisiplinan saya pada diri sendiri, saya akhirnya berhasil mengumpulkan tabungan untuk berinvestasi di bisnis teman yang bikin saya punya passive income dari profit bulanan yang dihasilkan. Profit yang masuk setiap bulan tetap nggak juga saya sentuh, saya tabung lagi itu uang ke investasi lain. Karena saat itu saya masih bekerja dan nggak pakai uang itu. Dan nggak pengin pakai juga. Kalo lagi semangat nabung nggak pengin apa-apa saya orangnya bener deh. Bangga gak?

Akhir tahun lalu setelah saya pikir keadaan keuangan saya semakin membaik, saya pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka bisnis kopi kecil-kecilan bersama teman saya di Nusa Penida, Bali. Kawan saya itu adalah mantan barista di Starbucks yang ngerti segala hal tentang kopi. Dia memiliki ide bisnis membuka gerobak kopi kecil-kecilan di Penida dengan budget yang kecil. Dengan idealisme yang bisa kami berdua salurkan di gerobak kopi itu. Mengumpulkan buku agar anak-anak di Penida pun bisa baca dengan nyaman di pantai depan kedai kami. Rasanya semangat sekali kala itu berbagi ide tentang bisnis kecil kecilan ini.

Memiliki kedai kopi di Ubud adalah cita-cita saya dari dulu, karena itu tahun lalu saya ngotot banget nabung mati-matian untuk mewujudkannya. Kerja 24 jam sehari kalo perlu. Tapi sebelum cita-cita itu bisa terwujud, saya dan teman saya memulai dari kiosk kopi kecil yang kami bangun di Nusa Penida yang awal-awal pembukaanya lumayan menghasilkan. Walaupun masih bertahap untuk bisa menghasilkan profit yang kami set. Namun melahirkan sebuah usaha dari 0 itu rasanya sungguh menyenangkan. Seperti melahirkan anak saya ke dunia ini. Lahiran keluar gerobak.

Dengan segala hal yang perlahan berjalan membaik di hidup saya tahun lalu, saya menjadi semakin optimis menjalani hidup. Plan-plan saya kedepan pun semakin jelas dan makin bikin semangat untuk dibicarakan dan dijalani. Ketika situasi finansial sudah aman dan terkendali dengan baik saya jadi bisa fokus untuk mengerjakan project-project lainnya dan fokus untuk sekolah lagi.

***

Sampai awal tahun ini semua orang dikagetkan dengan Corona. Saya sendiri jadi stuck di Indonesia dan entah kapan bisa kembali ke Ausi untuk sekolah dan bekerja. Jadilah saya jobless dan clueless.

Di situasi seperti ini saya masih menganggap bahwa saya masih diberi keberuntungan karena masih memiliki dana darurat yang saya kumpulkan tahun lalu dan investasi yang masih menghasilkan passive income setiap bulan. Walaupun usaha kopi makin lama makin seret tapi setidaknya saya masih bisa survive dengan tinggal di rumah Bapak dengan passive income yang saya miliki tanpa pernah menyentuh tabungan dan investasi lainnya.

Lima bulan mengisolasi diri di rumah dengan ketenangan batin akan keadaan finansial membuat saya nggak banyak kecewa dan khawatir.

Sampai pada bulan ini saya harus menerima berita bahwa Ausi mungkin akan menutup bordernya sampai July tahun depan. Saat itu tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain menerima kenyataan ini dan move on. Saya harus menerima bahwa plan saya setahun kedepan harus saya rombak total. Walaupun jobless saya masih punya passive income dan usaha kopi kan? I am fine. Pikir saya kala itu.

Nggak berselang lama dari kenyataan itu.

Usaha kopi saya di Penida benar-benar nggak bisa dilanjutkan. Usaha kami stuck tanpa bisa menghasilkan. Semua kapal berhenti. Turis nggak ada sama sekali. Dengan berat hati usaha ini harus kami tutup. Kami harus menjual semua alat kopi untuk mengembalikan modal. Walaupun hasilnya jauh dari kata menutup modal. Intinya kami rugi banyak. Saya bahkan nggak punya tenaga lagi untuk kecewa. Karena semua bisnis orang memang sedang kalah dari corona ini. Satu-satunya hal yang bisa kita jaga di saat saat seperti ini hanyalah kesehatan dan kewarasan.

Belum cukup usaha saya gulung tikar. Passive income yang menjadi pegangan saya selama ini dari investasi yang saya masukan ke usaha teman saya juga dihentikan bulan ini.

Triple strikes.

I’m officially jobless with zero income this month.

Tapi tentu saja saya masih bersyukur. Karena saya masih memiliki dana darurat dan tabungan yang tak pernah saya pakai dari kemarin.

Dengan keadaan seperti ini saya sebenarnya tidak serta merta kembali ke tahap survival lagi. Tapi saya juga tidak lagi berada di tahap development.

I’m stuck in the middle.

Keadaan stuck ini membuat saya cemas beberapa hari ini. Saya harus mulai menenangkan diri saya sendiri, berdamai dengan kenyataan bahwa saya harus menerima sepenuhnya realita bahwa saya harus tinggal di Indonesia sampai tahun depan, menunda sekolah saya selama 1.5 tahun, mulai mencari sumber penghasilan disini. Beradaptasi dengan situasi secepatnya dan membuat rencana-rencana baru.

Kecewa? Tentu. Tapi saya tidak pernah membiarkan diri saya terlalu lama dalam kekecewaan. Waktunya menatap kecewa dengan berani.

Karena itulah saya kembali pindah ke Bali. Karena jujur ketika saya berada terus menerus di rumah (zona nyaman). Saya nggak akan tertantang untuk bergerak dan menghasilkan. (Anaknya harus kepepet baru survival skill nya berkembang)

Dan benar saja selama saya di Bali saya merasa lebih positive untuk menjalani kehidupan. Selain bisa merawat diri saya juga harus menghasilkan uang lagi. Karena harus bayar kos dan makan. And I’m excited.

Walaupun sekarang saya nggak lagi mendapat penghasilan seperti dulu dan harus putar otak dengan keras untuk menghasilkan cuan. Saya sebisa mungkin akan belajar bertahan hidup tanpa perlu mengeluarkan saving dan uang investasi.

Lalu apa saja yang saya kerjakan di Bali? Apa saja yang bisa saya kerjakan. Dari membuka jasa untuk membantu project project teman secara online di Ausi dengan fee yang lumayan. Membuka jasa titip barang-barang Bali yang walaupun masih belum banyak tapi ada aja yang nitip-nitip pengin dibeliin ini itu. Bertemu Ibu-Ibu toko pengrajinan yang membolehkan saya menjual barangnya secara online dengan mengambil sedikit margin. Yaaa ada aja pokoknya kalau mau bergerak mah. Bahkan saya nyoba bikin yutub review ala ala walaupun nggak tau cara ngedit. Nanti di subscribe ya gengs di Channel Youtube Angky Ridayana

Mamas pun nggak pernah lelah untuk mensupport saya dengan berbagai project yang saya lakukan both untuk menghasilkan cuan dan untuk perkembangan diri dan self care di Bali. Untuk memulai lagi dari awal.

Walaupun kadang up and down juga tiap denger kakak tiri saya cerita kerjaan dan penghasilannya di Ausi. Pengin saya tabok anak itu, nggak tau apa adeknya lagi cari cuan 20 rebu dari jastip sambil panas-panasan. Sampai saya bilang coba jangan ngobrol itu dulu sama saya karena nggak relate soalnya sama situasi dan emosi saya yang lagi memulai lagi. #Senggolbacok. Apa artinya saya belum sepenuhnya mengikhlaskan dan melepaskan kehidupan saya di Ausi dulu dan settle down di Indonesia sampai border buka? Well at least I’m trying.

Padahal kalo dibilang bersyukur ya bersyukur juga. Saya senang sekali kembali ke kehidupan selow di Bali. Dekat dengan pantai dan teman-teman saya. Bahkan disini situasi jauh lebih aman dari di Purwokerto menurut saya. Karena nggak ada kerumunan di tempat-tempat yang saya datangi. Akhirnya pun saya bisa lihat Bali beristirahat dari keramaian turis. Emosi saya lebih stabil disini. Jujur, saya merasa lebih sehat secara emosional.

Sementara kemarin saya baru nonton berita tentang situasi di Victoria yang sudah memasuki stage 4 restriction dimana orang akan didenda $5000 AUD kalau nggak self isolate atau keluar lebih dari 5 km dari rumah. Ngeri gais.

Tapi yaahh seperti kata kawan saya si Mona, hidup memang kadang suka bercanda. Ketawain aja. Walaupun saya harus menerima kenyataan bahwa saya nggak bisa lagi berpenghasilan seperti dulu. Tapi saya pikir beberapa orang pun harus menerima kenyataan yang sama.

We are all not okay now. I know. But we should find our own way to be okay somehow kan? To find peace in this situation.

And I’m glad that I am more than okey right now eating nasi campur seharga 10 ribu rupiah porsi kuli bersama kawan saya Mona yang datang ke Bali, renang dan liat sunset di pantai setiap hari. Bahkan saya merasa bersyukur bisa istirahat dari kehidupan super cepat di Ausi dulu. Nggak lagi ngejar-ngejar train dan bus tiap pagi buat kerja yang melelahkan sampe sore. Take a bit of rest ki!

Walaupun sekarang sebenarnya saya masih bisa hidup dari uang saving yang sudah saya kumpulkan mati-matian tahun lalu. Tapi entah mengapa saya ingin menghasilkan dan membiarkan saving itu tak tersentuh.

Ini malah lagi diajarin temen saya yang otaknya cuan cuan dan cuan si Kokoh Kevin Hendrawan buat belajar main saham. Beralih dari main investasi yang low risk low gain jadi yang high risk high gain. Tapi saya belum begitu berani karena harus belajar banyak karena jujur buta banget untuk urusan satu ini dan takut bukannya dapet cuan malah ludes duit yang udah capek-capek saya tabung.

Anyway. Semua kegagalan ini tidak membuat saya terlalu kecewa.

Mungkin kedatangan corona di tahun 2020 ini memang untuk mengajari kita semua pelajaran berharga untuk berani menatap kecewa. Berhenti sejenak dan memulai lagi. Who knows?

To finally tell ourself

“It’s time to let it go, go out, and start again”

Kadang saya justru merasa lagi dikasih break sama Tuhan. Dulu diam diam pernah berdoa waktu lagi capek capeknya kerja kayak kuda di Ausi.

“Ya Tuhan pengin rasanya break setahun dan tinggal di Bali deket sama pantai dan temen-temen”

Dan benar saja doa saya dikabulin dengan terms and condition yang juga harus saya sesuaikan dan ikuti. But I’m fine with that. I do. And i feel good about it.

Dan seperti dulu-dulu ketika hidup berubah 180 derajat tanpa bisa saya kontrol. Saya memilih untuk beradaptasi. Bangkit dan bergerak lagi.

Sekarang saya malah senang karena punya banyak waktu untuk menulis, liat sunset, dan mengembangkan ide ide baru serta belajar hal-hal yang nggak bisa saya pelajari tahun lalu karena saya bekerja bagai robot.

Dannnn besok saya dan Mona diajak teman untuk belajar buat handmade sabun di Ubud. Kurang indah apalagi coba idup ini?

Jadi cheers to life dan surprise-surpisenya.

Semoga dimanapun kalian berada kalian juga sehat-sehat selalu. Mau doain bahagia terus susah juga karena kadang saya juga sedih. Dan nggak papa sesekali sedih dan nggak bisa positive. Tapi besoknya belajar bangkit lagi. Karena seperti kata Indun,  hidup ini cuma perkara jatuh bangun saja. Hari ini jatuh besok bangun. Semoga kita semua bisa belajar untuk menikmati proses jatuh bangun ini dengan happy. Dan sedikit-sedikit makin berani menatap kekecewaan dengan hati yang makin hari makin lapang.

Ang moving on with life.

Ada sebuah quotes dari Gabrielle Solis di serial Desperate Housewife yang selalu saya ingat. Sewaktu kehidupan mewahnya tak bisa lagi ia pertahankan karena suaminya terkena kasus dan harus masuk penjara. Doi bilang gini.

“I’ve been broke a lot of times in my life. But I’ve never been poor. Cause poor is just a state of mind”

Saya juga, sering merasa bangkrut dalam hidup. Tapi rasanya saya belum pernah merasa miskin. Karena miskin hanya ada di pola pikir. Kalau kita mengakui kalau kita bangkrut dan bergerak lagi lalu mulai dari awal. Kerjain segala yang kita bisa dengan skill dan tenaga yang tersisa. Lagipula, di Bali entah mengapa saya selalu saja merasa kaya. Kaya teman, kaya pemandangan, kaya hati. Eymennn……..

 

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

7 thoughts on “Belajar menatap kecewa (Bali)

  1. Aku makin termotivasi sama cerita-cerita ngalirnya Kak Angki :’) Kayaknya hampir semua orang sedang pening macam ditabrak angin puyuh hari-hari ini. Bayangan punya pendapatan yang empot-empotan itu sepertinya jadi lazim sekali. Tapi tulisan ini ngasih semangat. Makasih Kak!

    Liked by 1 person

    1. Wah terimakasih Bang Ical. Selalu merasa dapet power lebih tiap dapet support dari Bang Ical. Padahal udah pengin ketemu langsung bareng Mona dan ngobrol banyak di Lombok. Semoga suatu hari bisa kesampaian dan main ke perpustakaan Djendela dan ketemu anak-anak Pesisir ya Bang 🙂

      Liked by 2 people

      1. Aku senang kita bisa saling mengisi cangkir ☺️ Mudah-mudahan suatu saat bisa ketemuan ya, Kak. Aku bakal ngobrol banyak sama kalian, dan mempertemukan kalian dengan banyak orang ☺️

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: