Beauty standard, ekspektasi sosial dan insecurity (Bali, Indonesia)

Beberapa waktu lalu saya, Adel dan Uti pergi ke sebuah tempat makan yang terkenal dengan pilihan sambalnya yang sedap itu. Untuk pesan sambal mangga muda kesukaan Adel dan sambal teri favorit saya.

Saat sedang menikmati cocolan sambal dengan nasi hangat di piring masing-masing, Adel tiba-tiba berhenti mengunyah lalu bertanya.

“Ki kenapa wajah mbak itu merah banget” Saya dan Uti langsung menoleh mengikuti arah tatapan mata Adel.

Di beberapa meja di belakang kami ada dua perempuan yang mengibas-ngibas wajahnya yang memerah dan mengeluarkan minyak berlebihan.

***

Adel berdarah Maluku-Flores, tapi anak ini tumbuh besar di Surabaya. Sekarang ia memilih untuk hidup di Bali. Kami bertemu di Bali. Sudah lama saya dan kawan-kawan dekatnya di sini mengagumi kulit Adel yang berwarna coklat gelap yang sehat dan mengkilat. Rambutnya ia potong cepak. Ia selalu tersenyum disetiap kesempatan, bahkan tertawa lepas memamerkan giginya dan senyumannya yang menawan nggak karuan. Belum pernah saya melihat senyuman semanis dan setulus senyum Adel.

Bagi saya Adel adalah representasi cantik luar dalam sesungguhnya. Entah mengapa setiap kali ia melintasi ruangan, saya dan Mona selalu diam dan berbicara kepada diri kami sendiri “How could she be so beautiful?”

Pertanyaan Adel hari itu adalah murni datang dari rasa penasarannya.

“Del kayaknya wajah mbak nya merah, karena dia pake skin care. Cream cream dokter yang banyak mengandung bahan kimia, bikin cerah tapi juga bikin kulit wajah semakin tipis, kalau terekspos sinar matahari terlalu banyak effeknya akan jadi merah dan berminyak seperti itu”

“Oh gitu, lalu kenapa mereka pakai itu kalau effeknya gitu” katanya clueless sambil melanjutkan makan sambal mangganya.

“Biar wajahnya terlihat cerah, kalau di dalam ruangan nggak akan semerah itu. Mungkin hari ini banyak di luar”

Sebenarnya saya merasa nggak adil memberi jawaban seenaknya. Mungkin juga jawaban saya terhadap pertanyaan Adel salah besar yang hanya berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi.

Beberapa hari ini Bali menjadi sedikit ramai. Pantai yang tadinya kosong jadi penuh bahkan lebih crowded dari hari-hari biasa. Ada banyak mbak-mbak seperti yang Adel tunjuk di rumah makan kemarin dengan wajah memerah yang mencoba menutupi wajahnya dari paparan sinar matahari di pantai. Dengan make up dan heelsnya. Sibuk mengambil foto diri. Teman-teman saya yang pake kolor ke pantai mengira mereka mungkin pendatang dari kota besar yang sedang berlibur. Karena menurutnya orang yang sudah hidup lebih lama di dekat pantai akan lebih memilih untuk mengenakan pakaian yang nyaman untuk duduk di pasir dan menikmati sunset.

***

Saya jadi teringat ketika dulu saya tinggal di Jakarta dan bekerja di Bank. Setiap pagi saya harus berdandan sebelum berangkat kerja. Sebenarnya saya nggak keberatan untuk berdandan lalu memakai sepatu dan tas cantik untuk pergi ke kantor. Semua effort itu saya lakukan dengan sukarela karena tidak ada salahnya ingin tampil cantik. Karena melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri adalah termasuk self care, no? Namun ada kalanya setelah sampai di kantor ada saja yang berkomentar pedas kalau kulit saya masih terlalu hitam, atau dandannnya norak, atau bajunya itu itu aja.

Di Jakarta upaya saya berdandan untuk merawat diri berubah seketika menjadi keinginan untuk diterima di masyarakat dengan memenuhi ekspektasi dan standard mereka. Tubuh saya menjadi sebuah checklist untuk dibenahi. Segalanya menjadi terlihat kurang disana sini.

Saya mulai mencari dokter kulit paling bagus se Jakarta tidak peduli berapapun biayanya. Atau kalau saya harus mengantri dari jam 4.30 pagi untuk mendapat cream pemutih wajah itu pun saya tidak keberatan. (You can imagine berapa banyak orang yang menginginkah hal yang sama dengan saya. Atau memiliki pressure yang sama dengan saya). Lalu mulai memenuhi lemari saya dengan baju-baju kerja yang cantik berwarna warni, dan menabung untuk membeli tas bermerek. Yang bahkan tidak cocok dengan karakter saya.

Ekspektasi-ekspektasi dengan social standard yang kurang masuk akal ini kemudian membuat saya berfikir kalau kata-kata “Jakarta keras” pada hakekatnya bukan melulu mengacu pada kemacetan dan polusi yang sering disebut-sebut sebagai biang keladi hidup keras di Jakarta. Tapi justru tuntutan tuntutan masyarakatnya. Tuntutan-tuntutan tanpa ujung ini yang kemudian menimbulkan perasaan insecure karena terlalu banyak social shaming yang bikin stress.

Padahal saya selalu tahu bahwa orang-orang yang berkomentar pedas dan senang menjudge orang pun dipacu karena memiliki tuntutan yang sama. Apalagi yang bisa manusia lakukan setelah melakukan segala hal untuk diterima masyarakat tapi tak pernah cukup? Judging people, making those people feel small so they could feel bigger. Yang dihina akan menghina yang lainnya. Lalu siklusnya akan berulang seperti itu terus menerus.

Dari kecil di kota saya lahir, saya selalu ditanamkan definisi tentang cantik. Cantik itu berarti kulit putih bersih nggak peduli kalian terlahir dari gen seperti apa. Kalau kulit hitam sudah harus pasrah dikata-katai oleh orang-orang disekitarnya.

Saya punya sahabat kecil bernama Amy yang setiap hari hidupnya berputar di sekitar saya. Tidak seperti saya, ia memenuhi semua standar cantik menurut masyarakat; putih, tinggi, rambut panjang lurus. Pada akhirnya pun ia menjadi model di kota kami lalu kemudian menjadi finalis Putri Indonesia.

Sebagian orang-orang disekitar kami selalu saja membanding-bandingkan kami berdua. Bahkan tak jarang saya dijadikan bahan olokan bahwa saya terlihat jelek dan terlihat seperti pembantu Amy. Offensive bukan hanya untuk saya. Dan ignorant karena mengkotak

Hal ini membuat saya kecil. Sampai sampai waktu SMA saya sudah berinisiatif untuk pergi ke dokter kecantikan untuk meminta dokter kulit itu membuat wajah saya lebih cerah dan mengabaikan saran dokter yang bilang kalau saya terlalu muda untuk menggunakan cream yang keras untuk wajah. Saya pikir, cream ini akan menjadi jalan keluar saya untuk keluar dari pembullyan.

Dengan cream itu wajah saya cerah seketika. Tapi setiap saya lupa untuk menggunakan cream itu, atau sedang habis. Wajah saya akan langsung memerah dan gatal di bagian atas mulut. Terlebih kalau terkena sinar matahari, muka saya terlihat seperti udang rebus dan berminyak. Tapi saya pikir inilah harga yang harus saya bayar untuk tampil ‘cantik’. Namun apakah pembullyan itu berhenti ketika wajah saya tampak sedikit lebih cerah? Tentu saja tidak tidak.

Pada satu titik dalam hidup saya, rasa insecure yang saya sembunyikan semakin besar. Saya tiba-tiba saja menolak kehadiran Amy di hidup saya. Saya paling malas kalau disuruh datang ke ulang tahunnya yang isinya orang-orang secantik Amy. Saya nggak mau diajak foto bareng atau memaksa Amy untuk main di kosan saja kalau memang dia pengin ketemu. Lalu marah-marah sendiri kalau Amy posting foto saya di social medianya. Karena saya malu dengan diri saya sendiri yang nggak terlahir seputih Amy, atau setinggi Amy, atau secantik Amy. I felt like a failure and people rejected me.

Saking merasa tertekannya saya bahkan pernah terang-terangan bilang ke Amy kalau saya nggak bisa lagi berteman dengannya. It is just too much. Di perjalanan persahabatan kami, saya pernah memutuskan untuk menghilang dari jangkauannya. Nggak lagi availabe untuk ia temui. Karena saya lelah merasa terintimidasi dengan kecantikannya.

Tapi bukan Amy namanya kalu nggak berhasil menemukan saya lagi dan memarah-marahi saya karena pergi seenaknya dari hidupnya.

“Never leave me like that again OK, you scared the hell out of me, you are my best friend for God sake”

Tentu saja semua tingkah aneh yang saya lakukan untuk me-remove diri saya dari jangkauan sahabat saya sendiri dari kecil itu bukanlah salahnya. Tapi salah saya sendiri yang nggak bisa berhenti mendengarkan orang-orang dengan ekspektasinya kepada saya yang non-sense.

Pada perayaan ulang tahun Amy di Jakarta, Amy menghubungi saya untuk datang ke sebuah restoran. Saya langsung malas. Saya bilang padanya kalau saya akan datang ke kosannya saja malam nanti. Karena saya merasa malu dengan diri saya sendiri dibanding teman-teman Amy yang juga akan ada disana dan tahu cara berdandan dan cantik bak artis EPTIPI. (Speaking of eptipi, saya pernah mengantar Amy ke studio SCTV untuk casting, yang tentu saja saya dianggap seperti serangga di sana, nggak digubris sama sekali) Anyway, Amy marah karena saya selalu menolak datang ke acara ulang tahunnya.

“Kamu harus datang karena kamu sahabatku oke”

Akhirnya saya pun datang ke Pacific Place satu jam dari jam undangan. Dengan harapan mereka sudah selesai foto-foto yang ternyata belum. Karena yang ada di kepala saya kalau ini foto di post di social media pasti saya jadi bahan bully lagi.

Selesai acara Amy menggandeng saya untuk pulang ke kosannya. Ia langsung menghapus semua make upnya dan mengganti dressnya menjadi daster. Lalu pergi ke dapur dan memasak Indomie untuk saya dan mengajak saya untuk makan di dapur. Karena dari kecil kalau saya lagi galau biasanya saya main ke rumah Amy dan langsung ke dapur, minta dibuatkan mie. Lalu kami bicara.

Saat itu entah mengapa saya merasa bersalah kepada sahabat saya ini. Karena membiarkannya berfikir bahwa masalah saya dengan self esteem saya sendiri adalah tanggung jawabnya juga. She’s been taking care of me as long as i remember. Because I’ve been blaming her for being beautiful, of my own insecurity. Saya menghukum Amy untuk komentar-komentar jahat yang orang lain katakan kepada saya. Bahkan saya pernah berpikir untuk mengakhiri persahabatan kami karena hal ini.

Satu tahun lalu ketika saya menghabiskan 5 minggu bersama keluarga barunya di NY. Ia kembali mengingatkan saya bahwa saya bukan hanya sahabatnya, tapi bagian dari keluarganya. Dan bahwa ia akan selalu ada di hidup saya.

“If those people cannot love you the way I always do, they don’t deserve you, oke?”

Katanya sambil menepuk-nepuk bantal di kamar tamu yang ia siapkan untuk saya. Saya melihat kearahnya dan merasa bersalah bahwa bertahun-tahun saya menyakiti manusia paling baik ini karena perasaan worthless yang saya miliki sendiri. Kemudian mengabaikan kenyataan bahwa saya berharga di matanya.

Saya menjawab pelan “Iya mi”

Sejak saat itu ketika ada yang berkomentar jahat kepada saya dan membanding-bandingkan saya dengan Amy, at least saya tahu bukan Amy yang harus saya remove dari hidup saya, tapi orang itu.

***

Kembali ke Bali. Setiap kali kami melihat perempuan-perempuan di pantai dengan wajah memerah yang sibuk dengan heels dan dress nya dan memposting di social medianya. Teman-teman saya selalu berasumsi bahwa mereka mungkin dari Jakarta dan sedang berlibur.

Mungkin.

Saya memilih untuk tidak menjudge atau memberi ekspektasi pada mereka bahwa ketika berada di pantai seharusnya mereka menikmati sekitarnya dan sunset di depannya dan juga waktu bersama teman-temannya. Bukan gadgetnya. Dan betapa kasihannya wajahnya yang terus memerah. Because I was that girl. Who was lack of social justification. Tentang bagaimana seharusnya saya terlihat. Saya yakin perempuan-perempuan itu tidak memerlukan tambahan tuntutan lainnya dari orang yang tak lagi tinggal di tempat berisi banyak tuntutan itu.

Senin lalu saya bertemu dua teman baru di sebuah lokal market. Dua perempuan yang menjual masker organik buatannya sendiri. Kami kemudian duduk bersama dengan dua kawan kami lainnya. Selama 2 jam bercengkrama selalu saja ada sisipan compliment dari salah satu dari kami.

“Kreatif banget si bikin masker” “Rambutmu ikalnya cantik banget” “Ki kulitmu cantik lo”

Semenjak mengenal Bali saya merasa terbebas dari pressure-pressure yang pernah saya rasakan di ketika saya tinggal di Jakarta. Saya nggak merasa harus menjadi ‘cantik’ sesuai dengan standard yang sudah ditentukan masyarakat. Kalau saya mau dandan pun bukan karena saya merasa insecure. Tapi karena saya menikmati dandan di depan kaca bareng Mona dan mencoba anting handmade lucu yang kemarin beli di pasar Ubud.

Beli baju, tas, atau aksesoris lain pun lebih melihat fungsinya. Kata Ellen teman baru saya kemarin “Temanku yang baru pindah dari Jakarta sampai bingung kemana tas bermerek itu mau dipakai di Bali”

Karena kami nggak memiliki pressure itu untuk merasa diterima atau dihargai di sini berdasarkan warna kulit, atau merk tas yang dipakai. You can be anything you want to be. And people accept you the way you are.

Saya sudah melepaskan cream dokter yang bikin muka saya iritasi tiap saya lupa pakai bertahun-tahun lalu. Untuk merawat diri saya lebih memilih untuk pergi ke spa dan mengorek-orek bahan di dapur untuk saya jadikan masker. Karena setiap habis maskeran wajah yang seharian kena matahari jadi adem. Dan beberapa bahan dapur memang bisa dipakai untuk membantu meregenerasi kulit. Saya tidak pernah menentang upaya orang untuk merawat diri dengan caranya masing-masing termasuk dengan pergi ke beauty clinic. Namun untuk diri saya pribadi ketika saya sudah mengerti bahwa efek cream yang saya gunakan untuk mencerahkan dulu justru lebih banyak merusak kulit, saya lebih memilih untuk berhenti menggunakannya dan belajar untuk mengapreaiasi warna kulit saya sendiri apa adanya. Anyway it was not even a self care back then, but more like a self damage. Bagi saya yang merasa perlu untuk pergi ke beauty clinic dan berkonsultasi dengan dokter untuk merawat diri juga tidak ada salahnya. Yang salah adalah ketika upaya itu dilakukan untuk menghentikan komentar jahat netijen. Kemudian mengabaikan kesehatan diri sendiri baik fisik maupun mental.

Next time someone say something mean to you, try not to running straight away to beauty clinic because you think there is something wrong with you. It’s them that has problem, not you. And learn to stand up for yourself, that way you also standing up for others.

Sekarang yang paling penting saya sudah melepaskan ekspektasi-ekspektasi tentang ‘cantik’ standard dari masyarakat di tempat saya tinggal dulu yang sepertinya apapun usaha dan dana yang saya habiskan untuk memenuhinya somehow nggak pernah cukup.

Jadi lebih baik saya memindah tempat saya berdiri ke circle dimana kata cukup itu ada ujungnya.

Sekarang saya mengerti kenapa kecantikan Adel selalu terpancar di wajahnya. Karena ia tidak pernah merasa insecure dengan dirinya sendiri. Karena ia tidak pernah mencoba untuk menjadi ‘cantik’ untuk orang lain. Because she already is. And she knows that so well. And that’s what makes her beautiful

And that is also what makes all of you guys who read this beautiful. The way you are. The way we always are.

Adel thank you for letting me know that in order to be beautiful you have to believe that you are beautiful as well as believing that others too are beautiful. And that is when you really understand what beauty is about. It’s not all those superficial things that you think can make you looks beautiful. But it’s YOU.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

10 thoughts on “Beauty standard, ekspektasi sosial dan insecurity (Bali, Indonesia)

  1. mantab nih tulisannya. semoga banyak wanita yang terinspirasi utk “menjadi” cantik tanpa harus berlebihan. cantik yang natural aja. tp mungkin itu aku ya, karena aku pemuja bare face. wanita terlihat cantik natural saat baru bangun pagi. hihihihii…

    Liked by 1 person

    1. Kalo menurut saya pribadi : semoga banyak wanita yang menyadari kalau mereka sudah cantik tanpa perlu menjadi ini inu. Untuk preferensi cantik dan ganteng bagi tiap masing-masing individu memanglah hak pribadi perorangan. Tapi ketika preferensi menjadi sebuah patokan dan patokan menjadi sebuah pressure kadang menjadi hal yang berbahaya untuk perempuan perempuan yang pada dasarnya sudah cantik-cantik ini. hhe

      Liked by 2 people

    1. Dan nggak semua perempuan memutihkan kulitnya untuk menarik perhatian laki-laki. Mostly karena pressure dari kebudayaan dan standard yang cenderung merendahkan perempuan berkulit gelap. Btw terimakasih sudah membaca. Salam kenal

      Like

Leave a Reply to Bang Ical Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: