Changing Eating Habit

Dulu saya adalah pecinta segala hal yang berbau daging. Harus ada daging dagingan kalau makan, biar semangat. Bahkah saking sukanya dengan daging, saya jadi jarang sekali makan sayur yang menyebabkan pencernaan saya sering nggak lancar. Saking seringnya makan daging dan jarang makan sayur, otak saya jadi berfikir kalau sayuran itu nggak enak.

Dari sate kambing, rendang, cincang, gulai pokonya kalau sudah dicampur dengan nasi panas serasa heaven lah makanan itu buat saya.

Sahabat saya dari kecil dari dulu justru menolak untuk makan daging merah. Ia hanya makan daging ayam dan tempe untuk sumber proteinnya. Dulu saya pikir Hanum adalah orang paling aneh sedunia karena nggak bisa merasakan kenikmatan daging.

Sekarang Hanum sudah menjadi ahli gizi. Ia semakin mencintai sayuran dan tempe. Sekarang saya setiap kali makan bareng, saya dapat kuliah gratis tentanng nutrisi yang mebuat saya makin teredukasi setiap main bareng dia.

***

Beberapa waktu lalu, sahabat saya Mona memutuskan untuk belajar untuk mengkonsumsi plant based food saja sebagai sumber nutrisinya sehari-hari. Hal ini dipengaruhi karena kondisi kesehatannya. Setelah tahun lalu ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari karena usus buntunya. Katanya sejak itu tubuhnya sudah nggak bisa mentolerir daging merah dengan baik.

Padahal sebagai satu-satunya teman yang pernah hidup di pedalaman hutan Kalimantan ia adalah orang yang pernah memakan segala jenis daging. Segala hasil hutan yang dibawa oleh ibunya pernah ia makan. Praktik berburu di hutan masih menjadi hal lumrah yang dilakukan oleh warga desanya dulu untuk mencari bahan pangan. Bahkan daging-daging dari hewan liar di hutan yang nggak pernah saya bayangkan. Namun sekarang ketika pohon-pohon di hutan di kampungnya ditebangi satu tak ibunya tak pernah lagi berburu di hutan untuk mencari bahan makanan.

Sekarang Mona hanya mengkonsumsi sayur-sayuran saja untuk sumber nutrisinya.

Ketika Mona tinggal bersama saya selama 3 minggu kemarin. Saya mengikuti pola makan Mona. Hampir setiap hari kami pergi ke pasar untuk beli sayur dan buah. Lalu masak sarapan kami sendiri.

Hal yang saya sadari dengan pola konsumsi sayur selama bersama Mona. Ternyata sayuran rasanya juga enak. Ternyata nggak makan daging itu biasa aja. Ternyata makan sayuran dan buah saja sudah cukup untuk mengisi energi seharian. Ternyata sayur-sayuran itu enakkk!

Sebenarnya pola makan saya sudah jauh berbeda sejak saya tinggal di Australia. Karena di Australia saya punya dua kerjaan, saya harus makan dengan cepat dan mencari makanan yang praktis untuk dimakan. Nggak bisa lagi tinggal nunggu dimasakin Ibu dirumah atau beli di warung. Karena itu saya jadi lebih banyak makan salad dan roti atau buah-buahan biar cepat.

Daging-dagingan masih saya konsumsi tapi nggak sesering di Indonesia yang kalo mau makan tinggal ngesot ke warung makan padang beli rendang. Disana ada tempat jual makanan Indonesia tapi jauh dari rumah. Jadilah saya lebih sering makan buah yang tinggal hap. Dan ternyata tanpa makan nasi pun saya sudah kenyang dan berenergi. Tidak seperti yang selalu saya pikirkan dulu “belum makan, kalau belum makan nasi”. Tubuh saya justru terasa ringan dan malah jadi jarang sakit.

Mungkin karena sistem pencernaan saya sudah terbiasa dengan sayur, buah dan roti selama di Sydney. Ketika berada di kampung kemarin, saya sempat mengalami masalah pencernaan. Saya nggak berselera makan sama sekali, rasanya perut saya langsung merasa kenyang cuma dengan lihat nasi dan lauk yang berminyak di meja. Jangan salah, di Sydney saya bahkan selalu saja kangen makanan Indonesia dan rela untuk ambil libur demi untuk pergi ke restaurant Indo untuk makan iga bakar. Tapi disini entah mengapa melihat sayuran yang diproses lama dan berminyak dan daging-dagingan setiap hari. Tubuh saya mulai melakukan penolakan.

Jadilah saya sering menolak ajakan makan dari Bapak yang berakhir dengan kelaperan tengah malam. Begitu saja asam lambung saya naik. Tapi saya tetap memilih untuk nggak makan daripada makan daging dan nasi terlalu banyak. Makan hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Saya belajar mengerti keadaan tubuh saya sendiri yang sudah mulai berubah. Saya belajar bahwa daging merah tak lagi menarik selera makan saya. Bahkan melihat daging saja sedikit malas, terbayang semua daging itu nyangkut di gigi dan harus dibersihkan. Hmmmm. Dan sayuran menjadi makanan yang lezat untuk disantap. Bahkan hal ini bukanlah sebuah upaya untuk menjadi vegetarian. Kalau sedang pengin makan daging ya makan saja. Tapi masalahnya, nggak ada lagi keinginan itu. Sekarang daging merah nggak lagi menarik selera.

Kok bisa, saya si daging freak ini berubah jadi sayuran freak.

Karena sudah nggak berselera lagi dengan daging merah. Saya mulai belajar untuk mengeksplorasi masakan plant based food di resto-resto vegetarian. Kalau memang saya doyan sayuran sekarang, saya pengin mengerti dan mencap setiap rasa sayuran di lidah saya dan memutuskan mana yang paling saya suka. Lalu mengolahnya untuk masakan saya.

Dari jamur, spinach, wortel, tempe dan tahu. Saya bahkan sering dibuat terkejut setiap mencoba makanan vegetarian, kok bisa tofu dengan kuah curry bisa seenak itu. Atau mushroom dengan avocado yang disajikan dengan sourdoug bread yang bikin kenyang seharian.

I mean saya sampai bertanya-tanya kenapa waktu kecil kita kita ini selalu ditancapkan pola pikir kalau makan nggak pakai daging nggak enak. Kalau nggak pakai gula nggak enak. Padahal enak enak aja.

Ternyata pola makan itu tergantung juga dengan pola pikir.

Di Sydney saya pernah sekali menjaga seorang anak umur 3 tahun bernama Nate. Pada waktu makan pagi, saya tanya anak ini pengin makan apa. Dia langsung jawab “Toast with vegemite and honey”.

(Vegemite is a thick, dark brown Australian food spread made from leftover brewers’ yeast extract with various vegetable and spice additives.)

Rasa vegemite ini pait pait gimana gitu. Saya tanya lagi sama Nate “Do you like honey?”

“Yes, because my mama said honey is good for my tummy”

Nate nggak mengenal enaknya kuah bahso yang dicampurkan nasi kalau ia nggak mau makan seperti saya waktu kecil. Pengertian enak baginya adalah toast dan isian yang sehat untuk dirinya.

“Nate where’s honey come from” tanya saya iseng waktu dia sedang sibuk dengan toastnya. Mata kecilnya memandang saya lalu menjawab pertanyaan saya tanpa ragu “From the store”

Saya tersenyum lebar.

Kalau dari kecil saya tahu enaknya avocado dengan mushroom mungkin saya sudah give up daging merah dari kecil.

***

Kemarin saya menelfon Mona, menceritakan pola makan saya yang menurut saya semakin aneh beberapa hari ini. Bahwa makanan yang dulu buat saya ngiler setengah mati nggak lagi memiliki efek yang sama. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir makan daging merah dan nggak punya selera lagi.

Kalau perut saya lapar otak saya nggak lagi dipenuhi dengan bayangan daging-dagingan atau nasi untuk membuat saya kenyang. Tapi sayuran apa yang ada di kulkas yang bisa saya santap.

Bahkan pergantian pola makan saya kali ini bukan hal yang saya paksakan karena ingin hidup lebih sehat. Tapi simply saya nggak lagi berselera melihat daging merah.

“Seriously mon, what is wrong with me?”

Mona tertawa lalu menjawab.

“Ada waktunya tubuhmu menolak sendiri makanan-makanan yang nggak sehat untuk tubuhmu, anyway welcome to the club cun”

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “Changing Eating Habit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: